Teaser Novel My Innocent Woman di Cabaca

Teaser Novel My Innocent Woman di Cabaca – Satrya baru saja tiba di gedung apartemennya, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, dan dirinya baru saja selesai dengan semua pekerjaan yang melelahkan.

Sampai di lantai di mana ia tinggal, Satrya menekan password apartemen dan menemukan keadaan di dalam gelap, tanda tidak ada siapa pun di sana. Karena ia tinggal bersama sahabatnya, Vano selama ini, seharusnya orang itu sudah berada di sini sekarang.

Lantas di mana Vano sekarang?

Sepengetahuan Satrya, Vano sudah pulang terlebih dahulu, sejak pukul delapan tadi. Tak mau ambil pusing, ia melanjutkan masuk dan menyalakan lampu dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.

Satrya merogoh saku celananya ketika ponselnya berdering dan melihat nama seseorang yang cukup ia kenal.

Ia memutar bola matanya, dan mengembuskan napas sebelum mengangkat panggilan itu. Ia sudah punya firasat tentang tujuan dari panggilan masuk itu. Maka ia dengan malas menjawab.

“Halo?” ucapnya tidak minat.

“Bisa kau datang ke kelab?”

Tanpa harus diberi tahu lebih banyak, Satrya mematikan sambungan telepon dan berjalan kembali keluar. Satrya mengumpat dan menyumpah-serapahi seseorang ketika ia selesai menerima telepon. Buru-buru dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya sebelum ia berlari melesat keluar gedung.

"Dasar, bikin repot saja!" gerutunya ketika memakai helm sebelum menaiki motornya.

Baca Juga: Teaser Novel Soufflé Karya Nonali di Cabaca

Dengan kecepatan sedang Satrya melajukan motornya di jalanan yang masih ramai. Hingga motor itu sampai di tempat yang ia tuju. Satrya melihat jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukan pukul sembilan malam.

"Ini bahkan masih belum terlalu malam. Tapi dia sudah mabuk. Sejak kapan dia minum-minum, ha?" Satrya masih saja menggerutu. Langkahnya yang lebar kini memasuki ruangan yang penuh dengan manusia yang tengah meliuk-liukan badannya. Bau alkohol dan asap rokok langsung tercium oleh indra penciumannya.

Setelah berada di dalam, Satrya mengedarkan dan menajamkan kedua mata mencari sosok seseorang yang dianggapnya merepotkan itu. Kedua matanya akhirnya tertumbuk pada seseorang di sana. Seseorang yang tengah menelungkupkan kepala di atas meja bar.

"Hei, kau berengsek!" seru Satrya seraya menarik lengan pria itu.

Vano mengerang lalu menghempaskan tangan Satrya yang memegang lengannya dengan kasar.

Satrya memutar bola mata. "Selalu saja seperti ini! Kenapa selalu merepotkan, sih!" Satrya kembali menarik tangan Vano yang sudah mabuk berat.

Tidak seperti tadi, kali ini Vano tidak menolak sentuhan Satrya. Pria itu menukar posisinya menarik tangan Satrya hingga Satrya masuk ke dalam pelukan pria itu.

"Shit! What the fuck!" seru Satrya terkejut. Ia mencoba melepaskan diri dari kungkungan Vano dengan mendorong dada pria itu. Tetapi, kekuatannya tidak cukup kuat.

Bartender yang baru saja muncul langsung menertawakan keduanya, lebih tepatnya menertawakan Satrya.

"Berengsek, malah tertawa! Bantu aku, Rexa!" Satrya masih terus berusaha melepaskan diri dari Vano.

Sedang tawa bartender yang bersama Rexa itu semakin meledak melihat Vano yang makin menelusupkan wajahnya di ceruk leher Satrya.

"Aku mencintaimu," gumam Vano tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.

"Tapi, aku tidak!" jawab Satrya jengah. "Lepas!" Satrya menarik lengan Vano yang melingkar di leher dan tubuhnya.

Setelah merasa puas menertawakan, barulah Rexa membantu Satrya agar pria itu keluar dari kungkungan Vano. Meski sedikit sulit, tetapi setidaknya sekarang bisa kembali bernapas lega.

"Harusnya kau tidak meneleponku tadi, sialan!"

Rexa kembali meledakkan tawanya. "Sayangannya melihatmu kesulitan adalah salah satu hiburan terbaik bagiku. Lagi pula kalau bukan kau yang kutelepon, aku harus menelepon siapa? Raga?" jawab Rexa mendengus mengingat ia pernah menelepon Raga saat itu dan ia bersumpah tidak akan mengulanginya lagi. Jika Vano akan menjadi gila saat sedang mabuk seperti sekarang, maka Raga akan menjadi lebih gila ketika ia terganggu dari aktivitas yang katanya penting. Bukannya membawa saudaranya yang tengah gila pergi, pria itu malah semakin membuat kekacauan dengan memarahi siapa pun yang menghalanginya. Tak luput ia pun akan kena marah.

"Setidaknya membiarkan dia tidur di sini sampe pagi bukan ide buruk kurasa!"

"Oh, itu ide paling buruk yang pernah ada, sialan. Dia akan semakin merepotkan. Aku malas mengurusi."

"Ck, cepat bantu aku!"

Vano sudah berada di dalam kungkungan lengan Satrya. Rexa keluar dari dalam bar dan membantu Satrya menopang tubuh Vano.

Mereka berdua bersama-sama menyeret tubuh Vano masuk ke mobil yang Vano bawa. Dengan tidak mudah tentunya. Vano terus meracau tidak jelas. Kedua tangannya tidak berhenti bergerak barang sebentar saja, terus menggapai apa yang dapat ia capai. Bibirnya terus menyerbu wajah siapa pun yang berada dekat dengannya.

"Akh, shit!" Satrya mendorong kepala Vano ketika pria itu lagi-lagi mendekat ke arahnya. Ia meraba semua kantong celana dan jas milik Vano untuk mencari kunci mobil pria itu. Ia dan Rexa menghela napas mereka lelah ketika sudah berhasil memasukkan tubuh Vano seluruhnya ke mobil.

Satrya dan Rexa menyeka dengan kasar bibir dan pipinya yang kena cium Vano.

"Berengsek, dia mencium bibirku!" Rexa mengusap-usap bibirnya dengan kesal.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Too Sexy for My Rival di Cabaca

Bayangan pernikahan terasa menakutkan bagi Vano, sampai akhirnya dia bertemu Revana, gadis terpolos yang pernah ia tahu... Pilihan novel dewasa terbaru di Cabaca. Baca GRATIS My Innocent Woman, unduh aplikasi Cabaca di Play Store.

Yuk, beralih ke aplikasi baca novel Indonesia Cabaca. GRATIS  lho tiap hari, apalagi ada Jam Baca Nasional pukul 21.00 - 22.00 WIB. Daripada download novel pdf yang ilegal dan merugikan penulis kan? Ikuti pula misi kerangnya setiap hari supaya bisa baca novel lebih banya. Yuk, install aplikasi Cabaca sekarang di HP kamu!