Novel Ted on Tuesday by Robin Wijaya

Novel Ted on Tuesday by Robin Wijaya – Kematian sang adik—Anna—meninggalkan lubang kesedihan mendalam bagi Khalil dan keluarganya. Adiknya yang manja, pintar, dan ramah pada semua orang itu memiliki impian besar. Melalui buku harian Anna yang dibawakan sang sahabat—Will, akhirnya Khalil tahu, gadis itu bercita-cita untuk minimba ilmu di Negeri Sakura. Anna juga ingin berkeliling dunia suatu saat nanti.

Khalil yang merasa sebagian hidupnya terenggut oleh kepergian sang adik akhirnya bertekad untuk mewujudkan impian-impian Anna. Bersama Ted, boneka kesayangan Anna, ia meninggalkan rumah dan pergi ke tempat-tempat yang ditulis di buku harian Anna.

Namun, nyatanya perjalanan itu tidak serta merta membuat hati Khalil kembali utuh. Proses duka dan penyembuhan yang dilakukan Khalil pada akhirnya menjadikan jarak antara ia dan keluarganya semakin terbentang jauh. Banyak kesalahpahaman terjadi dalam proses penerimaan itu: luka Khalil, impian Anna, dan harapan kedua orang tuanya membuat keadaan semakin rumit. Bagaimana cara Khalil mewujudkan impian Anna kalau begitu? Apakah ia harus melanjutkan rencananya untuk keliling dunia seperti cita-cita Anna dulu? Atau justru kembali ‘pulang’ pada ‘rumah’ yang sudah lama tidak ia singgahi tersebut?

Photo by kids&me Germany / Unsplash

Tak ada yang bisa melupakan hari ketika Annata meninggalkan kami semua.

Sore itu menjadi sore terakhir kami di rumah sakit. Anna tersadar beberapa hari setelah menjalani operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah dalam otaknya. Ia menjadi korban tabrak lari ketika pulang sekolah bersama teman-temannya.

Anna dibawa ke rumah sakit dengan pertolongan warga sekitar. Tujuh hari Anna berada di ICU. Ia mengalami patah tulang di beberapa bagian, namun cedera paling parah terjadi di bagian kepala. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, berdasarkan hasil diskusi para dokter yang menangani Anna dan persetujuan keluarga, mereka akhirnya memutuskan melakukan bedah otak.

Namaku Ted. Anna memanggilku begitu.

Sehari-hari, aku berada di kamar Anna. Tidur di sebelahnya, duduk di meja belajarnya atau berada di pangkuannya. Sudah seminggu aku tinggal sendirian di rumah sebelum akhirnya Khalil—kakak lelaki Anna, membawaku ke rumah sakit pada hari Anna dioperasi.

Khalil sangat mencintai Anna, dan ia tahu aku adalah benda kesayangan sekaligus teman setia Anna yang selalu dibawanya ke mana pun ia pergi. Khalil berharap kehadiranku bisa menjadi penyemangat bagi Anna. Dan keajaiban itu memang terjadi. Tiga hari selepas operasi, Anna menunjukkan kemajuan. Ia membuka matanya sekali, tapi tak bisa berkomunikasi dengan kami. Ia membuka matanya lagi, dan esoknya ia terjaga dari tidurnya.

Aku ingat bagaimana Anna melihatku saat ia terbangun untuk terakhir kalinya. Khalil menggendongku dan menunjukkan wajahku kepada Anna. Ada saput senyum tipis di wajah Anna. Senyum Anna yang kami lihat untuk terakhir kalinya. Karena beberapa jam setelahnya, Anna kembali tak sadarkan diri dan kondisinya terus menurun.

Semua anggota keluarga berkumpul di luar ruangan. Ada Ayah, Bunda, Khalil, dan beberapa orang kerabat. Bunda meminta izin pada dokter untuk membiarkan aku berada di dalam ruangan. Anna butuh teman, dan aku siap menemaninya kapan pun ia membutuhkanku. Aku adalah boneka kesayangannya. Seperti Anna yang telah menjadi kesayangan kami semua.

Namun ternyata, Tuhan lebih menyayangi Anna.

Esok paginya, Anna meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Kain berwarna putih ditarik menutupi sekujur tubuh Anna. Ayah mendekap Bunda erat-erat yang menangis dalam pelukannya. Khalil juga ada di sana. Matanya memerah sekalipun tidak ada lelehan air mata di pipinya. Ia mengangkatku dari sisi Anna kemudian. Memegangiku dan membawaku pulang ke rumah selepas pemakaman.

Ia tak menangisi kepergian Anna sampai kelopak-kelopak bunga ditaburkan di atas peristirahatan terakhirnya. Ia juga tak menangis saat berada di dalam mobil, atau setibanya kami semua di rumah.

Namun malam itu, ia terduduk di tepi tempat tidurnya. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di dalam kamar dengan cahaya yang temaram, bahu Khalil terguncang karena isak tangis yang tertahan.

Ia menangisi kepergian Anna.

Sendirian.

Namaku Ted. Di balik kesendirian Khalil, aku akan bercerita kepadamu, tentang cinta yang begitu besar dan kepergian orang terkasih.

Serta penyesalan terbesar, yang kemudian mengubah hidup Khalil selamanya.

Bab 1 Ted on Tuesday


Cartagena, Kolombia, 2018

Sepeda motor itu berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat kuning.

Seperti kebanyakan rumah penduduk lokal di Cartagena, rumah tersebut dibangun dengan dinding batu dan kusen-kusen yang dicat minyak hingga tampak mengilap. Bangunannya berlantai dua. Ada balkon kecil seukuran satu kali dua meter yang dikelilingi pagar besi. Balkon tersebut hanya diisi satu buah kursi, sehingga kalau ada dua orang di sana, yang satunya terpaksa harus berdiri sambil menikmati obrolan bersama orang yang cukup beruntung mendapatkan kursi tersebut.

Pemilik rumah itu adalah seorang perempuan paruh baya yang dipanggil Mama oleh Khalil. Namanya Julia. Mama Julia, begitu tetangga-tetangga di sekitar memanggilnya. Ia adalah perempuan gesit bersuara nyaring yang tak pernah kehabisan tenaga untuk melakukan semua aktivitasnya. Mulai dari berbelanja ke pasar, memasak, membersihkan rumah, sampai urusan mengomeli putranya yang baru pulang bersama Khalil—sebab keduanya pergi menumpang perahu untuk memancing di laut sejak kemarin pagi.

“Demi Tuhan, Diego, dari mana saja kau?” dengus Mama Julia saat mendapati anaknya pulang dengan wajah dan pakaian yang sama lusuhnya.

Voy a pescar, Mama! Te traigo muchos peces.” [Aku pergi memancing, Mama. Ini kubawakan banyak ikan untukmu.] Suara Diego terdengar begitu keras. Sama kerasnya seperti gerutuan Mama Julia. Bahkan sampai orang-orang di sekitar jalan itu bisa mendengar percakapan mereka.

Puedo comprarlas (Aku bisa membelinya). Masuk, mandi dan ganti bajumu yang bau amis itu. Lalu ajak Khalil makan,” seru Mama Julia kembali, tak melupakan pesan kasih seorang ibu yang muncul begitu saja secara natural ketika melihat anaknya kembali ke rumah.

Khalil berjalan di belakang mengekori Diego. Namun ia tak lekas masuk. Ia berhenti sejenak di hadapan Mama Julia. “Estoy lleno, Mama. Te traigo comida,” [Aku kenyang, Mama. Ini aku bawakan makanan untukmu,] ujar Khalil dengan senyum paling manis yang langsung meluluhkan hati Mama Julia seketika.

Perempuan yang sebagian rambutnya sudah memutih itu langsung merangkumkan kedua tangannya pada kedua belah pipi Khalil.

“Andai saja aku punya anak laki-laki semanis dirimu.”

Me tienes ahora.” [Mama memilikiku sekarang.]

“Ah, nanti kau juga akan pergi. Seandainya kau jadi anakku dan mau tinggal di Cartagena lebih lama. Kau jadi terbang ke Amerika, kan?” tanya Mama Julia sambil berkacak pinggang. Senyumnya langsung hilang sekejap mengingat rencana Khalil untuk pergi ke Amerika Utara bulan depan.

“Aku memang akan pergi, Mama. Tapi kan aku masih di sini sekarang.” Pintar sekali Khalil merayu perempuan tua itu. Wajah cemberut Mama Julia kembali berurai senyum.

“Apa yang kau bawa untukku, Khalil?”

...

Baca bab gratis selanjutnya dengan klik: novel Ted on Tuesday

Baca Juga: Novel Let It Flow (Nikah Nggak, Ya?) by MounaLizza

Sebuah novel keluarga yang bisa kamu baca gratis di Cabaca. Bisa dibilang Cabaca adalah platform baca novel Indonesia yang gratis dan legal. Nikmati program Jam Baca Nasional pukul 21.00 - 22.00 WIB untuk baca buku tamat terbitan Cabaca. Yuk, cobain pakai aplikasi Cabaca di Play Store.

Install aplikasi Cabaca untuk baca novel gratis

Baca Juga Novel Serupa Novel Ted on Tuesday: