Novel The Black Jasmine di Cabaca.id--Satu lembar kain.

Hanya satu lembar kain yang masih menempel di tubuh sintal Wang Qi Qi. Malam itu malam yang panjang dan gelap gulita. Kaki yang putih jenjang harus rela dilumuri darah saudara-saudaranya. Tak kalah tragis, tubuh ayu itu terkoyak penuh dengan luka gores yang begitu berat.

Tubuh Wang Qi Qi seakan mati separuh, ia sama sekali tak bisa bergerak. Mengandalkan sisa tenaganya yang mungkin sudah habis, ia merayap mencari dukungan sekitar.

"Kau memang keras kepala Wang Qi Qi," celetuk seseorang di hadapan Qi Qi yang tergeletak lemah dengan tubuh penuh darah.

Gadis itu berusaha membuka matanya yang kabur, ia menatap sosok itu dengan kosong. Malam ini mungkin hari terakhirnya tinggal di dunia, jadi untuk apa ia harus berdebat dengan pria tersebut.

"Jika kau mau kau bisa bekerja sama denganku, Wang Qi Qi," tawarnya lagi dengan santai.

"Aku tidak butuh penawaran apa pun. Siapa pun kau, pergi dari hadapanku!" kata Qi Qi dengan suaranya yang lemah.

Gadis itu merayap, menyeret tubuhnya yang lemah untuk bersembunyi dari orang-orang yang ingin membantainya, membantai generasi terakhir keluarga Wang.

"Pikirkan sekali lagi, kau perlu menerima dan aku... aku akan segera menyelesaikannya," iming pria itu tak kalah manis dari secawan madu.

Wang Qi Qi tak menjawab, ia justru muntah darah dan napasnya tercekat di tenggorokan. Jemarinya yang menggapai-gapai berhenti sejenak, sampai mati pun ia tidak akan meminta bantuan pada pria yang tidak ia kenal dan tidak tahu dari mana asalnya.

"Segera katakan keputusanmu, katakan ya dan aku akan menyelamatkanmu," desaknya mulai tak sabar.

"Sampai napasku berhenti aku tidak akan menerima bantuan dari siapa pun. Pergilah! Biarkan aku membusuk di sini." Suara bebal itu terdengar tanpa rasa takut. Meskipun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa air mata tetap keluar dari persembunyiannya.

Menghela napas, pria tak dikenal itu berbalik. Sebelum ia benar-benar pergi, ia kembali bergumam, "Jika itu maumu aku tidak akan pernah menolongmu lagi."

Satu langkah, dua langkah.

Tak ada seruan minta tolong dari bibir Wang Qi Qi, gadis ini benar-benar ingin mati. Jengah karena diabaikan oleh Wang Qi Qi, sang pria tak punya cara lain selain memaksanya.

Berbalik badan, ia dengan cepat melangkah menuju ke arah Wang Qi Qi. Berjongkok sebentar sebelum akhirnya ia mengeluarkan selembar kain dari dalam hanfu-nya. (Busana tradisional Tiongkok)

Jemari kekar terulur meraih jemari lunglai gadis di hadapannya. Tanpa ragu ia meneteskan darah segar keturunan terakhir generasi Wang di atas kain. Sang pria tersenyum, dengan puas ia menggulung kembali kain itu sambil berdiri, "Mulai detik ini aku akan melindungimu  dan melayanimu."

Suara gaduh langkah para pembunuh terdengar mendekat. Tanpa menoleh, telinga pria itu sangat waspada. Dengan sekali kibas dan tanpa berbalik, pria tersebut menghantam balik musuh-musuh nona barunya.

Suara debaman terdengar begitu nyaring diikuti dengan teriakan para pembunuh yang melewati ajalnya begitu cepat.

Tersenyum tipis, sang pria kembali bergumam, "Akan kukembalikan setiap darah yang tercecer dari tubuhmu, akan kukembalikan setiap kekecewaan yang menguar dari dalam jiwamu. Aku akan menjadi pelayanmu seumur hidupku dengan satu syarat, saat bulan purnama terakhir, saat itulah aku memegang kendali. Akan kubuat kau berada di bawahku, mengambil nyawamu, dan membuatmu mengerti bahwa hidupmu jauh lebih buruk daripada kematian macam apa pun."

Baca Juga: Pernah Dikecewakan, Gadis ini Bikin Agen Rahasia Khusus Menyelidiki Orientasi Seksual

"Yang Mulia Ratu... Panglima Lie Tang Shi sudah memasuki gerbang istana," lapor dayang dengan hati-hati ketika melihat ratunya membaca buku filsafat kuno di pavilliun kesayangannya.

Melirik sejenak, gadis itu hanya terdiam. Ia menutupi rasa takut dengan pura-pura membaca, bagaimana ia tidak takut, mendengar namanya disebut saja ia sudah gemetar tak keruan.

"Yang Mulia adakah tugas untuk hamba?" tanya sang dayang ketika laporannya sama sekali tidak dianggap oleh Wang Qi Qi.

"Lakukan penyambutan seperti biasa, siapkan jamuan yang istimewa untuk panglima negeri Peng Lan. Ia baru pulang berperang, tawarkan minuman yang ia suka dan tawarkan pula hiburan yang sangat bagus," saran Wang Qi Qi tanpa mengalihkan tatapannya dari buku

"Baik, Yang Mulia." Sang dayang menganggukkan kepala lalu membungkuk dan pergi.

Setelah sang dayang pergi, Wang Qi Qi menegakkan kepala. Ia menutup bukunya dengan kasar, sesaat ia memerhatikan jemarinya yang mendadak bergetar hebat. Rasa takut bertahun-tahun menghantuinya, ia merasa takut ketika nama Lie Tang Shi disebutkan di hadapannya.

Pria itu-, pria itu adalah pria tampan dengan separuh jiwa siluman di dalam tubuhnya.

Menelan ludah Wang Qi Qi beranjak berdiri dari duduknya. Ia menyeret langkah kaki dengan penuh enggan, mau tak mau sebagai ratu di negeri Peng Lan ia harus memberi pujian dan penghormatan pada Lie Tang Shi.

Gadis berbusana anggun itu melangkah menuju halaman aula istana dengan diikuti belasan dayang di belakangnya. Ketika negeri Peng Lan bahagia atas kemenangan Panglima Lie Tang Shi, hanya Maharani Wang Qi Qi saja yang terlihat muram seperti hari-hari sebelumnya.

Suara genderang penyambutan terdengar ditabuh bertalu-talu. Dengan langkah kuda hitam yang gagah, Lie Tang Shi menunggangi kudanya menuju ke halaman aula istana.

Pria tampan itu tersenyum penuh misteri ketika melihat Wang Qi Qi sudah berdiri di sana guna menyambut kedatangannya.

Suara riuh terhenti ketika Lie Tang Shi turun dari kuda dan maju melangkah menghampiri ratu negeri Peng Lan sekaligus Nona-nya.

Tatapan tajam menembus jantung Wang Qi Qi, meskipun sudah bertahun-tahun menjalani perjanjian rahasia gadis itu tetap saja merasa salah tingkah dan gemetar ketika dihadapkan pada pria bernama Lie Tang Shi.

Tersenyum tipis, pria itu membungkuk hormat pada junjungannya. "Hormat hamba untuk Yang Mulia Ratu, dengan berkat Yang Mulia hamba bisa membawa Pulau Wangyu kembali ke negeri PengLan."

Bibir Wang Qi Qi bergetar, matanya nyaris berkunang-kunang jika berdekatan dengan panglimanya itu. Rasa tidak nyaman mendadak menyebar ke seluruh tubuh, ia tidak bisa berlama-lama di sini apalagi berhadapan dengannya.

"Berkatku menyertaimu, Panglima. Beristirahatlah dan nikmati segala jamuan yang sudah aku siapkan untukmu," ujar Wang Qi Qi berusaha kukuh dengan jemari gemetar yang sengaja ia sembunyikan di balik jubah mewahnya.

Pria itu menebar senyum misterius, ia kembali membungkuk ketika Wang Qi Qi berbalik arah dan meninggalkannya. Tidak sekali atau pun dua kali, gadis itu tak pernah ramah pada Lie Tang Shi. Meskipun begitu Lie Tang Shi seolah tak punya hati, selama ia untung ia akan selalu menempel tak peduli bagaimana inangnya bersikap padanya. Ia sadar, ia hanyalah pelayan. Pelayan yang hanya akan meminta upah di saat-saat tertentu saja.

Baca Juga: Psikiater Ini Dituduh Menjadi Pembunuh Atas Kematian Pasiennya!

Wang Qi Qi menghela napas, ia mengamati peta wilayah negeri Peng Lan. Jujur dengan bantuan Lie Tang Shi, wilayahnya kini bertambah luas. Kendati demikian, banyak juga pemberontakan yang terjadi di negerinya.

"Yang Mulia Maharani Wang Qi Qi, wilayah kita semakin luas dan itu berarti kita akan semakin intensif dalam menjaga wilayah kita. Namun hamba mendapat laporan dari mata-mata yang berjaga di wilayah gerbang timur bahwa ada pergerakan mencurigakan di gunung Yang Dong. Hamba takut itu adalah segerombolan pemberontak dari negeri Sam Koh," ucap Perdana Menteri Pertahanan seraya menunjuk ke arah peta bagian Gunung Yang Dong.

"Pemberontak dari Negeri Sam Koh?!" ulang Wang Qi Qi dengan dahi sedikit berkerut.

Baca Juga: Jam Baca Nasional: Cara Baca Novel Gratis di Cabaca Gak Pakai Mikir!

Bagaimana akhir kerajaan Peng Lan? Mampukah Wang Qi Qi menemukan jati dirinya? Novel sejarah terbaru di Cabaca.id yang berjudul The Black Jasmine bisa dibaca GRATIS!!

Ingin baca novel terbaik Indonesia lainnya? Segera install aplikasi Cabaca dan unduh di Play Store supaya bisa baca download novel gratis pada pukul 21.00-22.00 WIB, setiap harinya!

Baca novel gratis di hp kamu dengan install aplikasi Cabaca!