Teaser Novel Nasab Karya Quinsha R. Shita di Cabaca – Aku bukanlah cewek yang seratus persen alim atau lulusan pondok pesantren. Namun, aku sama sekali nggak pernah meragukan kebenaran firman-Nya. Seperti ayat yang terjemahannya berbunyi, ‘Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?’. Begitu pula Tuhan telah melimpahkan rahmat-Nya padaku.

Kehidupanku terbilang sempurna. Aku memiliki orang tua dengan stok kasih sayang berlimpah. Jika ditinjau secara finansial, keluarga kami tergolong berkecukupan. Papa punya usaha mebel yang pelanggannya sampai ke luar pulau. Kehidupan sosial dan akademikku juga tidak punya masalah berarti. Sejak dulu aku selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku. Mulai dari Papa, Mama, teman-teman, guru, juga seseorang yang sangat spesial.

Dor! Senyam-senyum sendiri! Kenapa, sih? Kesambet, ya?” Baru juga dipikirin, dengan tidak sopannya Bisma menepuk punggung tanganku sampai berjingkat. Tak terima dikagetkan seperti itu, kubalas perbuatannya dengan cubitan maha dahsyat di lengan atas.

“A-aw! Ampun!” Bisma mengaduh kesakitan. Sambil meringis, ia mengusap bekas jariku yang pasti meninggalkan jejak memerah. “Sadis banget sih, jadi pacar! Disayang, kek, dipeluk, kek.”

Aku menjulurkan lidah menanggapi protesnya. “Enak aja main peluk-peluk! Emangnya guling? Kalo mau, halalin dulu, gih!” tantangku. Berani bertaruh, ia pasti mengelak. Tuh, kan! Lihat saja wajahnya yang cuma cengar-cengir tanpa dosa!

Gertakanku barusan terbang bersama angin yang berkesiur dari celah pepohonan. Malam ini, Bisma mengajakku makan di Taman Tabanas sambil menikmati keindahan kota Semarang. Biar kayak orang-orang yang lagi pacaran, katanya. Padahal kami memang sudah menjalin hubungan tersebut selama empat tahun lebih. Meski dalam perjalanannya jauh dari kata romantis atau mesra.

“Nah, kan. Ngelamun lagi!” Kali ini tangan Bisma tidak usil mengagetkanku, tetapi suaranya saja sudah cukup menarikku dari lautan imaji. Aku meringis sambil meraih gelas es jeruk yang tinggal separuh dan sudah berembun. Akibat terlalu lama dianggurin hingga dingin dari es batunya memencar.

“Ya udah. Ayo, aku halalin kamu.”

Hampir saja aku tersedak. Kebiasaan Bisma membuat lelucon di saat yang tidak tepat. Kuraih sendok kotor di atas piring bekas makan kami yang masih berserak di meja. Lantas menggetokkannya ke punggung tangan Bisma. “Ngaco!”

“Dih, nggak percaya! Tadi aja nantang-nantang!” tukasnya sambil mengusap tangan. “Serius, Ay. Di kantor aku terbuka besar peluang buat lanjut kuliah di luar negeri. Aku juga udah mulai nyiapin berkas buat apply beasiswa sekaligus daftar S2. Tapi sebelum itu, aku mau kita menikah dulu biar bisa ngajak kamu ikut ke sana, kalau sewaktu-waktu aku harus berangkat.”

Kelopak mataku berkedip-kedip, padahal jelas tidak ada sebutir debu pun yang menyangkut di sana. Selama beberapa menit aku hanya melongo seperti kerasukan jin mendadak. Begitu kesadaranku pulih, langsung kuraih centong kayu dan melayangkannya bertubi-tubi ke lengan Bisma.

“Aduh! Kamu kenapa sih, Ay? Nggak percaya lagi?” protes Bisma sambil mengernyit tak mengerti.

Aku memasang wajah cemberut. Kudaratkan pantat kembali sambil melempar ‘senjata’ secara asal ke meja. “Kesel aja! Habis kamu ngelamarnya nggak romantis sih, pake banget!” tukasku jujur yang langsung disambut tawa olehnya.

Baca Juga: Teaser Novel Ndoro Ajeng di Cabaca

Teaser Novel Nasab Karya Quinsha R. Shita

Meski adegan lamaran itu nggak se-‘so sweet’ Belva Devara yang jauh-jauh ke Massachusetts demi memberi kejutan pada sang kekasih, tetap saja hatiku seperti taman sakura yang penuh bunga berkelopak merah jambu bermekaran. Tak sedetik pun bibirku melepas senyum. Bahkan ketika Bisma terus mengoceh tentang beasiswa dan kampus yang akan ditujunya, pikiranku sudah terbang lebih jauh ke langit ketujuh.

“Ay, kamu dengerin aku nggak sih?” Tiba-tiba Bisma menceletuk. Aku menoleh dan menatapnya yang juga melihat ke arahku. Kebetulan mobil kami berhenti di persimpangan lampu merah.

“Eng ...,” Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Lantas menyengir dengan tampang tak berdosa. “Sampai mana ya tadi?”

Bisma mengacak-acak kepalaku gemas. Jilbab segi empat yang kupakai sampai miring-miring karenanya. Untung saja lampu segera berganti warna jadi hijau sehingga ia tidak meneruskan aksinya.

“Kamu tuh, ya. Kebiasaan deh kalau udah seneng, nggak ingat sekitar!” celetuk Bisma sambil memindahkan persneling. Mobil pun mulai melaju perlahan. “Aku tadi cerita soal rencanaku lanjut ke Belgia. Aku nemu info soal beasiswa VLIR-UOS. Enaknya kita bisa apply beasiswa sekaligus studinya, jadi nggak perlu kerja dua kali.”

Aku manggut-manggut, padahal dalam hati bertanya-tanya sejak kapan ia punya rencana untuk mengambil gelar Master di negara Eropa tersebut. Namun, tak lama rasa penasaran itu menguap. Sejak dulu Bisma memang jarang melibatkan aku saat mengambil keputusan. Sebaliknya, untuk memilih sepatu saja aku perlu masukan dari orang lain. Mungkin itu sebabnya kami cocok. Bisma dengan segala kemandiriannya, dan aku yang seolah tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Sekitar tiga puluh menit kemudian laju mobil mulai melambat. Suara roda yang menggilas batu-batu kecil menandakan kami sudah memasuki pekarangan rumah. Belum sempat mesin berhenti menggeram, aku sudah melompat turun. Berani taruhan, Bisma pasti sedang tertawa melihat tingkahku yang kegirangan seperti bocah baru pulang dibelikan mainan.

“Paa! Maa!” Tidak terdengar sahutan dari ruang tamu. Aku melangkah lebih dalam sambil kembali berteriak. “Papaaa!! Mamaa!!”

Masyaallah, Ayaa! Ini udah malem dan kamu malah teriak-teriak kayak lagi di hutan!”

“Hehe.” Kutanggapi teguran Papa dengan cengiran lebar. Lantas kupeluk erat tubuh tambunnya agar beliau tidak marah lagi sekaligus menyalurkan rasa gembiraku.

Assalaamualaikum, Om ….” Bisma rupanya sudah menyusul dan berdiri beberapa langkah di belakang. Papa menjawab salamnya sambil melirik jam di atas gawang pintu, sekadar memastikan cowok berkacamata itu mengembalikan putri kesayangannya tepat waktu. Pukul sembilan kurang lima menit, pas.

“Pa, Mama mana? Malem ini Aya sama Bisma bawa kabar gembira, loh!” tuturku bersemangat. Tak lama kemudian Mama muncul dari ruangan dalam sambil membetulkan jilbab instannya yang sedikit miring.

“Kabar gembira apa? Kulit manggis kini ada ekstraknya?” Mama malah bercanda sambil menaikkan kedua alisnya usil.

Aku berdecak. “Itu mah kabar basi, Mamaa!”

Lha terus apa lagi? Jangan bilang kalau kalian berdua sudah kasih Papa sama mama cucu sekarang!?” Mama malah semakin ngawur. Saking kesalnya, aku mencubit lengan Mama gemas.

Sementara Bisma menikmati pertikaian kecil kami sambil tertawa. Tinggal menunggu waktu saja sampai ia juga menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Ah, bibirku jadi melengkung lagi membayangkan hal itu.

Papa mengajak kami duduk di sofa ruang tamu. Aku bersebelahan dengan Bisma, menghadap Papa dan Mama yang tersekat meja persegi panjang. Kami saling melempar pandang seolah bertelepati menyepakati siapa yang maju menjadi juru bicara.

Bisma pun memulai dengan berdeham kecil. “Sebelumnya, saya minta maaf sama Om dan Tante jika ini terkesan mendadak dan kurang sopan. Insyaallah, secepatnya saya akan mengajak keluarga besar untuk acara resminya.”

Aku melirik ke kiri, memperhatikan wajah Bisma yang tegang padahal sudah jelas orang tuaku pasti menerima lamarannya. Rasanya lucu melihat cowok berkacamata bulat yang selalu percaya diri itu tiba-tiba kesulitan merangkai kata saat hendak menyampaikan tujuan.

“Ehm, jadi begini. Saya dan Aya tadi sudah bicara, dan ... kami sepakat untuk membawa hubungan ini ke tingkat yang lebih lanjut.

“Saya meminta restu dan izin dari Om dan Tante untuk menikahi Cahaya.”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Dear Mr. Mike di Cabaca

Cahaya bukan anak kandung orang tuanya! Dan dia baru mengetahui fakta tentang nasab ini saat dia dilamar dan berencana menikah. Jadi, anak siapakah Cahaya? Apakah pernikahannya harus batal karena masalah nasab? Novel Nasab dengan genre islami ini bisa kamu baca secara gratis lho! Hanya di aplikasi Cabaca, download aplikasinya di Play Store.

Buat apa download pdf novel yang gak jelas sumbernya, kalau sekarang sudah ada platform baca novel online yang bikin kita bisa baca gratisan setiap hari? Kalau gak percaya, boleh cek aplikasi Cabaca. Di aplikasi baca novel Indonesia tersebut, kita bisa baca gratis pada pukul 21.00-22.00 WIB setiap hari melalui Jam Baca Nasional. Yuk, jadi salah satu pembaca cerdas dengan pakai aplikasi Cabaca. Download di Play Store sekarang.