Novel The House of Evergreen di Cabaca.id – Lucia Paeonius bukanlah seorang gadis yang genius, tetapi ia jelas tahu bahwa ada sesuatu hal yang tak lumrah pada rumah barunya. Sebut ia paranoid, tidak apa-apa. Namun, rasa penasaran agaknya mengalahkan seluruh logikanya. Semua bermula ketika sang paman, Ratria, dan dirinya pindah ke sebuah rumah tingkat dua di tengah hutan.

Ia bukan tipe gadis kota, jadi Lucia senang-senang saja menerima ajakan pindah dari Aslan—adik mendiang ibunya. Lagi pula, ia dihadiahi sebuah rumah kaca penuh banyak tanaman beraneka rupa, nikmat mana lagi yang ia dustakan?

Kemudian penampakan tiba-tiba seseorang berambut lumut membuat hidupnya jumpalitan.

Tepat sebulan setelah ia pindah, Lucia berkeliling dalam rumah kaca seperti biasa. Pagi itu mendung, udara Januari yang beku menyebabkan sepot tanaman buncis menguning layu. Ia telah mencoba banyak cara termasuk meminta solusi pada Ratria, tetapi sang buncis yang malang (atau keras kepala?) menolak hidup kembali.

Dalam enam belas tahun riwayat kehidupannya, ia sadar betul bahwa dirinya tak pintar-pintar amat. Tidak cekatan, overthinking dalam segala hal, perhatian selalu teralih karena hal kecil, memori buruk dikombinasikan dengan buta arah—menu komplet yang tak pernah ia minta. Namun, baru kali ini dirinya dan otak bebalnya menghilangkan sebuah nyawa.

Ia memikirkan buncis tersebut terus-menerus hingga tak dapat terlelap semalaman.

“Bukan salahmu,” Paman Aslan dalam balutan mantel, fedora, celana panjang dan sepatu lancip yang kesemuanya berwarna hitam mengusap rambut Lucia yang sama legamnya, “semua yang bernyawa pasti akan mati.”

Hahaha, batin Lucia sambil mengunyah makan malamnya, sangat menenangkan hati, Paman.

“Bukan salahmu,” Ratria menimpali ucapan Aslan dari dapur, agaknya paham bahwa usaha menghibur dari si pria tua tak dapat diandalkan, “seleksi alam, Lucc. Salahnya sendiri tidak bisa bertahan hidup.”

Lucia menolak merespon dan beralih meneguk susu cokelatnya dengan berisik. Ia berpikir dalam hati untuk melarang sang paman dan kakak bekerja dalam bidang mana pun yang berhubungan dengan psikiatri. Pasien normal saja bisa langsung depresi.

Dari balik mug merah muda, sepasang matanya mengintai Aslan memasuki dapur. Dari celah-celah dinding, ia mendapati sang pria tua tengah berbicara sepatah dua kata dengan Ratria. Belum juga ia memutuskan ingin menguping atau tidak, pamannya telah kembali ke ruang makan.

“Jaga kakakmu,” kecupan hangat mendarat di puncak kepala Lucia, “ingin kubawakan sesuatu?”

“Cokelat!” jawab Lucia, nyaris seketika.

Bibir Aslan merekahkan senyum. “Tentu saja.”

Lucia memandangi dengan lekat hingga adik mendiang ibunya tersebut menutup pintu. Akan mengambil waktu seminggu hingga ia dapat menatap figur tinggi itu lagi.

Ia beranjak ke kamar tidur dengan perasaan hati yang belum juga membaik. Meski amat jauh dari sempurna, Aslan dan Ratria adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Setidaknya mereka telah berusaha menghibur dirinya.

Dan benar saja, ia kembali terbangun di tengah malam. Lucia memutuskan untuk melangkah ke dapur di lantai bawah, demi menyegarkan kerongkongannya dengan segelas air.

Rasa hausnya menguap seketika saat mendapati sebuah siluet dari balik jendela. Seseorang tengah berdiri tegak dari dalam rumah kaca.

Lucia segera saja menjatuhkan dirinya ke lantai agar terhindar dari jangkauan mata si penyusup. Rumah utama dan rumah kaca hanya berjarak beberapa meter, dan dari jendela dapur ia dapat melihat jelas sisi barat dari lempeng-lempeng mengilat di seberang sana. Lucia merangkak pelan, mendekati jendela kemudian mengintip si orang asing dari baliknya.

Ia bersyukur kedua matanya tak rabun layaknya sang paman. Lucia dapat menangkap beberapa detail dari sang penyusup. Dia tak terlalu tinggi, berpakaian cokelat dan celana selutut dengan versi warna yang lebih gelap, rambutnya panjang hingga bahu dan karenanya, Lucia tak yakin apakah dia lelaki atau perempuan. Hal yang paling menonjol adalah rambutnya yang berwarna hijau layaknya lumut.

Bukan, Lucia meralat dirinya sendiri, bukan lumut!

Ia menunduk sejenak, memandangi kalung yang tengah memeluk lehernya. Sebuah liontin batu nefrit peninggalan sang ibu, terpahat dalam ukiran lembaran bunga, memantulkan cahaya bulan dalam kilapan hijau lembut yang identik dengan surai sang penyusup.

Bahkan sebelum pindah ke sini, lokasi nongkrong Lucia hanyalah kantor pamannya, kampus Ratria, dan apartemen lama mereka. Ia tak punya teman sebaya dan jaringan pergaulannya hanya mencakup pada beberapa kenalan sang kakak dan kolega Aslan yang berusia lebih dari setengah abad. Namun, Lucia jelas tahu bahwa hijau bukanlah pigmen warna lazim bagi rambut seorang manusia.

Ia pernah bertemu Aslan dan beberapa om-om yang berambut hitam seperti dirinya, atau berambut putih seperti Ratria yang albino, atau pirang seperti ibu-ibu penjaga kantin kampus, atau teman selaboratorium Ratria yang berdarah Irlandia dan berambut merah. Tetapi, tidak ada hijau.

Tidak ada.

Kecuali dia mengecat rambutnya.

Namun pakaian yang dikenakannya begitu lusuh, hingga Lucia tak yakin si penyusup memiliki dana untuk mewarnai rambut dan bukannya membeli pakaian yang lebih layak.

Atau dia anak kota yang nyasar? Lucia berpikir sejenak, haruskah kutolong?

Tidak, tidak, tidak! Bagaimana kalau dia orang jahat?

Gadis itu menghentikan diri dari monolog pikirannya yang mengada-ada. Ia memutuskan untuk menunggu. Pengalaman telah mengajarkannya dengan banyak cara yang berbeda bahwa konklusi terburu-buru hanya akan membawa bencana.

Untuk beberapa lama si penyusup tak bergerak. Lucia masih menanti, bahkan hingga kedua kakinya jadi mati rasa. Setidaknya sepadan, karena beberapa menit kemudian si penyusup mengangkat sebelah tangan, memunculkan kerlap-kerlip cahaya hijau dari sana.

Lucia mesti membekap mulutnya dengan tangan demi menahan tarikan napas kuat.

Ia yakin tidak sedang berhalusinasi karena cahaya tersebut terlihat nyata sekali. Bahkan turut memantul di kaca, menghasilkan kilapan yang agaknya terlalu canggih untuk sebuah manipulasi dari otaknya yang tak seberapa. Ia memaksa berdiri demi mendapat penglihatan yang lebih jelas.

Namun, nahas. Kedua tungkai kakinya terlampau kesemutan hingga tubuh mungilnya yang malang jatuh mendadak menimpa meja. Berat tubuhnya memang tak seberapa, tetapi momentum dan permukaan meja yang berhias banyak toples membuat insiden ambruknya Lucia Paeonius menjadi lebih berisik dari yang seharusnya.

“LUCC!!!”

Ia menyadari lampu kamar bagian barat di lantai atas menyala sempurna, berikut langkah kaki tergesa-gesa dan teriakan panik Ratria. Aslan telah berangkat melaksanakan perjalanan dinasnya yang biasa. Alhasil, sang kakak adalah kepala rumah sekarang ini.

Lucia menggeram lemah sebelum mencoba memperbaiki kekacauan yang baru saja ia buat. “Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku hanya jatu—”

Ia menyela ucapannya begitu mendapati Ratria tiba dengan senapan di tangan.

Senapan?!

Selain tambahan instrumen kekerasan yang tak perlu, ia menyadari raut wajah sang kakak menunjukkan ekspresi panik yang terlampau pekat. Ia bahkan tak tertawa melihat kombinasi senapan dan piama bermotif boneka salju yang seharusnya lucu. Lucia bahkan berpikir, seberisik itukah dirinya tadi?

“Lucc, kamu kenapa?!”

Hal berikutnya yang ia tahu, ia telah dibombardir oleh kedua tangan Ratria yang menginspeksi tubuhnya dengan saksama. Air mukanya pucat pasi.

Oke, Lucia tahu Ratria itu albino dan memang seharusnya pucat, tetapi wajah kakaknya kali ini amat—sangat—pucat hingga beberapa pembuluh vena di kedua pipinya menampakkan diri. Ia terharu dengan limpahan perhatian Ratria sekaligus agak jengkel juga.

“Aku hanya kesemutan dan jatuh, kok,” masih tak melepaskan pandangan pada bilah logam tersebut, Lucia menepis tangan sang kakak, “oh dan—dari mana kamu dapat itu?”

Ratria tidak langsung menjawab. “Paman Aslan.”

“Dan sejak kapan kamu bisa pakai senapan?” Lucia mengerahkan segenap refleks tubuhnya untuk tidak menyuarakan kalimat berikutnya, ajari aku juga!

“Aku anggota klub teater di kampus,” jawab Ratria seolah itu menjelaskan sesuatu, “kamu kenapa di dapur malam-malam?”

“Aku haus dan ....“ Lucia mendadak teringat alasan mengapa dirinya harus berjongkok hingga kesemutan. Ia segera menempelkan wajah di jendela.

Si penyusup tidak tampak di mana-mana.

Ia tak lagi menghiraukan seruan Ratria karena telah terburu-buru berlari menuju rumah kaca. Kedua kakinya yang tak begitu panjang ditambah masa pasca-kesemutan membuatnya nyaris beberapa kali mengecup tanah.

Begitu sampai, ia disuguhi ratusan pot tanaman dalam banyak rak tanpa adanya figur hijau berambut panjang. Ia menyeret kakinya berkeliling ruangan, tetapi tak menemukan tanda-tanda kehadiran si penyusup. Seolah ditelan tanah. Seolah tak pernah ada.

Lucia melirik dinding kaca sebelum berpikir keras memetakan lokasi di mana sang penyusup tadi berdiri. Dengan patokan jendela dapur, ia melangkah penuh perhatian menyusuri rak-rak kayu sebelum berhenti di posisi yang sesuai. Tepat di depan pot kacang buncis yang kemarin pagi baru saja mati …

EH??

Lucia mengusap kedua matanya dengan kasar, tetapi penampakan di hadapannya tak juga berubah. Tanaman kacang-kacangan yang seharusnya mati tersebut telah tegak berdiri. Bahkan pada puncaknya tumbuh anak-anak daun baru. Seolah sang kacang buncis tak pernah layu.

Dan juga, ia dapat mengendus aroma lembut seledri di udara.

Apakah ... apakah mungkin?

Lucia Paeonius bukanlah seorang gadis yang genius, tetapi ia jelas tahu bahwa ada sesuatu hal yang tak lumrah pada rumah barunya. Sebut ia paranoid, tidak apa-apa. Namun, ia telah memantapkan hati untuk memburu sang penyusup.

Penyusup yang muncul dan lenyap dengan semena-mena layaknya hantu.

Baca Juga: Teaser Novel The Ethereal Muse di Cabaca

Lucia dihadiahi rumah kaca dan tinggal sana. Namun, ternyata rumah kaca tersebut membawanya ke dalam petualangan tak terduga serta menyibak sebuah kisah di masa lalu... Suka baca novel fantasi Indonesia? Yuk buka Cabaca, cari novel The House of Evergreen.

Di Cabaca kamu bisa download novel fantasi gratis. Say no to bajakan ya. Ada yang gratis dan original, kenapa pilih bajakan? Untuk download, kamu tinggal aktifkan mode offline di aplikasi Cabaca. Catat, tiap pkl 21.00-22.00 WIB SETIAP HARI, ada Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca. Maka dari itu, segera pakai aplikasi Cabaca yang tersedia di Play Store!

Pakai Cabaca dan install aplikasinya di Play Store!