Novel Zwilinge di Cabaca.id – Sepasang kaki berbalut sepatu kets melangkah lebih cepat dari biasanya. Mereka berjalan menurut sang pemilik menuju sebuah kamar. Gadis berpenampilan sporty bernama Faira membenarkan posisi topi di kepalanya lalu mengetuk pintu kamar tersebut dengan kecepatan tak biasa, bak seorang rentenir hendak menagih utang.

"Za! Lagi ngapain lo? Buruan keluar!" perintahnya terlihat tidak santai. Raut cemasnya enggan pergi sejak pagi tadi mendapat kabar buruk yang diutarakan oleh mama dan papanya.

"Abis mandi!" Suara nyaring yang begitu khas, menyahut dari balik kamar dengan santai. "Masih telanjang!" Ucapnya lagi saat tahu Faira hendak membuka pintu kamarnya.

"Jangan dilama-lamain bisa kali. Urgent nih! ada kabar buruk!"

"Kabar buruk apaan?" Tanya cowok bernama Faza, sahabat sekaligus tetangga Faira itu sembari bercermin memakai kaus.

"Ya makanya keluar! Gue masuk, ya?"

"Gak boleh!"

"Lama, njir!"

"Sabar!"

Faira membuang napas kasar, bersandar membelakangi pintu sambil melipat tangan di dada. Bibirnya bergumam, "Gak kebayang kalo gue nanti nikah dia sama dia. Kiamat bakal dipercepet yang ada."

Gumaman itu didengar Faza, sambil ia membuka pintu dan berhasil membuat Faira terkejut akan sosok cowok di hadapannya. "Siapa yang mau nikah?" tanyanya.

Alih-alih menjawab, Faira justru ternganga dalam sepersekian detik melihat kondisi sehabat kecilnya itu. Pemandangan yang tampak biasa memang. Hanya saja, sisi keren seorang cowok itu bukan ketika mereka berkeringat habis olahraga atau semacamnya. Melainkan ketika sehabis mandi, rambut basah yang berantakan mengeluarkan aroma sampo, ditambah wangi sabun yang khas merasuki lubang hidung mancungnya, dan sempat menghipnotisnya secara sederhana.

"Kita!" jawab Faira mantap usai terpesona kagum kepada cowok tinggi di hadapannya. "Ortu mau jodohin gue sama elu. Gila gak, tuh?!"

Faza yang sudah tahu kabar tersebut tampak biasa saja. Raut datarnya hanya membuat Faira geregetan. "Gue masih kuliah. Gue baru dapet kerja part time buat bisa jalan-jalan ke Disney Land. Gue belum ngerasain pacaran. Dan dengan tanpa dosa, mereka bilang mau jodohin gue sama elu. Please deh. Mau dikemanain mimpi-mimpi gue?" Ujar Faira tidak habis pikir akan keputusan baik orangtuanya maupun orangtua Faza akan perjodohan menyebalkan ini.

Faza mengajak Faira mengobrol di halaman belakang rumahnya. Salah satu tempat favorit mereka sejak kecil. Keduanya duduk bersebelahan di tepi kolam.

Sepulang dari kampus, Faira menerima telepon dari mamanya. Sesampainya di rumah, terkejutlah ia bahwa akan dijodohkan dengan cowok yang ia anggap kakak laki-lakinya sendiri.

Faza Giandra Alvaro. Cowok pemilik muka datar nan cuek tapi keren. Meskipun tingkat kekerenannya belum bisa mengalahkan Charlie Puth, adalah sahabat sekaligus tetangga Faira sejak usianya lima tahun.

"Lo pikir gue mau?" Untuk kali ini Faza menoleh menghadiahkan Faira tatapan tajamnya.

"Ya lo protes makanya. Omongan gue gak digubris sama bonyok. Mereka udah fix pengen banget gue sama lu nikah. Kalo lo yang ngomong siapa tau didenger."

"Iya, nanti."

"Sekarang, Za! Lebih cepat lebih baik. Mumpung masih anget. Siapa tau mereka berubah pikiran," bujuk Fai, begitu panggilannya, usai meneguk hampir setengah gelas jus jambu milik Faza yang ia colong dari kulkas. Faza mengambil gelas tersebut lalu menghabiskan sisanya.

"Iya, bawel. Nyokap bokap gue belum pulang."

Keduanya terdiam. Baik Fai maupun Faza memiliki bayangannya masing-masing. Faira yang membayangkan jika kelak dirinya lulus dengan gelar S.E di belakang namanya, lalu wisuda ditemani keluarga tercinta juga sang kekasih yang masih dirahasiakan Tuhan. Lalu, menjadi wanita karier yang sukses setelah itu menikah dengan pria yang dicintainya. Namun sederet mimpi-mimpi luar biasanya itu seakan raib bak deburan debu tertiup angin, tatkala perjodohan tercetus dari mulut sang mama. Menikah di usia muda bukanlah mimpinya. Baginya itu merupakan penghambat segala kebebasan.

Jika nanti ia menikah, tentu tidak bisa sebebas sekarang. Mau pergi ke mana pun pasti harus izin dengan suami. Mau pergi jauh kepikiran suami di rumah. Lalu harus bangun pagi membuatkan sarapan, sedangkan keahlian Fai dalam hal memasak hanya mahir membuat mi instan. Agar terlihat kreatif, ia biasa mengkreasikan sajian mi instan dengan bahan makanan lain. Tapi, judulnya tetap mi instan. Apa mungkin suaminya disuguhkan mi instan setiap hari?

Sementara itu ada sosok yang diam-diam memandang kagum Faira. Cowok di sebelahnya saat ini malah asyik tersenyum samar melihat ekspresi diam namun, menggemaskan Faira. Faza yang sejak awal merasa lebih nyaman mengenal Faira yang ceplas-ceplos, agak tomboi, dan pecicilan itu merasa tidak dirugikan jika harus dijodohkan dengannya. Itulah mengapa ia terlihat biasa saja ketika Faira datang mengutarakan ketidakterimaannya. Faza mengagumi cewek itu. Cewek unik yang sejak mereka bertetangga, telah mencuri perhatiannya. Mungkin juga hatinya. Hanya saja, Faza bukan tipe cowok yang bisa dengan mudah menunjukan ketertarikannya. Baginya, biarkan saja Fai menilai dirinya si cowok tanpa ekpresi yang menyebalkan.

"Gimana kalo kita demo? Kita mogok makan?" Usul Faira tiba-tiba seraya menepuk lutut Faza, sehingga cowok itu tersentak samar. Faira seperti menangkap basah dirinya yang asyik memandang kagum cewek itu.

"Kita berdua mogok makan selama dua hari, Za. Ah, kayaknya gak sampe dua hari juga pasti bonyok lo sama bonyok gue gak tega. Abis itu perjodohan dibatalin deh. Gimana menurut lo?" Ide gila Faira membuat Faza menarik satu alisnya.

"Jangan ngeliatin gue kayak gitu. Ide gue keren, kan?" Fai tersenyum bangga.

Alih-alih menjawab, Faza malah beranjak bersiap akan pergi. "Ide lo aneh! Sama kayak yang ngomong."

"Ish, apaan sih. Gue serius. Lo mau ke mana?"

"Makan. Laper." Faza berjalan pergi meninggalkannya.

"Gue belum selesai ngomong ya, Prapto! Maen pergi-pergi aja. Gak sopan!" Umpat Fai kesal turut beranjak menyusul Faza.

Baca Juga: Teaser Novel A Man From Yesterday di Cabaca

Sore itu tidak menampakkan keramaian pada sebuah kafe kenamaan di salah satu kota di Jakarta. Kafe yang didominasi warna hitam dan putih menambah kesan nyaman bagi pengunjung, terlebih gadis berhijab penyuka warna hitam yang sedari tadi asyik memilah-milah sesuatu dari layar tabletnya. Senyumnya enggan pergi dari wajahnya yang ayu khas Jawa.

Di depannya, seorang pria tampak menikmati minuman hangat sambil sesekali memandang gadis ayu di hadapannya. Pria itu tersenyum sekali. Sampai si gadis tersebut mengangkat wajahnya.

"Ini bagus. Simpel dan gak terlalu rame. Menurut kamu gimana?" tanya gadis itu.

Si pria melihat sesuatu yang ditunjukkan gadis tersebut. Tak lama ia menatap gadis itu dan layar ponsel secara bergantian.

"Ini desain undangan?" tanyanya.

Gadis itu mengangguk.

"Pilihan yang bagus."

Gadis bernama Kaira itu tersenyum simpul. Matanya memancarkan harapan oleh mimpinya yang sebentar lagi akan menjadi nyata. Ia pun meletakan tablet miliknya, beralih menuju ponsel. "Kita mau bikin berapa undangan? Kalo bisa dipesen satu bulan sebelum acara. Tapi nunggu kepastian lamaran kamu dulu kayaknya."

Raut pria berwajah oriental itu pun membelalak kecil. Tubuhnya bergerak fokus menghadap Kaira lalu menatapnya serius. "Undangan itu buat kita?"

"Iya."

"Undangan pernikahan?"

"Iya, Ghan. Apalagi emangnya?"

Pria bernama Ghani itu membuang wajah sejenak sambil mengernyitkan dahi. Ia seruput lagi minumannya yang sudah tak lagi hangat itu. "Kayaknya ada yang salah, deh." Ghani kembali serius.

"Kapan aku pernah bilang mau nikahin kamu?" Pertanyaan Ghani melesat begitu saja dari bibirnya. Tak sadar ucapannya membuat Kaira sedikit tersinggung.

"Lantas hubungan kita setahun belakangan ini?"

"Menurut kamu apa?"

Kaira mendadak ragu. Sepertinya pembicaraan ini akan berujung hal yang menyakitkan. Ia menggigit bibir bawahnya kemudian berkata, "Pacaran, kan?"

Ghani tersenyum. Hanya saja senyumnya aneh. Senyum yang membuat siapa saja menaruh curiga kepadanya. Kai menyipitkan mata,  mencium bau-bau kepalsuan dari sana. "Baik. Aku jelasin ya. Biar tidak ada salah paham."

Ghani menarik napas. "Aku memang suka sama kamu. Kamu pun pasti begitu. Kita memang pacaran. Tapi, gak pernah terlintas dipikiran aku tentang pernikahan." Ghani membenarkan posisi duduknya. "Maksudku, semua orang pasti menikah. Tapi untuk saat ini aku belum memikirkan itu, Kai," jelas Ghani berakhir dengan tatapan iba.

Kai yang sudah mengira akan seperti ini. Ia hanya bisa diam. Hatinya yang berkecamuk tak karuan tertutup rapi dalam balutan senyum miris yang ia tampakkan. Baru akan mengatakan sesuatu, Ghani keburu melanjutkan penjelasan tak bergunanya itu.

"Masa muda kita masih panjang. Kita masih bisa melakukan hal-hal positif lainnya. Kamu bisa meneruskan pendidikan kamu demi masa depan yang indah, sedangkan aku meniti perjalanan karir dan bisnisku."

"Lantas maksud ucapan kamu dua hari yang lalu itu apa?"

Ghani mengingat-ngingat. Dan rupanya Kaira salah dalam menanggapi ucapannya tepat dua hari yang lalu melalui via telepon.

"Mama penasaran pengin ketemu kamu."

"Iya. Kalau ada waktu aku pasti ke rumah nemuin orangtua kamu," jawab Ghani menjepit ponsel dengan bahunya. Sementara tangannya sibuk menari-nari di atas keyboard.

"Kapan?"

"Kalau ada waktu luang." Tak lama, seorang perempuan datang menemui Ghani. Dia salah seorang asisten yang membantu bisnis pakaian miliknya. Tahu Ghani sedang menelepon, ia menyodorkan begitu saja seberkas laporan. "Kamu persiapkan saja undangannya. Secepatnya kita atur pertemuan." Ghani menatap karyawannya sambil menyerahkan laporan tersebut.

Mendengar hal itu, senyum Kaira merekah sempurna. Hatinya seperti dipenuhi banyak bunga. Mendengar jawaban yang terlontar dari seberang sana, Kaira tak berhenti tersenyum sambil menggenggam ponselnya.

"Oke, kalau gitu. Nanti aku telpon lagi."

Ghani yang masih sibuk, mengiyakan begitu saja lantas menutup telepon.

"Bego banget ya, aku." Kaira mengutuk kebodohannya mendengar penjelasan Ghani. Penjelasan yang membuat dirinya malu bukan main. Jadi, undangan yang dimaksud Ghani ialah undangan pertemuan dengan salah satu pelanggannya. Bukan undangan pernikahan yang Kaira elukan.

"Kamu gak salah. Aku minta maaf."

Kaira menghela napas berat. Memasok ketegaran akibat kebodohannya. Bukan wajah memelas nan menyedihkan sehingga membuat Ghani iba. Justru itu akan membuat Kaira terlihat seperti pengemis cinta yang amatir. Seseruput teh hitam seolah mengisi penuh semangatnya.

"Pernikahan itu bukan tujuan. Bukan juga akhir perjalanan. Pernikahan adalah awal perjalan kehidupan sebenarnya. Bukan berlabuh, tapi berlayar. Aku pikir aku memilih nahkoda yang tepat. Sayangnya, dia belum siap melajukan kapalnya untuk berlayar," papar Kaira.

"Sepertinya di mata kamu, aku seperti perempuan yang haus akan pernikahan. Ya, kan?"

Ghani tak menjawab.

Kaira menggunakan ponselnya untuk menelepon seseorang. "Halo, selamat sore. Dengan Pak Edo bagian HRD?" Ghani tampak menyimak pembicaraan Kaira dengan seseorang yang juga ia kenal. Pak Edo adalah kepala bagian HRD di tempat dirinya bekerja. "Saya Kaira dari bagian pemasaran. Ingin mengajukan resign dari perusahaan." mendengar hal tersebut sontak Ghani hampir memotong pembicaraan mereka. Namun tatapan Kaira seolah menahannya. "Ya, betul. InsyaAllah secepatnya. Kemungkinan besok atau lusa."

Ghani menunggu obrolan mereka berakhir dan ingin segera menanyakan apa tujuan Kaira mengundurkan diri dari perusahaan secara tiba-tiba itu. "Terima kasih atas kerja sama dan bimbingan bapak selama ini. Salam untuk keluarga. Sore."

"Aku pulang duluan. Terima kasih untuk hari ini." Belum sempat Kaira melangkah, Ghani menahan tas abu-abu dari tangannya. Kaira menoleh. "Kamu gak mau meluruskan semuanya?"

Sesuatu yang sudah bengkok, ya bengkok saja. Apalagi yang musti diluruskan.

"Gak perlu. Aku udah paham. Sangat paham." Perlahan ia menepis tangan Ghani dari tasnya. "Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawab Ghani melemah.

Sesampainya di kasir, Kaira meminta satu porsi roti bakar yang sudah ia pesan untuk dibawa pulang. "Nanti yang bayar mas-mas di meja nomor tiga itu, ya. Sekaligus rotinya juga." Sang kasir mengangguk ramah.

Kaira tersenyum menang. Setidaknya dengan mengetahui Ghani tidak bawa dompet, cukup menyembuhkan luka perih yang pria itu ciptakan hari ini.

"Selamat bersenang-senang, cowok PHP!"

Baca Juga: Teaser Novel Hadiah dari Tuhan di Cabaca

Di sepanjang jalan, Kaira terus melamun. Langkah kakinya lesu tak bergairah. Matanya menatap lurus ke depan sepanjang trotoar. Merenungi kebodohannya karena sudah membuka hati untuk laki-laki yang ternyata tidak sepemikiran dengannya. Lantas ke mana saja dia setahun belakangan ini? Harusnya dalam jangkan waktu selama itu ia paham bagaimana pola pikir Ghani terlebih menyikapi pernikahan di usia muda.

Kaira si gadis lugu yang sejak sekolah menengah pertama begitu mengelukan pernikahan. Berawal mendengar dongeng tentang putri kerajaan yang menikah dengan pangeran, sampai kisah para selebgram yang melakukan nikah muda. Membuat Kaira semakin ingin merasakan menikah. Sampai ia bertemu Ghani. Pria ramah dan menyenangkan yang berhasil menjerat hatinya berkat rasa nyaman yang ia berikan. Ghani satu-satunya pria yang berhasil mengajak Kaira mengobrol ketika banyak pria di sekelilingnya yang sepertinya butuh perjuangan khusus untuk bisa berbincang lama di luar pekerjaan dengannya.

Sayangnya, Ghani berhasil memusnahkan impiannya. Impian pernikahannya. Entah karena Ghani, atau memang karena Kaira terlalu tinggi menuang harap kepada pria itu. Karena sejatinya, harapan yang pantas di elukan hanya kepada Rabb-nya. Bukan kepada manusia. Kaira menyesal bukan main. Ingin sekali menjerit saat ini juga. Sampai ponselnya berbunyi.

"Lagi di mana? Tumben belom pulang."

"Lagi di jalan. Bisa jemput gak? Aku di halte, nih." Kaira duduk di halte.

"Motor lo masih di-service emangnya?"

"Masih. Paling besok atau lusa kelarnya. Jemput ya? Ya?"

Suara di seberang sana mengecil.

"Aku abis beli Roti Bakar Edy. Kejunya full, lumerrr tumpah tumpaahhhh.... Masih anget lagi." Kaira menggunakan trik andalannya untuk menyogok saudara kembarnya itu. Sesekali ia berlagak mencium aroma roti bakar yang menguar dari kantong plastik putih itu.

"Oke, okeeee. Wait ya. Jangan ke mana-mana. Jaga rotinya biar tetep anget. Gue cabut sekarang, nih!" Faira buru-buru menuju kamar memakai jaket dan bergegas menjemput Kaira.

Baca Juga: Teaser Novel Ribuan Yojana di Cabaca

"Sia-sia dong, gue pilihan desain undangan yang keren? Emang kampret tuh sih Ghani!" Luapan emosi Faira yang masih mengunyah roti keju tampak menggebu-gebu.

"Telen dulu, hei!" Tegur Kaira yang sedang membersihkan wajah di meja rias, menatap saudara yang lahir lima menit lebih dulu darinya dari balik cermin. "Ya udahlah mau kamu marah-marah pun juga percuma, Fai."

"Gue bisa samperin dia. Gue kasih pelajaran." Ancam Fai usai menelan sisa roti di mulutnya.

"Aku udah terlanjur illfeel sama dia. Biarin ajalah"

"Kalo udah ilfeel harusnya lo enggak perlu resign dari kerjaan, kali. Ketemu tiap hari pun enggak jadi masalah, kan?" Faira menyantap lagi satu potongan roti bakar keju kesukaannya.

"Move on itu butuh waktu."

"Katanya udah illfeel."

"Masih proses."

"Tandanya belum illfeel."

Kaira jengah, beranjak ke tempat tidur. "Terserah deh mau dibilang apa. Intinya aku gak mau liat muka dia dulu, titik!"

Faira manggut-manggut. Saking asyiknya menikmati roti, lupa menyisakan untuk Kaira. Maka dari itu ia menyingkirkan sisa roti ke atas meja. Kamar mereka bersebelahan. Setelah tahu Kaira membawakan makanan kesukaannya, Faira buru-buru menyantapnya di kamar Kaira.

"Lagian lo ngebet banget kawin, sih? Pikirin kuliah dulu napa." Ah, kalimat ini sudah biasa terdengar di telinga Kaira. Tak hanya dari mulut kakaknya, tapi juga dari beberapa teman kuliah dan rekan kerjanya. Kaira kebal akan hal itu.

"Nanti giliran udah married, kuliah terbengkalai lagi. Pendidikan itu nomor satu."

Saatnya Kai membuat pembelaan. "Mungkin itu alasan kenapa lo nolak dijodohin sama Faza ya, kan? Balik lagi ke diri masing-masing aja sih. Menurut aku, pendidikan memang nomor satu, dan akan tetap menjadi nomor satu meski status berubah. Menyandang status mahasiswi sekaligus istri itu asyik kayaknya."

"Duh, Kai. Tanggung jawabnya jadi numpuk tau gak? Udh mikirin tugas kuliah ditambah mikirin kewajiban ngurus suami."

"Biar gak numpuk tinggal dijejerin aja, sih." Setelahnya Kaira terkekeh geli. Jemarinya asyik mengutak-ngatik layar ponsel.

"Gue serius, ya. Dan bukan cuma karena itu. Gue anggep Faza udah kayak abang gue sendiri. Apa jadinya kalo gue sama dia married? Setiap hari banting piring yang ada."

Hati kecil Kaira sedikit ada rasa iri. Mengapa bukan dirinya yang dijodohkan? Entah dengan siapa pun itu. Apa karena Faira lebih tua lima menit darinya? Mengapa harus Faira yang menentang keras nikah muda?

"Berarti, kalo sama cowok lain mau?"

Faira menghentikan sejenak gerakan jari dari ponselnya. "Ya gak mau juga. Pendekatan dulu lah. Pacaran dulu, nanti kan jadi tau karakter dia setipe sama gue apa engga."

"Itu sih sama aja kayak kamu sama Faza. Kamu udah kenal dia lama."

"Tapi dia bukan tipe gue, Kai." Faira mengambil kotak berisi roti bakar ke tepi tempat tidur. "Makan dulu nih, ntar abis sama gue lagi." Padahal Faira masih ingin tambah satu potong lagi.

"Makan aja, abisin. Aku kenyang." Kaira menyingkap selimut ke tubuhnya. Tanda ia segera ingin tidur. "Serius nih? Nyesel gak lo? Ntar ngedumel lagi."

"He'eummm!" Kaira sudah menutup sebagian wajahnya dengan selimut.

"Emang lo kenyang makan apa deh?"

Kaira membuang napas kasar, membuka selimut menatap Faira serius. "Makan janji-janji manis. Puas? Buruan ah, sana. Aku ngantuk!"

Alih-alih pergi, Faira tertawa geli melihat ekspresi kesal adiknya. Baginya, Kaira tipikal perempuan lembut nan penyabar. Orang seperti Kaira kalau marah bisa dihitung jari. Tapi sekalinya marah, jangan harap besok bisa menghirup napas kehidupan.

Sementara itu dari balik selimut, Kaira menyalakan ponsel lagi. Membuka menu aplikasi pesan Whatsapp, memilih satu kontak lalu memblokir nomor tersebut.

"Bye!" Gumam Kaira sebelum akhirnya memejamkan mata ke alam mimpi.

Baca Juga: Teaser Novel Devils Inside di Cabaca

Saudara kembar tidaklah bernasib kembar. Faira yang anti menikah muda, sedangkan Kaira yang memimpikan menikah muda. Apakah segalanya berjalan sesuai dengan yang mereka impikan? Cerita romantis Islami berjudul Zwilinge telah hadir di Cabaca, GRATIS!

Mau download novel Indonesia? Di Cabaca bisa! Pakai mode offline dong. Sebelumnya install aplikasinya di Play Store yuk! Takut mahal? Tenang, ada program Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca, setiap pkl 21.00-22.00 WIB. Baca novel kini bisa tanpa kerang!

Baca novel kini bisa tanpa kerang di Cabaca!