Teaser Novel Perfect Competition Karya Sekar Aruna di Cabaca –  "Var, ada anak baru loh. Katanya sih kece," celetuk Grandhys ketika aku menyalakan laptop.

"Anak baru? Kapan rekrutmennya?"

"Enggak pakai rekrutmen, Var. Dia ponakannya Pak Wishaka, empat tahun gabung sama salah satu Big Four. Gosipnya, dia itu mau rekanan sama Pak Wishaka, makanya kedatangannya ke kantor ada kemungkinan dia bakal gantiin posisinya Mas Galang."

Aku mengernyit. Enak banget enggak pakai rekrutmen. Aku saja kembang kempis ikutan rekrutmen sana-sini masih saja susah kecantol. Yah, zaman sekarang namanya kekuatan koneksi lebih berarti daripada kemampuan pribadi, kan? Ups!

"Bentar, kamu kok sok kenal banget sama anak baru ini. Udah ketemu orangnya? Emangnya dia semenarik apa?"

Grandhys meletakkan ponselnya di atas tumpukan kertas di sudut kiri meja, menggeser kursinya mendekatiku dan dia berkata pelan, "Soalnya dia ganteng, Var. Sejauh ini di kantor kita enggak ada yang mukanya eye catching kayak dia."

"Standar ganteng antara aku dan kamu itu beda, Dhys. Ganteng versimu itu cenderung ke muka. Aku bisa bilang itu cowok ganteng kalau dia punya pendirian dan enggak gampang terpengaruh rayuan orang.”

"Yah, Vara. Kamu terlalu mengada-ada. Setiap pertemuan pertama, mana bisa langsung tahu gimana sifatnya seseorang. Enggak usah munafik, kamu pasti fokus ke wajah atau fisiknya tiap ketemu orang pertama kali buat menyimpulkan kesan pertama. Sebagai cewek, harusnya kamu terpesona sama Nagara ini."

"Nagara?"

"Namanya Nagara Anggasta, Vara."

Kumpulan udara yang kuhirup serasa bergumul sesak menyusupi rongga paru-paru. Hanya ada satu orang di dunia ini yang aku kenal bernama Nagara Anggasta. Nama yang sudah aku ke sampingkan dari memori. Meskipun terdapat kemungkinan di dunia ini ada orang yang memiliki nama sama, tapi setahuku untuk nama yang satu ini termasuk dalam kategori langka, karena perpaduan antara Nagara dan Anggasta bukanlah pasaran.

Adalah waktu yang menggerus ingatanku tentangnya. Waktu pula yang merekonstruksi saraf otakku sehingga otomatis memulihkan memori tentang dia. Kuharap anak baru ini bukan orang yang sama seperti dugaanku.

"Kamu enggak bercanda kan, Dhys?" nada suaraku meninggi.

Kursi yang diduduki Grandhys berdecit saat dia refleks memundurkannya. "Enggaklah, Var. Kenapa, sih? Mendadak parno itu muka."

"Dia masih di ruangan Pak Wishaka? Aku mau lihat tampangnya."

"Aseeek, penasaran juga, kan?" Grandhys berseru girang.

"Aku enggak penasaran, cuma memastikan," elakku seraya mengibaskan tangan di depan muka Grandhys, tetapi suara berat seorang lelaki mencegahku beranjak dari bangku.

"Isvara?"

Kepalaku menoleh ke arah seseorang yang bersandar di rak tempat penyimpanan odner. Lelaki asing yang pasti bukan salah satu karyawan kantor ini.

Apakah dia Nagara yang dimaksud Grandhys? Kalaupun dia orang yang sama, tapi kok beda? Mukanya makin bersih, tak ada lagi jerawat seukuran biji-biji semangka bertakhta di keningnya. Benar-benar mulus, semulus pantat bayi yang barusan brojol. Aku curiga Naga menginvestasikan separuh gajinya untuk melakukan operasi plastik. Kumis tipis yang tumbuh di atas bibirnya sangat simetris, pertanda dia memperhatikan betul-betul detail penampilan wajahnya.

"Long time no see," ujarnya melengkungkan kedua sudut bibir.

Telunjuk Grandhys bergantian bergerak ke arahku dan pria itu. Mulutnya sedikit membuka, kelihatan banget dia itu sangat terpukau menyadari kenyataan bahwa lelaki yang masih bersandar di rak itu mengenaliku. Padahal, aku tidak mengenalinya—maksudku dengan penampilan dia saat ini aku sama sekali tidak kepikiran bahwa aku pernah mengenal orang ini.

Mataku memicing saat lelaki itu berjalan mendekatiku. Kedua tangannya bertumpu pada meja, menatapku di balik lensa kaca mata frame berwarna biru tua. "Caramu melihatku seperti melihat hantu. Masih sama, seperti terakhir kali aku bertemu denganmu."

Ujung kelopak mata kananku berkedut. Mendengar kalimatnya barusan membuatku yakin bahwa lelaki di hadapanku ini memang beneran Nagara Anggasta yang aku kenal. Terkejut? Banget. Apalagi selama empat tahun aku jadi stafnya Pak Wishaka, baru tahu kalau Naga adalah keponakannya. Empat tahun pula aku dan Naga menempa ilmu di perguruan tinggi yang sama, aku tidak tahu kalau dia memiliki paman seorang pemilik salah satu perusahaan jasa akuntan publik di kota gudeg ini.

Dia adalah Nagara Anggasta. Lelaki rekan seperjuangku yang berkali-kali membuatku tersungkur. Lelaki yang pernah terpaksa kutemani minum kopi sampai dini hari. Lelaki yang berlindung di balik perasaan untuk mendapatkan segala keinginannya. Lelaki yang pernah kusumpahi semoga tidak bertemu dengannya lagi.

"Naga," sapaku datar. "Caramu melihatku juga seperti dua ekor kucing jantan berkelahi memperebutkan kucing betina. Masih sama seperti terakhir kali aku berjumpa denganmu."

"Perubahan zaman kayaknya sama sekali enggak mempengaruhimu, Isvara. Aku enggak heran kalau saat ini kamu masih sendiri. Udah pernah kubilang, enggak ada lelaki yang bisa pahamin kamu kecuali aku. Tapi kamu terlalu pandai bermain alibi," balas Naga kalem.

"Kamu ...." Satu tanganku sudah terangkat hendak melayang di pipi Naga bila saja suara batuk Grandhys yang sengaja direkayasa tidak muncul tiba-tiba.

"Uhuk."

Aku dan Naga menoleh bersamaan ke arahnya.

"Kalian ini ternyata udah pada kenal, to? Jadi, maksudnya cowok nggak punya pendirian dan gampang terpengaruh rayuan orang itu Nagara ini to, Var?"

Kuarahkan delikan tajam ke mata Grandhys. Tidak mengklarifikasi, kedua tanganku malah mengepal persis di depan mukanya. Naga menukikkan alisnya dibarengi kuluman senyum menyebalkan.

"Kamu ...." Telunjuk Naga mengarah ke wajah Grandhys.

"Aku Grandhys," sahut Grandhys mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Naga.

"Aku tahu, Grandhys. Maksud aku itu, kamu ... kamu ke mana aja kok baru nongol sekarang di kehidupan aku," celetuk Naga garing.

Kuusap perutku, menyugesti diri sendiri supaya tidak muntah. Rayuan Naga berpotensi membuat perutku mulas dan merusak gendang telinga. Grandhys terlihat salah tingkah menanggapi rayuan receh Naga. Aku mendengkus malas. Duh, tak ada kemajuan. Sama saja, Ga. Dari dulu kamu tetap murahan.

"Perubahan zaman kayaknya juga sama sekali enggak mempengaruhimu, Naga. Enggak heran kalau saat ini kamu masih sendiri. Lha, gombalan kamu recehan gitu. Murah banget berasa obralan celana dalam sepuluh ribu dapat tiga," cetusku sinis.

Naga merapatkan mulutnya, matanya masih menatap lurus padaku. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat Naga speechless. Sudah menjadi andalanku, apa pun yang dikatakan Naga padaku akan aku kembalikan sampai dia tak mampu berkutik. Saat dia kehabisan kata-kata, saat itulah aku merasa puas karena berhasil memperdayai dirinya. Jadi Naga, kalau kamu ingin mengulang waktu tentang kebersamaan kita, sebaiknya aku dan kamu bisa berkompetisi secara sehat. Seperti dulu.

Sementara Naga mematung, aku beranjak ingin mencari udara segar. Aku mau meningkatkan kualitas mental—setidaknya biar bisa mengimbangi kekuatan Naga—karena aku mengendus sesuatu yang bakal menyebabkan pengulangan peristiwa bertahun-tahun lalu.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel How to Heal A Heart and Break It Again di Cabaca

Isvara ketemu lagi dengan rivalnya semasa kuliah, Naga. Namun, Naga bukanlah rival biasa... Sebuah novel romance terbaru di Cabaca, Perfect Competition bisa dibaca GRATIS.

Sudah gak perlu lagi download novel pdf ilegal kalau sekarang sudah ada aplikasi baca novel Indonesia yang bisa ngasih gratisan. Aplikasi baca novel online gratis itu namanya Cabaca.id. Ada fasilitas Jam Baca Nasional yang bisa kita gunakan untuk baca gratis setiap pukul 21.00-22.00 WIB. Semisal mau tetap baca gratis, tinggal lakukan misi kerang atau top up kerang aja deh. Penasaran? Install aplikasi Cabaca di smartphone-mu yuk!