Teaser Novel The Boss Lady di Cabaca.id – Berbeda dengan wajah-wajah di sekitarnya yang sedang kesal, Tania justru tersenyum lebar. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar karena semangat yang meluap-luap bercampur gugup. Tania sedang menyusun sebuah rencana yang sangat berani sekaligus bodoh, sesuatu yang mungkin kelak akan ia sesali. Atau syukuri.

Sejak pukul 16.30, sebagian besar wajah mendadak keruh. E-mail dari sekretaris kantor, Mbak Rahmi, menjadi biang keladinya. E-mail itu berisi undangan kepada seluruh karyawan, agar pada pukul 18.30 berkumpul di banking hall untuk meeting umum, sekaligus perkenalan dengan Regional Head yang baru.

Ini Jumat petang. Pada jam-jam seperti ini, yang diinginkan semua orang adalah pulang. Sebagian lain yang terpaksa lembur, juga tak ingin terjeda waktunya dengan acara formalitas yang tak mereka mengerti apa faedahnya, kecuali menambah lelah setelah seharian dipusingkan dengan pekerjaan.

Pertama-tama, Kepala Kantor Cabang, Pak Robert, membuka acara dengan sejuta dua juta patah kata yang menjemukan, sebelum mengumumkan dengan nada heroik nan menggelegar, “Mari kita sambut, Bapak Arbo Tirajo, Regional Head kita yang baru!”

Senyap.

“Inilah Bapak Arbo Tirajooo …!!!”

Tetap senyap.

Pak Robert mulai panik.

Pria yang disebut Pak Arbo itu berdiri dan melangkah dengan anggun ke tengah ruangan, usianya kira-kira pertengahan empat puluhan. Rambutnya terlihat kelabu karena sebagian telah bercampur uban, tetapi postur tubuhnya tegak, dengan tinggi sedang. Wajahnya tidak sangat tampan, tetapi menarik dengan rahang hampir kotak. Mata hitamnya yang seperti selalu merenung itu, menyapu seluruh ruangan, sekilas dan tidak peduli, hampir-hampir meremehkan. Mungkin sebenarnya bukan meremehkan, melainkan pengaruh hawa yang timbul karena sikap yang terbentuk secara tidak sengaja oleh pengalaman dan kedudukannya.

Sedetik kemudian terdengar seseorang bertepuk tangan. Mula-mula pelan dan ragu-ragu, tetapi kemudian semakin keras dan antusias. Tania yang duduk di bangku depan pojok paling kanan, bertepuk tangan sendirian.

Pak Robert memelotot kepada karyawan yang lain, yang kemudian bertepuk tangan dengan enggan dan tidak kompak.

Baca Juga: Teaser Novel The Fill-In CEO di Cabaca.id

Sejak dua hari yang lalu, Tania sudah mendengar kabar dari Mbak Rahmi, bahwa hari ini, Regional Head yang baru, yang berkantor di Semarang, akan mengunjungi Solo. Ini akan menjadi acara yang menakutkan, karena Pak Regional Head ini pasti akan meminta diadakannya meeting dengan Kepala Kantor Cabang dan jajaran karyawan marketing. Tahun ini, kantor cabang sebuah bank swasta terbesar di Asia—tempat Tania bekerja, sedang buruk kinerjanya. Dan di antara semua karyawan marketing, nilai Tania adalah yang terburuk.

Tania sudah frustrasi karena setiap pagi diomeli Cik Lili, SME (small medium enterprise) manager, yang membawahinya. Ditambah lagi, seminggu sekali Tania juga diomeli Pak Robert dalam meeting khusus antara kepala cabang dan tim yang dipimpin Cik Lili, setiap Senin pagi.

Tania adalah karyawan paling muda, bukan saja di tim Cik Lili, tetapi juga di kantor cabang Solo. Ia baru satu setengah tahun bekerja, setelah lulus dari kelas ODP (officer development program) di perusahaan ini. Kelas ODP itu diikuti oleh 45 orang lulusan terbaik dari berbagai perguruan tinggi.

Setelah melewati saringan berkali-kali sehingga menggugurkan harapan ratusan orang pendaftar lainnya, Tania menjadi salah satu dari 45 orang yang kemudian menjalani pendidikan teori perbankan, selama enam bulan. Di kelas yang sangat kompetitif itu, Tania harus puas dengan menempati peringkat ke 35. Andai saja Tania bisa menjadi lulusan lima terbaik saja, Tania akan ditempatkan di corporate banking, atau paling tidak di commercial banking, dengan gaji dan tunjangan yang lebih menarik tentunya.

Namun, di sinilah Tania pada akhirnya, menjadi anak buah Cik Lili yang galak dan pandai sekali menyakiti. Tania merasa, selama setahun ini hidupnya bagai di dalam neraka. Meskipun sebagai lulusan ODP Tania sebenarnya mendapatkan gaji dan tunjangan yang besarnya—bagi sebagian besar karyawan operasional biasa—hanyalah impian.

“Nah, sementara itu dulu yang bisa saya sampaikan saat ini,” Pak Arbo bersiap mengakhiri pidatonya. “Dengan kinerja kantor cabang Solo yang sangat mengecewakan dibanding seluruh kantor cabang di Jawa Tengah dan DIY, tentunya kita akan mengadakan evaluasi khusus. Harus ada seseorang yang mempertanggungjawabkan keadaan ini.” Senyum dingin Pak Arbo membuat Robert bergidik.

Sekali lagi, tepuk tangan Tania kembali terdengar. Namun, kali ini segera disusul tepuk tangan yang sangat meriah dari seluruh karyawan, yang merasa sangat terhibur menyaksikan wajah bos mereka, Pak Robert, menjadi pucat pasi.

Baca Juga: Teaser Novel Boss Kampret di Cabaca.id

Sementara Mbak Rahmi mulai mengedarkan nasi kotak kepada seluruh karyawan yang baru saja selesai mengikuti meeting, dengan gesit Tania menghampiri Pak Arbo yang tengah berdiri sambil bercakap-cakap dengan Pak Robert.

“Maaf, Pak Arbo.” Tania tersenyum riang.

“Ada apa, Tania?” Robert menatap Tania dengan perasaan tak senang karena pembicaraannya disela.

“Boleh minta foto bareng, Pak Arbo?” Tania tetap tersenyum sambil menatap Arbo.

Robert tercengang.

Arbo tertegun menatap wajah Tania. Gadis ini memiliki mata yang bulat dan jernih seperti mata anak-anak. Hidungnya kecil tetapi mencuat tajam. Bibirnya tidak terlalu tipis, berwarna merah muda alami, merekah dalam bentuk yang sangat indah, bagai kelopak mawar menggeliat terbuka ketika setetes embun yang dingin terjatuh di atasnya. Warna kulitnya adalah nuansa langit pagi, antara putih kemerahan, hingga kuning cerah, yang sepertinya bisa berubah-ubah tergantung pada suasana hatinya. Rambutnya panjang sebahu, hitam berkilau, lurus dan lembut bagai sutera. Ya, Tuhan, cantik sekali. Seperti inikah Raline jika sudah dewasa?

“Oh, boleh saja. Sini.” Arbo mengulurkan tangannya, mengambil ponsel dari tangan Tania.

Arbo memotret dirinya bersama Tania.

“Sampai ketemu di Diamond, Pak Arbo,” Robert berusaha mengalihkan perhatian Pak Arbo dari Tania. Namun, Arbo hanya mengangkat sebelah tangan, tidak peduli.

“Kirim ke saya, ya, fotonya.” Pak Arbo menyerahkan ponsel Tania.

“Baik, Pak Arbo. Nomor telepon Bapak berapa?”

Robert menjadi geram melihat tingkah laku Tania yang tak tahu diri. Namun, ia sedang dalam posisi tak berdaya, Pak Arbo sedang kecewa dengan kinerjanya yang payah. Dengan enggan, Robert pergi diam-diam.

“Ngomong-ngomong, apakah Pak Arbo pernah mencoba Wedangan Pak Basuki?” Tania semakin lepas kendali.

“Belum pernah. Apa itu? Eh, siapa namamu tadi?”

“Tania, Pak.”

“Oh, iya, Tania. Kamu kerja di bagian apa?”

Marketing SME, Pak.”

“Oh ....”

“Itu wedangan paling enak di seluruh dunia, Pak.”

“Wah ….”

“Saya akan mengantar Bapak ke sana. Sekarang!”

Arbo terbelalak, seolah sedang menatap wajah setan.

Jantung Tania berdegup kencang. Astaga, apa yang sedang kulakukan ini? Aku pasti sudah gila!

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga:7 Novel Tentang CEO yang Dirilis Cabaca Melalui CEO Project

Tania akan melakukan apa saja demi mencapai posisi tertinggi, termasuk mendekati bossnya sendiri. Hati-hati mungkin banyak juga yang seperti Tania dalam novel The Boss Lady. Mau baca gratis? Install aja aplikasi Cabaca di HP kamu.

Sudah bukan masanya download pdf novel bajakan. Semenjak ada aplikasi Cabaca, kita bisa baca gratis 100% novel yang kita suka. Emang harus usaha dikit melakukan misi kerang atau nyempetin buka Cabaca Jam Baca Nasional, mulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Tapi ini LEGAL dan penulisnya tetep bisa berpenghasilan lho. Jadi, masih nggak mau pakai aplikasi Cabaca?

Solusi baca gratis tanpa download e-book bajakan.