Teaser Novel Suspicious Lover di Cabaca

Teaser Novel Suspicious Lover di Cabaca – RAMA memejam, menarik napasnya dalam-dalam. Lalu perlahan ia membuka mata. Menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, berbanding terbalik dengan pemukiman kumuh nan menyedihkan di seberangnya. Menatap langit ibukota yang tak lagi biru karena tercemari oleh polusi. Menatap pemandangan Jakarta untuk terakhir kali, karena sebentar lagi ia akan mati.

Tidak. Rama tidak sedih, apalagi takut. Sedih? Untuk apa ia sedih padahal ia justru akan keluar dari kumpulan peristiwa repetitif membosankan bernama kehidupan. Ya, bagi Rama, hidup itu cuma permainan penuh kecurangan yang diciptakan Tuhan, dan kita semua adalah bidaknya. Sementara rasa takut sudah tercerabut dari diri Rama sejak dia menyaksikan ibunya tewas bergelimang darah dengan mata kepala sendiri.

Selamat tinggal, Jakarta, batin Rama.

Selamat tinggal macet ibukota. Selamat tinggal sepeda ontel di Kota Tua. Selamat tinggal tsurikawa di Transjakarta. Tunggu Rama, Ma.

Rama memejamkan mata.

Satu langkah lagi.

Satu langkah lagi menuju kebebasan.

Satu langkah lagi ... menuju Mama.

"Om?"

Rama terkesiap, lamunannya seketika buyar. Ia menoleh pada gadis kecil yang berdiri di pintu masuk. Gadis itu menatapnya polos, tak sedikit pun menyiratkan rasa takut atau khawatir.

"Om mau bunuh diri?"

Ya iyalah, pake nanya lagi, rutuk Rama dalam hati. Memangnya ada orang normal yang berdiri di atas atap apartemen setinggi dua belas lantai?

"Kalau iya, memangnya apa urusan kamu?" Rama menghela napas jengkel, menatap gadis kecil itu galak.

"Nggak ada, sih," jawabnya kalem. "Aku cuma mau ngasih tahu. Kalau Om mau bunuh diri ... tuh, gedung di sana lebih tinggi." Ia menunjuk ke gedung pencakar langit lainnya di seberang.

Mendengarnya, Rama terbelalak tak percaya. "Kamu ... nyuruh saya bunuh diri?" tanyanya kaget. "Harusnya kamu teriak-teriak! Atau at least manggil bantuan lah."

Bocah itu mengernyit tak mengerti. "Buat apa?"

Rama melongo, sempurna dibuat takjub sekaligus ngeri.

"Kamu nggak takut?" tanya Rama lagi. "Ini saya mau loncat, loh. Loncat beneran!"

Gadis itu tampak semakin bingung. "Yang bilang Om mau loncat bohongan siapa?" balasnya.

"Terus, kenapa kamu nggak berusaha mencegah saya, kayak yang seharusnya dilakukan manusia normal lainnya?"

"Hm ...." Anak kecil itu berpikir sejenak, lalu kembali menatap Rama. "Ya, itu kan pilihan yang Om ambil atas hidup Om. Aku nggak berhak ikut campur, kecuali Om emang minta pendapat aku."

Rama benar-benar dibuat merinding oleh gadis kecil di hadapannya. Rama tidak pernah suka anak kecil, bukan karena mereka merepotkan, tapi karena mereka mengingatkan Rama pada dirinya di masa lampau. Dirinya yang naif dan lugu, yang menjadi penyebab kematian Mama.

Namun, gadis kecil ini berbeda. Wajahnya polos, dipenuhi keingintahuan—sama seperti anak kecil lainnya. Tapi ucapan dan caranya bersikap terlihat dewasa.

Ralat, bocah ini bahkan lebih pintar daripada semua orang dewasa yang pernah Rama temui.

"Oke. Kalau gitu, saya minta pendapat kamu."

Bocah itu mengerjap, tak menduga akan jawaban Rama. "Kalau menurut aku, perbuatan Om ini egois."

"Egois?" Rama mengerutkan dahi.

"Aku pernah baca di internet. Katanya, suicide doesn't end the pain. It just passes it to someone else," kata gadis kecil itu. "Rasa sakit Om mungkin berakhir sampai di sini. Tapi nggak dengan orang-orang yang sayang sama Om."

Rama menelan ludah, merasa tertohok begitu saja. Ia ingin menyangkal, nggak ada yang sayang sama saya. Tapi kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokan, sebab dia tahu itu tidak benar.

"Tapi ...," dia berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan, "menurut aku, kadang jadi egois itu nggak sepenuhnya salah."

Rama tercengang,"Jadi, kamu mendukung saya bunuh diri?"

"Nggak juga. Tapi buat aku … hal kayak gitu nggak cukup untuk jadi alasan seseorang tetap hidup. Kalaupun cukup, maka hidup itu cuma jadi sebu‘h 'keharu’an', bukan keingin”n." Anak itu mendongak menatap Ram“. "Dan menurutku hidup semacam itu nggak bisa disebut hidup. Seperti kata Oscar Wilde di bukunya, The Soul of Man Under Socialism ...."

"To live is the rarest thing in this world. Most people exist, that is all," sambung Rama kagum. This girl is really something else, batinnya dalam hati.

Senyum tipis merekah di bibir si gadis kecil. "Betul."

"Lalu, kalau kamu?" cetus Rama. "Apa yang bikin kamu hidup karena ingin, bukan sekedar eksis karena keharusan?"

"Hmm ...." ia menggumam, berpikir sejenak. "Aku hidup buat melihat lebih banyak matahari terbit dan matahari terbenam. Aku hidup buat menikmati rasa es krim vanila yang dijual di minimarket. Aku hidup buat nasi goreng pete buatan Ayah—itu nasi goreng terenak di dunia, omong-omong, Om harus coba kapan-kapan. Aku hidup buat Muffin—"

"Siapa Muffin?"

"Kucingku," jawab gadis itu dengan riang,"dan buat Rosemarie dan Jeanneth—"

"Siapa lagi Rosemarie dan Jeanneth?"

"Bunga lily dan anggrek di halaman belakangku."

Rama ternganga sesaat, lalu mengerutkan dahi. "Bagaimana bisa hal-hal remeh kayak gitu jadi alasan kamu untuk hidup?" tanyanya, tak mengerti. "Matahari nggak akan berhenti terbit dan terbenam kalaupun kamu nggak ada. Es krim vanila, kucing, bunga lily dan anggrek ... ada ratusan bahkan ribuan yang sama seperti mereka. Nggak ada yang istimewa dari itu."

Gadis cilik itu tersenyum mendengarnya, dan senyum itu entah kenapa membuat Rama merasa malu. Seolah dia sedang mengolok-olok Rama atas kebodohannya.

"Memang bukan bendanya yang penting," katanya. "Tapi waktu yang aku habiskan untuk mereka, itulah yang berharga. Om tahu?" Ia tertawa renyah. "Hal-hal paling indah biasanya tidak tampak di mata."

Hal-hal paling indah biasanya tidak tampak di mata.

Rama membeku. Seolah ada hangat yang mencair di dadanya, entah apa. Setetes air bening bahkan turun melintasi pipinya.

Ini dia.

Ini jawaban yang selama ini Rama cari.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Nasab Karya Quinsha R. Shita di Cabaca

Rama tidaklah sesempurna Rama dalam kisah Ramayana. Tetapi mengapa ia harus berhadapan dengan sosok Rahwana, yang mencuri Nadia, gadis yang selama ini ia cintai. Yang suka baca novel romantis, silakan unduh aplikasi Cabaca di Google Play, ada novel Suspicious Lover yang sayang buat dilewatkan.

Yuk, dukung penulis Indonesia dengan baca novel original dan berhenti cari link download pdf bajakan. Apalagi sudah ada platform baca novel online yang menawarkan novel gratis setiap hari seperti Cabaca. Di aplikasi Cabaca ada semacam Happy Hournya Cabaca yang bikin pengguna bisa baca novel gratis mulai pukul 21.00-22.00 WIB, melalui program Jam Baca Nasional. Buruan install aplikasi Cabaca sekarang dan bergabunglah dengan keseruan menjadi pembaca digital.