Novel Represi di Cabaca.id – “Le, ambisi kamu jadi apa?”

Lea hanya mengangkat bahunya lalu kembali memutar-mutar garpu dalam mangkuk mi ayamnya yang masih utuh dan tampak sudah sedikit dingin.

“Makan, dong, minya. Biasanya kalau bad mood kan paling suka sama mi ayam Bang Dio.”

“Gak nafsu makan,” ujar Lea ketus.

Tristan, yang ada di hadapannya, masih mencoba membujuknya makan sambil sesekali mengalihkan pembicaraan. Namun akhirnya dia menyerah lalu berkata, “Udahan, yuk, keselnya. Jangan dimasukin hatilah. Kamu tahu mereka itu iseng aja, mulutnya emang suka licin.”

They never really know how I struggle with this, Tan, dan mereka udah melakukan hal yang sama selama hampir tiga tahun. Udahlah, aku mau pulang aja. Dari awal juga udah bilang gak mau makan, kamu yang maksa mampir sini, kan.” Lea beranjak menuju arah parkiran dengan tiba-tiba. Tristan pun dengan segera membayarkan pesanan mereka sebelum menyusul Lea.

Tristan bisa membayangkan perasaan Lea. Tiga tahun berada dalam satu kelas dengan gadis berambut lurus sebahu itu, dia juga tahu apa yang selama ini Lea alami. Gadis itu pintar, tentu saja, ia bahkan sering dipanggil Walking Campbell oleh beberapa temannya. Awal mengenal Lea, dia adalah gadis yang periang dan mudah bergaul. Namun setelah mereka melewati satu semester pertama di SMA, Lea mulai berubah. Terutama setelah pelajaran olahraga yang membuat kakinya terkilir dan menyebabkan timnya mendapat nilai lebih rendah, lalu dia dipermasalahkan akibat berat badannya.

“Makasih, Tan,” ucap Lea begitu motor Tristan berhenti di depan rumahnya.

Tristan mengangguk dan tersenyum. “Jangan bad mood lagi, ya. Jangan biarin mereka ngerusak konsentrasi kamu belajar. Jangan lupa makan.”

Lea mengangguk dan berlalu masuk ke rumah. Begitu sampai di kamar, hal pertama yang ia lakukan adalah berdiri di depan cermin, menghela napas, kemudian menggelengkan kepala seolah tidak setuju dengan apa yang ada di pikirannya.

Ia masih jelas mengingat semua rentetan perkataan si Roseanne Manusia Gila Nilai itu. Semester dua kelas sepuluh, Roseanne itu bilang bahwa badan gemuk Lea membuat gerak Lea lamban dan membuat tim mereka kalah—padahal dari awal Lea sudah menolak masuk tim basket karena ia tidak bisa bermain basket. Namun si Roseanne itu memaksa dengan manis dan akhirnya justru membuangnya seperti muntahan. “Kamu tahu, gara-gara badan gemuk dan super lambanmu itu, nilai kita selisih 25 dari mereka. Mereka dapat 95, kita hanya dapat 70,” ucap Roseanne dengan ketus dan yang bisa Lea lakukan hari itu hanyalah menangis. Setelah itu, masih banyak lagi perilaku Anne dan teman-teman satu gengnya yang hobi sekali mengejek fisik Lea, padahal Lea selalu berpikir bahwa she’s just fat, and it’s not a crime.

Hari ini, Si Manusia Gila Nilai itu mengejek Lea dengan lantang di depannya yang baru saja datang dari kantin. “Aku dengar Azalea mau daftar Kedokteran? Gila aja, gak malu apa masa contoh seorang dokter obesitas gitu. Gak malu kamu, Le?”

Lea sudah terlalu malas untuk memperdebatkan hal yang tidak penting dan membuang-buang energinya. Toh, nanti kalau ujian biologi, Anne dan gerombolan teman-temannya, terutama si Ezra yang sok ganteng padahal tidak sama sekali, akan bermanis-manis di depan mukanya, meminta untuk diberi contekan maupun belajar bersama.

Lea kembali menghadap cermin, menampakkan rasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang sangat sulit menurunkan berat badan. Berbagai cara sudah ia coba, dari mengurangi porsi makan, berolahraga setiap hari, bahkan meminum obat diet diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tapi hasilnya tetap saja, berat badannya hanya berkurang lima hingga tujuh kilogram di bulan pertama dietnya, lalu kembali naik di bulan kedua. Kini ia memiliki sebuah ide, yang mungkin bisa saja menurunkan berat badannya, walaupun dengan cara yang tidak normal. Hal itu menimbulkan perdebatan dalam dirinya sendiri.

Baca Juga: Teaser Novel SAKI Karya Idha Febriana di Cabaca.id

Lea baru saja berusaha memejamkan matanya untuk tidur malam ini saat ponselnya bergetar menunjukkan panggilan dari Tristan.

“Halo?”

“Le, udah buka pengumuman website Universitas Harapan? Hasil ujian masuknya sudah ada!” seru Tristan bersemangat.

“Kamu udah buka? Gimana?” tanya Lea.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Susu Beruang dan Rahasianya di Cabaca.id

Tidak semudah itu menghilangan trauma atas perisakan. Tidak juga dengan kuliah atau menjadi psikiater. Setidaknya itu yang lagi dibicarakan novel Represi karya Anindityas. Baca selengkapnya hanya di Cabaca.

Tidak perlu lagi cari download pdf novel, apalagi yang bajakan. Udah ada cara baca novel GRATIS dan legal kok. Cuma dengan mampir ke Cabaca saat Jam Baca Nasional setiap pukul 21.00-22.00 WIB. Atau lakukan aja misi kerangnya buat baca gratis novel yang mana saja. Pasang aplikasi Cabaca yang ada di Play Store di HP kamu!

Novel GRATIS tanpa kerang setiap hari setiap malam!