Teaser Novel Satu Dasawarsa di Cabaca – Aku hidupkan cerita hati pada berlembar-lembar puisi. Aku tidak percaya bahwa lidah memiliki kemampuan membahasakan perasaan. Namun pada akhirnya, aku hanya menemukan diriku yang mencintai seseorang dalam bahasa yang mungkin tidak akan pernah dia pahami. Karena kepadanya, rahasia hati ini merupakan frasa-frasa yang berkias sedemikian rupa. Frasa dan rasa bergabung menjadi jutaan klausa yang masih saja tidak mampu bersuara.

Apabila hatiku ini adalah langit malam, dia adalah bintang yang akan selalu bersinar terang. Walaupun terkadang, kesadaranku menyandarkan awan-awan kelam untuk meredupkan terang sinarnya.

Aku membangun berbuah-buah puisi untuk menyentuh cahayanya. Namun, penantian tanpa tanda bersambut semakin melemahkan detak-detak jantung kata. Menyesatkan puisiku sebelum sampai pada sebuah tujuan, yaitu terbaca olehnya.

Aku kehilangan jejak-jejak rasa yang pada awalnya aku percaya mampu mengakhiri penantian. Ketakutanku menjadi seorang tokoh pada kisah cinta dengan satu buah hati melumpuhkan satu per satu kaki puisiku. Perlahan, aku, hatiku, dan seluruh puisiku runtuh sebelum mampu menyentuhnya.

Pada akhir kisahku, aku hanya bisa mencoba untuk memahami segala jejak cerita yang belum terhapus seutuhnya. Terkadang, walaupun cinta adalah sebuah kisah perjalanan yang semakin meneguhkan alasan untuk bertahan demi keabadian, ada suatu waktu ketika masa lampau hanya menyisakan degup hati yang berhati-hati untuk kembali terjatuh pada hati yang lain sehingga cinta dipahami sebagai sebuah kesementaraan yang melelahkan penantian.

Terkadang, walaupun cinta yang indah adalah cinta dengan dua buah hati di dalam kisahnya, ada suatu waktu ketika cinta hanya menjadi sesuatu yang cukup satu hati merasakannya. Mungkin tidak akan menjadi indah, tetapi hati yang terabaikan adalah sebuah pembelajaran untuk memahami ketulusan yang sebenarnya.

Untukmu, seseorang yang kucinta dalam kata, aku bahagia pernah mencintaimu dengan caraku; menuliskanmu.

Untukmu, seseorang yang pernah kucinta dalam kata, semoga aku terbaca olehmu.

-S-
Pada suatu hari ketika aku harus berhenti menanti.

Baca Juga: Teaser Novel Kiss Me at Dawn di Cabaca

Kertas kedelapan harus menerima perlakuan yang sama dengan tujuh lembar kertas sebelumnya. Di tangan seorang gadis dengan handuk yang melilit tubuhnya, kertas-kertas HVS itu hanya akan berakhir menjadi remukan berbentuk bulat tidak sempurna. Kata-kata yang ia tulis tidak pernah dirasa cukup untuk mengutarakan perasaannya. Padahal, hari ini adalah batas akhir menulis surat untuk seseorang yang ia kagumi. Mengapa harus melalui sebuah surat? Karena kekaguman saja tidak pernah cukup mendatangkan keberanian baginya untuk mulai menyapa.

"Kura-kura!"

Ia kembali meneriakkan nama binatang itu. Dinding-dinding kamar semakin tidak kuasa menahan tawa ketika mendengar teriakan bernada cempreng milik sang nyonya kamar. “Kura-kura” adalah satu-satunya nama binatang yang digunakannya sebagai bentuk umpatan. “Anjing” telah terlalu banyak digunakan, pikirnya.

"Kura-kura bangsat!"

Gadis itu sudah kehilangan ketekunan untuk benar-benar mengikuti perlombaan. Pena yang sempat ia gunakan telah mendarat ke dalam tempat sampah yang terletak tidak jauh dari meja belajar.

"Let's see. Memang bakal lebih baik kalau aku jadi penerima surat aja."

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Road Ride di Cabaca

Cinta pertama tidak selalu mekar dengan indah. Tapi apa harus Sasli menunggu lelaki yang sama selama sepuluh tahun? Novel Satu Dasawarsa karya Ameliya dapat kamu baca di Cabaca GRATIS.

Sudah bukan masanya download pdf novel bajakan. Apalagi sudah ada Cabaca.id, yang bikin kita bisa baca novel online gratis dan legal. Tinggal manfaatin Jam Baca Nasional, tiap pukul 21.00-22.00 WIB, kita bebas baca novel Indonesia tanpa harus top up kerang. Atau bisa juga lakuin misi kerang supaya bisa baca novel lebih leluasa. Buruan install aplikasi Cabaca, aplikasi baca novel online. Gratis di Google Play lho!