Novel The Curse di Cabaca.id--Dalam hidup, ada satu masa di mana kita tidak akan pernah melupakannya.

Masa remaja, akhir dari masa anak-anak menuju gerbang kedewasaan.

Masa di mana sedang gencar-gencarnya bermimpi menjadi orang hebat ketika dewasa. Masa di mana menjunjung persahabatan di atas segalanya. Masa di mana sering kali membangkang pada orangtua. Masa di mana sekolah lebih menyenangkan daripada rumah.

Dan yang paling utama, masa remaja adalah masa di mana hati bergejolak ketika mendengar dan membicarakan tentang si dia, orang yang disukai. Atau lebih tepatnya, masa  di mana tiap orang merasakan cinta kepada lawan jenis dengan perasaan yang amat dalam, walau belum jelas si dia adalah jodohnya atau bukan.

Hanya terikat status pacaran pun sudah cukup.

Saat bertemu, kedua mata saling memandang dalam, bergandeng tangan menembus dinginnya angin sore setelah pulang sekolah, tertawa bersama layaknya menonton opera sabun, tidak mendengarkan cemoohan orang yang iri.

Semuanya terasa indah… hal yang pernah dilalui besama, semua tentang dia. Begitu menyenangkan sehingga lupa, jika mungkin dia bukanlah jodoh yang sudah Tuhan takdirkan untuk menemani sampai tutup usia.

Tahu sendiri, kan, jika bukan jodoh? Mau digenggam sekuat apa pun, mau menangis berliter-liter pun. Tetap dia akan jadi milik orang lain…

“Aku memang cuma orang biasa, tapi aku mencintai kamu dengan perasaan yang luar biasa. Yang nggak pernah bisa kamu ukur seberapa dalamnya. Tolong jangan pergi, aku masih memperbaiki diri supaya bisa pantas jadi pasangan kamu.”

… dan akan pergi meninggalkan luka menganga di hati yang bekasnya akan terus ada meski ada orang baru yang datang mengobati.

Baca Juga: Disamperin Mantan Saat Fitting Gaun Pengantin!

Bagian Satu: Sun dan Ay

Tanggapan tentang cinta itu seperti tulisan di pasir pantai

Tergantung dari apa yang dirasakan oleh orang yang menulis

“Capricorn. Keuangan bulan ini; stabil dan—“

Skip, langsung ke hubungan asmara aja deh!” potong seorang lelaki yang tengah sibuk membalas chat sambil bersandar di pojokan rumah pohon.

“Banyak maunya lo!”

“Daripada banyak gayanya,” lelaki itu mengedipkan sebelah matanya, “ayolah, Gata!”

Remaja 18 tahun yang di panggil Gata itu, langsung mendengkus kesal. Namun, tetap menuruti permintaan sahabatnya. “Hubungan percintaan bulan ini, untuk laki-laki; kamu akan jatuh cinta dengan seseorang gadis yang sangat sulit kamu dapatkan, tapi kamu tidak akan menyerah karena kamu begitu mencintai gadis itu.”

Penjelasan Gata disambut gelak tawa seseorang yang duduk di sebelahnya dengan mengenakan almameter ber-name tag Reynald. Di  sela tawanya, Rey berkata, “Selama 18 tahun hidup aja, Sunny belum pernah serius sama satu cewek. Ngaco itu ramalan.”

Gata mengangkat bahunya. “Siapa tahu benar, ‘kan? Mungkin Sunny akan ketemu cewek yang buat dia berhenti jadi playboy. Iya, ‘kan,  Sun?”

Duh…” Rambut hitam yang mulai panjang itu disisir menggunakan jemari, tubuh kekarnya pun tak di sandarkan lagi, lalu ia tersenyum miring, menampilkan lesung pipi yang membuatnya semakin terlihat menarik, “jangan percaya ramalan, nanti jadi musyrik lo, Gat.”

“Tadi ‘kan, lo duluan yang minta dibacain ramalan, bodoh!”

“Lagian lo pikir aja, Gat. Seorang Sunny Amrilla, playboy sejati se-SMA Sansekerta dan sekota Bandar Lampung, mana pernah sih jatuh cinta? Yang ada semua cewek jatuh cinta sama gue. Dengar ya, jatuh cinta itu nyusahin, dan suatu hal yang nggak berguna karena ending-nya cuma buat sakit hati.”

“Sun, kalau gue bunuh lo boleh nggak, sih?”

“Jangan dong. Nanti kadar kepopuleran lo turun, karena nggak punya sahabat yang gantengnya overdosis kayak gue.”

Bersahabat sejak lama dengan Sunny, membuat Gata tahu kalau Sunny memang mudah menaklukkan perempuan mana pun dengan penampilannya yang sempurna; tubuh tinggi dan atletis karena sering berolahraga, iris hitam tajam layaknya mata elang, pahatan wajah yang hampir mirip dengan aktor tampan Thailand bernama Jirayu La Ongmanee.

Tapi, kadang Gata jadi kesal sendiri kalau Sunny mulai narsis begini.

“Dengar, Sun. Setiap perbuatan kita itu ada balasan. Kalau kata-kata cewek yang sering kasih lo kutukan sih, karma is real.”

“Karma? Sejenis makanan di bulan puasa?”

“Kurma!”

“Biarin aja, Gat. Nanti kalau dia kena karma, tinggal kita tawain aja,” komentar Reynald seraya berdiri, dan mengambil beberapa barangnya. “Bro, gue pergi dulu, ya.”

“Mau ke mana lo? Latihan futsal?” tanya Sunny.

“Mau ketemu sahabat lama yang baru datang dari Jakarta. Kalau gitu, gue pulang dulu, ya.” Reynald melambaikan tangannya, dan turun dari rumah pohon.

Selepas kepergian Reynald, Gata pun ikut berdiri dari posisi duduknya.

“Lo pulang juga sana, Sun. Gue mau jalan sama Meida.”

Sunny mendengkus kesal. “Giliran kita tinggal berdua, lo selalu aja pilih pacar lo. Lama-lama si Meida gue ambil juga, nih!”

“Coba aja, gue doain lo dapet karma yang makin parah.”

“Ngomong itu mulu, kayak para mantan gue aja.” Sunny tertawa geli. “Seorang Sunny Amrilla, nggak akan pernah kena kutukan seperti kata-kata orang yang pernah dia sakitin. Jatuh cinta? Nggak bisa milikin seseorang? Mustahil!”

Baca Juga: Pilih Mana: Ditanya Kapan Nikah atau Dikatain Expired?

“Huh… huh….”

Seorang gadis dengan kemeja biru membungkus tubuh mungilnya, meniup cokelat panas yang tersaji di depannya. Sesekali dia meminum cokelat itu untuk menghangatkan badan dari dinginnya angin malam di kota Lampung.

Sedari tadi dia duduk di kafe ini, senyum kecil terus mengembang di bibir tipisnya. Membayangkan bagaimana menyenangkannya bisa bertemu lagi dengan sahabat lama, juga bertemu dengan lelaki yang merupakan cinta pertamanya.

Lelaki yang membuat dia tidak bisa jatuh hati pada siapa pun, walau tak bertemu bertahun-tahun hingga akhirnya kembali ke kota kelahirannya, Lampung. Dengan harapan bisa mendapatkan lelaki yang selalu memenuhi pikirannnya itu.

Kring! Kring!

Suara lonceng kafe pertanda ada yang membuka pintu, membuat mata bulat si gadis teralihkan  ke sumber suara. Dan, ah! Dua orang yang dia tunggu sudah datang.

Gadis itu melambaikan tangan, mengisyaratkan kalau dia duduk di bangku pojok kanan. Tapi dua orang itu belum juga melihatnya, jadi dia berteriak, “Meida! Kak Reynald!” Memanggil Meida yang merupakan sahabat lamanya, dan Reynald, si cinta pertamanya.

Meida dan Reynald menghampirinya. Adik kakak itu duduk di sofa kosong yang berada di depannya.

“Cahaya,” Reynald memanggil namanya dengan suara serak yang khas, “nggak nyangka setelah bertahun-tahun akhirnya kita ketemu juga!”

Si gadis yang dipanggil Cahaya itu, mengangguk singkat, dan berucap dengan suara yang terdengar bahagia, “Ayah udah janji, kalau gue SMA pasti akan kembali ke Lampung.”

“Senang rasanya ketemu lo lagi!”

Cahaya memilih diam. Bingung mau merespons apa. Karena dari tadi, sejak Reynald memanggil namanya, dia hanya fokus mengatur irama jantungnya yang tidak bisa berdebar normal, ketika bertatapan mata dengan Reynald.

Lelaki itu sama seperti dulu, tidak banyak yang berubah. Rambut hitam yang sedikit ikal, mata hazel, hidung mancung, kulit sawo matang khas orang pribumi, juga bibir tipisnya yang sering menyunggingkan senyum. Mungkin yang berbeda hanya sekarang dia lebih tinggi daripada dulu.

“Kenapa lo nggak bilang dari jauh hari, Ay, kalau lo mau ke Lampung? Kan gue sama Kak Rey bisa jemput lo di bandara.”

Belum sempat Cahaya menjawab, Reynald lebih dulu menimpali, “Ay itu nggak manja, beda kayak lo.”

“Gue itu nanya ke Ay, bukan nanya lo, Kak!”

“Faktanya gitu kok,” balas Reynald. Tanpa peduli tatapan membunuh dari adik yang berselisih umur satu tahun darinya.

Cahaya terkikik geli melihat kelakuan mereka. Gadis yang akrab disapa ‘Ay’ itu, benar-benar rindu dengan momen seperti ini, di mana hanya jadi penonton waktu Meida dan Reynald berkelahi lewat kata-kata.

“Udah ah, jangan ribut dulu,” ucap Reynald menyudahi. “Oh iya, lo mulai pindah kapan?”

“Lusa. Ayah sama Tante masih ngurus surat-surat di Jakarta.”

“Satu sekolah sama kita, kan?”

“Iya.”

“Jadi hari ini baru lo aja yang ke Lampung?”

“Hu’um, baru banget sampai.”

Reynald melirik sekilas dinding kafe, dan kembali menatap Cahaya. “Kalau gitu pulang sekarang aja, kasihan lo capek. Gue antar, ya. Biar Mei jalan kaki aja.”

That’s right. Kali ini gue setuju sama Kak Rey.”

“Duh Kak Rey, kasihan Mei, biar gue jalan kaki aja.”

Meski sebenarnya Cahaya mau sekali diantar pulang. Pikirnya, pasti romantis diantar pulang menggunakan motor saat hujan begini. Layaknya FTV yang sering dia tonton.

“Oke… kalau gitu hati-hati, ya. Gue panasin motor dulu, siap-siap pulang.”

Reynald mengacak pelan rambut Cahaya sebelum melangkah keluar dari kafe.

Cahaya melongo setelah kepergian Reynald. Meida melipat tangan di depan dada dan memicingkan matanya. “Apa sih yang ada di pikiran lo itu, Ay? Lo bilang cinta sama kakak gue.”

“Ya gue mau jual mahal sedikit, lah, Mei. Masa cowok ngajak pulang bareng langsung mau aja, sih?” belanya, lalu wajah manisnya berubah murung. “Padahal kalau Kak Rey ngajak gue sekali lagi, nggak akan gue tolak.”

“Iya sih benar juga, tapi lo tahu kan Kak Rey itu nggak peka sama sekali.” Meida mengusap dagunya, tampak berpikir. Lalu, tiba-tiba ia menggebrak meja dan membuat Cahaya tersentak. “Setiap hari Rabu Kak Rey latihan futsal di lapangan sekolah. Gimana kalau lo bawain dia minum, dan ikut nonton dia latihan?”

Cahaya menjentikkan jari dan tersenyum penuh arti. “Apa sih yang nggak akan gue lakuin buat dia?”

Demi Reynald, apa pun pasti akan Cahaya lakukan asalkan bisa mendapatkan hati lelaki itu. Walau hal yang paling benci dia lakukan adalah duduk di pinggir lapangan, dan menonton dua kelompok remaja lelaki memperebutkan bola, yang sebenarnya bisa mereka beli masing-masing tanpa harus berebut.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Kerang Gratis di Cabaca

“Gimana kalau kita taruhan?”

“Taruhan apa?”

Mata Gata terfokus pada dasi yang dipakai Sunny dengan asal. “Lempar dasi lo ke lantai satu. Kalau cewek yang ambil, lo harus pacaran sama dia selama dua bulan. Kalau cowok yang ambil, kita anggap taruhan ini batal. Misalnya lo yang menang, lo boleh minta apa aja ke gue. Misalnya gue yang memang, semua action figure yang lo punya, buat gue.”

“Gila ya lo? Nggak mau gue!”

Sunny yang playboy dan Cahaya yang pantang menyerah. Apakah keduanya dipersatukan? Novel teenlit tentang kisah cinta dan pacaran zaman sekarang, The Curse di Cabaca.id, GRATIS!!

Suka baca novel teenlit gratis? Atau suka baca cerita horor? Manfaatkan dan unduh aplikasi Cabaca di Play Store. Kamu bisa baca novel gratis tiap pukul 21.00-22.00 WIB, saat jam baca nasional.

Baca novel gratis? Yuk, install Cabaca!