Teaser Novel The Ghost in Our Heads di Cabaca – Bagiku, sendiri jauh lebih baik. Sendiri berarti tidak perlu berbagi apa pun dengan yang lain. Sendiri berarti menutup kesempatan orang lain. Sendiri berarti rahasia yang kusembunyikan selama ini terjaga selamanya. Kesepian hanya hal sepele dibandingkan rahasiaku.

Namun, Bu Vira, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelasku tidak sepemikiran denganku.

“Kelompok belajar ini akan bertahan sampai naik kelas. Tujuannya agar kalian saling membantu dan mendukung jika mengalami kesulitan belajar.”

“Tapi, Bu. Saya mau sekelompok dengan Ayu,” protes salah satu murid laki-laki di pojok kelas. Hal itu memicu keriuhan kelas. Namanya Danu.

“Ayu yang ogah dekat-dekat sama kamu!” balas gadis berambut sebahu, yang merupakan sahabat sekaligus teman satu kelompok gadis bernama Ayu tersebut.

“Sudah-sudah, jangan ribut!” Bu Vira mencoba meredam keributan kelasnya. “Danu, Ibu sudah merancang kelompok belajar ini sebaik mungkin. Ibu memasangkan sesuai kelebihan dan kekurangan kalian. Dengan begitu kalian dapat saling melengkapi. Mengerti?”

Danu menggaruk kepalanya dan mengangguk.

Sementara aku menatap dua orang yang duduk di hadapanku, lalu menghela napas. Berpasangan saja aku tidak mau, apalagi harus bertiga. Terlebih harus satu kelompok dengan dua orang ini. Kata Bu Vira kelompok belajar ini sudah dirancang agar kami saling melengkapi. Untuk kelompok kami, aku meragukannya.

Aku buru-buru menunduk, pura-pura fokus pada buku cetak saat tatapan dingin Milo terarah kepadaku. Coba lihat, Milo saja terlihat tidak menyukaiku. Begitu pun dengan Cessa, anggota lain kelompok belajar ini. Gadis berambut pirang itu malah asyik menatap ke luar jendela. Sama sekali tidak peduli dengan pelajaran.

Sepertinya saat istirahat nanti aku harus menemui Bu Vira. Membicarakan tentang kelompok belajar ini. Jika perlu, aku meminta izin pada Bu Vira agar tidak perlu ikut kelompok belajar. Aku meminta dispensasi agar mengerjakan semua tugas seorang diri.

Ya, itu jauh lebih mudah dibandingkan harus bersama Milo dan Cessa.

Baca Juga: Teaser Novel Little Pa Karya Qomichi di Cabaca

Ketika bel istirahat aku langsung bergegas menuju ruang guru.

Di SMA Persada, ruang guru terletak di lantai bawah, diapit oleh ruang tata usaha dan ruang bimbingan konseling. Selama bersekolah di SMA Persada, aku selalu menghidari ruang guru. Seingatku, hanya sekali aku masuk ke ruang ini. Waktu itu aku kelas X, aku dipanggil oleh wali kelas karena tidak masuk selama tiga hari tanpa keterangan.

Sesampainya di ruang guru, aku mendekati meja Bu Vira. Wali kelasku itu terlihat sedang berbicara dengan Monika, salah satu murid terpandai di kelasku. Sepertinya mereka sedang membahas mengenai tugas yang diberikan tadi. Menyadari ada pihak yang mendengar obrolan mereka, Bu Vira menoleh ke arahku. Aku melemparkan senyum canggung seraya mengangguk.

“Ada perlu sama Ibu, Shaki?” tanya Bu Vira.

Mendengar namaku di sebut, Monica ikut menoleh. Aku meresposn pertanyaan Bu Vira dengan anggukan.

“Tunggu sebentar, ya,” pinta Bu Vira ramah.

Bu Vira memiliki paras yang ayu. Tutur katanya pun selalu lemah lembut. Setiap bertemu, guru muda itu selalu tersenyum ramah, memperlihatkan cekungan di kedua pipi mulusnya. Tidak mengherankan jika banyak murid-murid SMA Persada yang memilih Bu Vira saat pemilihan guru favorit.

Selagi menunggu Bu Vira berbicara dengan Monika, aku mengedarkan pandangan. Terakhir kali aku memasuki ruang guru, dindingnya dicat warna biru laut. Sekarang warnanya masih sama, hanya mulai memudar dan di beberapa tempat mulai mengelupas. Suasana di dalam ruangan cukup bising, mulai dari obrolan beberapa guru yang berkumpul di meja Pak Togar, juga ditimpali oleh denting sendok yang beradu dengan piring. Aroma hangat nasi uduk bercampur ayam dan bawang goreng menggelitik penciumanku. Mendadak cacing di perutku meronta-ronta.

Dua menit berselang, akhirnya urusan Monika dan Bu Vira selesai juga. Setelah dipersilakan, aku duduk di tempat yang tadi diduduki Monika.

“Ada yang bisa Ibu bantu, Shaki?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Bu Vira, aku malah menunduk, menatap jemari yang saling meremas di pangkuan. “Apa bisa saya tidak ikut kelompok belajar, Bu? Maksudnya … saya bisa mengerjakan semua tugas itu sendirian.”

Saat aku punya keberanian mengangkat kepala, Bu Vira menatapku dengan senyum lembut.

“Kenapa?” Bu Vira bertanya.

Aku menarik napas, lalu mengembuskannya pelan. “Saya hanya tidak terbiasa bekerja sama. Lagi pula … kami tidak cocok.”

“Begini saja, Shaki. Kita coba dulu selama sebulan, bagaimana? Jika nanti kalian memang tidak cocok, Ibu akan mengganti teman kelompokmu.”

Sebulan tentu saja itu waktu yang lama bagiku. Duduk bersama selama 2 jam pelajaran bersama Milo dan Cessa saja, rasanya seperti setahun. Namun, saat menatap Bu Vira, aku sadar ini tawaran terbaik yang bisa guru itu berikan. Pada akhirnya aku mengangguk lalu berpamitan untuk kembali ke kelas.

“Shaki!”

Langkahku berhenti, lalu memutar tubuh Kembali menghadap Bu Vira. Guru itu tersenyum tipis dan berkata, “Tidak selamanya kita bisa melakukan semuanya sendirian. Ada kalanya kita butuh seseorang. Suatu saat nanti, Ibu harap kamu tahu bahwa kelompok belajar ini akan membantumu.”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel I Curse You di Cabaca

Shaki lebih baik sendiri. Shaki merasa lebih baik jika sakit. Apakah ini normal? Ataukah hantu di kepalanya yang membuatnya demikian? Novel teenlit yang satu ini bukan sembarang novel remaja. Ada bahasan mental health awareness juga. Baca gratis The Ghost in Our Heads, eksklusif untukmu hanya di aplikasi Cabaca.

Hentikan kebiasaan download pdf novel ilegal yuk. Toh sekarang udah ada aplikasi baca novel gratis di Indonesia. Manfaatin deh program Jam Baca Nasional setiap hari pukul 21.00-22.00 WIB. Program yang ditawarkan oleh Cabaca ini memungkinkan kita untuk baca novel online gratis novel mana aja yang kita suka. Penasaran kan? Install aplikasi Cabaca di HP kamu, ya.