Teaser Novel Realize Real Lies di Cabaca – Langit tampak gelap, tak sabar untuk menumpahkan airnya. Membasahi tanah, mengguyur pepohonan, serta membuat orang-orang yang berlalu-lalang menepi. Dari pendopo kampus yang semakin ramai, Senja mengalihkan perhatian ke jam tangannya. Sudah pukul empat. Detik demi detik dilaluinya. Kembali ditengoknya draf tesisnya yang sudah dibubuhi banyak coretan. Pikirannya sudah ingin langsung menyelesaikannya, tapi apa daya badannya benar-benar lelah. Ia ingin segera tiba di rumah lalu tidur. Tak perlu ditambah dengan hujan-hujanan. Ia harus segera pulang. Jangan sampai nikmat sehat tak dirasakannya di waktu liburnya besok.

Tak melihat tanda-tanda kehadiran orang yang ditunggunya, Senja menyandarkan punggungnya nyaman. Dengan santai kakinya berselonjor. Pandangannya jatuh ke sepatu berhak yang sengaja dibelinya lima tahun lalu. Benda yang menemaninya, menjadi saksi atas perjuangannya. Dari yang mulanya pekerja paruh waktu di restoran cepat saji dengan sepatu kets, jadi bersepatu tinggi untuk membagikan selebaran informasi sebuah properti, kemudian naik ke manajemen kantor untuk Praktik Kerja Lapangan, sampai akhirnya training hingga kemudian jadi karyawan tetap. Refleks ia tersenyum. Sudah sejauh ini, pikirnya.

Langkah kaki yang mendekat ke arahnya membuatnya menegakkan kepala. Senja langsung berdiri. Ia tersenyum, sedikit menunduk pada pria tambun berkacamata yang tersenyum lebih dulu padanya.

“Di sini saja, ya?” Prof. Lingga, pembimbingnya itu duduk di sebelahnya. “Tadi saya ketemu mahasiswa saya di S1, mau sidang juga,” lanjutnya seraya mempersilakan Senja duduk kembali.

Tak berlama-lama, Senja mengeluarkan map berlogo kampus yang langsung diberikannya pada Prof. Lingga. Pria berbatik cokelat itu membuka map berisi draf tesis anak bimbingannya. Lengkap dengan lembar catatan revisi, lembaran persetujuan untuk draf akhir, dan lain sebagainya. Tak banyak bertanya, Prof. Lingga menandatangani berkas pada tiap bagian bertuliskan ‘Pembimbing I’.

“Untuk tawaran saya kemarin, bagaimana?”

Senja menggigit bagian dalam bibirnya. Prof. Lingga membuatnya kembali berpikir soal penawaran yang sudah mereka bicarakan sejak Senja mengajukan judul tesis.

“Memang, kampusnya belum lama berdiri. Tapi sudah terdaftar dan sudah terakreditasi juga. Satu yayasan dengan Universitas Buana Jaya di Bandung. Ya ... lumayan untuk pemula. Kampusnya tidak sebesar kampus ini. Fasilitasnya pun belum begitu lengkap. Tapi sejauh ini menurut saya cukup potensial.”

Senja sudah memikirkannya. Segala hal sudah dipertimbangkannya untuk menerima tawaran menjadi dosen di universitas yang dikembangkan Prof. Lingga bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam organisasi perkumpulan alumni sebuah universitas negeri.

“Kalau siap, ada jeda satu semester untuk kamu berkenalan dengan kampusnya, mengurus apa yang perlu diselesaikan di sini. Tidak masalah.” Prof. Lingga terus menjelaskan sementara Senja hanya bisa mengukir senyum, menyembunyikan segala hal yang terbesit di benak.

Di sela-sela pikiran Senja, Prof. Lingga merogoh tas kemudian menyerahkan sebuah brosur bergambar kampus, lengkap dengan label akreditasi yang biasanya jadi andalan kampus swasta dalam mengenalkan diri.

“Silakan kamu pelajari dulu,” tutup Prof. Lingga sambil mengembalikan berkas Senja.

Pergi jauh dari kedua orang tua, meninggalkan adik-adik, Senja masih perlu memikirkannya matang-matang. Terlebih belakangan ini Senja masih belum pulih berdamai dengan Banyu—adik bungsunya—yang ‘dipaksa’ masuk pesantren. Sesekali Senja berpikir kalau dirinya sudah keterlaluan. Tapi mengingat hal yang jadi sebab dari langkah yang diambilnya itu, Senja sama sekali tak menyesal.

Berbeda dengan dua adik pertamanya, usia Banyu terpaut jauh dengannya. Dengan Fajar dan Taufan, Senja masih bisa berlagak menjadi kawan mereka. Menjadi serba ingin tahu, mengakrabkan diri walau menyebalkan, tak peduli gerutuan mereka. Tapi dengan Banyu, Senja tak bisa menjangkaunya. Umur mereka terpaut sepuluh tahun. Senja tak tahu apa yang dilakukan adiknya di warung internet sampai mengabaikan sekolah bahkan tak jarang sampai tidak pulang ke rumah. Senja terlambat tahu akan kenyataan itu. Mungkin karena kesibukannya yang membuatnya tiba di rumah tinggal tidur atau kedua orangtuanya yang memang sengaja menyembunyikannya karena mereka tahu bagaimana Senja akan bereaksi.

“Kalau gini terus gue masukin pesantren lo, ya!”

“Kak—”

“Mau jadi apa nongkrong di warnet terus-terusan kayak gitu?!” Senja mengabaikan interupsi ibunya. “Lihat rapot lo! Sekolah mana yang mau nerima nilai rata-rata segitu?”

Tiap kali Senja memarahi adik-adiknya, seperti biasa tak akan ada yang menengahi. Pun kedua orangtuanya sudah tak punya tenaga lebih untuk mengomeli Banyu yang masih senang main-main. Wajar lagi umurnya, wajar laki-laki. Basi! Selalu itu yang jadi pembelaan mereka untuk Banyu. Sementara adiknya yang lain, mereka memilih mundur ketimbang kena semprot Senja.

“Bu, Adek tuh nggak bisa kalau cuma sekolah umum. Main terus kerjaannya. Sampai nggak pulang. PR-nya nggak tahu dikerjain nggak tahu enggak. Mau jadi apa Adek kalau gitu terus?” ucap Senja saat mendapati Banyu yang lagi-lagi melakukan kesalahan yang sama.

Orang tuanya angkat tangan, tak lagi mengomentari ide Senja. Hingga akhirnya Banyu benar masuk pesantren.

Ada masanya Senja merasa sudah terlalu jauh melangkahi kedua orangtuanya dalam mengurus adik-adiknya, mengarahkannya, mengaturnya. Tapi tetap saja ada pikiran bahwa ia memang harus melakukannya sekalipun perasaan tidak enak pada kedua orangtuanya setia melingkupinya.

Perasaan bersalah pada Banyu mengiringi langkahnya hingga kini. Ditambah dengan kenyataan kalau hubungan mereka tidak baik. Hanya Senja yang berusaha untuk kembali dekat dengan sang adik. Menanyakan kabarnya lewat kedua orangtua mereka, Fajar, Taufan ataupun Iman paman mereka.

Senja anak pertama dengan tiga adik laki-laki. Cukup Senja yang merasakan bagaimana ia tumbuh besar dengan segala ketidaktahuan dan kekurangan dalam keluarganya. Jangan adik-adiknya. Mereka tidak boleh begitu. Segalanya Senja berikan untuk mereka. Tapi kadang Senja lupa, kalau hal tersebut tidak sepenuhnya tanggung jawabnya. Yang ia lewatkan juga, kalau segala perlakuannya pada adik-adiknya adalah untuk membantu orangtuanya, bukan untuk menjadi orangtua.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel What We Do Behind Her Back di Cabaca

Tidak mudah menjadi anak sulung, itulah yang Senja rasakan. Di antara himpitan masalah keluarganya, ada seseorang yang memaksanya membuka diri. Novel Realize Real Lies hadir eksklusif hanya di aplikasi Cabaca, install di Google Play ya.

Suka novel bertema keluarga? Atau malah suka novel detektif? Yuk, coba cari novel Indonesia berbagai genre di aplikasi Cabaca. Kita bisa baca novel online secara gratis lho kalau download aplikasinya. Apalagi di Cabaca ada Jam Baca Nasional, setiap hari pukul 21.00 - 22.00 WIB, yang memungkinkan kita bisa baca novel gratis hanya dengan menonton iklan. Yang masih gak percaya, mending cuss ke Play Store dan install Cabaca ya!

Baca novel Indonesia di Cabaca