Teaser Novel Ucup Karya Krkawuryan di Cabaca – Hai, namaku Ucup, seorang karyawan swasta biasa di perusahaan multinasional. Posisiku enggak tinggi-tinggi amat, lumayanlah punya bawahan lima ekor.

Saat ini aku tinggal di apartemen yang kucicil delapan tahun. Kenapa pilih apartemen? Karena posisinya yang hanya dua ratus meter dari kantor, aku gak perlu keluar ongkos lagi.

Di sela-sela kesibukanku, aku juga aktif main bola. Aku terdaftar sebagai pemain futsal di liga amatir Jakarta. Sekadar cari keringat saja.

Setiap Jumat, setelah jam kantor, aku nge-band bareng teman-teman. Kita udah punya dua album indie yang enggak laku-laku amat, tapi lumayanlah, bikin kita sering dipanggil untuk isi acara atau main di kafe.

Kalau lagi ada libur panjang, aku selalu berusaha travelling ke tempat-tempat baru. Biasanya sih, luar negeri. Tentunya dengan budget seminimal mungkin. Atau, aku akan naik moge yang kubeli bekas dan masih dalam cicilan, mendatangi kota-kota sepanjang Jawa dan Bali.

Namun,

Itu semua hanya khayalan saja, cita-cita waktu aku SD.

Baca Juga: Teaser Novel My Adorable Patient di Cabaca

Percaya atau tidak, terkadang kualitas kebahagiaan seseorang bisa dilihat dari seberapa senang dirinya melihat kembang api di malam pergantian tahun. Warna-warni yang mencerahkan gelap dan letusan yang saling sambung seharusnya membuat setidaknya senyum kecil di bibir seseorang.

Namun, apa jadinya kalau ada yang beranggapan sebaliknya, yang berpikir kalau malam tahun baru itu tidak lebih dari malam-malam biasanya, bahkan malah terganggu dengan meriahnya.

Ya, aku yang beranggapan begitu.

Di malam pergantian tahun ini aku tetap sibuk sendiri dan tidak sedetik pun merasakan ada yang spesial. Titik jenuh alam sadarku sudah di tahap akut, sampai-sampai menganggap kalau dentum kembang api ini tak lebih dari polusi suara dan kombinasi warnanya adalah pencemaran cahaya. Ini yang terjadi kalau level depresimu sudah satu tingkat di atas level dewa.

Semesta ini punya hukum yang agak menyebalkan untuk orang-orang sepertiku, yang dongkol saat orang lain bahagia. Ia akan dengan tidak sopannya menambah kadar dongkol kita dan menekannya hingga ke titik kronis. Jadi tidak aneh kalau sudah dongkol begini, lalu muncul ‘hal lain’ yang bikin tambah gregetan dan membuat kita ingin bunuh diri secepatnya.

Adalah Ujang, seseorang berwajah bodoh dengan perut membuntang dan tidak pernah kuanggap teman sama sekali. Dia adalah ‘hal lain’ yang kumaksud.

“Kamu pernah dengar Hukum Murphy, Cup?” tanya Ujang di sela-sela aktivitas ngupilnya. Pertanyaan barusan adalah salah satu caranya mengganggu hidupku. Salah duanya adalah dia datang tengah malam, acak-acak lemari buku, menghabiskan makananku, mempertanyakan segala hal yang baru dia baca, dan tetap sambil ngupil.

Setelahnya, upil hasil galiannya akan ditempelkan ke semua perabotanku, paling sering di bawah meja. Ujang baru akan pulang kalau sudah bosan, sudah kenyang, atau disabet sapu lidi.

"Aku lagi sibuk, Jang!"

"Ngelem sol sepatu dan mengutuk orang yang bakar kembang api itu bukan kesibukan, Cup. Itu namanya kenyinyiran." Ujang nyengit.

Aku tak peduli.

“Jadi, Cup, Hukum Murphy bilang kalau sesuatu berpotensi salah, maka ia akan menjadi salah. Dan jika sesuatu yang salah dilakukan, maka ia akan seterusnya salah dan merugikan.” Ujang melanjutkan, menegakkan duduknya, menaruh buku yang baru dia baca, bersiap berfilosofi.

“Misalnya begini, saat kancingmu putus tak sengaja, kamu memutuskan untuk manjadikan peniti buat gantinya. Murphy bilang kamu pasti sulit menemukan penitinya. Dan itu pasti terjadi.  Tapi saat gak dicari, kamu bisa menemukan peniti di mana aja. Lalu kamu kesal. Padahal kamu yang salah karena tidak siap peniti di kantong,” tambah Ujang tanpa diminta.

“Sama seperti kehidupan, Cup. Misalnya jodoh, semakin kita berharap malah semakin tidak ketemu. Saat putus asa justru ada yang datang.”

Bodo amat!

“Persis penantian bis di sebuah halte, Cup. Saat dinanti tak kunjung datang. Saat menyerah, bis justru datang." Ujang kembali menjelaskan. Gelagatnya benar-benar bak pujangga. Tangannya terangkat menggapai langit, matanya menerawang ke eternit, mulutnya serius berkomat-kamit, persis dukun-dukun kesurupan yang suka mengaku ‘aing macan.’

“Jang, gak usah pakai perumpamaan tunggu bis. Tukang tahu gejrot juga begitu sifatnya. Saat lagi gak pingin, dia berkeliaran depan rumah seenaknya. Tapi saat kita kepingin, jangan harap dia hadir.”

“Tukang tahu gejrot gak puitis, Cup.”

"Terserah! Kamu mending pulang! Aku nanti shift pagi," usirku dengan cara tidak halus. Sebab cara halus tidak akan mempan saat kambuhnya sudah di tahap ini.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Janda Ketemu Duda di Cabaca.id

Hidup kok gini amat ya? Susah mulu kayak yang dialami Ucup. Tapi kalau dihadapi dengan jenaka, mungkin jadi lebih lapang? Baca novel komedi dulu deh. Baca novel Ucup di Cabaca, GRATIS!

Buat apaan download pdf novel ilegal, apalagi kalau udah ada platform baca novel karya anak Indonesia, yakni Cabaca.id. Mau baca 100% GRATIS tinggal melipir ke Jam Baca Nasional, tiap hari dari pukul 21.00 sampai 22.00 WIB. Udah gitu ada misi kerang yang memungkinkan kita buat baca novel online kapan aja. Makanya, pakai aplikasi baca novel gratis, aplikasi Cabaca. Download di Play Store ya!