Teaser Novel Soufflé Karya Nonali di Cabaca"Kenapa kamu lakukan ini?"

"Kamu manusia keji."

Dingin. Pemanas di ruangan itu serasa rusak. Ah, bukan. Itu hanya sekadar bunga tidur yang kerap kali menebar dingin dalam alam bawah sadar. Tatkala benda berbentuk kubus di atas nakas terdengar menjerit, pemuda itu akhirnya tahu kalau dirinya masih utuh. Kesiap kecil terlontar dari bibir seraya mata membuka. Lelapnya penyap.

Christoff sontak menegakkan tubuh. Sekujur punggungnya terasa basah, dibanjiri peluh yang juga tak kalah dingin. Suara seorang perempuan yang tadi menyebutnya "manusia keji" itu, adalah satu-satunya yang tersisa dari jejak bunga tidur—meninggalkan pilu. Tatapan netra hitam pekat Christoff lalu menyapu kedua tangan dan jemari-jemarinya yang kini agak gemetar. Ia bersumpah kalau cairan pekat merah itu tadi terlihat melumuri telapaknya—terasa begitu nyata dalam batas bunga tidur, membangkitkan kengerian lampau yang telah lama terkubur.

Apa lagi? Kesahnya mengendap di batin.

Christoff menyugar jurai-jurai rambut depannya yang berantakkan, lalu mengusap wajah frustasi. Mimpi itu, ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali dihantui begitu. Semua terasa tiba-tiba, seperti bencana tanpa pertanda. Tidak ada rasa lelah atau kantuk yang terpuaskan. Waktu tidur yang telah ia habiskan semalam justru malah berbuah keletihan yang kian liar, semangat paginya tertelan.

Sebelum Christoff sempat membenamkan wajah kembali, dua tubuh kecil yang hangat dan penuh bulu tiba-tiba sudah merangsek pelan ke pembaringan. Empat pasang kaki-kaki kecil mereka memijat-mijat gundukan selimut.

"Meoong ...."

Panggilan dari si bulu oranye berbuntut pendek setidaknya masih terdengar lebih baik daripada bunyi alarm tadi. Ya, setidaknya begitu meski lebih terdengar seperti "panggilan minta makan" ketimbang panggilan sayang.

"Meooong ...."

Kali ini suara si putih berbuntut panjang terdengar lebih nyaring. Ultimatum pertama untuk Christoff si "karyawan pemalas".

Goma dan Shima—dua "Anak Bulu" kesayangan Christoff itu—lalu dengan enaknya sudah duduk manis di atas pangkuan, memberi kode bagi sang karyawan untuk cepat-cepat bangkit dari tilam. Sebagai budak sejati kaum felidae, Christoff paham kalau harus bergegas melaksanakan "tugas pagi".

"Hai, hai, wakatta." (Iya, iya, aku tahu).

Suara Christoff menjawab dengan serak. Jemarinya kemudian membelai sayang kepala-kepala berbulu putih dan oranye yang menggemaskan itu.

Beri kami makan, manusia.

Mungkin begitu ucap mereka, kalau dua kucing-kucing itu bisa bicara.

Baca Juga: Teaser Novel Still with You di Cabaca

Bunyi butiran-butiran makanan kucing yang dituang terdengar memenuhi cawan-cawan yang terletak di dekat kulkas. Christoff menuangnya secara asal, beberapa tampak tumpah sedikit karena mata lelaki itu belum sempat membuka penuh—kelopaknya berat. Langkah Goma dan Shima tanpa malu-malu menyerbu, mematahkan mitos "malu-malu kucing" yang selama ini beredar di masyarakat. Mereka makan sudah seperti kesetanan. Christoff hanya bisa tersenyum simpul—sebuah hiburan di pagi hari.

Biru gelap nan kelabu terlihat menggantung di langit yang terbingkai kaca jendela kecil di sudut dapur. Musim dingin yang ke-sebelas di kota perantauan itu kini sudah hampir tiba lagi di penghujung.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, musim dingin Christoff kali kini terasa agak berbeda karena tidak lagi dihabiskan di wilayah Setagaya. Meguro sekarang sudah jadi rumah baru bagi Christoff semenjak pindah lima bulan silam. Pergantian suasana itu juga terjadi bersamaan tepat ketika lima bulan silam Christoff memutuskan untuk rehat dari kantor agensi yang sudah menaunginya sekitar dua setengah tahun lamanya. Menjadi pekerja lepas adalah yang dipilih Christoff sekarang.

Langkah gontai Christoff kemudian terseret malas menuju toilet. Tak lama, guyuran air segar membuat kesadarannya kembali utuh. Ia mendongak dari ceruk wastafel, menatap rupa yang kini sudah dipenuhi butir-butir cairan bening. Selepas sejenak terdiam, jemarinya lalu menyeka wajah.

Pemuda itu seperti menelisik sejenak garis-garis pembingkai rupa—yang sampai kapan pun—takkan bisa menyerupai wajah-wajah manusia di tanah perantauan. Bola matanya memang memiliki garis kelopak yang agak tipis dan sipit, tetapi jelas tidak sesipit warga lokal. Hela napas yang terembus hangat dari sepasang buah bibir kemudian terdengar panjang—membuat cermin berembun.

Ohayou, gaijin. [Selamat pagi, orang asing.]

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel My High School (Boy)friend Karya Arumi E. di Cabaca

Christoff bertemu lagi dengan perempuan itu, seseorang yang sudah lama asing di hatinya. Mampukah Jepang menumbuhkan cintanya lagi? Novel romantis yang mungkin kamu suka, Soufflé. Baca yuk, GRATIS dengan unduh aplikasi Cabaca.

Mau sampai kapan baca novel dari link download pdf yang ilegal? Cari aman aja dan baca offline di aplikasi Cabaca. Kamu pun bisa baca novel online gratis pada Jam Baca Nasional setiap hari pukul 21.00 - 22.00 WIB. Baca tanpa iklan dengan top up kerang aja, mulai dari Rp5 ribu aja. Makanya, pakai aplikasi Cabaca di Play Store ya.