Novel Turn On Turn Off di Cabaca.id “Anna mau pulang,” seorang gadis kecil merengek begitu kedua matanya terbuka. Tangis pilu di wajahnya membuat siapa pun yang melihatnya menjadi nelangsa. “Mama….”

Tangis gadis kecil berusia 4 tahun itu semakin menjadi-jadi kala sosok yang paling dibutuhkannya belum juga memeluknya. Seluruh wajahnya memerah dan basah.

Rakha, pria yang sedari tadi berusaha membuat Anna tenang semakin kelimpungan. Ia tidak mahir membuat anak kecil berhenti menangis.

“Anna, Sayang… Mama ada kok, sebentar ya, Sayang,” suara berat itu berusaha untuk menenangkan.

Anna masih menangis dan tak mengindahkan bujukan Rakha sama sekali. Anna terus menangis memanggil mama dan papanya bergantian.

Rakha meremas rambutnya, berharap sebuah ide muncul tetapi sayang ide yang diharapkannya tak kunjung memenuhi kepalanya. Ia bahkan sempat mengambil ponselnya, menelepon Nafa—mama Anna—berulang kali. Namun, tak ada jawaban.

Sebelum akhirnya menemukan Anna di salah satu kamar rawat anak, ia tidak tahu mengapa suara Nafa begitu terburu-buru menyuruhnya datang. Kebingungannya semakin bertambah ketika melihat Anna sendirian di kamar rawat, sementara Nafa tak ditemukan di setiap sudut ruangan.

Shit!

Rakha tak sadar mengumpat karena tak bisa menghubungi Nafa berkali-kali. Harus bagaimana ia menghadapi tangisan Anna?

“Anna… Di sini dulu sama Om Rakha, ya,” Rakha mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari sesuatu yang sekiranya dapat menenangkan Anna. Sekelebat, sesuatu yang ia butuhkan terlintas di kepalanya setelah melihat gambar di baju Anna.

“Ah!” suaranya setengah berteriak. “Nanti kita beli boneka kuda poni, ya.”

Suara tangisnya sedikit teredam begitu mendengar nama tokoh kartun favoritnya.

“Anna suka kuda poni, kan?”

Meski masih merengek, Anna mengangguk dan berangsur-angsur tangisannya memudar, terbujuk oleh iming-iming Rakha yang selalu menepati janji membelikan mainan yang disukainya. Anna bahkan masih ingat ada berapa boneka yang sudah diberikan Om Rakha padanya.

“Tapi ini sakit. Anna nggak mau di sini, Om. Anna mau mama… Anna takut di sini…”

Rakha mengecup pipi Anna kilat dan berkata, “Masa sih? Sini yang sakit om kecup, biar nggak sakit lagi.”

Dengan sukarela Anna menyodorkan lengan kanannya seraya berucap, “Anna kemarin jatuh dari ayunan. Sakit sekali. Sampai demam begini.”

Seraya ia mengusap pelan rambut gadis kecil itu, Rakha terus mendengarkan celotehan Anna yang terdengar seperti mengadu. Anna memang sangat dekat dengan Rakha, Om yang dikenal Anna sebagai Om yang suka memberinya hadiah boneka dan membelikannya es krim tanpa sepengetahuan Nafa. Setiap minggu Anna akan merengek minta bertemu dengan Rakha dan tak jarang Rakha lah yang menjemput anak sahabatnya itu di rumah.

Kemarin siang, Nafa meneleponnya dengan suara yang parau. Rakha mulai curiga sesuatu yang buruk terjadi pada Nafa sampai akhirnya kecurigaannya terbukti dengan sebuah pesan panjang Nafa yang mengatakan bahwa Evand, suaminya mengetahui sebuah rahasia yang sudah terkubur lama.

Rakha menatap nanar gadis kecil polos yang tengah tertidur dengan damainya di pangkuannya.

Maafkan saya….

Baca Juga: Teaser Novel Marry My Daughter Karya Asya Azalea di Cabaca.id

Jari-jari yang tadinya aktif menekan huruf demi huruf di atas keyboard, tiba-tiba saja berhenti bersamaan dengan desahan napas kesal. Isi kepalanya nyaris saja meledak ketika membaca judul berita yang diterimanya melalui E-mail.

Gadis bernama Samara itu meregangkan otot leher dan jari-jarinya hingga berbunyi kretek. Sejurus kemudian, helaan napasnya kembali berat.

“Harus kuapakan berita kayak begini?”

Kekesalannya belum juga berakhir. Samara memukul meja dengan kepalan tangannya dan membuat semua orang yang ada di ruangan itu melihat ke arahnya dengan wajah bingung. Namun tak berlangsung lama, sebab hanya berselang beberapa detik saja semuanya kembali membuang muka seraya tersenyum kecil.

Hanya laki-laki yang duduk di sebelah Samara yang mendekat dan menyodorkan kipas portable ke arahnya.

Samara menengok ke arah laki-laki bernama Samuel itu dengan tatapannya yang tajam bak singa yang siap menyantap mangsanya. Memang tak tepat sasaran, tetapi Samuel tak pernah jera untuk menggoda Samara di kala emosinya nyaris ke ubun-ubun.

Pria keturunan Chinese tersebut malah menyeringai. Dengan kipas portable yang masih mengarah pada Samara, kedua matanya yang sipit melirik layar komputer Samara dan tertawa geli.

“Udahlah, lu pensiun aja jadi editor entertainment artis sensasi gitu, terus gabung ke divisi gue,” katanya enteng.

“Nggak usah ngaco deh, Wel. Istilah per-IT-an lu itu lebih njlimet,” ketus Samara.

Samuel tertawa keras melihat reaksi Samara barusan. Baginya, tak ada yang lebih lucu dari muka kesal Samara di dunia ini.

Samara memang mencintai pekerjaannya sebagai penulis dan editor di portal berita berbasis online Zonaharian.com, terlebih divisi entertainment yang dipercaya bisa membawanya ke impian terbesarnya untuk menjadi salah satu penulis naskah film. Tetapi, fakta di lapangan di mana dunia jurnalis lebih mementingkan sensasi daripada prestasi membuat Samara kesal.

Sepanjang karirnya sebagai reporter ia bersumpah untuk tidak menulis tentang artis yang hanya mengumbar sensasi atau gimmick semata, tetapi kini ia terjebak.

“Kalau tau entertainment negara ini makin ke sini makin menjijikkan, gue nggak akan merintis karier gue ini dari jaman ospek kuliah,”

Tawa Samuel semakin menyembur. Pernyataan itu sudah seribu kali didengarnya, tetapi semakin lama terdengar sangat lucu.

Well, lu mau jadi kaum rebahan doang, gitu?”

Samara refleks memukul kepala Samuel yang tak juga berhenti meledeknya. “Coba lu baca berita ini. Bebi Permata Sari Ketahuan Jalan Bareng Pria Negeri Jiran, Sudah Cerai dari Suami? Coba lu telaah baik-baik, apa faedahnya rumor perselingkuhan Bebi Permata Sari dengan pertumbuhan ekonomi negara ini?”

Bagi Samuel, Samara adalah rekan kerja yang lebay dan drama.

“Lebay lu!” Samuel menoyor kepala Samara hingga poninya berantakan. “People jaman now itu cuma butuh bahan buat julid, dan berita ini cocok buat nitizen mengeluarkan jiwa ghibahnya!”

“Nggak bisa. Ini bertentangan dengan naluri gue, lu tau, kan?”

“Tapi kan nitizen julid nggak tau ini sesuai naluri lu apa enggak, dodol!

Samara semakin frustrasi. Bicara dengan Samuel memang selalu membuatnya semakin kesal. Diacak-acaknya rambut sebahunya hingga berantakan dan menutupi wajah.

Hari ini saja, ia telah menerima 20 puluh tulisan dari reporter tentang artis yang sama dan kesemuanya bertema sama. Rasanya sudah sangat muak memperingatkan mereka untuk tidak menulis berita bernada sama, tetapi tidak pernah berhasil. Bahkan di setiap evaluasi bulanan, selalu mendapat peringatan karena melewatkan berita semacam itu dari pimred. Jika ia tetap menerapkan sikap idealisnya, nominal sallary-nya pun tak segan-segan dipotong.

Samara Alfara telah menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SMP. Sebuah kisah membawanya sampai ke titik ini, di mana tidak semua penulis seusianya dapat meraih hal tersebut.

Gadis itu memulai karier menulisnya di usia 17 tahun sebagai penulis freelance di Zonaharian.com, ketika ia baru lulus SMA. Meski berhonor kecil, baginya cukup untuk menambah uang jajan dan menambah pengalamannya di dunia kepenulisan. Maklum, Samara awalnya hanya menulis cerita pendek roman picisan di media cetak. Waktu itu media cetak masih menguasai pasar dan Samara salah satu penulis yang rajin mengisi rubrik cerpen.

Karena Ia mengambil jurusan komunikasi, Samara pun memilih magang di Zona Harian sebagai reporter dan setelah kelulusan barulah ia resmi menjadi salah satu karyawannya. Perjalanan karier Samara di Zonaharian.com terbilang mulus karena hanya dalam 2 tahun saja ia dipromosikan sebagai seorang editor.

Menjadi seorang editor di media online memang tidak mudah, karena bisa saja ia tidak punya waktu untuk istirahat atau sekadar rebahan di kasur kesayangannya. Tetapi ia cukup menikmatinya, terlebih ketika ia harus pergi mewawancarai artis kelas A Indonesia secara ekslusif atau diundang ke premier film-film bergengsi. Semua itu dapat dijadikan cambukan agar tidak mudah mengeluh.

Meski terkadang ia harus menahan sumpah sarapahnya ketika harus berhadapan dengan artis-artis doyan sensasi dan menjual gimmick belaka.

Selamat datang di dunia yang memaksamu untuk realistis.

Baca Juga: Teaser Novel Saviora di Cabaca.id

Tidak sulit menemukan alamat rumah Rashid Hariwibawa yang berada di bilangan Menteng. Rakha sudah langsung menemukan rumah omnya hanya beberapa meter dari pos penjagaan. Terakhir kali ia ke rumah itu 10 tahun lalu, tetapi tetap tak banyak yang berubah kecuali bentuk pagarnya yang semakin tinggi.

Sekarang ia kembali lagi ke rumah itu karena permintaan Rashid untuk membantunya di media yang dibangunnya sejak 5 tahun lalu. Dua hari sebelum keberangkatannya ke Jakarta, Rakha mendapat telepon dari Nafa yang memintanya untuk menjaga Anna dalam beberapa waktu. Rakha tidak punya alasan untuk menolak permintaan Nafa di tengah krisis yang melanda rumah tangganya.

Rakha sempat berpikir untuk menitipkan Anna kepada kedua orangtuanya dan pergi ke Jakarta sendiri, tetapi hal itu akhirnya tak dapat dilakukannya mengingat kesibukan orangtuanya mengurus restoran keluarga yang padat.

Setelah berpikir panjang, Rakha mantap membawa Anna bersamanya ke Jakarta.

Bagi Rakha, Anna sama berartinya dengan Nafa, sahabat yang telah menemaninya sejak masa kanak-kanak. Kedua wanita ini bagian yang sangat penting dalam hidupnya, dan ia bertaruh tak akan bisa menjalani hari-harinya jika salah satu dari mereka pergi dari hidupnya.

Dibantu sopir taksi Rakha menurunkan barang-barangnya, kemudian menggendong Anna yang masih tertidur sejak perjalanan panjang dari Bali tadi pagi. Gadis kecil itu kini terbangun, membuat Rakha sedikit merasa bersalah.

“Oh maaf, maaf. Om ganggu tidur Anna, ya?” tanyanya seraya mengecup pipi Anna.

Ajaib, Anna tidak menangis barang sebentar pun. Gadis kecil itu melihat ke sekelilingnya dengan berjuta tanda tanya di kepalanya.

“Om, ini kan bukan rumahku,” Anna terlihat memberenggut. Ia berpikir ia akan pulang ke rumahnya dan menemui ibu yang sudah sangat dirindukannya.

“Ini rumah Om Rakha,” jawabnya.

“Kok rumah Om Rakha banyak banget?”

Rakha mencubit hidung bangir Anna dan mengatakan, “Di rumah ini ada piano seperti di rumah Anna, lho. Anna pasti suka. Siapa yang waktu itu bilang pengin jago main piano seperti mama?”

Anna menepuk dadanya. Raut wajahnya benar-benar polos.

“Nah, Anna nanti les pianonya di sini sama Om Rakha. Kan mau bikin surprise buat ulang tahun Mama,” iming Rakha.

“Ah, iya. Aku lupa,” sejurus kemudian Anna mengecup pipi Rakha sembari mengucapkan terima kasih karena telah merahasiakan keinginannya untuk bermain piano dari sang mama. “Om Rakha baiiikkk sekali!”

Setelah memasuki pekarangan, Anna meminta Rakha menurunkannya begitu melihat kandang kelinci di bagian samping rumah. Rakha tidak bisa menemani Anna yang langkah kakinya sangat cepat dan memilih untuk membawa masuk barang-barangnya. Sembari mengangsur kopernya, Rakha melihat Anna yang larut memberi makan kelinci yang ditebaknya adalah peliharaan Alfian, putra bungsu Rashid yang baru berusia 11 tahun.

Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara Maya yang berjalan keluar untuk menyambutnya. Ia juga meminta bantuan untuk membantu Rakha.

“Tante, apa kabar?” Rakha langsung bersalaman dengan istri Rashid tersebut dan memeluknya.

“Kamu kenapa nggak calling tante, sih? Kan tante bisa jemput,” omel Maya.

Rakha tersenyum kecil, tantenya ini juga masih sama. Masih suka mengomel jika tidak dilibatkan atau direpotkan dalam urusan remeh seperti ini.

“Rakha kan udah bukan anak kecil yang perlu dijemput lagi, Tan.” Rakha berseloroh.

“Om masih di kantor. Sudah telepon kalau sudah sampai?”

Rakha menggeleng dan memberi jawaban akan meneleponnya nanti. Orang sesibuk Rashid mana mungkin sempat menjawab telepon di siang  bolong begini. Maka ia memilih untuk membiarkan omnya tahu ketika sampai di rumah saja. Lagi pula, sedari awal omnya itu juga tahu kapan Rakha akan ke Jakarta.

“Ya udah langsung masuk. Kamar kamu masih sama, kok.” Maya menepuk lengan Rakha sebagai isyarat bahwa tantenya siap menggiring Rakha ke kamarnya.

“Sebentar, Tan,” Rakha meliarkan pandangan, mencari Anna yang sudah tak terlihat di depan kandang kelinci.

Maya refleks mengikuti arah pandang Rakha dan tampak terkejut begitu melihat Anna muncul dari samping rumah dan berlari-lari kecil ke arah mereka dengan kelinci peliharaan Alfian.

“Anna, sini, kenalan sama Oma Maya!”

Maya yang mendengarnya seperti mendapat sengatan listrik. Ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai gadis kecil yang sekarang sudah berada dalam gendongan Rakha dengan sangat nyaman.

“Lho, kamu kapan nikahnya, kok tau-tau udah punya anak?”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Selingkuh Karenamu di Cabaca.id

Tidak ada yang selamanya menyala. Sama halnya dengan hubungan. Kadang harapan yang sudah berakhir, dapat menyala kembali. Kisah romantis dalam Turn On Turn Off dapat dinikmati GRATIS di Cabaca.

Masih zaman download pdf novel bajakan? Gak lagi-lagi deh kalau tahu di Cabaca bisa baca gratis, legal, dan tidak merugikan penulisnya. Gampang kok, cuma melakukan misi kerang atau bisa juga mampir ke Cabaca setiap hari pkl 21.00 sampai pkl 22.00 WIB. Dijamin bisa baca GRATIS TANPA KERANG. Yuk, ajak teman-temanmu buat install aplikasi Cabaca sekarang!

Baca gratis dan LEGAL! Buat apa cari pdf novel bajakan?