Teaser Novel Still with You di Cabaca – Taman bermain di sisi kanan bangunan panti asuhan dipenuhi anak-anak. Matahari yang terik tidak menyurutkan kesenangan untuk bermain. Perosotan, ayunan, mainan pasir. Semua permainan dipenuhi oleh anak-anak. Ada yang berlari sambil tertawa menggapai tiang ayunan bermain petak umpet. Ada yang duduk di pinggir taman bermain yang teduh bermain masak-masakan.

Freya tersenyum dari tempatnya berdiri. Senang melihat anak-anak itu bermain dan melupakan kesedihannya.

"Kamu malaikat mereka, Fre."

Senyum Freya semakin mengembang mendengar pujian dari Bu Aminah, pemilik Yayasan Panti Asuhan Kasih Bunda.

"Lihatlah mereka. Tiga tahun lalu panti ini tidak memiliki apapun. Dan sekarang, berkat dirimu," Bu Aminah menoleh menatap Freya dengan binar mata bahagia, "anak-anak itu merasakan kebahagiaan."

"Ya."

Bu Aminah kembali menatap lurus. Mengikuti arah pandangan Freya. "Kamu juga harus bahagia ...."

Senyum Freya perlahan pudar. Kepalanya menoleh. "Bu Aminah ....”

“Tiga tahun bertahan dalam rumah tangga yang sakit." Bu Aminah menggantung kalimatnya kemudian menoleh. Mata mereka bertemu. Kesedihan dan kecemasan terlihat jelas di mata Bu Aminah yang ditujukan untuk Freya. "Kamu berhak bahagia."

Freya menghela napas. Senyumnya kembali terbit, walau itu senyum yang dipaksakan.

"Melihat semua anak-anak bahagia. Freya ikut bahagia." Jujur, melihat anak-anak itu tersenyum membuat hati Freya nyaman.

Tiga tahun sudah berlalu sejak saat itu. Freya sudah memutuskan untuk menjalani semua ini dengan lapang dada dan terus memupuk harapan bahagia penuh cinta untuk pernikahannya.

"Arnan … Dia masih saja bersikap buruk padamu?”

Ya. Sikap suaminya masih sama saja sejak tiga tahun lalu. Namun, itu bukan tanpa alasan. Arnan berubah sejak skandal video mereka—Freya yang kala itu masih menjadi mahasiswa tingkat akhir sedangkan Arnan masihlah seorang politisi—tersebar luas dan menghancurkan karier politik Arnan.

Alasan itu juga yang membuat Arnan dan Freya menikah, lelaki itu memenuhi janjinya pada Ayah Freya di penjara dan itu pun bukan tanpa alasan. Arnan ingin mengikat Freya selamanya—mengingatkan perempuan itu bahwa alasan karier dan nama baik keluarganya hancur adalah ulah Ayah Freya yang menjebak mereka dalam skandal.

Hanya duka yang diberikan Arnan kepadanya selama tiga tahun pernikahan mereka. Freya dengan kesabaran penuh terus melewati semuanya. Jelas, istri mana yang mau diperlakukan buruk terus menerus oleh suaminya? Hidupnya tercukupi, tetapi seakan dia dikurung dalam sangkar emas. Dia menguatkan hati dan tekadnya untuk tetap di sisi Arnan. Bukan hanya karena skandal itu, tapi juga karena dia mencintai Arnan. Sejujurnya Arnan adalah lelaki yang baik. Berpegang pada pemikiran itu, Freya bertekad mengembalikan diri Arnan seperti dahulu.

Bu Aminah melihat gejolak di mata Freya. “Dengar, kamu berhak bahagia, Fre.”

Bahagia?

Selama ini Freya sudah mulai terbiasa. Dan bahagia? Mungkin Freya sudah lupa bagaimana caranya bahagia, karena dia sudah terlalu lama tidak merasakan kebahagiaan.

Baca Juga: Teaser Novel Secret Origami di Cabaca

Mobil yang membawanya perlahan memasuki halaman rumah. Sejak sebelum menikah, Arnan langsung memboyongnya menjauh dari semua orang. Dia baru saja keluar dan langsung disambut oleh Bi Atun—asisten rumah tangganya.

"Ada apa, Bi?"

"Bapak, Bu ... Bapak marah-marah ...."

Pandangan Freya menatap ke arah rumah dan tepat saat itu, mata mereka bertemu. Arnan yang berdiri di balkon menatapnya tajam. Bahkan dari jarak yang cukup jauh itu. Freya tahu, lelaki itu marah padanya.

"Bibi siapin makan siang saja. Aku yang akan urus Bapak."

"Ya, Bu ...."

Dengan cepat Freya memasuki rumah menuju kamarnya di lantai dua. Dia masuk ke kamar tertegun melihat barang-barang di sana sudah berserakan di lantai. Kebiasaan baru Arnan. Lelaki itu akan menghancurkan barang-barang dan membuat repot dirinya.

"Mas?”

"Dari mana kamu?!" Arnan mendekat.

"Aku dari panti. Ada apa?"

"Di mana map biru yang kuletakkan di meja nakas semalam?!"

"Map?" tanya Freya bingung. Seingatnya, tidak ada map Biru di meja nakas. Arnan menarik rambutnya. "Arghh!"

"Jawab!" geram Arnan. "Itu map penting. Bagaimana kamu bisa teledor, ha! Tidak ada yang boleh masuk ke kamar ini selain kita berdua. Di mana?!"

"Aku tidak tahu ...."

"Sialan!" Arnan melepas rambut Freya. Berkecak pinggang menatap sekeliling kamar. "Kamu harus mencarinya!" perintah Arnan berbalik menatap Freya. "Jika tidak. Kamu akan tahu hukumannya."

Arnan pergi setelah mengatakan itu. Bibir Freya bergetar menahan air mata. Sudah tiga tahun lamanya dia diperlakukan seperti ini, kenapa dia masih saja merasakan sakit hati pada Arnan?

Freya mengerjap beberapa kali. Membasahi bibirnya kemudian mulai membersihkan kamar. Memunguti barang-barang yang masih utuh. Saat pernikahan mereka memasuki tahun kedua, pernah sekali Freya hendak kabur. Namun, Arnan dengan cepat mengancamnya.

“Seumur hidup kamu akan bersamaku! Jangan pernah berpikir untuk kabur. Karena ke mana pun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu!”

"Bu ...."

Lamunan Freya buyar. Tubuhnya berbalik pelan menatap Bi Atun. "Ada apa, Bi?" Freya mendekat, melihat wajah ketakutan dari asisten rumah tangganya.

"Maaf ya, Bu ... Tadi, anak dan cucu bi Atun ke sini. Mungkin, cucu bi Atun sembarangan masuk ke kamar. Ini ...." Bi Atun menyerahkan map biru yang bagian atasnya sudah dicoret-coret tinta merah. "Bi Atun menemukannya di dekat halaman belakang. Maaf, ya Bu ...." Bi Atun menunduk. Kedua tangan perempuan paruh baya itu meremas cemas.

Freya tersenyum. "Tidak apa, Bi. Boleh saya minta tolong?"

"Iya. Apa, Bu?"

"Bibi bisa bersihkan kamarnya? Saya akan ke kantor Bapak menyerahkan berkas ini."

"Bisa Bu …."

"Hati-hati. Ada pecahan vas."

"Iya, Bu."

Freya mengusap pelan lengan atas perempuan paruh baya itu kemudian keluar dari kamar. Dia harus pergi menyusul Arnan dan menyerahkan berkas ini. Sebenarnya bisa saja dia menghubungi Arnan terlebih dahulu. Namun, dia ingat jika dulu Arnan memarahinya hanya gara-gara Freya menelpon saat lelaki itu sedang rapat. Freya menghela napas. Pandangannya menunjuk menatap map biru yang sudah dicoret-coret itu. Dia berharap Arnan tidak akan marah pada Bi Atun.

"Kamu tunggu di sini saja. Saya tidak akan lama." Freya segera keluar dari mobil.

Setelah karier Arnan hancur, lelaki itu merintis perusahaan—yang bergerak dalam bidang infrastruktur dan teknologi dari nol. Selama itu pun, Freya menjadi saksi bagaimana Arnan berusaha keras untuk bangkit setelah skandal itu.

Freya memiliki akses khusus ke ruang Arnan. Bukan, bukan karena dia istimewa. Namun, lebih pada Arnan tidak mau orang-orang tahu siapa dirinya. Semua tentang dirinya dirahasiakan.

Denting lift terdengar, buru-buru Freya keluar. Dia tidak menemukan Galih—sekretaris Arnan, jadi, tidak masalah jika dia mengetuk pintu, kan? Freya mendekat. Pintu ruangan yang tidak tertutup sepenuhnya itu menunjukkan sesuatu yang terjadi di dalam ruangan. Freya memeluk map itu dengan kuat.

"Ah! Arnan!"

Freya mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Astaga! Ya! Kamu hebat Arnan! Ya! Seperti itu ...."

Gigi bawah dan atas Freya tiba-tiba ngilu. Rahangnya mengeras. Freya berusaha menulikan kedua telinganya. Satu tahun lalu terang-terangan Arnan mengatakan kalau dirinya juga akan menikmati kesenangan di luar sana.

Freya bisa apa? Namanya dikenal bukan lagi seorang politikus—yang harus menjaga nama baik, melainkan seorang pengusaha terkemuka. Dengan sederet proyek berpengaruh yang membawa lelaki itu bangkit setelah terpuruk.

Freya menguatkan diri mendorong pintu ruang kerja Arnan dengan keberanian sampai umpatan terdengar dari pasangan yang sedang asyik di sofa.

"Aku membawa map birumu ...."

Arnan berdiri menjulang menutupi perempuan di belakangnya. Kemeja putihnya masih melekat, tetapi acak-acakan. Kancingnya mungkin sudah terlepas dan hilang entah dimana. Mata Freya menunduk melihat sabuk Arnan masih terpakai. Entah kenapa, dia merasa lega.

"Kamu tidak bisa mengetuk pintu, ya?!" teriakan itu datang dari perempuan yang mendesah tadi.

Rambutnya acak-acakan dan disisir dengan tangan, lipstiknya juga belepotan. Perempuan itu dengan berani bergelayut manja di lengan Arnan, membuat Freya geram.

"Arnan. Siapa perempuan ini? Sekretarismu? Ah, bukan. Kamu hanya memiliki satu sekretaris. Pakaiannya biasa-biasa saja. Pembantumu, mungkin?"

"Keluar!"

Freya tertegun menatap manik Arnan. Dia maju dua langkah meletakkan map itu di atas meja kemudian berbalik bersiap keluar karena sudah diusir.

"Bukan kamu!"

Langkah Freya terhenti. Tubuhnya refleks berputar menatap Arnan begitupun dengan perempuan yang bergelayut manja di lengan Arnan.

"Kamu di sini!" tegas Arnan menatap Freya kemudian menoleh pada perempuan di sampingnya. "Pergilah ...."

"Apa? Kamu mengusirku?"

"Cecil. Cukup untuk hari ini. Aku akan mentransfer uangnya."

Wajah perempuan itu berubah bahagia mendengar kata uang. "Baiklah. Besok jangan lupa menghubungiku, ya?" Perempuan itu menutup kalimatnya dengan meninggalkan bekas lipstik di pipi Arnan kemudian melenggang keluar.

Keheningan bertahan selama beberapa menit. Freya masih berdiri di tempatnya sedangkan Arnan tidak ada tanda-tanda hendak mengusirnya.

"Tutup pintunya!" Freya tersentak selama beberapa detik kemudian melakukan perintah Arnan Dia menutup pintu."Kunci pintunya!"

Mata Freya membelalak. Sebenarnya apa yang diinginkan Arnan?

"Aku bilang kunci pintunya!"

Klek ... Klek ....

Freya masih menunggu perintah selanjutnya dari Arnan. Namun, saat tidak mendengar apapun. Tubuhnya berbalik bersamaan Arnan mendorongnya ada pintu, bahkan tanpa aba-aba lelaki itu melumat bibirnya dengan kasar dan menuntut.

"Uhm ...," erang Freya di sela-sela ciuman Arnan.

"Ini hukumanmu!" Arnan berbisik diatas bibir Freya yang bengkak. "Seharusnya kamu menunggu di luar. Kamu memadamkan gairahku pada Cecil. Dan sekarang kamu harus bertanggung jawab."

Tidak!

Ingin Freya berteriak saat ini. Kepalanya menggeleng. Kedua tangannya di depan dada berusaha melindungi diri membuat benteng. Namun, Arnan tetaplah Arnan. Lelaki itu menciumnya dengan ganas. Mengecap. Melumat. Berusaha masuk kedalam bibirnya.

Freya tidak mau diperlakukan seperti ini. Dia terus mendesak. Berusaha mendorong dada Arnan. Menghindari ciuman lelaki itu namun Arnan meninggalkan jejak panas di leher dan bahunya. Kedua tangan lelaki itu menyusup masuk ke dalam blouse-nya, menggenggam milik Freya.

"Arnan …," lenguh Freya menahan diri. Matanya terpejam. Dadanya membusung meminta lebih mengkhianati dirinya.

"Kamu memang berbeda, Fre. Aku menyukai bau dan rasa tubuhmu."

Tanpa sadar Freya menitikkan air mata. Jika memang Arnan menyukai bau dan rasa tubuhnya, kenapa lelaki itu masih mencari kesenangan lain?

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Camera Crush di Cabaca

Apa jadinya kalau terjebak skandal dan diminta memperbaiki image seorang politisi muda? Freya tak yakin bisa... Untuk yang suka baca novel dewasa romantis, Still with You bisa jadi pilihan. Baca hanya di Cabaca, GRATIS di Play Store.

Yuk, dukung penulis Indonesia favoritmu dengan tidak download pdf novel bajakan. Pakai saja aplikasi Cabaca, aplikasi baca novel online gratis buatan Indonesia. Ada program Jam Baca Nasional tiap pukul 21.00 - 22.00 WIB setiap hari yang bisa dimanfaatkan untuk baca novel gratis. Atau, top up kerang dengan potong pulsa atau via e-wallet supaya baca novel jadi lebih leluasa. Yuk, install aplikasi Cabaca sekarang.