Novel Something Perfect by Youandwords

Novel Something Perfect by Youandwords
Photo by Carli Jeen / Unsplash

Novel Something Perfect by Youandwords – Pertanyaan soal pasangan tidak pernah lepas ditanyakan orang-orang pada Gita. Padahal, cewek itu masih diliputi rasa insecure karena merasa tidak cantik dan mudah kelebihan berat badan.

Suatu hari, Gita mendapati mantan HRD di tempat kerjanya dulu pindah ke kompleks perumahannya. Mendapati tetangga yang tampan, baik dan mapan seperti Derian, membuat mama Gita berniat menjodohkan mereka. Sayangnya, menurut Gita, meski tampan, Derian itu galak dan menyebalkan.

Beradaptasi menjalani kehidupan bertetangga membuat Derian dan Gita yang awalnya sering salah paham menjadi kian dekat. Saat Gita sudah yakin akan perasaannya pada Derian, muncul mantan Derian yang cantik, pintar dan bertubuh sempurna.

Haruskah Gita mundur saat tahu peluangnya mendapatkan Derian sangat kecil?

Novel Something Perfect

Intro lagu Right Here Waiting mulai mengalun. Aku mulai mempersiapkan diri, lalu melangkah memperlihatkan penampilanku lengkap dengan rambut disanggul ke atas. Gaun putih berlengan panjang berbahan brukat memberi kesan sopan dan elegan. Butiran berlian di bagian dada, membuat gaun itu lebih berkilau, siapapun yang melihat pasti akan terpana. Serta bagian pinggang yang di dalamnya terdapat korset ketat membuat ilusi pinggangku jadi lebih ramping. Serta, menekan perutku yang agak buncit.

Bagian bawah gaun yang mengembang bergerak seiring langkah kakiku. Mengingatkanku dengan gaun cinderella. Sementara bagian kaki yang tertutup heels yang tidak terlalu tinggi membuat kakiku terasa lebih nyaman.

Senyum manis, terus terukir di bibirku yang terpoles lipstik berwarna merah tapi tidak terlalu menyala. Sorot mataku tentu berbinar dengan bulu mata lentik yang cantik dan softlens berwarna cokelat agak terang. Keseluruhan wajahku? Tentu saja tertutupi make up ala putri kerjaan yang membuat wajahku terlihat semakin cantik dan bercahaya.

Dari kejauhan, lelaki dengan kemeja putih dan celana senada berdiri menyambut. Aku tersenyum memperhatikan penampilannya. Seorang pangeran dengan rambut disisir ke belakang agak klimis. Sorot mata yang tajam dan berbinar menarik perhatian siapapun yang melihatnya, meski bibirnya tidak tersenyum, tetapi memberi kesan cool.

Begitu tinggal beberapa langkah dengan lelaki itu, tangan kanannya perlahan terulur. Aku bisa melihat tangannya besar dan ada otot yang timbul. Aku pun membalas genggaman itu dengan senyum malu-malu.

"Cantik," bisiknya membuatku tersenyum.

"Bisa aja," jawabku sambil menatap lelaki beraroma musk itu. Tentu saja bohong karena mata bundarku seperti tidak bisa berkedip. Terlalu kagum dengan makhluk tampan itu.

"Kamu emang cantik, Git," pujinya seraya melingkarkan tangan satunya ke pinggangku.

Kedua tanganku mulai terangkat sambil menahan rasa malu, lalu melingkar ke lehernya yang terasa kokoh.

Alunan musik masih terdengar merdu. Bodohnya, aku sempat terseret sorot mata di depanku, hingga tidak sadar dengan suasana yang begitu meriah. Aku pun tersadar dan kamipun tidak bisa menahan untuk bergerak, berdansa bersama.

"Kamu cinta nggak sama aku?" Lelaki itu bertanya sambil menempelkan kening di keningku.

Aku kembali dibuat tersipu. Mataku terpejam lalu aku mengangguk sambil menahan napas. "Cinta banget."

"Cinta kamu juga."

Senyumku semakin mengembang. Jantungku semakin berdegup tak karuan. Saat lelaki itu memiringkan wajah, aku tersentak kaget. Namun itu hanya berlangsung sesaat. Sekarang aku justru tidak sabar dengan kejadian selanjutnya.

"Boleh aku cium kamu?"

Perlahan aku membuka mata dengan bibir sedikit mencebik. "Kenapa harus tanya dulu?"

"Karena aku menghormatimu," jawabnya dengan suara lembut.

Demi apapun, kakiku sekarang terasa lemas. Aku berpegangan di pundak kokoh itu agar tidak jatuh dan mempermalukan diri di hari bahagiaku.

"I love you," bisiknya membuatku seperti terbang ke awan.

Aku kembali memejamkan mata. Bibirku berkedut, tidak sabar menunggu bibir lelaki itu. Lagu Right Here Waiting tiba-tiba tidak terdengar. Aku memilih diam, tidak penting ada musik atau tidak. Lebih penting ciuman dari lelaki itu.

Tunggu! Namun, kenapa ciuman itu tidak datang-datang? Ah, aku mulai sebal. Kemudian teriakan kencang itu terdengar.

"CANTIKA!" Teriakan yang sangat aku benci.

Brak!

Brak!

Brak!

Mataku yang sebelumnya tertutup seketika terbuka mendengar panggilan dan dobrakan itu. Aku menggeliat, merasakan mataku masih susah untuk terbuka lebih lama.

Kayaknya aku barusan mimpi. Ah siapa, sih, yang ganggu mimpi indah itu?

"CANTIKA!"

Teriakan itu kembali terdengar. Aku menggeliat lalu mengubah posisiku menjadi berbaring. Aku mengerjapkan mata beberapa kali sambil mengingat sekarang hari apa dan ada jadwal kuliah pagi atau tidak.

Seingatku sekarang hari Minggu, hari tidur bagi seorang Cantika Maurigita. Aaah, aku ingat mimpi indahku barusan! Terlalu sayang karena terputus. Mengapa sampai-sampai Mama membangunkanku dengan dobrakan?

"Cantika! Cantik!"

Seketika aku terduduk mendengar teriakan Mama yang memanggil nama depanku itu.

Braaak!

Dobrakan Mama kian brutal.

Perlahan aku turun dari ranjang dan berjalan ke pintu. Aku memutar kunci ke kiri lalu membuka pintu kayu itu sedikit. Sekarang, aku bisa melihat wajah Mama yang menatapku garang. Sementara kedua tangannya berada di pinggang, kebiasaannya jika sedang kesal.

Aku mengucek mata, lalu bersandar di kusen pintu. "Ma, sekarang Minggu," kataku mengingatkan. Biasanya Mama tahu hari Minggu dan hari libur aku tidak ingin dibangunkan. Namun, sepertinya hari ini pengecualian. "Terus, ya, jangan panggil aku Cantika! Apalagi, Cantik! Nggak suka!"

"Kamu lupa Mama semalem ngomong apa?" Mama mulai menatapku tajam. Alarm di kepala seketika bekerja.

Apa gue ngelupain sesuatu?

Aku mencoba mengingat. Seingatku Mama hanya bilang untuk mengenakan krim malam yang sering aku lupakan. Aku lantas menggeleng.

"Ya ampun, Gita! Mama, kan, bilang kalau mau jemput adikmu!"

Seketika aku berdiri tegak. Iya, lupa jika pagi ini aku dan keluarga harus menjemput Ginaya alias Gina alias Nana alias adikku. Ah, itu lah pokoknya. Nama panggilannya memang beda-beda.

Aku menatap Mama yang menatapku kesal, lalu tersenyum tipis. "Jam berapa jemputnya, Ma?"

"Jam sepuluh adikmu sudah di bandara."

Aku menoleh ke dalam, melihat jam yang menggantung di tembok sebelah kiri. Jarum pendek masih berada di angka tujuh dan jarum panjang masih berada di angka dua. "Baru juga jam tujuh, Ma. Aku kira udah jam berapa. Nggak sebanding sama gedoran mama."

Protesku membuat Mama menghela napas berat. Mama memang tipe orang yang selalu prepare. Berbeda denganku yang grasah-grusuh dan mepet dengan jam janjian. Nggak mepet nggak sempurna!

"Kamu harus siap-siap dulu. Mandi dulu, sarapan dulu. Jam setengah sembilan kita berangkat."

"Ah, Mama. Tahu nggak, Ma, aku barusan mimpi indah." Sungguh aku ingin melanjutkan mimpi tadi. Penasaran cowok itu akan menciumku atau tidak. Lalu kisah cinta kami akan seperti apa.

"Mimpi apa emang?"

Aku senyum-senyum tak jelas, membuat Mama menatap dengan penuh menyelidik. "Mimpi nikah, Ma," jawabku yang membuat Mama melotot.

"Git! Kamu harus hati-hati. Mimpi nikah artinya mau sakit keras bahkan mati."

Mataku seketika melotot. Gila aja! Masa mimpi indah itu dikatakan mau mati? Tuhan aku nggak mau mati. Belum. Aku masih jomlo. Masih nunggu dia nembak. Masih belum cukup amal. Masih banyak dosa. Masih banyak utang. Masih banyak...

"Ahhh, nggak mau!" teriakku.

"Sudah-sudah jangan dipikir. Cepet siap-siap!"

Aku menatap Mama dengan napas memburu. Kalimat Mama masih terngiang di kepala. Ah tapi masa iya artinya seperti itu, yang tahu umur seseorang, kan, hanya Tuhan. Tapi apa bisa diperdiksi dari mimpi? Aku menggeleng tegas, tak percaya.

"Kamu denger Mama, kan?" suara Mama masih terdengar.

Aku manggut-manggut. "Aku tidur bentar. Jam delapan bangun lagi," jawabku sambil mengucek mata. Hitung-hitung bisa mimpi indah lagi.

"Jam delapan, Git? Emang kamu nggak mandi? Nggak sarapan?"

Aku menghela napas berat. "Gampang. Mandi lima menit doang. Sarapan kalau nggak keburu makan di mobil."

"Mandi lima menit? Kamu tahu, mandimu kayak bebek."

"Emang Mama pernah merhatiin bebek mandi?"

"GITA!"

Buru-buru aku menjauh mendengar teriakan melengking itu. Memang aku salah? Aku, kan, hanya bertanya.

"Kamu itu selalu tanya aneh-aneh. Udah sekarang cepet mandi! Mandi yang bersih! Yang lama!" Setelah mengucapkan itu Mama beranjak.

Aku menutup pintu dan berjalan lemas ke arah ranjang. Biasanya orang mengomel karena ada orang lain yang mandinya lama, kan, ya? Aku yang mandinya cepet malah kena omel. Heran.

Aku lalu mendongak melihat jam yang masih menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Aku memutuskan kembali berbaring, ingin melanjutkan mimpi yang bersambung tadi. Penasaran apa aku akan ciuman atau tidak.

Kemudian aku ingat dengan ucapan Mama.

Sakit keras bahkan mati!

Oh, aku tahu pasti Mama hanya menakut-nakutiku. Lebih baik aku cepat tidur. Waktu masih lumayan panjang. Bahkan terlalu cukup jika hanya untuk mandi dan sarapan. Hah, mengingat mandi aku jadi ingat ucapan Mama lagi.

Emang bebek kalau mandi lima menit, ya?

Namaku Cantika Maurigita. Cukup panggil Gita, jangan Cantika apalagi Cantik. Panggilan itu terlalu feminin untukku, yang menurut orang sangat tidak cocok dengan kepribadianku.

Aku anak pertama dari dua bersaudara. Rata-rata anak pertama lebih serius daripada adik-adiknya, tapi tidak berlaku di keluargaku. Mama sering memarahiku karena aku tidak serius. Iya, karena aku tidak serius, aku jarang diseriusin! Buktinya, mimpi indah tadi terputus, kalau diseriusin, kan, bisa tahu akhirnya dicium atau tidak. Ah, nggak nyambung.

Meski sebagai anak pertama yang santuy, tetap saja anak pertama lebih pemikir. Aku juga pemikir kok, hanya saja tidak aku beri tahu ke orang-orang.

Kalian nggak percaya?

Barusan aku mikir apa benar bebek mandinya lima menit? Aku nggak pernah lihat bebek mandi sebelumnya.

Daftar Isi Novel Something Perfect

Baca Juga: Novel Matematika, Elgo, dan Geng Bintang by Nur Afriyanti

Baca novel yang seru di HP kamu dengan aplikasi Cabaca, bikin kamu lebih nyaman. Soalnya novelnya terpilih dan berkualitas, sudah melalui kurasi dan proses editorial. Cabaca merupakan situs baca novel online yang menawarkan novel legal dengan harga ramah kantong. Manfaatin deh program Jam Baca Nasional setiap hari pukul 21.00 - 22.00 WIB untuk baca judul pilihan dari penulis Indonesia. Program tersebut hanya berlaku di aplikasi loh, makanya install aplikasi Cabaca di Play Store.

Aplikasi baca novel berkualitas di Indonesia
Platform baca novel online di Indonesia


Suka baca novel genre lainnya? Cari di sini:

  1. Novel Romance
  2. Novel Dewasa
  3. Novel Komedi
  4. Novel Horor
  5. Novel Teenlit
  6. Novel Islami
  7. Novel Thriller
  8. Novel Fantasy