Teaser Novel You, Wounded Healer di Cabaca – “Kau seharusnya ingat umur, Ta!” Aileen memulai ceramah pagi di hari pertama Februari.

“Kau tahu alasanku masih enggan menikah, Bi,” sahut perempuan berambut cokelat gelap yang tengah menyambar sekotak susu segar dari tangan Aileen. Setiap dua hari seminggu, mereka memang kedatangan seorang kurir susu sapi segar.

Kakak perempuan ipar daddy-nya itu menghela napas dalam-dalam seraya menatap perempuan semampai itu. “Cobalah cari pasangan, lalu menikah, Ta! Itu bisa menghilangkan rasa takutmu,” ucapnya lembut.

Greta setengah memicing dan menyorot protes perempuan yang memakai shift dress biru tua dan putih di balik mantel hitam. Membenarkan posisi tali foldover purse bag yang melintang di dada, ia berujar, “Bagaimana kalau ternyata itu akan memperburuk keadaanku?”

“Kau bisa mencobanya dulu. Jangan karena otak yang terlampau encer, lalu kau terus-terusan mengejar karier seperti ini.” Aileen meneliti penampilan Greta; slim white blazer suit dengan dua kancing hitam di dua sisi blazer dan mantel abu-abu sebagai pelapis. Tatapannya seolah menyalahkan Greta yang siap berangkat kerja.

Entah sudah berapa kali telinga perempuan hampir berkepala tiga itu mendengar kalimat yang intinya sama saja—suruh segera menikah. Rasanya, Greta ingin membantah habis-habisan. Paman dan terutama Bibi tidak tahu semenderita dan setersiksa apa ia menghadapai kekacauan yang ditorehkan oleh daddy-nya. Mereka memang ada saat ia terpuruk, tetapi bukan berarti tahu semua sampai ke isi hati, kan?

“Kau tahu? Tidak semua laki-laki seperti Yasa, Ta.” Aileen belum lelah membujuk.

Greta menyandarkan punggung pada salah satu pilar bercat putih dan berbentuk hexa di luar rumah yang menjulang tinggi dari permukaan tanah hingga lantai atas. Ia menyisir rambut tergerainya. "Stop talking about him! OK?”

“Fine, but you should stop blaming the past! Could you?”

Itu terdengar seperti ultimatum keras bagi Greta yang di dalam dada mulai terasa bergemuruh. Menegakkan tubuh, matanya berkilat pada Aileen. “Bibi mudah berkata seperti itu. Aku lebih baik sendiri karena orang tua meninggal daripada harus ditinggal sendiri karena mereka bermasalah dan akhirnya pisah, Bi. Kalau saja waktu itu aku tidak segera operasi, mungkin aku tidak akan pernah melihat jejak perlakuan tidak manusiawi Daddy pada Mama.”

“Jadi, kau menyesal?” tanya Aileen setengah kecewa.

Greta membalas tatapan itu dengan penuh keyakinan dan mengangguk. “Bukankah sudah berulang kali aku mengatakannya?”

Aileen membuang wajah. Matanya terarah pada jutaan butir salju yang menyelimuti permukaan tanah sejak Desember. Tangan kirinya menyeka peluh yang merembes tipis di pori-pori dahi. Ya, itu efek endogen yang timbul akibat percakapan cukup panas ini.

“Kenapa aku cepat mendapatkan donor mata, sih?! Seharusnya, siapa pun orang itu ... memberikan matanya pada pasien yang sudah lama mengantre di daftar penerima donor mata,” keluh Greta dengan emosi hampir tidak terkendali.

“Kau seharusnya bersyukur, Greta Ventura!” gertak Aileen gemas. “Kau tidak berhak menyalahkan pendonor atau siapa pun itu. Kami susah payah mencarikannya untukmu, tahu?”

Perempuan itu memejamkan mata dan menghirup oksigen yang terasa begitu membeku ketika melewati saluran napas. “Untuk kesekian kali, aku merasa menyesal. Mata ini membuatku menyaksikan hal menyakitkan, Bi. Bahkan Mama berubah menyedihkan. Tidak seperti yang terakhir kulihat sebelum buta.”

Bayangan kelam masa remaja yang pernah terlupakan langsung menyergap. Membuatnya bungkam dan meringis pedih dalam hati. Ia tidak kuasa membuka suara untuk sementara waktu karena hanya akan tergantikan oleh air mata. Dan seperti biasa, ia tidak ingin sisi rapuhnya dilihat oleh Bibi. Cukup di masa-masa itu saja Paman dan Bibi menyaksikannya.

Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan, netra bening Greta terpaku tajam pada iris abu-abu di hadapan. Ia dapat menangkap sorot kecewa, marah, serta iba dari sepasang bola mata Aileen. Namun, itu tidak menggoyahkan.

Ingin sekali Aileen mendaratkan telapak tangannya pada pipi mulus Greta dengan kencang. Berharap dengan begitu, perempuan keras kepala tersebut sadar atas ucapannya. Sayang, itu hanya terealisasikan di dalam bayangan.

Ia paham betul bahwa Greta tidak sepenuhnya salah. Ada sesuatu yang tidak diketahui Greta sehingga dirinya setengah memaklumi.

“Kau tidak pantas menyalahkan mata itu.” Aileen menunjuk objek yang dimaksud. Dengan menahan gelombang amarah, ia lanjut berkata, “Apa kau tidak sampai memikirkan orang yang sudah rela mendonorkan mata untukmu, ha?”

Greta memicing dan mengerutkan dahi. “Memangnya, orang itu siapa? Bukankah identitas si Pendonor dirahasiakan? Bibi maupun Paman Ahmed juga tidak tahu, kan, Bi?”

Aileen serta merta mengatupkan bibir rapat-rapat seraya menarik kedua sisi mantel supaya tubuhnya lebih tertutup sempurna.

“Oh! Atau jangan-jangan ....”

Mata mengerjap dua kali, lalu menyahut, “Siapa pun itu, tidak penting. Yang penting adalah kaubisa menghargai mata yang kaumiliki sekarang. Kau harus menjaganya baik-baik, ingat itu!”

Greta bukan anak kecil atau orang yang mudah dibodohi. Dari ekspresi barusan, dirinya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Kecurigaannya mulai timbul.

“Sudah, sana berangkat!” pinta Aileen sebelum berbalik dan hilang di balik pintu mahogany cokelat besar berornamen.

Baca Juga: Teaser Novel Lamaran Kedua di Cabaca

Percakapan yang Mengganjal

“... terus-terusan mendengar anak itu mengeluhkan keadaannya, Med. Bisa hipertensi lebih cepat aku.”

“Bagaimanapun juga, kita tetap tidak bisa memberi tahu anak itu yang sebenarnya.”

Greta yang baru saja menginjak lantai dua dan melintas di depan kamar besar suami-istri itu mendengar lirih, tetapi jelas. Karena penasaran, ia urung meneruskan langkah ke kamarnya dan memutuskan pasang telinga diam-diam. Pintu putih besar itu terbuka sekitar dua jengkal sehingga memudahkannya menangkap setiap gelombang suara.

Ia melongok sedikit dan melihat Ahmed sedang merapikan kaus hijau lumut yang baru saja melekat di badan. Sementara itu, Aileen tengah duduk di sofa panjang berwarna krim dengan posisi memunggungi pintu. Meneliti sekilas raut wajah pamannya, ia menangkap atmosfer serius.

“Apa tidak ada cara untuk memberi tahunya? Sampai kapan dia akan hidup seperti ini? Dia sudah cukup tua untuk terus tumbuh bersama traumanya, Med.”

Dalam waktu singkat ini saja, perbincangan dua orang berusia setengah abad lebih itu menarik kuat penasaran Greta. Bahkan sampai mampu membuatnya lupa akan lelah akibat bekerja di ruang operasi selama 11 jam tadi.

Greta ingin tertawa geli, tetapi tidak terima karena dinilai sudah tua. Memangnya, usia akhir dua puluhan itu sudah tergolong tua, ya?

Sweety, trauma itu tidak pandang bulu dan usia. Siapa pun bisa mengalami. Tingkat kesembuhannya juga berbeda-beda. Jangan samakan!” sahut Ahmed berkata bijak. Ia duduk di samping istrinya. “Dia juga sudah pernah kita bawa ke psikiatri dan dinyatakan sembuh.”

“Sembuh katamu?” tukas Aileen kurang setuju.

“Kata dokter waktu itu,” koreksi suaminya dengan tenang.

Ibu satu anak itu menghela napas. “Kalau sembuh, tentu dia sudah menikah.”

Sweety, setidaknya, dia menjalani hidup normal sekarang.”

“Dengan masih menyalahkan keadaan?” timpal Aileen tajam. Ia membuang wajah ke kiri sehingga anting pendulum hitamnya bergerak-gerak.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel After Marriage Karya Ami_Shin di Cabaca

Setelah menerima donor mata, hidup Greta justru tidak tenang. Bukannya tidak bersyukur, ia hanya takut hal itu malah memicu luka dan sakit yang lain... Suka baca novel medis? Di Cabaca ada lho! Yuk, baca You, Wounded Healer di Cabaca, GRATIS

Buat apa cari novel pdf bajakan? Sekarang kan udah ada Cabaca.id, sebuah aplikasi baca novel online gratis Indonesia. Beneran gratis lho di Jam Baca Nasional setiap pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Yang mau lanjut baca bisa tetap gratis asalkan suka lakuin misi kerang. Makanya ayo rame-rame install aplikasi Cabaca!