Teaser Novel The Start of Us di Cabaca.id – “Hei! Jangan sembarangan, dong, kalau jalan!” Arsa mengomel pada pria yang baru saja menabraknya dan sukses menumpahkan iced hazelnut chocolate yang sedang ia pegang ke blusnya sendiri. Ia mengumpat pada pria itu dalam hati.

Pria itu menoleh, tapi tidak menghampiri Arsa. “Sori banget. Gue nggak sengaja.”

“Nggak sengaja? Tapi hati-hati kan bisa—woy, jangan kabur gitu, dong!” seru Arsa lagi dengan lantang. Orang-orang di lobi sudah mulai memperhatikannya yang heboh mengomel, tapi wanita itu tidak peduli. Perasaan kesalnya makin memuncak begitu melihat pria itu berlalu dengan tergesa dan hanya menampilkan gestur meminta maaf sekali lagi. Arsa menghela napas agak kasar karena kesal. Ia kemudian mengucapkan maaf pada cleaning service yang menghampirinya untuk membersihkan lantai.

Namanya Arsa Vidya Wigani. Usianya sekarang 28 tahun dan ia sudah menjadi seorang marketing manager di perusahaan start up yang baru berdiri tahun 2016 silam. Arsa sudah satu setengah tahun bekerja di perusahaan e-commerce jalanjalan.com dan wanita itu sangat mencintai pekerjaannya. Bekerja di tempat baru selalu menyenangkan bagi Arsa karena ada tantangan baru yang ia hadapi tiap hari, apalagi di perusahaan start up seperti ini.

Setelah ketumpahan minumannya sendiri barusan, Arsa langsung kembali lagi ke mobilnya untuk mengambil baju cadangan. Untungnya, ia selalu siap sedia baju cadangan di mobil. Hari ini Arsa harus meeting dengan vendor, ia tidak mungkin mengenakan pakaian yang kotor. Setelah mengambil baju, ia kembali menuju kantornya di lantai 30. Ia menyapa beberapa rekan kerja lalu bergegas menuju toilet.

“Ganti baju, Mbak?” tanya Lila—salah satu rekan di timnya saat melihat Arsa menenteng baju kotor sekembalinya dari toilet.

Arsa mengangguk. “Iya, nih. Parah banget tadi ditabrak orang, terus baju gue ketumpahan minuman.”

“Ya ampun .… Untung bawa ganti, ya, Mbak,” kata Lila. “Oh, by the way, vendor billboard MataHati barusan info meeting-nya diundur, orangnya sakit. Katanya, nanti dikabarin lagi, Mbak.”

“Hah? Ya udah, coba kamu cari-cari vendor lain yang oke. Soalnya udah mepet, nih, billboard harus tayang Januari tahun depan. Cari alternatif lain nggak apa-apa atau minta MataHati kirim orang lain ke sini, ya.”

Lila mengangguk dan mengatakan akan menjalankan semua perintah Arsa segera.

Arsa berjalan kembali ke meja kerja, lalu mengembuskan napas panjang sembari duduk. Bagi Arsa, ini adalah pagi yang sungguh menguras emosi. Energinya juga sudah banyak yang hilang. Wanita itu kemudian menyalakan PC dan mengecek kalender. Ada dua meeting yang harus ia ikuti hari ini. Arsa melirik amplop cokelat yang ada di meja, lalu membolak-baliknya mencoba mencari tahu siapa pengirimnya.

“Oh, itu invoice dari Mata Elang, billboard untuk bulan Desember,” sahut Lila.

“Oke, thanks,” balas Arsa. Ia membuka amplop tersebut dan memeriksa isinya untuk nanti diteruskan lagi ke divisi finance. Ada beberapa amplop lagi yang belum sempat ia buka, jadi ia sekalian mengecek semuanya.

Arsa kembali bekerja meneruskan membuat laporan divisi marketing untuk akhir bulan ini. Selain menyiapkan laporan bulanan, ia juga harus me-review beberapa pekerjaan anggota timnya. Belum lagi laporan bahwa ada influencer mengesalkan yang belum menuntaskan kerja sama bulan November dan sekarang susah dihubungi. Arsa senang merasa sibuk, sebab itu berarti ia tidak perlu memikirkan hal yang tak perlu ia pikirkan.

“Dy, gimana masalah influencer? Sudah selesai?” tanya Arsa pada Ody yang bertugas mengurus social media. Bagian influencer ini juga diurusi oleh Ody.

Ody menggelengkan kepala. “Aku udah menghubungi manajernya lagi sih barusan, tapi belum dibalas.”

“Ya sudah, kamu follow up terus, ya. Kalau sudah ada kabar kasih tahu aku. Jangan lupa update influencer untuk Januari, terus budget buat influencer bulan Desember sudah cair jadi kamu bisa langsung brief mereka untuk campaign bulan Desember, ya,” kata Arsa sambil berdiri lalu berjalan menuju meja tim digital lainnya.

Arsa menghampiri Yasa yang bertugas dengan digital ads. “Yas, itu ads yang aktif masih ada yang kurang relevan, kan sudah di-review minggu lalu mau coba keyword yang baru. Dimatiin aja yang lama, sayang budget. Diskusi lagi sama Egi, ya, keyword apa yang cocok. Terus kemarin Ody sudah upload campaign buat bulan Desember tuh, langsung di-ads aja. Youtube ads juga mulai aja, ya. Kemarin kayaknya tim kreatif sudah kasih materinya, cuma nggak tahu sudah di-upload Ody atau belum. Belum ada update di sheet soalnya. Kamu tanya Ody, ya.”

Arsa sibuk berkeliling mengecek dan berdiskusi dengan timnya sampai tidak terasa sudah waktunya jam makan siang. Biasanya tim marketing makan siang bersama, tidak terkecuali Arsa. Mereka satu tim memang dekat dan akrab. Seperti yang sudah diketahui, di tim marketing ada Arsa sebagai manajer, Lila sebagai marketing executive, Ody sebagai social media specialist, Yasa sebagai digital marketing specialist, Egi sebagai SEO specialist, dan Fani sebagai marketing intern. Mereka berlima tim yang solid, menurut Bapak CEO ketika melihat interaksi mereka yang memang akrab.

“Fani ke mana?” tanya Arsa ketika menyadari dari tadi belum melihat anak magang itu.

“Iya, dia izin, mau ambil ijazah katanya. Nanti habis lunch baru ke kantor,” jelas Lila sambil mengaduk mi ayamnya.

“Mbak, gue minggu depan izin bisa nggak?” tanya Yasa.

Arsa menatap Yasa. “Lo mau ke mana?”

“Istri gue lahiran, cuti tiga hari aja,” jelas Yasa sambil tersenyum semringah.

Arsa tersenyum lebar. “Wah, lo sudah mau jadi bapak. Selamat, ya. Ya nggak apa-apa kalau mau cuti, lo langsung ajuin ke HR, ya. Kalau gue pasti approve asal lo pastikan semua ads tetap jalan sebelum lo cuti.”

“Sip, Mbak. Gampanglah.”

Semuanya langsung menyelamati Yasa yang istrinya akan melahirkan anak pertama. Yasa lebih muda dari Arsa, tapi Arsa tidak pernah iri pada Yasa yang sudah memiliki keluarga sendiri. Arsa sendiri belum siap memikirkan keluarga dan anak karena ia masih menikmati kesendiriannya agar bisa fokus bekerja.

Setelah makan siang, mereka semua berjalan kaki menuju kantor lagi di lantai 30. Saat menuju lift, Arsa melihat orang yang tadi pagi menabraknya sedang mengantre juga di depan lift yang sama dengan dirinya. Jadi, benar kemungkinan bahwa orang itu bekerja di gedung yang sama dengannya. Tapi sejujurnya, nih, Arsa baru melihat orang itu sekali. Meskipun gedung ini diisi banyak perusahaan, Arsa sedikit banyak hafal dengan orang-orang yang sering ia temui karena ia memiliki memori fotografis yang kuat.

“Eh, kalian dari jalanjalan.com, kan?” Tiba-tiba ada seseorang yang bertanya pada Arsa dan teman-temannya. Otomatis orang-orang yang berada di depan lift ikut kepo.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Never Let Go di Cabaca.id

Arsa selalu maju mundur jika dihadapkan pada komitmen. Tapi pasti ada alasan kenapa cewek menolak berkomitmen dalam sebuah hubungan. Cari tahu deh di novel The Start of Us GRATIS di Cabaca. Download aplikasinya di Play Store ya!

Sudah ada banyak aplikasi baca novel online dari dalam negeri, jadi buat apa cari link download pdf novel? Di aplikasi Cabaca aja bisa baca GRATIS dan legal! Tinggal manfaatkan Jam Baca Nasional setiap hari pukul 21.00-22.00 WIB. Kamu juga bisa baca novel gratis yang mana saja dengan lakukan misi kerang. Tunggu apa lagi? Install aplikasi Cabaca sekarang dong!