Teaser Novel Ndoro Ajeng di Cabaca – "Iya, kalau sawahnya sudah laku katanya mau langsung daftar haji. Keburu uangnya kepake kemana-mana, kan?" ucap bu Wisma yang saat ini sibuk dengan belanjaannya.

"Hallah, utangnya aja di mana-mana. Mosok iya cukup buat naik haji." Bu Kades mencebik sewot, menggendong keranjang belanjaannya menuju motor.

"Ya kan bisa dicicil Bu, nabung. Daftar saja dulu, " kata Bu Wisma.

Sementara itu, Bu Kades memutar bola matanya. "Jangan percaya! Saya mah kalau mau naik haji ya tinggal pakai haji plus!"

"Lha, Bu Kades juga mau naik haji?"

"Lha iya, ini lagi nabung sama suami," kata wanita itu sombong.

"Haduh-haduh! Masih pagi udah ngomongin orang!" Nadia mengibas rambut panjangnya yang menguarkan semerbak sampo.

Bu Wisma dan Bu Kades mendelik tajam dengan perempuan sok cantik itu. "Apa sih kamu, Nadi!"

Nadi, perempuan itu menyengir, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Ibu-ibu apa ada melihat suaminya Nadi yang ganteng dan kaya raya itu, ndak?" tanyanya begitu percaya diri seraya tersenyum centil.

Bu Kades meringis melihat kelakuan wanita muda itu. "Pagi-pagi kok malah nyari suaminya toh? Bukannya masak, nyuci."

"Lha? Memang masih jaman masak sama nyuci?" tanya Nadi.

"Eh, mau tak jitak atau gimana nih? Ya pagi-pagi tuh masak toh, nyuci, jemur cucian, belanja ke pasar. Ini malah cari suami, memang kamu pikir suamimu itu ndak kerja apa?" Bu Kades mendumel. Lagi pula, ia sendiri pusing dengan Nadi. Pagi begini sudah membuat rusuh, mencari-cari suami ke pasar.

"Duh, suaminya Nadi mah ndak kerja gak papa, Bu. Ketimbang kerja terus kelilipan perawan desa? Duh, bahaya eksistensinya Nadi." Nadi mengelus kalung emasnya, bukan untuk menyombongkan diri melainkan kebiasaannya kalau sedang gusar. "Ya, Nadi tahu sih kalau di desa ini ndak ada yang secantik Nadi. Tapi kan, namanya juga laki-laki kan ...."

Bu Kades dan Bu Wisma menggeleng tak maklum. Terbentur apa Dama sampai bisa menikah dengan perempuan seheboh Nadi?

"Duh, aku mau pulang saja lah. Lama-lama di sini telingaku seperti berdengung!" seru Bu Kades, segera meminta Bu Wisma naik ke motor untuk berlalu meninggalkan Nadi.

"Eh! Eh! Bu, tapi suamiku beneran ndak lihat?"

"Kamu pelupa atau bagaimana? Suamimu kerja di lahan sawit kok carinya di pasar! Sinting emang istrinya Mas Dama ini!" Bu Kades segera menarik gas motornya, tidak tahan dengan Nadi dan sikap perempuan itu.

Nadi menggaruk tengkuknya, "Eh iya. Mas Dama kan lagi ngurus kelapa-kelapa manjanya. Duh! Lupa, pula!"

Nadi menyentak kakinya, memutar balik hendak ke kebun sawit suaminya, tempat di mana Dama menghabiskan separuh waktunya mengurus para pekerja.

Baru berjalan beberapa langkah, kakinya malah menyimpang ke arah lain. Matanya membulat takjub melihat daster-daster cantik digantung di salah satu lapak yang kebetulan berdiri di pinggir jalan. Astaga, Nadi baru mengingat kalau ia sudah lama tak berbelanja daster.

Nadi mendekat, tangannya yang gatal segera menyentuh kelembutan kain-kain pakaian itu. "Ih gemesin!"

"Dasternya, Mbak. Dua seratus!" Pedagang laki-laki pemilik lapak itu menghampiri Nadi.

"Dua seratus? Yang bener, Mas!" tanya Nadi tak percaya.

"Betul, Mbak."

Nadi memekik. "Ah! Aku pokoe harus beli!" Perempuan itu berjingkat senang. Memutari beberapa setelan daster dengan berbagai motif cantik. Di kepalanya sudah terbayang memakai daster baru. Pasalnya, kalau di rumah Nadi paling hanya mengenakan piyama dan daster.

"Walah-walah! Ini aesthetic pol! Persis kayak yang dipakai orang-orang Korea di Youtube itu!" Sejak kapan orang Korea pakai daster? Nadi begitu terpukau, hilang sudah tujuannya untuk mencari sang suami, karena rupanya daster lebih menarik dari wajahnya Dama!

Perempuan itu memeriksa semua model dan motif, mencocokkan dengan tubuhnya sendiri. "Dilapis ya kantungnya, Mas. Nanti takutnya dilihat tetangga terus kepengen juga dasternya, eh malah beli di sini terus samaan. Kan ndak lucu ya Mas pakai daster samaan, sebentar dikira kembaran," cerocos perempuan itu panjang lebar, cerewet. Padahal kan bagus kalau banyak yang beli, pedagangnya juga bisa untung. Memang istrinya Dama ini aneh sekali.

"Iya, Mbak." Pria itu segera membungkus belanjaan Nadi.

"Berapa, Mas?"

"Tiga ratus, Mbak,” jawab si Pedagang sembari menyerahkan kantong berisi daster.

Nadi merogoh sakunya, mencari-cari uangnya, tapi tidak menemukan apa pun selain recehan lima ratus rupiah sisa membeli asam di warung. "Ealah, kelupaan. Mas nanti mampir ke rumah saja deh!" Nadi menyambar kantong belanjaannya dengan enteng, hendak pergi.

"Mbak, saya ndak tahu rumahnya di mana …." Pria itu menghentikan Nadi. Sudah ambil banyak, dihutang pula.

"Ya mosok Masnya ndak tahu sih! Masnya ndak tahu saya?" Nadi berlagak sok terkenal, lagi pula siapa sih yang tidak tahu dirinya di desa ini?

Pria itu menggeleng. Bagaimana mau tahu, dia saja hanya pedagang lepas dari kota. Membuka lapak berpindah-pindah tempat biar relasi dan pelanggannya lebih banyak.

Nadi berdecak lagi. "Duh, kampungan ih Masnya. Tanya saja rumahnya Mas Dama, yang paling besar sekampung halaman! Pasti ketemu deh." Nadi kembali mengibaskan rambutnya, ingin cepat-cepat pulang mencoba daster barunya.

Pria itu meringis, siapa pula itu Mas Dama?

"Mbak, saya ndak tahu. Apa Mbaknya pulang saja ambil dompetnya, nanti saya tunggu di sini," tawar pria itu, bersabar. Setiap pembeli punya karakter masing-masing. Mungkin yang ia sedang hadapi sekarang ialah pembeli dengan karakter banyak mau.

"Duh! Mas kalau begitu ambil di kebun sawit suami saya saja deh. Dekat sini kok. Mas lihat kebun sawit, kan?"

"Engh, iya …."

"Nah, minta sama Mas Dama ya. Bilang saja istrinya habis beli daster baru, nanti langsung dikasih kok."

"Mbaknya ambil dompetnya saja, belanjaannya biar dibawa pulang dulu tidak masalah." Pedagang itu mencari jalan lain, menolak titah Nadi.

"Ya masalahnya dompet saya ndak ada isinya, Mas!"

Pria itu kembali meringis. Duh, susah juga. Mau beli tidak ada uang!

Istrinya siapa sih ini? Merepotkan sekali!

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel The Ghost in Our Heads di Cabaca

Berkat bantuan aplikasi ternama, Nadia akhirnya bertemu jodohnya. Tapi ternyata kehidupan pernikahan memang tak mudah. Apalagi suaminya masih sering teringat mendiang mantan istrinya ... Sebuah novel tentang pernikahan yang menarik untuk dibaca, Ndoro Ajeng. Unduh aplikasi Cabaca untuk baca novel gratis.

Buat apa cari link download pdf novel yang merugikan penulis? Kini sudah ada lho platform baca novel gratis buatan Indonesia. Namanya Cabaca. Coba aja buka tiap pukul 21.00-22.00 WIB, karena ada Jam Baca Nasional, semacam happy hour untuk baca novel online gratis. Cuma ada di Cabaca lho ini. Silakan download aplikasi Cabaca di Play Store untuk menikmati fitur ini.