Teaser Novel Sweet Dangerous di Cabaca.id

baca novel Feb 20, 2021

Teaser Novel Sweet Dangerous di Cabaca.id – Dalam ruangannya, Garrison meletakkan kantong plastik berisi kunci mobil Baxley Falcone di atas meja. Ruby memandang kunci itu lalu tatapannya beralih pada pria yang duduk di sampingnya.

“Tidak ada sidik jari di kunci ini, Ruby.” Garrison menggelengkan kepalanya.

“Kau yakin, Garri? Hanya benda ini yang seharusnya dipegang oleh pelaku.”

“Sangat yakin, Ruby. Aku bahkan meminta petugas untuk mengeceknya dua kali dan hasilnya masih sama. Jika memang pelakunya adalah manusia, maka dia pasti orang jenius yang bisa menghidupkan dua puluh mobil dalam waktu yang bersamaan."

Ruby memicingkan matanya menatap pemilik Garrison Security itu, "Kau tidak sedang mendesakku dengan mengatakan semua keanehan ini diakibatkan oleh hantu Joseph bukan, Garri?"

“Tapi tidak mungkin kejanggalan itu dilakukan oleh manusia, Ruby. Kau melihatnya, tidak ada bukti sedikit pun."

“Aku masih belum bisa berpikir hal ini adalah ulah hantu Joseph. Pasti ada penjelasan di balik semua ini. Bagaimana denganmu, Scott? Apakah kau menemukan sesuatu mengenai si tukang kebun?” Tatapan Ruby beralih pada pria yang duduk di samping Garrison.

Scott memberikan kertas yang berisi data lengkap mengenai Emmet Lector. Ruby mengambil kertas itu dan melihat data lengkap mengenai pria itu. Dari data itu, Ruby mengetahui jika dia sudah bercerai dari istrinya sejak sepuluh tahun yang lalu. Dia tinggal sendirian karena kedua anaknya ikut dengan mantan istri. Semua data itu tampak biasa saja. Tidak ada yang janggal. Bahkan pria itu tidak pernah berurusan dengan hukum.

"Jelas dia warga yang bersih, huh?" Ruby meletakkan kertas itu dan menatap kembali ke arah Scott.

"Memang. Tapi dari apa yang kudengar, dia sering pergi ke bar kecil saat akhir pecan,” buka Scott.

"Pria tua itu pergi ke bar?" Tatap Ruby tidak percaya.

Scott menganggukkan kepalanya, "Ya, Ruby. Banyak orang bilang jika dia selalu menenggelamkan diri dalam minuman keras untuk melenyapkan kesedihan akibat kegagalan rumah tangganya."

"Apa dia melakukan tindakan aneh di bar itu? Atau mengatakan sesuatu yang tidak biasa?" tanya Ruby.

Biasanya ketika seseorang mabuk dia akan mengeluarkan perasaannya yang jujur. Hal itu juga yang dialami oleh Ruby saat bertemu dengan Max. Wanita itu begitu mudah mencurahkan seluruh perasaannya.

"Tidak ada. Orang-orang hanya melihatnya menangis dan tidak mengatakan apapun. Tapi ada hal aneh yang kudapatkan."

Mata Ruby menyipit menatap pria itu, "Hal aneh apa yang kau dapatkan?"

"Aku tidak tahu apakah hal ini benar. Karena orang yang memberitahuku pun tidak yakin dengan apa yang dilihatnya." Pria itu pun terkekeh.

"Oh, ayolah Scott. Jangan buat aku penasaran!” desak Ruby.

Garrison mengambil buku di atas meja yang berada di sampingnya. Dia menimpuk kepala Scott dengan menggunakan buku itu membuat sang pemilik kepala meringis kesakitan. Pria itu menyentuh kepalanya yang sakit dan merengut kesal. Melihat hal itu, Ruby pun tak mampu menahan tawanya.

"Berhentilah bertele-tele, Scott. Katakan saja."

"Kau bisa memintanya langsung tanpa harus memukulku, Garri. Kau bisa membuat kepala jeniusku rusak." Scott menatap kesal ke arah Garrison.

"Sudah. Katakan saja hal aneh apa yang kau dapatkan, Scott." Ruby menghentikan pertengkaran kedua pria di hadapannya.

"Seorang wanita tua yang tinggal tidak jauh dari mansion milik kekasihmu itu mengatakan jika dia pernah melihat si tukang kebun itu berjalan melewati depan rumahnya pada saat tengah malam. Ketika dia keluar untuk melihat lebih jelas, dia sudah berjalan menuju mansion milik pria Baxley itu. Sayangnya kondisi di luar gelap jadi dia tidak yakin apakah itu memang benar-benar Emmet Lector."

Berjalan di tengah malam menuju mansion Max jelas itu bukanlah perilaku yang biasa. Meskipun belum bisa dipastikan orang yang melewati rumah wanita tua itu adalah Emmet Lector, tapi tetap saja itu bisa menjadi petunjuk.

"Maukah kau membantuku sekali lagi Scott?" pinta Ruby.

"Menjadi mata-mata untukmu? Tentu itu pekerjaan yang mudah, Ruby. Tapi setelah tugas ini selesai, maukah kau makan malam berdua denganku?"

Ruby terkejut dengan permintaan Scott. Selama ini dia memang sering makan malam bersama Scott tapi juga bersama Garrison dan pengawal lainnya. Namun tidak pernah berdua saja dengan pria itu.

"Berhentilah bercanda, Scott. Ruby adalah kekasih Mr. Baxley." Garrison mengingatkan status Ruby.

Bibir Scott pun menyunggingkan senyuman. Bukan senyuman lebar yang biasa diperlihatkannya. Ada perasaan sedih yang menahan senyuman itu melengkung lebar.

"Jangan dipikir serius, Ruby. Garri benar aku hanya bercanda. Tenang saja aku akan melakukan tugasku. Aku pergi dulu."

"Terima kasih, Scott." Ruby mengamati Scott yang beranjak pergi mengurungkan niatnya untuk melambaikan tangannya.

Wanita itu merasa ada yang aneh dengan pria itu karena biasanya Scott akan tersenyum lebar dan melambaikan tangan padanya. Tapi kali ini Scott hanya berlalu pergi tanpa menoleh.

"Ada apa dengan Scott? Dia tampak berbeda." Ruby menatap Garrison untuk mendapatkan jawaban.

"Mungkin dia sedang ada masalah." Garrison menatap cemas ke arah pintu.

Sebenarnya pria itu tahu mengenai perasaan Scott terhadap Ruby. Dia juga tahu Ruby tidak memiliki perasaan yang sama seperti Scott. Karena itu dia tidak ingin kedua orang yang sudah dianggapnya seperti anaknya terluka karena perasaan itu.

"Kudengar kau yang menemukan jasad Michael Wagner?" Suara Garrison berubah serius.

"Benar. Saat itu aku mau mencari tahu mengenai adiknya Michael. Tapi aku justru menemukannya tidak bernyawa di kamarnya."

"Apakah hal itu mengingatkanmu pada masa lalumu?"

Tatapan Ruby berubah sendu saat mengingat masa lalu yang dimaksud Garrison. Saat pertama kali menemukan jasad Michael, Ruby seakan ditarik kembali ke masa lalunya. Tubuhnya bahkan bergetar saat kembali merasakan ketakutan itu.

"Aku sudah berusaha melupakannya, Garri. Tapi tidak bisa. Aku tetap saja mengingatnya. Ketika melihat tubuh Michael tak bernyawa, kupikir aku melihatnya lagi."

Garrison berdiri dan berpindah duduk di samping Ruby. Tangan pria itu memeluk bahu wanita itu dan bisa merasakan ketakutan di masa lalu yang membuat tubuh Ruby bergetar.

"Kau masih kecil saat itu, Ruby. Dan itu adalah pemandangan yang mengerikan untuk anak kecil. Tidak mudah melupakannya."

"Tidak lebih kecil dari Derek."

"Tapi kau berhasil melindunginya, Ruby. Dan kau melakukan hal yang tepat. Sebaiknya kau mencoba untuk berdamai dengan masa lalumu, Ruby."

Ruby hendak membuka mulut untuk memprotesnya, tapi Garrison lebih dulu menyela.

"Aku tahu itu sulit. Tidak mudah melupakannya. Tapi jika kau bisa melakukannya, setidaknya hal itu bisa mengangkat beban kebencian di masa lalumu."

Ruby menoleh dan menatap Garrison. Ingin sekali wanita itu menolak nasihat pria itu. Tapi jika dipikir kembali, ucapan Garrison ada benarnya. Selama ini Ruby hidup dengan dibayangi masa lalu yang mengerikan. Jika dia bisa berdamai dengan masa lalu seperti yang dikatakan Garrison, maka dia tidak akan merasakan takut lagi.

"Aku tidak memaksamu untuk melakukannya, Ruby. Tapi cobalah kau pikirkan."

Ruby tersenyum, "Akan kupikirkan saranmu, Garry. Terima kasih banyak. Ini sudah sore, aku harus kembali. Terima kasih banyak sudah membantuku."

"Jangan sungkan. Kau sudah seperti putriku sendiri. Hati-hati di jalan."

"Akan kuingat itu."

Akhirnya Ruby pun mengambil kunci mobil Baxley Falcone di dalam plastik kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan Garrison. Pria itu memikirkan kembali tentang Ruby. Dia berharap wanita itu bisa menemukan kebahagiaan untuk menyembuhkan luka masa lalunya. Sedangkan untuk Scott, dia berharap pria itu tidak terlalu terluka menghadapi perasaan Ruby yang tidak sama dengannya.

Baca Juga: Teaser Novel Boss Kampret di Cabaca.id

Setelah memarkirkan salah satu mobil milik Max, Ruby pun melangkah memasuki mansion. Pikirannya melayang pada pembicaraannya dengan Garrison mengenai tidak ditemukannya sidik jari di kunci mobil Baxley Falcone. Haruskah dia memikirkan ulang tentang dugaan jika pelaku semua keanehan di mansion milik Max adalah hantu Joseph.

Meskipun tidak ingin memercayai hal-hal mistis seperti itu, tapi sayangnya Ruby tak memiliki petunjuk apa pun yang mampu memperlihatkan jika pelakunya adalah manusia. Semua keanehan itu tampak tidak masuk akal.

Dengan lesu Ruby menaiki tangga. Berendam terdengar menarik bagi wanita itu. Berusaha untuk menjernihkan pikiran dan mencari petunjuk lainnya setelah memanjakan diri. Sampai di ujung tangga, Ruby melangkah menuju kamarnya. Tangannya terangkat memijat bahu sembari meregangkan otot leher. Sampai di depan pintu kamar, tangan wanita itu berhenti di udara saat hendak meraih gagang pintu. Kepalanya menoleh untuk melihat sesuatu yang menarik perhatian.

Ruby melangkah mendekati dapur. Tatapannya tertumbuk pada kaki meja dapur. Sampai di dekat meja, wanita itu pun berlutut dan menunduk untuk melihat lebih dekat benda yang mengusiknya. Matanya pun melebar dan bibir wanita itu merekah.

“Sudah kutebak pasti bukan hantu Joseph.” Gumam Ruby senang mendapatkan bukti pertamanya.

Dia mengambil sapu tangan dari dalam tas tangannya. Dia membuka sapu tangan berwarna pink lembut itu dan mengambil sedikit lumpur yang tertinggal di samping meja. Pagi tadi kota ini diguyur hujan. Tidak terlalu deras tapi cukup membuat tanah menjadi basah. Dia yakin pelakunya pasti baru dari luar dan lumpur ini pasti tidak sengaja jatuh dari pakaian atau pun kulitnya.

“Aku tidak sabar memberitahukan penemuan ini pada Max.”

Ruby memandangi sapu tangan yang menyelimuti lumpur yang ditemukannya. Dia pun memasukkan bukti itu ke dalam tas sebelum akhirnya kembali melangkah menuju kamar untuk membersihkan diri. Sementara itu, dia akan menyimpan petunjuk penting itu di tempat yang aman sampai dia bisa menunjukkannya pada Max.

Baca Juga: Teaser Novel The Fill-In CEO di Cabaca.id

Di ruang keluarga, Ruby sedang menikmati teh dan camilan sembari menunggu Max. Tatapannya tertumbuk pada jam dinding berwarna hitam berbentuk klasik. Seharusnya tiga puluh menit lagi pria itu akan kembali.

Dia meraih cangkir teh dan menyesapnya. Manisnya teh bercampur madu terasa begitu enak. Tepat saat Ruby meletakkan kembali cangkir itu di atas piring tatakan, seorang pelayan berjalan menghampiri.

“Miss Laingley, ada yang ingin bertemu dengan anda.” Ucap wanita muda yang dikenali Ruby sebagai Megan.

“Siapa dia, Megan?” tanya Ruby memandang pelayan itu.

“Dia… dia teman Mr. Baxley. Namanya Brian Ritchie.”

Ruby memicingkan mata mendengar nama sahabat Max yang kurang ajar itu. Dia kembali mengamati Megan. Terlihat ada yang berbeda dari wanita itu. Entah perasaan Ruby saja atau memang benar wanita itu sangat gelisah.

“Untuk apa Mr. Ritchie datang menemuiku? Mungkin sebaiknya dia menunggu Max kembali. Tidak akan lama.”

“Ja-jangan, Miss Laingley.” Megan langsung menggeleng cepat.

Megan tak pernah bersikap gelisah seperti itu. Dan Ruby yakin perubahan itu ada sangkut pautnya dengan Brian.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga:7 Novel Tentang CEO yang Dirilis Cabaca Melalui CEO Project

Seorang cewek jadi bodyguard, why not? kayak Ruby untuk bosnya, Max, dalam novel Sweet Dangerous ini. Sayangnya, ia juga dipaksa untuk pura-pura menjadi kekasih Max. Bagaimana cara Ruby profesional kalau begitu? Baca novel ini gratis dengan install aplikasi Cabaca di smartphone kamu.

Gak perlu cari link download e-book novel ilegal, sementara ada aplikasi Cabaca yang menawarkan novel Indonesia untuk dibaca gratis. Kamu hanya perlu rajin melakukan misi kerang kok, Atau bisa juga cek Cabaca pada Jam Baca Nasional, dari pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Seru kan? Yuk, cobain pakai aplikasi Cabaca sekarang!

Katakan tidak dengan e-book bajakan soalnya udah ada aplikasi Cabaca!

Tags

Tim Blogger Cabaca

Sekumpulan orang dari Cabaca yang menaruh perhatian besar pada dunia literasi. Pastikan selalu baca tulisan kami untuk tahu info paling update tentang Cabaca!

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.