Teaser Novel Oh! My Office di Cabaca – Zaman sekarang, mencari pekerjaan itu sulit, padahal lapangan pekerjaan tersebar di setiap sudut. Gara-gara kecenderungan untuk pilih-pilih pekerjaan, para fresh gradute harus menanggung akibatnya untuk sementara waktu. Yah, atau bisa dibilang ....

Menganggur.

Dan agaknya, menjadi seorang gadis jomblo pengangguran sangatlah salah di mata masyarakat. Mengingat dan mengungkit pernikahan dini kerap kali terjadi di Indonesia, maka dirinya ini bagaikan pohon tua yang sudah melewati perang dunia dan tetap tumbuh kokoh juga dipercaya sebagai sarang makhluk gaib.

Sungguh, orang mana yang tega menumbangkan pohon tua sepertinya? Yang ada dia malah jadi sumber pemujaan minta harta dan jodoh. Meski begitu, jika pohon itu Rima, maka hanya kesialan yang akan menimpa mereka. Jangankan bermanfaat bagi orang lain, dia saja tak bisa memanfaatkan dirinya sendiri agar bisa menghasilkan uang banyak dan membeli sawah untuk budidaya tutut.

Maka Rima merancang rencana pertama menuju sebuah pencapaian untuk mengubah keringat menjadi lembaran berwarna merah yang dapat dia nikmati di akhir bulan. Tangan Rima sudah panas hanya dengan membayangkan tumpukan kertas dengan lima angka nol berwarna merah itu.

Yakni, melamar pekerjaan.

Namun, melamar pekerjaan juga tak akan semulus menggali harta karun di dalam hidung. Tangannya dituntut untuk menulis rapi, memperbanyak ijazah, memperbanyak tanda pengenal, berfoto dengan wajah datar, dan semuanya terasa merepotkan karena dia harus bolak-balik ke tempat fotokopi.

Belum lagi jika dimintai surat kesehatan dari dokter dan surat keterangan bahwa kita tidak pernah terlibat kasus dari kepolisian. Setelah itu diinterogasi oleh pemberi kerja. Kalau tidak sesuai dengan apa yang mereka cari, bersiaplah untuk ditolak. Rencana berikutnya, cari lowongan lagi di tempat lain. Itu pun kalau masih ada lowongan.

Yang jelas, pengangguran itu bukan berarti tak ingin bekerja. Mereka sudah lelah ditolak dan digantung tanpa kepastian yang jelas. Memang nyatanya, kisah mencari pekerjaan bisa lebih menyakitkan ketimbang kisah cinta. Hanya pengangguran-pengangguran tangguhlah yang terus melamar pekerjaan sampai tipis dompet kehabisan modal. Hidup pengangguran! Hidup kaum rebahan!

Dan di sinilah Rima sekarang. Dia baru mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan asing ternama yang tengah merekrut pegawai besar-besaran. Dia tidak terlalu mengejar posisi, yang penting dapat pekerjaan saja terlebih dahulu. Masalah jabatan, setelah berhasil nanti dia bisa minta promosi ke bagian yang lebih tinggi. Lagi pula, Rima ini kan useable, bisa ditempatkan di mana saja.

Asal jangan tiba-tiba jadi staf inti dan terlibat percintaan dengan CEO perusahaan layaknya novel romansa kebanyakan. Ditinjau dari pengalaman dan juga pendidikannya yang hanya D3, kemungkinannya kecil untuk mendapat posisi yang—konon katanya—penuh romansa perkantoran itu.

Rima menatap gedung yang tingginya membuat dia harus menengadah sampai lehernya pegal. Kantornya yang dulu tidak sampai belasan lantai. Hanya ada dua lantai dan itu pun naik-turun dengan tangga yang berakibat pegal pada kakinya.

Tak ingin menunjukkan jiwa kampungannya, dia berjalan di lobi kantor dengan tenang dan memasuki lift untuk menuju lantai dua—di mana wawancara dilakukan. Sadar hanya sendirian di dalam sana, dia mendesah lega dengan wajah melongo.

“Ya ampun, ini perusahaan atau hotel bintang lima?!” pekiknya tak percaya.

Tak ada yang namanya gelisah dalam percobaan interview keduanya selama menganggur. Dia melirik jam tangannya. Sekarang pukul sembilan kurang lima menit sedangkan wawancaranya pukul sembilan tepat.

Pintu lift terbuka, dan dia segera keluar dengan semangat. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri, mencari ruangan tempat dilakukannya wawancara. Kemudian matanya menangkap seorang pria lewat di depannya tanpa mengalihkan pandang dari ponsel di tangannya.

Dilihat dari penampilan dan tipe ponselnya, Rima yakin pria itu hanya karyawan biasa. Tidak memegang jabatan penting di sini dan juga tak akan berpengaruh pada diterima atau tidaknya dia di perusahaan ini. Tentu saja karena pada umummya para petinggi berada di lantai paling atas.

“Maaf, Pak! Saya mau tanya!”

Panggilan Rima cukup menghentikan langkah pria itu. Si pria membalikkan tubuhnya sesaat, menatapnya dengan raut datar dan pandangan menilai. Atau mungkin memang ada yang salah dengan penampilannya? Atau rok sepannya terlalu pendek?

Namun, bukan itu yang ada di pikiran Rima sekarang. Ya ampun! Karyawan biasanya saja bule, bagaimana dengan atasannya? Apalagi yang Rima lihat tadi satpamnya tidak ada sangar-sangarnya sama sekali.

Rima hampir sesak napas ditatap begitu lekat oleh lelaki tampan di depannya. Dilihat dari penampilannya, Rima tafsir pria itu seusia dengannya dan bekerja di bagian keuangan. Dia memakai kemeja polos lengan panjang yang digulungnya sampai siku, berwarna putih dan tidak dimasukkan ke dalam celana. Celana kain hitamnya terlihat pas di kakinya yang panjang. Dan dia memakai sepatu kets khas enterpreneur muda.

Rima rasa dirinya habis bertemu jodoh di sini. Jika hari ini keberuntungan jatuh padanya, maka bukan hanya label pengangguran yang dia lepas. Tapi kejombloannya juga. Pria tampan sangat cocok untuk dinikahi karena bisa memperbaiki keturunan. Dan Rima sudah menandai pria itu bahkan saat dia belum tentu diterima kerja.

“Kalau nyari tempat interview, tinggal lurus aja!”

Dia tercegang. Bahkan bahasa Indonesianya sangat lancar dengan nada khas anak Jaksel. Yakin dia bukan bule nyasar?

“Ma-makasih,” katanya gugup.

Tak ada senyum di wajah pria itu. Namun dia juga tidak mengalihkan pandangannya dari Rima. Membuat yang ditatap cukup risi karena mata pria itu mengarah pada rok sepannya.

Rima melangkah mundur takut-takut. Percuma tampan kalau matanya jelalatan. Rima akan menghapus pria ini dari list calon suaminya.

“Udah tau rok itu sobek, masih aja dipake! Awas aja kalau besok kita ketemu lagi!” kata pria itu sinis dengan senyum miring di wajah sebelum meninggalkan tempat Rima berdiri.

Tunggu, apa dia baru saja diancam?

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel The Resident di Cabaca

Giliran dapet kerja, Rima dapat kantor yang... Tunggu, bukan masalah kantornya. Masalahnya ada di bosnya! Novel tentang CEO atau kehidupan kantor berjudul Oh My Office akan menemani weekdays-mu. Baca gratis hanya di aplikasi Cabaca, download di Google Play.

Kamu suka baca novel online? Yuk, pakai aplikasi baca novel online gratis bernama Cabaca, karya anak bangsa. Dapatkan novel dari beragam genre dan unduh atau baca offline gratis melalui aplikasi Cabaca. Cari dan download di Play Store.

Baca novel Indonesia di Cabaca