Teaser Novel (Un)finished! Karya Sekar Setyaningrum di Cabaca

Teaser Novel (Un)finished! Karya Sekar Setyaningrum di Cabaca – “The hardest part of loving someone is knowing when to let go, and knowing when to say good bye,” adalah kalimat entah siapa yang terus berputar di kepala Fian selama dua puluh dua jam perjalanan dalam pesawat.

Empat puluh jam lalu, Fian memenuhi lambungnya dengan alkohol dan menceritakan kemalangan hidupnya kepada Sisilia. Fian sudah melakukan hal paling rendah dalam sejarah hidupnya. Kisah cinta bak melodrama terus saja meluncur dari mulutnya. Fian tidak bisa berpikir jernih. Lebih fatalnya, Fian menceritakan semua itu kepada atasannya, orang yang akan dia temui sepuluh jam dalam sehari, lima puluh jam dalam satu minggu. Dan selama perbincangan itu, Fian sama sekali tidak menyensor nama gadis yang berhasil membuat perasaannya porak poranda. Gladies.

Sebenarnya, Gladies bukanlah gadis pertama yang mematahkan hati seorang Yoga Arfian Virza. Ada Luna dan Tita yang pernah mengkhianatinya. Namun, lebih mudah bagi Fian melupakan keduanya. Sebab, Fian tahu kualitas perasaan mereka kepadanya. Berbeda dengan kisah cintanya dengan Gladies. Perpisahan itu sama sekali bukan keinginannya ataupun Gladies.

Dan Fian sedang tidak ingin menyesali keputusannya saat ini. Persetan dengan harga diri dan prinsip hidup yang selama ini dia pertahankan setengah mati. Everything happens for a reason. Jika kisah pahit itu tidak meluncur dari mulutnya, Sisilia tidak akan memberinya tugas berharga ini. Berada di tribun penonton Circuit Ricardo Tormo dan berpuas diri dengan pencapaian Valentino Rosi di GP musim ini, jauh lebih baik ketimbang harus menangisi kepergian Gladies di sudut apartemen.

"What do you feel? I think no matter where you came from, you won't regret your presence at this show."

Fian menoleh ke kanan dan menemukan seorang pria berambut pirang tengah menatapnya sembari tersenyum. Pria itu menawarkan sebatang rokok di sela kalimatnya dan Fian tak kuasa menolak.

Udara Valencia jauh berbeda dengan Jakarta. Mendekati musim dingin, udara Valencia terasa menggigit untuk ukuran orang Indonesia. Fian butuh rokok untuk sekadar menghangatkan tubuhnya.

"Semua orang sudah tahu siapa juara dunianya, tapi kita tetap datang dan berdiri di tribun ini," kata Fian yakin. Dia tersenyum saat sekali lagi menyadari keberadaannya. Dan dia bangga berada di antara ribuan penggemar The Doctor saat ini. Paling tidak, menonton GP 'sendirian' tidak termasuk dalam sepuluh hal klise yang dilakukan pria saat patah hati.

Pria di samping Fian itu tertawa. Asap rokok berembus keluar dari mulutnya. Sesekali, tawanya teredam gemuruh sorak para penggemar Valentino Rossi. "Ya. Terkadang kita sudah tahu bagaimana sebuah kisah akan berakhir, tapi kita adalah manusia yang dipenuhi ambisi dan rasa ingin tahu. Aku senang hujan turut mengucapkan selamat tinggal kepada GP musim ini."

Seperti mendapat tamparan keras, Fian berdeham. Dia sudah tahu akhir dari hubungannya dengan Gladies sejak tiga tahun lalu, tapi mereka tetap mencoba hingga akhir.

Fian tersenyum kecut. Matanya kembali ke sirkuit. Dia mengembuskan napas berisi kepulan asap rokok ke udara Valencia yang basah tepat saat Red Bull yang dikendarai Hafizh Syahrin tiba di garis finish. Tangan kirinya menggenggam erat gagang payung. Dan kekasihku juga baru saja mengucapkan selamat tinggal kepadaku.

"Sebenarnya, saya di sini untuk bekerja. Saya akan bertemu seseorang. Tapi, saya juga tidak bisa melewatkan pertunjukan ini."

Pria di samping Fian tersenyum. "Itu sangat bagus. Kau bisa menonton balapan final ini sambil tetap menghasilkan uang. Namun, jika kau memiliki sedikit saja waktu luang, mampirlah ke Roa Lounge. Itu milik saya."

Fian mengangguk sopan. Dia ingin sekali menghabiskan waktunya di Valencia dan mengunjungi banyak tempat. Sayangnya, dia tidak bisa. Dia datang ke tempat ini untuk bekerja. Seseorang mungkin tengah menunggunya. Bukan mungkin lagi, tapi pasti. Sebab, iPhone di saku Levi's-nya bergetar tepat saat pria asing itu berlalu pergi.

Sebuah pop up pesan mengambang di bar notifikasi ponsel Fian. Itu bukan pesan dari kliennya—atau Gladies, melainkan berita tentang seseorang yang sudah sepuluh tahun mengabaikannya. Fian memang mengaktifkan notifikasi di Twitter, berjaga jika suatu saat akun itu kembali membuat postingan atau membalas pesannya. Dan hari ini hal yang Fian harapkan terjadi. Gadis itu kembali membuat postingan baru setelah sekian lama menghilang.

@aninditayu_: Tunch in Valencia.

"Shit!" seru Fian tanpa bisa mengendalikan perasaannya lagi.

Fian mengeklik notifikasi dan begitu saja dia bisa melihat sebuah foto yang diunggah beberapa menit lalu. Foto itu menampilkan barisan manusia dengan pakaian yang didominasi warna kuning. Fian tahu di mana foto itu diambil. Dengan tangan gemetar, Fian memeriksa status pesan yang pernah dia kirimkan untuk akun itu. Tapi, statusnya masih sama. Itu artinya, si pemilik akun tidak berniat membalas pesannya.

Namun, bukan itu yang terpenting bagi Fian saat ini. Dia hanya perlu menemukan pemilik akun itu sekarang juga.

Fian menutup payungnya dan berlari di antara gerimis yang belum mereda. Dia mencari tempat foto itu diambil seperti orang gila. Di saat semua orang merayakan selesainya GP musim ini, Fian justru sibuk mengendalikan perasaannya. Rasa bersalah itu kembali memenuhi hatinya. Apakah selama ini dia benar-benar tidak ingin menemuiku lagi? Atau aku memang tidak pernah benar-benar mencari?

Lima belas menit berlalu dan usaha Fian belum menghasilkan apa pun. Dia kembali memeriksa ponselnya dan menemukan notifikasi yang sama. Kali ini, akun itu mengunggah sebuah foto jendela mobil yang dibasahi hujan.

@aninditayu_: I'm not good at saying goodbye. But, I was angrier when I realized that my sadness will never be able to bring you back by my side.

Fian berteriak frustrasi. Foto itu adalah akhir baginya. Pemilik akun itu sudah pergi dari tempat ini. Fian tidak memiliki cukup waktu untuk mengelilingi Valencia demi bisa bertemu dengannya. Lagi pula, dia harus bertemu dengan kliennya setengah jam lagi.

Dengan langkah gontai, Fian berjalan menuju jalanan utama Valencia. Begitu berada di SUV sewaannya, Fian menyalakan mesin mobil dan mengendarainya tanpa minat. Dia berencana pergi ke tempat janjian mereka lebih awal agar bisa menikmati americano panas dan segala penyesalan yang menyesakkan itu sendirian sebelum kliennya tiba. Namun, sesuatu yang tidak kalah mengejutkan terjadi. Fian mendapat kabar bahwa kliennya harus dilarikan ke rumah sakit karena terlibat kecelakaan saat dalam perjalanan menuju kafe.

Fian tidak henti mengutuk dirinya. Entah apa yang sudah dia lakukan di masa lalu hingga semua kesialan yang terjadi akhir-akhir ini menimpa dirinya. Begitu tiba di sebuah perempatan, Fian meminggirkan mobil dan mencoba menghubungi kliennya lagi.

Fian menekan tombol dial dan menunggu selama beberapa saat. “Mbak Ariska, saya sudah membaca berita yang Mbak maksud di pesan yang barusan Mbak kirim. Apa saya harus ke rumah sakit sekarang?”

"Don't worry, Mas. I'm totally okay. Take your time. Nggak usah buru-buru."

“Saya dengar dari Sisil kalau Mbak Ariska liburan sendirian.”

“Ah, kebetulan ada temen saya yang sedang menuju ke sini. It’s okay, Mas. I’ll call you later if I need any help.”

Fian mengangguk seolah kliennya bisa melihat itu. “Teman Mbak dari Jakarta?”

Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Fian bisa mendengar suara Ariska kembali. “Ya. Ayu.”

Sorry, who?”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Looking for A Lost Heart di Cabaca

Bukan keinginan Ayu untuk bertemu dengan Fian lagi. MotoGP Valencia 2019 dan status Fian sebagai pengacara teman Ayu mempertemukan mereka dalam reuni kecil yang bersambung pada pertemuan-pertemuan lainnya. Novel romantis terbaru di Cabaca, (Un)finished!. Baca gratis dengan download aplikasi Cabaca di Play Store.

Jauhi keinginan untuk baca novel ilegal atau cari link download pdf novel yang merugikan penulisnya. Beralihlah ke aplikasi baca buku Indonesia, aplikasi Cabaca. Ada banyak novel gratis yang bisa dibaca di Jam Baca Nasional, setiap pukul 21.00-22.00 WIB. Yuk, install aplikasi Cabaca di Play Store.

Baca novel Indonesia di Cabaca