Teaser Novel What We Do Behind Her Back di Cabaca

Teaser Novel What We Do Behind Her Back di Cabaca – “Lila? Lila? Halo? Earth to Khalila Maharani!

Rissa menarikku kembali pada kenyataan bahwa aku masih berada di kantor pada hari Sabtu yang cerah ini. Semestinya aku bekerja, bukan malah menulis sesuatu yang puitis begini, seperti sedang menghabiskan waktu di hari libur saja. Laptop segera kututup untuk berjaga-jaga jika Rissa, teman sekantorku itu, akan mengintip tulisanku dari samping. Walaupun kutahu dia bukan seseorang dengan tingkat keingintahuan yang tinggi, aku tetap merasa risi.  

“Yuk, meeting! Semua orang sudah pergi ke ruang rapat, tuh.”

Telunjuk Rissa mengarah pada ruang rapat berukuran kecil tepat di seberang ruangan departemen HRD, tempatku berada sekarang. Aku baru sadar tidak ada siapa pun lagi di sini kecuali kami berdua. Semua orang sudah pindah ke sana. Ah, hampir saja aku lupa. Hari ini akhir pekan di akhir bulan, waktunya rapat kinerja bulanan. Kenapa aku tidak ingat? Ada apa denganku? Biasanya aku tidak pernah lupa rapat ini. Apa karena pekerjaan yang menumpuk dan menggeliat di bawah tenggat waktu, karena jadwal audit yang berkelanjutan di minggu depan, atau…

Ah, tidak. Kepalaku menggeleng, berupaya menepis adanya sangkaan lain. Sebagai pengalihan, aku mengambil buku catatan dan pulpen dari dalam laci, bersiap mengikuti langkah Rissa menuju ruangan rapat. Setibanya di sana, sudah tidak ada kursi tersisa lagi. Terpaksa aku dan Rissa berdiri menempel pada pintu yang sudah ditutup. Aku selalu sebal jika harus rapat di ruangan ini. Kapasitasnya kecil dibandingkan dengan tim HRD yang berjumlah lima belas orang. Ruangan terasa penuh dan sesak. Tapi mau bagaimana lagi, hanya di sini satu-satunya ruang rapat di gedung ini. Jika ingin yang lebih besar, kami harus pindah ke gedung seberang yang jaraknya lumayan. Apalagi jika ditempuh di bawah matahari yang menyorot terik pada pukul sepuluh pagi, bisa dipastikan kami sudah kesal karena kelelahan sebelum rapat.

Kuperhatikan Erin, teman dekatku yang lain, sudah duduk manis di depan sang asisten manajer HRD, Sagara Mahes Adiatma. Erin dan aku hampir terbiasa bersama, kecuali ketika rapat internal. Erin akan menjadi orang pertama yang melesat meninggalkan ruangan HRD, melupakanku bahkan mengabaikan sesibuk apa pun pekerjaannya, demi mendapatkan tempat sedekat mungkin dengan beliau.  

“Pak Sagara itu paket lengkap! Udah ganteng, masih muda, pinter, ramah, bijaksana dan nggak pernah marah-marah lagi! Super baik, tapi tetap tegas dan teguh pendirian. Ah, pokoknya dia lelaki idaman gue banget!”

Begitulah kira-kira kalau Erin sedang membicarakan Pak Sagara. Selalu bersemangat. Berapi-api. Kedua matanya berkobar-kobar dipenuhi perasaan kagum dan cinta, dia menyebutnya begitu, dan senyum tidak pernah hilang dari wajahnya. Wajahnya memerah tersipu malu. Persis seperti anak sekolah yang baru mengenal cinta.  

Ketika seseorang mengingatkan bahwasanya Pak Sagara sudah beristri, Erin bersikap tidak peduli. Dia selalu bilang “jangan khawatir, gue cuma kagum, nggak ada niatan untuk merebut beliau”, saat kembali diwanti-wanti agar tidak tenggelam terlalu dalam di ember imajinasi tentang Pak Sagara. Tetapi alih-alih berhenti, Erin tidak habis-habis memuji laki-laki itu, dan sambil bercanda, dia berandai-andai apakah mungkin Pak Sagara bisa bercerai dan melihatnya sebagai seorang wanita, bukan sebagai bawahan.

Sepanjang rapat, kudengarkan dengan saksama mengenai target kerja bulan depan dan sejumlah pekerjaan yang harus ditindaklanjuti oleh setiap divisi. Kucatat beberapa hal penting di buku catatan. Bu Olivia, manajer HRD, menjabarkan beberapa rencana perusahaan yang harus didukung dan dilaksanakan oleh tim. Lalu berlanjut pada diskusi mengenai permasalahan yang kami temui dalam sebulan terakhir. Sesekali Pak Sagara menimpali, memberi saran, menjawab pertanyaan. Dan setiap kali beliau bicara, Erin tampak berbinar. Dia mengedipkan matanya padaku, memamerkan kebanggaan bisa berada sedekat itu dengan beliau.

Saat divisi Industrial Relation sedang mencurahkan permasalahan mereka kepada Bu Olivia, ponsel di genggamanku bergetar dan menampilkan sebuah pesan baru.

Dari seseorang yang kuberi nama ‘pacarku’.

Pacarku:

Pulang kerja, kita makan yuk.

Isi pesan itu langsung membuatku sumringah. Balasan super cepat langsung kukirimkan.

Pasta, ya?

Aku sudah membayangkan sepiring fusilli carbonara atau spagetti aglio olio ada di hadapanku, memuaskan rasa lapar yang hanya terganjal dengan dua bolu kukus dan dua lemper isi ayam tadi pagi. Ditambah ditemani segelas soda dingin, pasti sempurna.

Ponselku bergetar lagi.

Pacarku:

Anything for my love.

Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan setelah membacanya. Mukaku memerah. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasa. Aku refleks tersenyum. Tetapi itu tidak berlangsung lama, sebab Bu Olivia sudah bersiap untuk menyudahi rapat.

“Duh, hampir lupa,” ucapan Bu Olivia menghentikan gerakan semua orang yang bersiap-siap meninggalkan ruangan. “Erin, persiapan family gathering untuk minggu depan sudah beres semua, kan? Ada kendala?”

Erin, sebagai ketua kegiatan tersebut, menjelaskan dengan detail mulai dari susunan acara selama dua hari satu malam, jenis kegiatan yang dilakukan selama di sana, sampai tempat oleh-oleh mana saja yang direncanakan akan didatangi. Semua sudah siap, tinggal menunggu keberangkatan saja, Erin menjelaskan dengan penuh percaya diri. Bu Olivia mengangguk puas dan memuji kinerja Erin serta timnya karena telah bekerja keras mempersiapkan acara yang sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya.

“Erin….”

Setelah rapat selesai, aku, Rissa dan Erin berjalan beriringan kembali ke ruangan. Namun tiba-tiba dari belakang, Pak Sagara memanggil Erin dan sontak menghentikan langkah kami bertiga.

“Ya, Pak?” balas Erin, seketika mencoba bersikap anggun dan menawan. Dia sempat meremas tanganku saat mendapati kemunculan samar-samar lesung pipi milik Pak Sagara begitu beliau tersenyum.

“Soal acara gathering minggu depan, ternyata istri saya mau ikut. Bisa kan kalau ditambahkan satu orang lagi? Kalau memang bujetnya sudah tidak ada, nanti saya tambahin dari kantong saya sendiri. Tolong ya diurus, dan saya juga minta maaf karena perubahan ini mendadak sekali.”

Lucu sekali melihat perubahan drastis raut muka Erin. Dari manis menjadi masam. Dari tersenyum lebar menjadi mengerucut kesal. Rissa hampir tidak bisa menahan untuk tidak mengikik di belakang.

“Saya usahakan, Pak. Nanti saya coba atur lagi, dan kalau sudah oke, saya beritahu Pak Sagara.”

“Oke, terima kasih ya,” kata beliau sambil menepuk lengan Erin, kemudian berlalu melewati kami untuk kembali ke ruangan.

Erin tidak henti mengomel tentang rencananya yang gagal untuk mengenal Pak Sagara lebih dekat lagi pada acara gathering nanti. “Mana bisa gue deket-deket Pak Sagara kalau ada istrinya. Yang ada kepala gue digetok karena nempel terus,” katanya penuh kekecewaan. Aku jadi ingat kira-kira sebulan lalu betapa gembiranya Erin saat Pak Sagara bilang hanya dia sendiri yang akan ikut gathering. Tanpa istrinya. Erin senang sepanjang hari. Sepanjang waktu. Frekuensinya membicarakan Pak Sagara beserta rencana yang akan dilakukan selama acara, jadi bertambah dua kali lipat. Rissa sampai harus mengingatkan berulang-ulang kali bahwa Pak Sagara sudah punya istri dan tampak sangat mencintainya. Erin tidak akan punya kesempatan.

“Yah, who knows, nanti mereka berpisah, lalu ada kesempatan buat gue bersama Pak—“

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Housemate di Cabaca

Yang orang tahu, Khalila perempuan baik-baik.  Yang orang tidak tahu, Khalila menjadi selingkuhan dan semua ini berawal dari cerita yang belum usai ... Suka novel tentang perselingkuhan? Cobain baca What We Do Behind Her Back di Cabaca. Gratis kok, dengan install aplikasi Cabaca di Google Play.

Selain cerita perselingkuhan, mungkin kamu juga akan suka baca novel romantis dan novel horor. Semua tersedia di aplikasi Cabaca. Install dulu aja deh supaya bisa baca novel online gratis. Soalnya di Cabaca ada Jam Baca Nasional, semacam Happy Hournya Cabaca, saat pukul 21.00 - 22.00 WIB. Dan program itu hanya bisa diakses di aplikasi. Download dulu Cabaca di Play Store buat nyobain!

Baca novel Indonesia di Cabaca