Novel Project Revenge di Cabaca.id Malam belum pernah terasa begitu mencekam bagi pasangan pengantin baru, Bahula dan Ratna Manggali. Belum genap seminggu setelah pesta pernikahan keduanya digelar selama tujuh hari tujuh malam, badai mengentak Desa Girah, tempat tinggal mereka. Namun, dinginnya malam itu bukan karena hujan deras yang mengguyur, bukan pula karena angin kencang yang terus memaksa keduanya untuk tumbang. Badai di desa ini tak ada apa-apanya dibandingkan badai dalam hati Manggali, dan itu semua karena ulah Bahula.

Wajah cantik itu tak hanya basah oleh air hujan, tapi juga air mata. Tubuh mungil Manggali tak sanggup berdiri tegak di tengah terjangan badai. Satu tangannya berpegangan erat pada dahan pohon, tangan lain memegang keris pusaka bertatahkan batu merah delima milik ibunda tercinta, Calon Arang. Bagian tajam keris itu mengarah pada Bahula, mencegahnya mendekat. Meski sekujur tubuh Manggali gemetar kedinginan, matanya menatap nyalang, antara benci dan kecewa.

Bukan todongan keris yang membuat takut Bahula, melainkan tubuh goyah Manggali yang sewaktu-waktu bisa terhuyung jatuh ke sungai di belakangnya. Kalau tak ada jeram bergolak itu, Bahula pasti akan melompat memeluk sang istri, tak peduli meski keris itu mengoyak tubuhnya. Perasaan bersalah yang demikian besar membuat mati tak lagi menakutkan bagi Bahula.

"Diajeng," bujuk Bahula ketakutan. "Tolong dengarkan penjelasan Kangmas."

"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" jerit Manggali penuh dendam. "Kangmas pembohong!"

"Kangmas memang salah. Tapi demi para Dewata... tidak sedikit pun terbersit keinginan untuk mengelabui Diajeng."

"BOHONG!"

"Kangmas tidak bohong! Terlepas dari semua yang sudah Kangmas lakukan, Kangmas benar-benar mencintaimu, Diajeng Manggali! Kumohon percayalah!"

Manggali memang menangkap kesungguhan dari tatapan Bahula, sehingga ia yakin cinta lelaki itu padanya memang tak perlu diragukan. Tapi bukan ketulusan cinta yang saat ini ia harapkan dari suaminya.

Balas dendam. Ia harus membalas dendam pada orang-orang di kerajaan ini yang telah berbuat tidak adil pada Calon Arang—sang ibunda, juga pada dirinya. Meski harus mati, Manggali bersumpah akan bergentayangan demi memastikan orang-orang itu menanggung karmanya, dimulai dari Bahula.

"Kangmas sungguh-sungguh mencintaiku?" Mata berbentuk buah badam(almond) milik Ratna Manggali menatap Bahula penuh selidik.

"Demi Tuhan, Diajeng. Cinta Kangmas tulus. Apa pun akan Kangmas lakukan untuk membuktikan."

"Baiklah, Kangmas. Manggali percaya."

Suara Manggali yang terdengar lebih tenang membuat Bahula lega.

"Karena itu, Manggali tahu cara membuat hidup Kangmas menderita... untuk selamanya!"

Tatapan lega Bahula berubah bingung, bahkan saat Manggali memutar arah keris di tangannya. Keris itu kini tak lagi menodong Bahula, melainkan mengarah pada Manggali.

"Diajeng ...."

Dalam gerak cepat, Manggali menghunjamkan pusaka itu ke lehernya sendiri.

"DIAJENG!"

Teriakan histeris Bahula mengalahkan deru angin yang memekakan telinga, sekaligus menyunggingkan senyum kemenangan di bibir Manggali. Perempuan itu terhuyung ke sungai yang sedang mengamuk. Bahula mendekat secepat mungkin, berusaha meraih istrinya sebelum arus sungai terlebih dahulu menangkap tubuh mungil itu.

Dan ia gagal.

Sungai menelan Ratna Manggali. Tusukan keris, dinginnya air, kerasnya arus, dan ganasnya jeram sama sekali tak mengganggu perempuan yang sedang di ambang kematian itu. Raut tersiksa Bahula serta raungan kesedihannya merupakan hiburan terbaik menjelang kematian Manggali. Mulai sekarang, lelaki itu takkan pernah hidup tenang. Rasa bersalah dan patah hati akan terus menggerogoti jiwanya.

Ah ... betapa nikmatnya membalas dendam,” batin Manggali, tapi ia belum selesai. Ini cuma awal ... dari segalanya.

Baca Juga: Teaser Novel Rewrite Memories di Cabaca.id

Surabaya, Tahun 2009

Gedung Fakultas Ilmu Sosial sore itu sudah sepi, terutama lantai dua dan tiga karena nyaris tak ada tanda kehidupan di sana. Semua aktivitas perkuliahan memang sudah berakhir sekitar satu jam lalu dan tak ada yang mau berlama-lama berada dalam gedung berarsitektur kuno yang sepi itu. Kalaupun masih ada aktivitas, itu pasti di ruang perkuliahan berkode 302, di mana seorang mahasiswa berkaca mata bulat sedang asyik menggoreskan pensil 2B untuk memenuhi halaman buku sketsanya.

Damar Prasetya. Meski bukan makhluk astral penunggu gedung suram Fakultas Ilmu Sosial, keberadaannya nyaris tak disadari para dosen dan mahasiswa. Mungkin karena ia canggung dan penyendiri, mungkin juga karena penampilan dan prestasinya kelewat tidak menonjol. Di kampus terkenal seperti Universitas Kahuripan yang berisi mahasiswa-mahasiswi pilihan, eksistensi Damar memang tak ada artinya. Ia bukan anak orang kaya, tidak tahu cara mendandani diri agar lebih enak dilihat, dan tidak pintar. Bahkan Damar sendiri masih tak percaya bisa lolos ujian masuk kampus yang konon sulit ditembus ini. Namun sedikit keberuntungan tak lantas membuat hidupnya yang akrab dengan kesialan itu membaik.

Justru makin sial.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Legion di Cabaca.id

Hidup Damar selalu sial. Tapi tak ada yang lebih sial dari menjalani hidup dan terkoneksi dengan kisah Calon Arang yang melegenda di masa lalu. Sebuah novel retelling, terbaru di Cabaca, Project Revenge. Baca sekarang.

Cari pdf novel ya? Kalau cari yang ilegal, tak ada di sini karena di aplikasi Cabaca hanya ada novel GRATIS dan semua penulisnya melalui seleksi redaksi. Siapa pun bisa BACA GRATIS SETIAP HARI pada Jam Baca Nasional mulai pukul 21.00 sampai 22.00 WIB. Ada juga misi kerang, yang bisa dilakukan untuk baca novel gratis di Cabaca. Udah coba kan?

Sebelum tidur, bisa baca novel gratisan di Cabaca!