Novel Womanizer di Cabaca.id – Suara beradu kulit baru saja terdengar. Panas segera menjalar di pipi kirinya. Sedetik yang lalu, sebelah tangan cantik mendarat di pipinya tanpa aba-aba. Dia mengumpat pelan, tapi tidak marah. Meski semua mata pengunjung restoran menatap penuh rasa ingin tahu atau bahkan menunggu drama lanjutan.

Tidak akan. Jangan harap.

Juna segera memasang ekspresi terbaiknya. Dia akan menjelaskan sekali lagi. “Calm down, Babe. Kita dilihatin semua orang. Percaya  sama aku, yang jalan sama aku kemarin malam, itu Karenina. Dia teman, no, sahabatku. Kenapa mesti terhasut sama temenmu sih?”

Sebuah ponsel kemudian terlempar ke tengah meja. Juna mengambilnya dengan tenang. Dilihatnya sebuah foto yang menampilkan Karenina menggelayut manja dan mereka tertawa di salah satu mal ibu kota. Ya terus kenapa? Dia sudah jelaskan kalau mereka bersahabat. Perempuan di depannya masih saja menatapnya garang.

Juna menyandar di kursi, menyatukan kedua tangannya. Nyengir lebar, menjawab apa adanya. “Karenina minta ditemenin ketemu designer kemarin. Terus pulangnya mampir mal. Aku longgar, jadi ya—”

“Kamu begini juga ke mantan-mantan kamu?”

“Begini gimana?” Dia tidak sebodoh itu. Hanya saja, melihat ujung dari hubungan ini akan bagaimana, sekalian saja dia buat perempuan ini sekesal mungkin.

“Membiarkan mereka nampar kamu, dan setelah ditampar, kamu masih bisa cengengesan?”

Juna menyeringai. “Kamu keberatan dengan sahabatku? Mereka nggak cuma satu hlo.”

“Maksud kamu?!”

“Sebelum kita pacaran, aku udah jelasin kalau aku punya tiga perempuan yang nggak bisa aku jauhin demi alasan menjaga perasaan pacar. Lupa?”

Perempuan di depannya tampak terdistraksi.

“Tapi kenapa harus semesra itu?”

“Kamu keberatan?”

“Iya! Kenapa pakai nanya segala? Jelas iya. Coba bayangkan kamu yang ada di posisiku. Lihat pacarnya ketawa-ketawa mesra sama perempuan lain.”

“Nina sahabatku.” Kurang jelas gimana sih kalimat Juna?

“Sahabat? Laki-laki dan perempuan bersahabat? Bullshit, Jun, bullshit!”

Juna menghela napas. “Oke, mau kamu apa?”

“Aku nggak mau lihat hal serupa terjadi.”

“Aku nggak bisa.”

“Maksud kamu?!”

“Kamu nggak cukup untuk dijadikan alasan, Honey.” Juna mulai kesal. “Mungkin besok-besok kamu bakal lihat aku jalan sama Danisha, atau nungguin dia di belakang panggung dengan sabar. Nemenin Vian berkebun dan baca buku bareng. My life just pretty simple kalau kamu mau sedikit toleran. Aku bahkan nggak nuntut apa-apa selama kita pacaran tiga bulan ini, ‘kan?”

Wajah perempuan di depannya sudah merah padam, tapi Juna—meski kesal—masih menunjukkan wajah ramahnya. Danisha bilang, ini wajah playboy cap kadal.

“Tapi kamu nggak bisa gitu, Jun!”

“Bisa. Sama ketika aku ngasih kamu kebebasan. Nggak nuntut ini-itu, yang artinya nggak mendikte kamu menjadi sosok yang aku mau. Aku juga berharap sama, kamu nggak mendikte aku harus jauhin sahabat perempuanku demi memuaskan ego, cemburu atau apalah itu.”

“Kamu nggak ngerti, di mata temen-temenku—”

“Jadi, yang jalani hubungan ini, aku sama kamu, atau aku sama temen-temenmu?”

“KAMU EGOIS!”

“Ya, katakanlah aku egois.” Juna pasrah, lelah berdebat. Seharian ini dia sibuk mobile dari satu gedung ke gedung lain. “Aku begini adanya. Kalau kamu nggak bisa terima, ya udah.”

“Ya udah?!”

“Iya. Ya udah. Dibikin gampang aja sih.” Juna menggaruk dagu. “Kita putus.”

WHAT?!”

Baca Juga: Teaser Novel Nyuk Normal di Cabaca

1

Belum apa-apa, dia sudah jerih menatap lautan manusia. Memang sih, yang dia tunggu belum tampil. Via Vallen masih di atas panggung, menyapa penonton—setelah menyanyikan satu lagu yang berhasil membuat lautan manusia bergoyang. Sungguh animo yang luar biasa.

Tunggu, dia tidak sendirian. Ada perempuan kalem di sebelahnya, yang kalau tidak dipegang tangannya, bisa hilang. Juna menoleh, yang tadinya hanya menggandeng tangannya, kini beralih merangkul bahu perempuan itu.

Vian menepis rangkulannya. Tapi Juna tetap memaksa. “Tuh, di sebelah lo ngelirik mulu. Risi gue.”

“Iya?”

Sudah dua kali dia mengajak Vian menonton konser di lapangan terbuka. Yang trttpertama, dia sempat terpisah dengan Vian karena perempuan itu terdorong-dorong penonton lain. Dengan panik, Juna sampai menghubungi promotor acara. Panik luar biasa. Apalagi ini Vian. Perempuan yang dia kenal introvert.

Maka kali ini, dia harus menjaga Vian lebih ekstra.

“Kalau pengin ke toilet, bilang. Nanti gue anter. Jangan ditahan.”

“Oke, anter sekarang.”

Juna mengedar pandangan, lalu merengkuh bahu Vian dan menyibak penonton untuk menuju ke tribun sebelah kiri.

Begitu tiba di depan toilet, Juna mengambil alih ransel mini Vian. Sambil menunggu, dia membuka aplikasi chat.

Nina: Jun, udah mulai? Gw pengin nyusul nih

Juna: blm, gk usah nyusul. Crowded bgt. Gw kewalahan kalo jagain dua cewek.

Nina: dih -_-

Dari pintu toilet, kepala Vian melongok. “Jun ....”

Juna menoleh cepat. “Kenapa, Vi? Airnya macet?”

Vian menggeleng.

“Tisunya habis?”

Menggeleng lagi.

“Terus?”

“Itu, ehm, aku tadi lihat di depan stadion ada toko.”

“Mau beli cemilan dulu?”

“Ih, bukan.”

“Terus apa?”

“Beliin pembalut dong, Jun.” Sambil tersenyum sungkan.

Juna sempat bengong sebentar. “Oh, pembalut. Oke, tunggu.”

Baca Juga: Teaser Novel >9 SR di Cabaca

Bahu Vian kembali dia rengkuh untuk merangsek lebih maju. Tapi mereka harus puas berada di deretan tengah. Tidak bisa merangsek lagi. Jadi mending pasrah daripada membuat penonton lain emosi. Lagi pula, yang mereka tunggu sudah berdiri di atas panggung.

Dari tempatnya berdiri, Juna menatap kagum pada perempuan yang setiap kali manggung selalu mengenakan serba-hitam. Kali ini pun sama. Rambut panjangnya yang bergelombang, diikat. Kaki jenjangnya dibalut jins hitam pekat. Serta sepatu lars bergerigi yang membuatnya lincah melompat-lompat di atas panggung.

Gebukan drum langsung disambut sorak-sorai penonton. Suara nge-bass Danisha meningkahi gebukan drum yang diikuti petikan gitar. Seketika penonton terbakar. Juna menoleh, memastikan perempuan di sampingnya aman. Dia takut lengah dan Vian bisa terseret lagi.

Merasa ditatap cemas, Vian menoleh dan mengacungkan telunjuk dan jempol. Yang menandakan dia baik-baik saja.

Lagu pertama selesai. Lagu yang Juna tahu diciptakan sendiri oleh Danisha. Lagu yang menjadi awal kebangkitan perempuan itu setelah apa yang sempat terjadi beberapa tahun silam. Sesuatu yang membuat hidup perempuan itu jungkir-balik.

Jeda sebentar sebelum intro lagu kembali mengalun. Kali ini lebih slow, tanpa mengurangi kekuatan suara Danisha yang selalu menyihir penonton untuk bernyanyi bersama.

That Arizona sky ....

Lautan penonton kembali bergemuruh. Lagu dari Lady Gaga yang dibawakan dengan Danisha kali ini—sebagai lagu kedua.

Burnin' in your eyes
You look at me and babe I wanna catch on fire
It’s buried in my soul
Like California gold
You found the light in me that I couldn’t find

So when I'm all choked up and I can't find the words
Every time we say goodbye baby it hurts
When the sun goes down
And the band won't play
I'll always remember us this way

Lovers in the night
Poets tryin' to write
We don't know how to rhyme but damn we try
But all I really know
You're where I wanna go
The part of me that's you will never die

So when I'm all choked up and I can't find the words
Every time we say goodbye baby it hurts
When the sun goes down
And the band won't play
I'll always remember us this way

Oh yeah
I don't wanna be just a memory baby yeah
Hoo, hoo, hoo, hoo, hoo, hoo
Hoo, hoo, hoo, hoo, hoo, hoo
Hoo, hoo, hoo, hoo, hoo hoo hooooooooo

So when I'm all choked up and I can't find the words
Every time we say goodbye baby it hurts,
When the sun goes down
And the band won't play
I'll always remember us this way
Way yeah

When you look at me and the whole world fades
I'll always remember us this way

Oooh, oooh, hmmmm
Oooh, oooh, hmmmm

Sebuah sentuhan membuat Juna tersadar. “Kenapa, Vi?”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: 7 Karya Sapardi Djoko Damono yang Wajib Dibaca

Jangan langsung underestimate sama cowok yang mungkin hobinya koleksi mantan. Kita gak pernah tahu bagaimana cara dia menjaga hatinya. Novel romance yang seru buat dibaca selama #dirumahaja karya Respati Kasih. Baca Womanizer yuk, GRATIS di Cabaca.

Kata siapa di aplikasi Cabaca gak bisa baca gratisan? Kalau kamu males ngelakuin misi kerang buat baca gratis novel Indonesia. ya udah buka Cabacanya di Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca aja. TIAP HARI pkl 21.00-22.00 WIB. Gak bakal berkurang kerangmu. Makanya, install dulu aplikasi Cabaca di HP kamu!

Pakai aplikasi Cabaca, baca sepuasnya selama #HappyHournyaCabaca atau Jam Baca Nasional!