Novel Ribuan Yojana di Cabaca.id – Mohon perhatian, kereta api Taksaka akan tiba di stasiun akhir Yogyakarta. Periksa dan teliti kembali barang bawaan anda, jangan sampai ada yang tertinggal atau tertukar…”

Suara operator kereta api teringiang merdu saat kereta yang membawa Srika pulang ke Jogja melaju pelan ketika memasuki stasiun termegah di kota itu. Udara dan ketenangan Jogja, pelukan dan masakan ibunya, wejangan dari ayah yang bijaksana, mungkin bisa membunuh rasa sedih dan sakit hati yang tengah ia derita.

Hubungannya kandas setelah 5 tahun mereka berpacaran. Sama–sama mengejar karir membuat mereka menjalani LDR. Awalnya komitmen mereka berjalan amat lancar, hingga pada akhirnya laki–laki yang tak tahu diri itu mempunyai tambatan hati lain di tempat kerja barunya. Hati Srika sakit dibuatnya, karena dialah yang selama ini membantu laki–laki itu berjuang meraih impiannya untuk bekerja di sebuah perusahaan yang besar dan bonafide. Tetapi pada akhirnya, setelah si laki–laki itu mendapatkan impiannya, ia tinggalkan Srika dengan dalih sudah tidak mencintainya lagi. Tak heran jika Srika hampir frustrasi dibuatnya, pekerjaannya kacau, makan tak tertelan, sebentar–sebentar menangis tak keruan. Apalagi jika mengingat rencana pernikahan yang akan mereka langsungkan tahun depan, nyaris runtuh dunia ini rasanya.

Pulang, itu mungkin obat yang bisa menghilangkan sedikit luka hatinya.

Alhamdulillah…akhirnya sampai rumah, Nduk. Kamu sehat kan? Jam berapa semalam dari Jakarta?” Ibu menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Iya, Bu, Alhamdulillah Sri sehat, semalam jam 8 dari Gambir.”

“Kok tambah kurus to, Nduk? Kamu masih sedih karena cah lanang kae (laki – laki itu)?” ucap ibu seraya menatap Srika penuh selidik.

Srika hanya mengangguk dan mulai menangis dipelukan ibunya.

Uwis to(sudahlah), Nduk. Hal semacam itu enggak usah terlalu dipikirkan, kalau memang jodoh pasti nantinya akan kembali padamu, tapi kalau bukan jodohmu, Gusti Allah sudah mempersiapkan laki–laki yang lebih baik daripada dia. Karenanya agama kita melarang pacaran, ini lho salah satu penyebabnya, wong belum punya ikatan apa–apa dalam pandangan agama, tapi sudah menyakiti dan disakiti satu sama lain, ora ono untunge to (tidak ada untungnya kan), Nduk?” Tiba–tiba ayah sudah ada di sampingnya.

Lantas Srika melepaskan pelukan ibunya, menghentikan drama tangisannya, dan mencium punggung tangan ayahnya dengan takzim.

“Sekarang kamu mandi dulu lalu makan, ibumu sudah masak sayur bobor, tempe goreng, dan sambel jenggot kesukaanmu,” ujar ayah sambil mengusap rambut Srika.

Nggih (baik), Pak,” ujarnya seraya membawa kopernya masuk ke dalam kamar.

Perut buncit yang dipenuhi sayur bobor masakan ibunya, telah memudahkannya terlelap tanpa terisak dahulu karena teringat sakit hatinya. Benar dugaannya, masakan ibu adalah obat mujarab menenangkan hatinya.

Baca Juga: Teaser Novel You're The Immune for My Soul di Cabaca

Dari jendela kamar Srika tampak langit berwarna biru, dengan beberapa onggok awan putih yang hilir mudik diembus angin, suara nyaring tonggeret yang menempel di pohon melinjo pun melengkapi rasa yang teramat panas di siang hari itu. Baskara nan angkuh bersinar terik dan sang bayu yang berembus kencang membawa serta udara panas ternyata tak mampu membangunkan Srika yang sudah terlelap selama tiga jam. Hati, pikiran, dan badannya mungkin teramat senang, karena sudah lama rasanya ia tak menemukan tempat yang penuh kenyamanan.

Nduk, bangun salat Zuhur dulu.” Ibu menepuk–nepuk punggung Srika.

“Iya, Bu, sebentar,” ujarnya sambil mengucek mata.

Ia membuka mata, mengelap keningnya yang berpeluh karena kegerahan, dan lantas mengulurkan tangannya meraih ponsel yang ada di samping bantalnya. Sama seperti anak zaman sekarang, bangun tidur yang dicari adalah ponsel. Ada banyak chat yang masuk, beberapa menanyakan tentang urusan kantor dan beberapa merayunya supaya membelikan mereka oleh–oleh.

Chat dari Musdi? Tumben anak ini menghubungiku,” gumamnya lirih seraya membaca pesan itu.

Sri kamu lagi di Jogja?

Kalau boleh, nanti sore aku akan mampir ke rumahmu.

Dan tak lama jemarinya sudah asyik membalas chat kawan lamanya itu. Musdi adalah sahabatnya sewaktu kuliah di jurusan teknik. Kabar terakhir yang ia dengar, Musdi tengah bekerja di luar pulau, tapi semiggu ini dia pulang ke rumah orang tuanya di Jogja. Musdi tahu sahabat lamanya itu juga sedang berada di Jogja dari status media sosial, dan tanpa membuang waktu ia berencana sore hari ini akan mampir ke rumah Srika.

“Sri, belum bangun juga?”

Panggilan ibunya membuatnya terlonjak bangun dari tilamnya dan bergegas menghampiri ibu yang sepertinya sedang memasak untuk makan malam. Ia melangkah menyusuri lorong kecil bercat hijau pupus yang ada di depan kamarnya untuk menuju ke dapur. Dari sana sudah tercium bau wangi ayam bakar yang semerbak, hidungnya kembang kempis dan kepalanya menganalisis makanan apa yang sedang dimasak oleh ibunya. Sampai di dapur, ia perhatikan meja dapur penuh dengan berbagai macam bumbu, beberapa potong ayam yang sudah siap dibakar, dan bermacam sayuran yang entah berapa jumlahnya.

Srika mengeryitkan keningnya setelah melihat bahan makanan yang ada di meja dan bertanya pada sang ibu, “Mau masak apa untuk malam ini, Bu? Sepertinya akan makan besar kita.”

Ibu agak terkejut mendengar suara Srika yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya, “Masak ayam bakar dan urap, Sri. Sebenarnya ibu hanya akan masak sedikit untuk kita bertiga, tapi Mbok Nah terlalu banyak membeli bahannya,” ucap ibu sambil terus membolak-balik ayam di atas panggangan.

“Oh, begitu. Masak yang banyak sekalian saja, Bu. Karena nanti sore Musdi akan mampir.” Mata Srika berbinar terlalu senang akan bertemu dengan sahabatnya.

“Musdi teman kuliahmu itu, Nduk?”

“Iya, Bu. Dia kebetulan sedang pulang ke rumah orangtuanya,” ucap Srika semringah.

“Baiklah kalau begitu ibu akan masak banyak untuk nanti malam. Tapi kamu harus bantu ibu juga ya, Sri,” ucap ibu penuh harap.

“Iya, Bu. Tapi aku salat Zuhur dulu ya,” ucap Srika tersenyum seraya meninggalkan dapur.

Senyuman itu akhirnya muncul juga setelah beberapa bulan tak tersungging dari bibir Srika. Entah ke mana perginya sekarang rasa sedih, marah, dan sepinya karena ditinggal seseorang yang terlalu ia sayangi. Hanya dengan chat sederhana yang berisi rencana bertemu dari sahabat lamanya, bisa menghilangkan rasa sendu yang ia derita beberapa bulan ini. Juga karena Srika tersadar masih ada ayah dan ibunya yang senantiasa menyayanginya dan membantunya untuk meredam rasa sakit hatinya.

Baca Juga: Teaser Novel Emilia and The Secret Kingdom di Cabaca

Hangatnya teh tubruk buatan ibunya, bau khas tanah basah, dan hijaunya rumput yang segar tersiram air keran sore ini menambah terapi untuk menenangkan hatinya. Diseruput tehnya perlahan sambil duduk di bangku putih teras belakang, tak lupa ditemani kue–kue kering yang ada di meja kaca bulat itu, persis seperti nona bangsawan yang menikmati afternoon tea.

“SRIKA!!”

Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dan berteriak di samping telinganya. Terbatuk–batuklah ia tersedak kue kering yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Musdi, anak itu tak berubah sama sekali, selalu saja menjahilinya.

“Enggak usah teriak kali manggilnya, ngagetin aja,” ujarnya sambil memukul–mukul lengan Musdi.

“Maaf, Sri. Soalnya aku tak sabar bertemu denganmu.” Musdi cengengesan menanggapinya.

“Aku juga sama, Di. Sudah 2 tahun sepertinya kita enggak ketemu, tambah subur aja kelihatannya kamu, sehat to? Masih di luar pulau kerjanya?” ucap Srika seraya menatap Musdi dari atas sampai bawah.

“Aku sehat banget, Sri. Iya aku masih kerja di luar pulau, aku selalu pulang ke Jogja setiap 4 bulan sekali sewaktu dapat jatah libur. Kamu sendiri gimana? Kok tambah kurus to? Ada masalah atau gimana?” ujar Musdi seraya merebahkan badannya di kursi samping Srika.

“Ya begitulah, Di, aku lagi merasakan dikhianati laki–laki,” keluh Srika yang wajahnya mulai kembali pilu.

Musdi lantas mengurungkan niatnya mengambil kue kering yang ada di hadapannya, ia membetulkan posisi duduknya untuk bersiap mendengarkan cerita teman lamanya itu.

“Aku sudah tahu sedikit tentang masalahmu. Kalau kamu mau, kamu bisa menceritakannya padaku,” ucap Musdi seraya menatap mata Srika.

Sebelum pria yang berbadan tinggi besar namun menawan itu masuk ke dalam rumah Srika, ia sudah mendapat segelintir cerita prolog dari ibu yang kebetulan sedang duduk di teras depan. Ibu Srika memintanya menghibur dan membatu Srika supaya tidak murung lagi.

Srika hanya mengangguk atas perkataan Musdi dan lantas bercerita panjang lebar tentang apa yang ia alami beberapa bulan ini. Wajahnya mulai kian pilu ketika kembali menceritakan hal yang membuat ia sakit hati, tapi ada beberapa saat di mana Srika terkekeh akibat banyolan yang dilontarkan oleh Musdi.

Tak terasa hari semakin sore. Bagi Srika, waktu bersama Musdi berlalu begitu cepat.  Mereka masih tampak asyik bercengkrama tanpa memedulikan dinginnya senja itu. Sampai pada akhirnya, ibu menghentikan celotehan mereka dengan mengajak keduanya makan malam.

Mereka lantas beranjak dari taman teras belakang dan berjalan menuju ruang makan. Di atas meja makan sudah terhidang ayam bakar, urap, sambel terasi, lalapan, dan nasi tentunya. Suasana makan malam itu terasa amat menyenangkan dengan obrolan ngalor ngidul tentang hal-hal yang membuat Srika lupa akan sakit hatinya. Sekarang wajahnya terlihat lebih semringah.

Sesaat setelah Musdi menyalami tangan ayah dan ibu Srika untuk berpamitan, ia lantas menatap Srika penuh arti seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya, “Sri, kamu harus menyimpan nomor ponsel ini. Aku yakin lelaki ini akan membantu menghilangkan rasa sepimu saat di perantauan, dan mudah-mudahan ia adalah orang yang tepat untuk berada di sampingmu.”

Srika mengeryitkan dahi karena bingung seraya melihat dua belas digit nomor telepon dari ponsel milik Musdi, “Ini nomor ponsel siapa, Di?”

“Ini nomor ponsel Jaya. Pokoknya kamu wajib menghubunginya saat kamu ada waktu senggang,” ucap Musdi dengan suara yang serius.

Seperti terhipnotis, Srika lantas mengeluarkan ponsel dan ditekannya keypad itu untuk menyimpan nomor ponsel yang diberikan Musdi. Di dalam ingatannya, Jaya itu adalah teman seangkatannya waktu kuliah yang gila organisasi, hampir semua organisani diikutinya, mulai dari tingkat jurusan sampai BEM universitas. Hal itu yang membuat Jaya menjadi anak yang populer saat itu.

“Percaya sama aku, Sri. Aku sudah sangat lama berteman dengan Jaya, dari duduk di bangku SMP lebih tepatnya dan ia adalah anak yang sangat baik menurutku. Aku yakin ia akan bisa membantumu melupakan masalah ini,” ucap Musdi tersenyum seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan berbalik arah menuju mobilnya.

Sampai dengan mobil putih itu hilang dari pandangan Srika, ia masih termenung dengan ucapan Musdi barusan. Ia sangat penasaran mengapa ia harus menghubungi Jaya yang sudah sangat lama tak dijumpainya. Bagaimana Jaya bisa membantunya? Sekarang untuk mengingat wajahnya saja sangat sulit. Tetapi terbesit di hati Srika untuk percaya pada Musdi, mungkin ini adalah cara Gusti Allah menunjukkan jalan yang lebih indah ke depannya.

Baca Juga: Teaser Novel 40 Hari untuk Rinduku di Cabaca

Menjalin hubungan LDR itu memang susah-susah-gampang. Gak perlu baca tips LDR. Baca aja cerita LDR berjudul Ribuan Yojana ini di Cabaca.id. Kamu bisa baca cerita romantis lainnya, dan download pdf novel gratis!

Install aplikasi Cabaca di Play Store agar bisa baca novel saat offline.

Download aplikasi Cabaca yuk, dapatkan novel gratis yang kamu suka!