Teaser Novel Poor Love di Cabaca.id

baca novel Nov 27, 2020

Novel Poor Love di Cabaca.id Seorang gadis cantik berjalan dengan santai menuju taman belakang mansion menggunakan dress pendek di atas lutut berwarna putih bersih. Rambutnya dibiarkan tergerai  tertiup oleh semilirnya angin. Ia tersenyum saat melihat kebun favoritnya yang kini banyak ditumbuhi berbagai macam mawar kesukaannya.

Tangan putihnya memetik setangkai mawar dengan hati-hati agar  tidak terkena duri yang tajam. Ia tersenyum saat tangannya sudah memegang mawar merah.

Gadis itu mendekatkan hasil petikannya ke hidung mancung miliknya untuk mencium aroma alami mawar k sambil memejamkan matanya yang indah. Meskipun hari sudah terlihat petang, namun gadis itu masih setia untuk berada di kebun mawar favoritnya. Baginya hanya tempat itulah yang paling tentram dan mampu mengembalikan suasana hatinya yang memburuk.

"Alex." Gadis itu menoleh saat ada seseorang yang memanggil namanya. Dilihatnya wanita yang masih terlihat cantik walau usianya kini sudah berkepala empat sedang berjalan ke arahnya.

"Mom, ada apa?" tanyanya pada wanita di hadapannya yang ia panggil 'Mom'.

"Apa kau akan terus-terusan berada di sini? Mommy khawatir kau akan sakit nantinya," ucapnya seraya mengelus-elus rambut putrinya sayang.

Alex tersenyum tipis dan memegang tangan Mommy-nya untuk berhenti mengelus rambutnya.

"Mommy tidak perlu khawatir, Alex bisa jaga diri sendiri," balasnya meyakinkan Mommy-nya yang kini juga membalas senyuman Alex.

"Ya sudah, Mommy masuk dulu ke dalam dan jangan lupa untuk ikut makan malam di meja makan. Kasihan daddy-mu karena merindukan putri kecilnya ini," ucapnya sambil mencubit pipi tembam Alex hingga membuat empunya meringis kesakitan.

Alex hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, sedangkan mommy-nya langsung pergi meninggalkan Alex sendiri di kebun mawar favorit anaknya itu.

Alex duduk di bangku yang berada di dekat kebun mawar miliknya dan masih membawa setangkai mawar yang ia petik tadi.

Dalam hatinya, Alex sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayangi dan peduli terhadapnya. Walaupun ia tahu kedua orangtuanya adalah orang sibuk. Namun, mereka tahu waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan memanjakan putri mereka saat sepulang kerja.

Sejak kecil Alex tidak pernah keluar dari mansion. Ia sendiri pun tidak tahu mengapa, yang jelas Alex sangat tidak menyukai suasana berisik dan ramai, baginya itu sangat tidak nyaman. Bahkan dalam menempuh pendidikan pun, Alex menggunakan home schooling sampai usianya sekarang sudah menginjak 18 tahun.

Alex tidak merasa keberatan, karena menurutnya dengan cara seperti itu membuatnya merasa tenang dan tidak terganggu. Lain dengan dengan kedua orangtuanya yang masih tidak rela dengan keputusan yang diberikan Alex sendiri. Karena bagaimanapun, Alex adalah makhluk sosial yang butuh orang lain untuk membantunya. Namun pada kenyataannya, Alex adalah anak yang sangat sulit untuk diajak bersosialisasi.

Alex beranjak dari bangku dan menuju ke mansion karena hari sudah gelap, dilihat jam tangannya yang sekarang tepat pukul 6. Ia memasuki kamarnya dan meletakkan setangkai mawar yang ia petik di atas nakas, kemudian Alex membaringkan tubuhnya ke ranjang miliknya. Rasa nyaman sedang menelingkupinya. Matanya menatap atap kamarnya dengan datar, seolah tidak ada yang ia pikirkan.

Tak lama, pintu kamarnya diketuk dari luar yang membuat Alex berdecak sebal. "Masuk," titahnya.

"Maaf Nona, Anda di panggil Tuan untuk segera menuju ke meja makan karena makan malam akan dimulai," kata pelayannya dengan kepala yang masih menunduk.

Baca Juga: Teaser Novel What I Couldn't Tell You di Cabaca

Suasana kini hening, hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Tak ada yang berbicara, karena mereka sendiri pun masih sibuk dengan makanan masing-masing.

"Aku sudah selesai," ujar Alex seraya beranjak dari tempat duduknya. Namun, sebelum ia berjalan lebih jauh tiba-tiba suara baritone menghentikan langkahnya.

"Tunggu, Alex!" Alex menoleh ke sumber suara dan mendapati daddy-nya tengah memanggilnya.

"Duduklah, Daddy ingin bicara," titahnya pada Alex, sedangkan yang disuruh hanya diam dan langsung kembali duduk.

Alex melirik Mommy-nya yang masih sibuk dengan makanannya yang belum habis. Alex menghela napas panjang, ia tak suka menunggu terlalu lama. Baginya, itu sama saja membuang waktu. Pandangannya teralih kepada daddy-nya yang juga masih sibuk dengan makanannya yang sialnya belum habis.

"Alex kamu tahu umurmu berapa?" Alex mengernyitkan dahi bingung dengan pertanyaan daddy-nya yang cukup terbilang aneh.

"18 tahun," jawabnya singkat.

"Daddy minta setelah kamu menginjak usia yang ke 20 tahun, kamu akan mengurus perusahaan Daddy."

Sejenak Alex terdiam, bingung harus menjawab apa. Sungguh, baru kali ini ia sama sekali tak menyetujui keputusan Daddy-nya.

"Aku tidak mau, dan-tidak-akan-mau!" ujar Alex dengan memberikan penekanan di setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Sayang, turuti saja ucapan daddy-mu. Kami hanya ingin yang terbaik untuk dirimu dan masa depanmu. Lagi pula, selama ini kami tidak pernah meminta apa pun padamu, Princess?" Kali ini bukan daddy-nya yang berbicara, melainkan mommy-nya yang berbicara dengan tatapan sendu.

Alex menghela napas panjang. "Entahlah, Dad, Mom, aku akan memikirkanya dulu," ucapnya lalu beranjak dari tempat duduk dan pergi menuju kamarnya.

"Sudah aku bilang kalau Alex tidak mungkin mau menerima keputusan yang kita ambil ini," sembur wanita itu kepada suaminya.

"Aku tahu, Clariss, tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak punya penerus lainnya, dan hanya ada Alex, putri kita." Clariss menatap Jonathan, suaminya  dengan sendu.

"Kau tahu kan, Jo, jika putri kita itu memiliki sikap yang berbeda dari yang lain? Aku hanya takut jika dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya nanti. Apalagi selama ini Alex tidak pernah keluar mansion dan bahkan dia tidak pernah sekalipun mengenal dunia luar."

Jonathan mengembuskan napas kasar, ia tahu bahwa putrinya sedikit berbeda. Namun, dia sendiri pun mencoba untuk membuat Alex berubah dengan caranya. Walau cara yang digunakannya sedikit menekan putri semata wayangnya itu.

"Sudahlah, Clariss, aku tak mau berdebat denganmu. Lebih baik kita kembali ke kamar, aku lelah," ujar Jonathan kepada Clariss.

Di sisi lain, Alex masih tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan perkataan daddy-nya untuk mengurus perusahaan saat usianya menginjak 20 tahun. Ia tak tahu alasan daddy-nya mengapa bisa memberi keputusan itu. Bahkan, daddy-nya pun tahu bahwa dirinya tidak menyukai keputusan tersebut, apalagi mommy-nya membela daddy yang membuat Alex semakin terpojok.

Pikiran Alex berkecamuk, hingga dia sendiri pun tak menyadari bahwa matanya telah terpejam menuju ke alam mimpi.

Baca Juga: Teaser Novel Rewrite Memories di Cabaca.id

Sudah seminggu ini Alex tidak keluar dari kamarnya, bahkan untuk pergi ke kebun mawar belakang mansion. Pikirannya berkecamuk tentang perkataan Jonathan tempo hari.

Alex sendiri enggan untuk melakukannya, karena ia sendiri tak yakin bahwa dirinya bisa mengurus perusahaan besar keluarganya – bukan hanya ada satu, melainkan puluhan perusahaan. Bayangkan saja! Seminggu ini juga daddy dan mommy-nya selalu datang melihat Alex di kamar, namun yang dilihat hanya diam tak membalas perkataan mereka.

Alex keluar dari kamarnya dan melihat suasana mansion yang terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Tapi, suasana seperti ini yang selama ini ia cari.

Saat ia berjalan menuju dapur, beberapa pelayan sedang sibuk menyiapkan makan malam. Tapi anehnya, kali ini masakan yang mereka buat sangat banyak dan terlihat lezat bahkan dari aromanya saja.

Alex membuka kulkas dan mengambil air minum dan meneguknya. Tenggorokannya kini seperti dialiri oleh derasnya air. Ia menghampiri  pelayan  yang sedang bekerja dan yang dihampiri pun kaget dan langsung menunduk hormat.

"Kenapa kau menundukkan kepalamu? Angkatlah, kau lebih tua dariku!" gertak Alex dengan dingin.  Pelayan  tersebut mendongakkan kepalanya yang langsung bertemu dengan mata biru safir milik Alex. Sangat cantik, batin sang  pelayan .

"Ada apa ini? Mengapa kalian membuat masakan yang sangat banyak?" tanyanya masih dengan nada dingin.

"Nanti malam akan ada tamu rekan bisnis Tuan Jonathan, Nona. Jadi Tuan memerintahkan kami untuk memasak banyak karena mereka akan makan malam bersama," jawab  pelayan  tersebut. Alex hanya ber-oh ria menanggapinya. Lalu ia pergi meninggalkan  pelayan  tersebut untuk kembali ke kamarnya.

Pelayan  tersebut mengelus dada sambil memejamkan matanya. Seperti selamat dari ancaman maut. Bagaimana tidak? Jika ditatap mengintimidasi dan diberi pertanyaan dengan nada sedingin itu oleh seseorang, apalagi seseorang itu adalah gadis muda yang umurnya jauh di bawahnya.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel I'm Proud To Be Me di Cabaca.id

Gak pernah keluar mansion, sekalinya berhubungan dengan dunia luar, Alex sudah harus memimpin perusahaan dan berurusan dengan cinta. Baca Poor Love di Cabaca. Install aplikasinya sekarang.

Mau baca baca novel offline yang gratis dan legal? Coba yuk pakai aplikasi Cabaca, platform baca online di Indonesia. Tidak repot, bisa buka Cabaca mulai pukul 21.00 sampai 22.00 WIB. Tiap hari ada Jam Baca Nasional! Udah pasti di Cabaca bisa baca novel gratis tanpa kerang. Masih ada misi kerang yang mendukungmu baca lebih banyak dan kapan aja!

Jam Baca Nasional masih ada menemanimu BACA NOVEL GRATIS

Tags

Tim Blogger Cabaca

Sekumpulan orang dari Cabaca yang menaruh perhatian besar pada dunia literasi. Pastikan selalu baca tulisan kami untuk tahu info paling update tentang Cabaca!

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.