Novel The Ethereal Muse di Cabaca.id – “Pekerjaan atau aku?”

Yoon Gi mengangkat pandangannya. Ia tidak menemukan tatapan menghakimi dari mata Kim Ji An, hanya bola mata berbinar seperti biasanya. Setelah makan malam, mereka hanya bermalas-malasan di sofa sambil menonton tv. Sampai akhirnya Yoon Gi mendapat inspirasi dan meninggalkan Ji An di sofa. Cepat-cepat Yoon Gi pergi ke studio kecil di dalam rumahnya ini. Yoon Gi tidak menyadari sudah berapa lama berada di sini, tiba-tiba saja Ji An sudah berada di sampingnya dan bertanya seperti itu.

Yoon Gi memutar kursinya agar duduk berhadapan. “Kau mau aku menjawab apa?”

“Jawaban yang jujur.”

Ji An tidak pernah menanyakan hal itu sebelumnya, makanya Yoon Gi sedikit terkejut. Ia berbeda dari perempuan kebanyakan. Ia tidak pernah mengeluh saat Yoon Gi tidak menghubunginya seminggu penuh karena pekerjaan. Ia juga tidak pernah menuntut macam-macam. Justru Yoon Gi berpikir kalau dirinya yang terlalu banyak menuntut. Ia merasa tidak cukup baik untuk perempuan ini.

“Kau yakin?”

Ji An mengangguk.

“Aku memilih pekerjaan.”

Yoon Gi bisa melihat sekilas pancaran kecewa dari matanya. “Kenapa?”

Yoon Gi menghela napas. Ia membenarkan letak duduknya agar lebih nyaman. Ditariknya kursi Ji An sampai lutut mereka bertemu.

“Aku berpikir, mungkin sampai saat ini, tidak banyak perhatian yang bisa kuberikan padamu. Jadi setidaknya... aku bisa membahagiakanmu dengan materi yang kupunya.”

Yoon Gi tersenyum. “Oleh karena itu aku harus bekerja keras.”

Tatapan Ji An menjadi sedih. Ah, Yoon Gi tahu, ia sudah salah bicara. Harusnya ia memilih perempuan itu saja, setidaknya dengan begitu Ji An tidak sedih. Tangan Yoon Gi terulur untuk mengelus pipi Ji An, mengatakan sejuta maaf yang tidak bisa diucapkannya.

Ji An mengangkat pandangannya perlahan, menemukan bola mata Yoon Gi yang masih menatapnya penuh rasa penyesalan. “Kalau aku....”

Yoon Gi menahan napasnya, menguatkan diri untuk hal terburuk.

“Kalau aku mengatakan semua perhatian yang kau berikan sudah lebih cukup bagiku, apa kau akan berhenti melakukannya?”

Yoon Gi mengerjap. Ibu jarinya berhenti mengusap pipi perempuan itu. Sama seperti sebelumnya, tidak ada tatapan menghakimi, hanya sebuah tatapan penuh cinta untuknya. Ji An mengeluarkan senyum yang membuat kerja tubuh Yoon Gi di luar kendali otaknya—lagi.

“Tidak.”

Ji An tertawa. Tawanya membuat dada Yoon Gi berdebar cepat dan membangunkan kupu-kupu yang tertidur di perutnya. Otaknya pun terpengaruh. Kata-kata yang seharusnya sudah bermelodi di laptop, hancur lebur karena ledakan sensasional di kepalanya. Ia tidak bisa berpikir apa pun selain menganggumi betapa cantik makhluk di hadapannya.

“Kau sudah lebih dari cukup bagiku.” Sambil mengusap air mata di ujung matanya, perempuan itu berkata. “Karena kau adalah Yoon Gi (Kor: energi yang bersinar) di hidupku.”

Perempuan itu tersenyum lagi. Matanya berbinar seperti cahaya bintang fajar. Senyumannya membuat seisi studio menjadi lebih cerah. Senyumannya membuat sendi Yoon Gi melemah seketika. Senyuman itu juga yang membuat Yoon Gi bisa melihat keindahan dunia dalam waktu bersamaan.

“Terima kasih, Yoon Gi-ssi.”

Lee Yoon Gi, 29 tahun, seorang produser musik terkenal, jatuh cinta pada perempuan yang sama untuk yang kesekian ratus kalinya.

Baca Juga: Teaser Novel The Girl From Outer Space di Cabaca

Bab 1

Musim panas menjadi waktu yang cocok untuk para penyanyi menunjukan warnanya. Summer vibe, begitu mereka menyebutnya. Lagu-lagu ceria yang menyegarkan musim panas ini seperti tidak berhenti diputar di segala tempat. Tidak siang, tidak malam. Tidak peduli juga jika yang mendengar sudah mulai jenuh.

Lee Yoon Gi mengalami itu. Lebih dari sekadar jenuh, Yoon Gi merasa marah sekarang. Lagu-lagu itu berputar seolah sedang mengejeknya. Ingin sekali ia membakar pengeras suara di pub ini, tapi Yoon Gi bukan orang yang suka membuat masalah. Lagu-lagu itu mengganggu konsentrasinya untuk menulis lagu. Seperti gelombang air laut, melodi ceria yang memuakkan terus-menerus menggerus kreativitasnya.

Sudah memasuki bulan Juli, permintaan untuk lagu baru ciptaannya meningkat. Atasannya sudah membuat daftar penyanyi yang harus “ditanggung” Yoon Gi selama dua bulan ini. Artinya, Yoon Gi tidak akan berhenti lembur selama itu. Masalahnya adalah Yoon Gi sama sekali belum memiliki ide untuk menulis satu lagu pun.

Tak!

Yoon Gi meletakkan tablet dengan kasar ke atas meja kayu itu. Sudah satu jam ia memainkan benda itu, tetapi tidak satu pun yang dihasilkan. Diteguknya Maekju(bir) sampai tersisa setengah gelas. Studionya sudah tidak bekerja dengan baik, jadi ia memilih untuk keluar dan mencari inspirasi. Tepi Sungai Han, taman, sekolah, sampai akhirnya ia sampai di pub—tidak satu pun momen yang bisa ia tangkap. Yoon Gi frustasi sekarang.

Yoon Gi mendesah. “Apa yang harus kutulis?!”

Saat itulah matanya tiba-tiba saja tertarik dengan seorang perempuan yang memakai kaus putih polos di balik blazer merahnya. Karena perempuan itu memakai topi putih dan kacamata berbingkai besar, Yoon Gi tidak terlalu jelas melihat wajahnya. Yang pasti ia bisa melihat tindikan di telinganya karena rambutnya diikat ke belakang. Sebuah benda berkilau yang menggantung di tangan kirinya menarik Yoon Gi untuk terus memerhatikannya.

Perempuan itu menempati salah satu kursi tinggi di meja bar. Dia tampak akrab berbicara dengan pelayan yang berdiri di depannya. Satu gelas besar teh Oolong pun langsung tersaji, dan ia langsung meneguknya. Senyuman tipis terukir di wajah mungilnya.

Yoon Gi menyipitkan mata. Tanpa sadar ia sudah menggeser tablet. Lima detik kemudian, Yoon Gi tenggelam dalam dunianya, mengabaikan semua melodi dan dengungan di sekeliling. Di hidupnya sekarang hanya ada dirinya dan aplikasi pembuat lagu itu.

***

Waktu cepat berlalu. Jam sudah menunjukan pukul 1 malam, sudah waktunya pub tutup. Ah Rin selesai mengantarkan pelanggan terakhir ke pintu, ketika ia menyadari ternyata masih ada satu orang yang duduk di pojok sana. Laki-laki itu berpakaian serba hitam, sedang asyik dengan tablet dan headphone menutup telinganya. Untuk sesaat ia mengira kalau di sana mungkin saja bayangan malaikat kematian.

Ah Rin pun menghampiri laki-laki itu, memintanya untuk meninggalkan pub karena sudah waktunya untuk tutup.

“Maaf, Sonim(pelanggan).” Ah Rin mengetuk pela meja untuk menarik perhatiannya.

Dan ia berhasil, laki-laki itu menurunkan headphone dan menatapnya. “Kenapa?”

“Kami sudah mau tutup, jadi... Sonim bisa kembali besok lagi.”

Laki-laki itu tidak menjawab ataupun mengeluarkan ekspresi. Ia hanya menatap Ah Rin datar, sebelum menggerakkan kepalanya.

“Kau masih punya satu orang di sana. Aku akan pulang kalau dia pulang.”

Ah Rin memutar kepalanya, melihat siapa yang dimaksud laki-laki ini. Tapi ketika Ah Rin ingin menjelaskan sesuatu, laki-laki itu sudah kembali memasang headphone-nya. Percakapannya dengan Ah Rin seolah tidak pernah ada. Ia kembali ke posisi semula, terpaku pada layar 9 inci itu.

Menghela napas, Ah Rin pun menghampiri perempuan yang duduk di kursi tinggi. “Anu... itu, Sajangnim(bos).”

Kim Ji An menoleh, lalu tersenyum ketika melihat Ah Rin. “Sudah selesai? Mau kubantu beres-beres?”

“Ah, tidak apa-apa. Tapi...” Ah Rin memutar tubuhnya, membuat Ji An penasaran. “Satu pelanggan tidak mau pulang karena melihat Sajangnim masih berada di sini.”

Ji An melihat ke arah yang ditunjuk Ah Rin. Laki-laki itu duduk bagai patung Budha—tidak bergerak, tenang, dan dingin. Aura di sekelilingnya seolah membuat garis “dilarang melewati”. Ia begitu serius melihat layar tablet, sambil sesekali menutup mata sebelum kembali menggerakkan jarinya di atas layar.

“Baiklah. Kau dan yang lain bisa beres-beres, biar aku yang menutup pub.”

“Apa tidak apa-apa?”

Ji An mengangguk. “Tentu saja.”

Ah Rin mengucapkan terima kasih, lalu berniat membereskan kursi ketika Ji An kembali memanggilnya.

           “Tolong sampaikan pada yang lain, jangan ganggu pria di sana.”

Baca Juga: Teaser Novel Zwilinge di Cabaca

Yoon Gi menggerakkan lehernya yang terasa kaku. Saat ia mengangkat kepala, hanya lampu di atas kepalanya yang menyala. Kursi-kursi juga sudah dinaikan ke atas meja, tirai-tirai diturunkan, dan sudah tidak ada siapa pun di sini. Penasaran, ia pun melihat jam tangannya. Sudah hampir jam 2 malam.

Panik, Yoon Gi buru-buru mematikan tablet dan berdiri dari sana. Bagaimana mungkin pelayan di sini tidak ada yang mengingatkannya? Begitu Yoon Gi beranjak dari tempatnya, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia memang tidak percaya dengan hal semacam itu, tapi kalau dalam keadaan sepi dan gelap begini, aura dingin selalu datang tanpa diminta.

“Sudah mau pulang?”

Napas Yoon Gi tersentak. Hampir saja ia menjatuhkan tabletnya kalau ia tidak cepat-cepat menguasai diri. Bayangan hitam itu mendekati cahaya, dan lama-kelamaan sosoknya makin jelas. Seorang perempuan mungil berbaju putih dengan rambut sebahu.

“A-Ah, iya,” jawab Yoon Gi, masih terkejut. “Annyeonghi kyeseyo(selamat tinggal).”

Ketika keluar dari pub itu, Yoon Gi melihat toko-toko di sekitarnya sudah banyak yang tutup. Kawasan yang penuh cahaya lampu itu sudah mulai tertidur. Menghela napas, ia pun berjalan ke mobilnya.

Tiba-tiba saja dia kebanjiran inspirasi untuk menulis. Semua kata-kata mengalir lancar dari otaknya. Telinganya seolah berputar nada-nada manis yang meminta untuk dirangkai. Dalam sekejap saja, satu lagu berhasil ia tulis. Setelah ini ia tinggal membuat demo dan meminta si artis untuk mendengarkannya. Setelah disetujui, Yoon Gi tinggal masuk ke tahap produksi dan rekaman. Semangatnya meningkat tiga kali lipat.

Yoon Gi baru ingin membuka pintu mobil ketika ia melihat bayangan seseorang yang terpantul di jendela mobilnya. Yoon Gi menoleh. Perempuan itu sedang mengunci pintu pub lalu memastikan semuanya sudah terkunci rapat. Ia pun memeriksa kamera pengawas di sudut pintu, sebelum menghela napas lega dan berbalik. Pada saat itulah terlintas satu pikiran di kepala Yoon Gi.

Mungkin dia sudah merepotkan perempuan itu.

Siapa yang sangka kalau ternyata Yoon Gi adalah satu-satunya pelanggan yang tersisa dan perempuan itu adalah pelayan di sana. Pasti sangat lelah menunggu orang yang hanya diam saja tanpa memesan makanan. Ditambah ini sudah lewat tengah malam, dan Seoul tidak seramah kedengarannya. Untuk seorang perempuan yang baru pulang kerja jam segini, ini pasti membahayakan.

Atas pikiran rasional itu, Yoon Gi pun mendekati perempuan itu. Ia hanya tidak suka berhutang budi kepada orang asing.

“Maaf.”

Perempuan itu berhenti melangkah dan menoleh. Ia tersenyum, sepertinya masih mengingat wajah Yoon Gi.

“Kenapa? Ada yang bisa kubantu?”

Yoon Gi berdeham sekali. Ia tidak ahli dalam menawarkan bantuan. “Begini... sebenarnya aku tidak merasa enak padamu soal tadi.”

Perempuan itu memiringkan kepalanya.

“Karena aku membuatmu menunggu sendirian di dalam.”

Setelah paham apa yang dibicarakan Yoon Gi, perempuan itu mengibaskan tangannya. “Ah, tidak apa-apa. Sudah tugasku.”

“Kalau begitu aku mau mengantarmu pulang sebagai permintaan maaf.”

Perempuan itu tampak terkejut dengan ucapan Yoon Gi. Di bawah temaramnya lampu depan pub, Yoon Gi bisa melihat binar panik di kedua matanya. Ia menggigiti bibir bawahnya dan satu tangan tidak berhenti memilin blazer merah yang tergantung di lengan satunya. Akhirnya Yoon Gi menyadari kalau ia salah bicara. Ia mungkin terdengar seperti pria mesum yang sengaja mengincar pelayan pub yang pulang tengah malam.

“A-Ah, maksudku, aku benar-benar ingin meminta maaf.” Yoon Gi tidak tahu kenapa ia jadi kesal sendiri. Ia bukan pria jahat yang tidak mau meminta maaf, tapi di satu sisi ia juga tidak suka memelas untuk mendapatkan maaf.

“Tidak apa-apa, kau tidak perlu mengantarku.”

Yoon Gi makin merasa bersalah. Perempuan itu menggoyangkan tangannya dan berkata cepat, seolah benar-benar tidak mau berurusan dengan Yoon Gi setelah ini. Mungkin kalau terus seperti ini, ia bisa saja melempar Yoon Gi dengan blazer-nya itu.

“Tidak apa-apa. Ini sudah malam, bahaya kalau seorang perempuan pulang sendirian.”

“Kau tidak perlu mengantarku, sungguh.”

“Percayalah aku tidak punya niat jahat. Aku sungguh-sungguh ingin membalas kebaikanmu.”

“Tapi—“

“Kumohon.”

Perempuan itu ingin membalas lagi, tapi kemudian hanya helaan napas yang keluar. Yoon Gi berpikir kalau mungkin ia menang. Setelah ia mengantar perempuan ini pulang, tidak ada lagi perasaan bersalah sehingga ia bisa menjalani hidup dengan tenang. Benar, pikiran seorang Lee Yoon Gi memang terlalu rasional.

“Rumahku di atas.”

Yoon Gi mengerjap. “Apa?”

Perempuan itu menunjuk ke atas, membuat Yoon Gi otomatis melihat ke atas. Tapi tidak ada apa pun di sana selain kabel-kabel yang menjulur, lampu jalanan, dan langit malam yang gelap. Yoon Gi kembali menatap perempuan itu. Jangan-jangan perempuan ini bukan manusia? Atau... sudah gila?

“Aku tinggal di atas pub. Rumahku hanya berjarak dua menit kalau kau tidak menahanku.”

Sebelum Yoon Gi melanjutkan pikiran gilanya, perempuan itu menambahkan. Barulah Yoon Gi mengalihkan pandangan ke lantai dua pub itu. Terdapat tanaman menjulur di depannya, sehingga Yoon Gi tidak bisa melihat jelas. Jadi itu alasan kenapa lantai dua pub ini tidak digunakan.

“Terima kasih atas tawarannya,” ucap perempuan itu, membuat perhatian Yoon Gi kembali. “Dan... tidak perlu meminta maaf. Kau kan salah satu pelanggan kami.”

Setelah memberi salam singkat, perempuan itu menaiki tangga yang berada di samping bangunan, meninggalkan Yoon Gi diterpa angin malam sendirian. Entahlah, ia hanya merasa... bodoh. Tidak cukup membuatnya terlihat seperti pria mesum yang ingin mengajaknya “bermain”, perempuan itu menolaknya dengan jawaban yang membuat otak Yoon Gi mengalami kejutan luar biasa.

Rumahnya ada di atas katanya?

Kenapa dia tidak mengatakannya dari tadi dan terus membuatku terlihat seperti ahjussi(paman) genit?

Memikirkan itu, niat untuk membalas budi Yoon Gi hilang. Ia jengkel setengah mati.

Baca Juga: Teaser Novel Devils Inside di Cabaca

“Jadi bagaimana?”

Tanpa mengucapkan apa pun, Jin Seok melepaskan headphone dari kepala lalu meletakkannya di meja. Ia menatap Yoon Gi dengan datar sebelum akhirnya bertepuk tangan keras. Yoon Gi hanya merespons dengan senyum tipis, mengetahui kalau kali ini pun dia berhasil. Hanya butuh satu hari untuk Lee Yoon Gi yang jenius menyelesaikan lagu ini. Meski belum sempurna, kurang-lebih sudah delapan puluh persen selesai. Ini pertama kalinya Yoon Gi mendapat inspirasi sebanyak itu.

Bravo! Bravo!” Jin Seok menepuk bahu Yoon Gi berkali-kali. “Kau memang tidak pernah mengecewakan telinga siapa pun.”

Yoon Gi kembali tersenyum. Ia sudah terlalu sering mendapat pujian semacam itu, tapi tetap rasanya menyenangkan. Oleh karena itu, ia mempunyai ambisi untuk melakukan yang terbaik. Ibaratnya, Yoon Gi bisa bekerja di dalam studio seminggu penuh tanpa makanan untuk mendapat hasil yang maksimal. Ia suka kesempurnaan.

“Omong-omong, apa judulnya?”

Ah, itu masalahnya. Yoon Gi belum menemukan judul yang tepat untuk lagu itu. Ia hanya terbayang warna merah dengan cahaya bintang di sekelilingnya, kemudian menginterpretasikan itu ke dalam sebuah malam di musim panas yang bertabur bintang. Yoon Gi menyukai sesuatu yang memiliki makna yang dalam, dan kata “merah” atau “malam berbintang” tidak cukup untuk menggambarkan isi dan perasaan yang ingin dibawakan Yoon Gi.

“Aku masih memikirkannya.”

“Hm...” Jin Seok menggerakan kursinya sambil berpikir. “’Red Moon’ bagaimana?”

Yoon Gi menjawab sambil memandangi layar laptopnya. “Itu terdengar sedikit horor. Lag ipula orang bisa menganggapnya ini lagu datang bulan.”

’Red night’?”

“Itu juga terdengar seram.”

’Red light’?”

“Ini lagu bukan tentang bencana.”

Akhirnya Jin Seok mendesah keras, menandakan kalau dia menyerah. “Oke. Kita singkirkan kata ‘merah’ saja.”

“Lagi pula aku tidak menyuruhmu menggunakan kata ‘merah’.”

Ya! Aku kan hanya coba membantumu!”

Yoon Gi pun akhirnya menoleh, wajahnya masih tanpa ekspresi. “Aku sedang memikirkannya, Park Jin Seok.”

Y-Ya, k-kau!” Jin Seok menunjuk Yoon Gi dengan wajah terkejut bercampur jengkel. “Aku ini sekarang atasanmu, tau!”

Yoon Gi tidak menjawab lagi, kembali memperbaiki aransemen lagunya. Jin Seok adalah seniornya waktu kuliah. Mereka memang tidak satu jurusan, tapi pernah dalam kegiatan organisasi dan kepantiaan yang sama sehingga persahabatan itu mulai terjalin. Yoon Gi pun mendapat tawaran kerja menjadi produser pertama kali dari Jin Seok. Dan sekarang jabatan Jin Seok sudah tinggi—menjadi direktur di perusahaan rekaman itu. Tapi sampai saat ini Yoon Gi tidak pernah memanggil Jin Seok dengan jabatannya, kecuali saat acara formal dan rapat saja. Toh, Jin Seok sebenarnya tidak terlalu mempedulikan itu.

Yoon Gi memutar kursi lalu berdiri, membuat Jin Seok mengerutkan dahi. Dari dulu sifat anak ini tidak pernah berubah. Saat tidak punya uang, bahkan ketika sekarang uangnya melimpah, ia tetap saja kasar seperti itu.

“Aku pergi dulu.”

Jin Seok pun memutar kursinya, mengikuti Yoon Gi yang sedang berjalan ke arah pintu. “Mau ke mana?”

“Mencari udara segar.”

Saat Yoon Gi menutup pintu, Jin Seok mendecih. Memangnya udara di sini kurang segar? Apa napasnya sebau itu?

Baca Juga: Teaser Novel Starry Starry Night di Cabaca

Hancur gak hatimu kalau kekasihmu lebih pilih pekerjaan dibandingkan kamu? Hancur boleh, menyerah jangan. Novel fanfiction yang seru datang lagi di Cabaca, judulnya The Ethereal Muse. GRATIS kok!

Yang suka download novel gratis, kalian bisa beralih ke Cabaca. Yang pasti original dan bukan bajakan. Tinggal pakai mode offline aja kok. Semakin mudah deh di aplikasi Cabaca. Apalagi ada Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca, pkl 21.00-22.00 WIB SETIAP HARI. Aplikasi Cabaca tersedia di Play Store!

Unduh Cabaca di Play Store dan bergabunglah di Jam Baca Nasional.