Novel The Untouched Wedding Dress di Cabaca.id--Sore  itu Minji melangkah dengan hati yang gembira. Tidak  memedulikan salju  yang mulai turun, ataupun hawa dingin yang memenjarakan  tubuh.   Alasannya sangat jelas–karena dia akan bertemu Park Jimin.

Omong-omong  Park Jimin, pria itu sudah mencuri hati Minji sejak  lama. Mereka  menjalani hubungan yang seringkali membuat para kerabat terdekat  merasa  iri. Jimin seorang yang bisa diandalkan. Kalau dilihat dari sisi   pekerjaan, dia adalah pria mapan yang matang. Selain menjadi supervisor  di  sebuah perusahaan telekomunikasi, Park Jimin mempunyai studio tari  yang sangat  terkenal di kawasan Busan.

Tiga  puluh delapan menit berlalu, Choi Minji sudah menapakkan  kaki di butik  gaun pengantin yang ramai dibicarakan media. Semua orang butuh  waktu  untuk memesan gaun di sini, apalagi setelah salah satu desain di butik   ini digunakan oleh solois terkenal–Im Junhee–dalam sebuah penghargaan  musik  bergengsi di Seoul. Namun bagi Minji, dia hanya membutuhkan waktu  tak lebih  dari seminggu. Semua itu dia dapatkan karena perancang  sekaligus pemilik butik  ini adalah sahabat baiknya.

"Kau sepertinya kehilangan berat badan. Well,   bagus, sih. Tapi terlalu kurus juga tidak baik. Kalau bisa, jaga  ukuran tubuhmu  agar seperti ini," katanya sambil memperingatkan. Minji  mengangguk,  kemudian meletakkan tas di sofa, tepat di samping Min  Yoora. Netranya menatap  sekitar kemudian memutuskan untuk mengecek  ponsel. Minji tersenyum masam begitu  tahu tidak ada kabar dari Jimin  semenjak pagi tadi—tepat setelah dia bilang  bisa bertemu.

"Kau  sedang menunggu seseorang?" Yoora menghentikan  pegawainya untuk  membawakan baki yang diisi dua cangkir cokelat panas,  menghidangkan  kemudian duduk di hadapan Minji.

Dia  menjejalkan kembali ponselnya di dalam tas, sambil  mengangguk ragu.  "Park Jimin. Dia bilang akan menemaniku hari ini. Kurasa  dia penasaran  dengan gaun yang kupesan. Aku selalu mengajakknya ke  sini–mengantarku  dan memberikan sebuah pendapat," ujar Minji bahagia.  Yoora menaikkan  sebelah alisnya, kemudian meletakkan cokelat panasnya di atas  meja.

"Serius?  Si Pendek itu penasaran dengan gaun  pengantinmu?" sahut Yoora sengit.  Ada alasan di balik rasa tidak sukanya  pada pria itu. Memang dia baik  setengah mati dan sangat pengertian. Namun  sayangnya, pria itu  seringkali tidak tepat waktu.

Minji  mendengkus. “Jangan terlalu ketus dengannya seperti itu,”  katanya  membela Jimin sambil menyesap cokelat panas. “Jimin kan calon suamiku.   Sudah pasti dia peduli terhadap apa yang kupakai saat menikah nanti,”  lanjutnya  lagi.

Yoora terkekeh pelan. "Yah, aku kan hanya bertanya. Siapa tahu  kau kembali dengan dia."

Minji  menegakkan tubuh, kemudian memandang Yoora sengit. Tidak  ingin  membahasnya lebih jauh, tapi tampaknya Yoora tidak menangkap hal itu  dari  tatapan tajam Choi Minji.

"Dia kan  baru pulang dari Indonesia. Kau tahu?  Ah—dilihat dari matamu yang  terbelalak, kuyakin kau baru tahu," ujarnya  santai, kemudian menyesap  cokelat panasnya lagi. Minji cukup penasaran  bagaimana dia bisa tahu  keberadaan pria itu. Tapi, dia memutuskan untuk  bungkam. Bersamaan  dengan itu, Jimin masuk ke ruang tunggu yang saat ini mereka  duduki.  Rambut hitamnya terlihat berantakan, ada sedikit peluh di pinggir dahi   dan napasnya tersengal.

"Maaf telat, Sayang," ujar Jimin begitu dia memeluk  singkat Minji. Pria itu juga bersalaman dengan Yoora setelahnya.

Minji merangkul lengan pacarnya dan tersenyum lebar. "Tidak  masalah, aku juga baru sampai. Benar begitu, kan, Yoora?"

Kedua  bola mata Min Yoora memutar dengan malas. Namun,  cepat-cepat dia  mengangguk dan tersenyum ketika tatapan Jimin tertuju padanya.

"Yah, setiap orang punya toleransi waktu yang berbeda-beda.  Mungkin setengah jam plus lima  belas menit kita mengobrol  barusan, adalah waktu yang singkat bagi  Minji." Yoora menyeringai kemudian  berlalu di balik tirai yang akan  menjadi tempatku mencoba gaun nanti. Hal tersebut  mengundang decakan  kesal Minji. Gadis itu masih saja kejam—seperti  kakak laki-lakinya, batin Minji.

Sepersekian  detik berikutnya, sorot mata Jimin memelas memandang  satu-satunya  gadis yang berdiri di hadapannya. Tatapan pria itu menembus  jantung  Minji, sehingga dia merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya.

"Tidak  apa-apa," ujar Minji menenangkan. "Lebih  baik kau duduk di sofa ini  sambil menungguku mencoba gaun. Pastikan kau  melihatku saat tirai  dibuka, ya." Buru-buru Minji mengalihkan pembicaraan,  membuat Jimin  kembali mengatupkan mulutnya untuk tersenyum.

"Baiklah, jangan lama-lama," katanya sambil melirik  jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Minji mengangguk, kemudian meninggalkan Jimin sendirian duduk di  sofa itu.

Baca Juga: Sayangnya... Kamu Anti K-Pop

"Woah, kau tampak cantik sekali."

Yoora  bergumam dengan takjub, siapa pun bahkan bisa melihat mata  sipitnya  itu membesar. Minji merasakan wajahnya menghangat ketika dua orang   pegawai Yoora juga mengatakan hal yang sama. Gadis itu mematut  bayangannya di  cermin. Model A-line yang menjadi gaun paling  umum, karena ini  cocok dengan semua bentuk tubuh. Yang membedakan  adalah warnanya sedikit  keabu-abuan. Juga hiasan manik yang tersebar  dari dada sampai ke pinggang,  tampak mengerlip karena pantulan cahaya.  Sebuah tiara juga menyelip di antara  rambut Minji yang terkuncir rapi.  Dengan memegang buket bunga peony di  tangan, kini Choi Minji tampak seperti pengantin sungguhan.

"Aku  sangat menyukai gaun ini.” Minji berkata riang, sambil  menatap kagum  Yoora. Dia menggeleng setelah merapikan gaun di beberapa tempat.

"Jangan bicara seperti itu dulu, masih ada dua dress lagi   yang akan kau coba. Sebaiknya kau siap-siap. Aku akan membuka tirainya  beberapa  saat lagi," seloroh Yoora yang sudah menyuruh dua pegawainya  untuk  berdiri di sisi kanan dan kiri tirai. Minji memegang buket bunga peony dengan  erat, bahkan dia merasa sedikit gugup sekarang.

Di  depan Minji, tirai yang berwarna putih tulang berderak dengan  lambaian  pelan. Minji merasa jantungnya akan copot karena degupan yang   meningkat. Bahkan, sudut bibirnya terlalu kaku saat ingin tersenyum.

"Baiklah,  Nona. Aku akan membuka tirainya." Salah satu  pegawai Yoora memberikan  pernyataan. Minji semakin berdegup, secara spontan  kedua netranya  menutup begitu saja.

"Wah, apakah aku baru saja melihat bidadari jatuh?"

Minji  membuka matanya, kemudian rahangnya seperti terjatuh.  Netranya melihat  sekitar, tidak ada Jimin di sana. Ekspresi Minji berubah  total,  ditambah fakta bahwa pria di depannya adalah salah satu manusia yang   paling tidak ingin dia temui saat ini.

"Ke mana Jimin?"

Pria itu menoleh, sambil menyuapkan sesendok penuh cake  strawberry.

"Oh,  jadi namanya Jimin. Yah, dia tadi buru-buru pulang  setelah mendapat  telepon," katanya sedikit masa bodoh. Minji tidak bisa  percaya begitu  saja. Tangannya segera meraih ponsel yang tersimpan rapi di tas  untuk  menghubungi Jimin. Nada hening yang disusul suara operator membuat   dadanya merasa sesak. Ponsel Jimin lagi-lagi tak aktif—seperti yang  sudah  terjadi sebelumnya.

Saking  sibuknya, Minji tidak menyadari kalau pria itu melangkah  menghampiri.  Posisi tubuhnya sangat dekat, sehingga sekilas binar matanya  tertangkap  oleh netra Minji.

"Kau  cantik  sekali dengan gaun ini. Apa kau akan menikah?" tanyanya dengan  nada ingin tahu. Minji  memandang wajahnya yang berubah sendu, tidak  semengesalkan sebelumnya saat  menikmati cake. Sedikit krim strawberry di sudut  bibirnya membuat Minji sedikit mengulum senyum, kemudian menjawab pertanyaannya  dengan sangat lancar.

"Benar,  Kim Taehyung. Aku akan menikah," jawab gadis  bermarga Choi itu mantap.  Minji sendiri cukup terkejut dengan kegigihan yang  terdengar dari  caranya menjawab. Taehyung membuang pandang, sempat terdengar  helaan  napas darinya. Minji mengerutkan kening, merasa tidak rela menyampaikan   kabar itu. Namun, seharusnya dia tidak perlu peduli. Kim Taehyung lah  yang  meninggalkannya tanpa kabar selama bertahun-tahun. Aku sudah menjalani  lembaran baru di hidupku dan kuyakin dia juga begitu, kata  Minji dalam  hati. Tanpa berbasa-basi lagi, Taehyung kembali menuju  sofa. Kedua tangannya  kembali meraih piring kecil berisikan cake strawberry tadi,  kemudian menyuruh Minji untuk ganti baju lagi.

"Karena  Jimin-mu itu tidak ada, biar aku yang melihat gaya  gaun pengantinmu  yang lain. Tenang saja, aku akan setia menunggu di sini,"  ujarnya  dengan senyum lebar berbentuk persegi itu.  

Minji berdecak pelan, kemudian membuang pandang. Bagaimana  bisa pria itu merasa santai seolah tidak terjadi apa-apa selama ini? Pertanyaan  itu memenuhi pusat pikiran Minji, lalu membuat perasaannya kembali kesal.

"Yang  cantik, ya. Aku akan mengingat semua penampilanmu  hari ini," teriaknya  dengan sangat semangat. Minji memutar bola mata  dengan malas dan tidak  menggubrisnya. Dia terus berjalan dan mengabaikan  Taehyung. Bagi  Minji, sikapnya ini merupakan langkah yang tepat. Karena jauh  sebelum  pria itu kembali, hatinya sudah menetapkan sebuah keputusan–bahwa dia   tidak akan peduli lagi dengan pria itu.

Baca Juga: Pilih Mana: Ditanya Kapan Nikah atau Dikatain Expired?

Penasaran kisah selengkapnya? Baca novel The Untouched Wedding Dress di Cabaca.id, klik di sini untuk baca GRATIS.

Hari gini belum pernah nyobain aplikasi Cabaca? Padahal ada banyak novel gratis lho. Apalagi kalau bacanya di #HappyHournyaCabaca alias #JamBacaNasional. Makanya, unduh aplikasi Cabaca di Play Store

Download aplikasi Cabaca untuk baca novel lebih mudah di sini