Teaser Novel Miss Lawyer's FAKE Husband di CabacaSepasang gadis kecil berumur sekitar enam tahun dan delapan tahun terlihat sedang bermain bersama di teras halaman rumah. Dari kemiripan wajah keduanya, mereka pasti berhubungan darah, bahkan mungkin kakak adik. Lima buah boneka dan mainan masak-memasak tersebar di sekitar mereka. Langit sore kala itu sangat cerah dan udara bulan Juni terasa hangat.

Bocah yang lebih kecil tertawa ceria. Rambut hitam sebahunya yang dikucir dua dengan karet warna-warni, berayun mengikuti gerakan kepala si empunya. Dia duduk bersila di atas lantai kayu dan menggerakkan boneka barbie yang berada di genggamannya. “Halo, nama aku Wita, nama kamu siapa?”

“Aku Keisha. Apa kamu mau jadi temanku?” jawab anak yang lebih tua. Bocah itu menggerakkan tangan kanan boneka barbienya untuk bersalaman.

“Loh, Kakak, kan, namanya Ayu, kok jadi Keisha?” Wita cilik memprotes ucapan kakaknya dengan bibir monyong, mirip seperti tokoh bebek pemarah yang dia baca dari majalah pagi tadi.

“Ih, kan, kita lagi main, bukan beneran …,” jawab Ayu dengan nada jengkel. Rambut bocah delapan tahun itu dipotong sependek leher dan berponi. Dia mengambil sisir mainan khusus boneka, lalu menyisir rambut kuning bonekanya dengan penuh kasih. “Selain itu, aku suka nama Keisha ... kalau aku punya anak nanti, aku akan kasih nama Keisha ….”

“Hah? Kakak, kan, masih kecil! Kok, udah mau punya anak?” tanya Wita dengan mata membulat penuh. Bocah itu langsung berdiri, meninggalkan mainannya dan berlari ke dalam rumah sambil berteriak, “Nenek! Kakak Ayu mau punya bayi!”

“Mbak, sudah sampai.” Suara Yusuf memutus lamunan Wita. Gadis itu menoleh ke bangunan tingkat dua yang berada di depannya kemudian membaca tulisan besar “Yayasan Kasih Sejahtera” pada plang yang terpaku di dinding terluar.

“Oh, terima kasih. Tunggu sampai saya panggil, ya,” ucap Wita sambil menoleh ke sopirnya yang sudah membuka pintu belakang dan menunggu dirinya keluar mobil.

“Iya, Mbak.”

Yusuf bergeser, menjaga jarak kesopanan ketika majikannya melangkah keluar. Walau tindakannya tidak ketara, tetapi Wita menyadarinya. Gadis itu melirik ke arah jam tangan berantai emas yang melingkar di lengan kanan sambil berkata, “Hampir jam dua belas siang. Kamu makan saja. Saya pasti nanti lama di dalam.”

“Iya, Mbak.” Sama seperti biasa, Yusuf menjawab singkat, tanpa ekspresi, dan bahkan sedikit menunduk.

“Saya tinggal dulu.” Wita tidak menunggu jawaban sopirnya dan langsung berjalan menuju pintu masuk panti asuhan itu. Denting pesan masuk sempat membuat langkah gadis itu terhenti. Dia melihat tulisan Detektif Andi di bagian paling atas dan membuka isinya.

Bu, sepertinya sudah sampai, ya. Saya tinggal sekarang, ya. Sisa bayaran bisa ditransfer ke rekening yang kemarin. Jangan lupa dengan persyaratan yang harus Ibu lengkapi ….

Kening Wita sedikit mengerut kebingungan. Apa ada pesan penting yang terlewat?

Gadis itu langsung menggeser ke atas untuk membaca riwayat percakapan mereka. Ibu jari Wita seketika terhenti ketika mendapati sebuah kiriman gambar yang tidak otomatis terunduh. Dia menekannya dan menunggu hingga dapat membaca isinya dengan jelas. Sebuah poster latar hijau gelap berpadu kuning dengan kop “Yayasan Kasih Sejahtera” muncul sepuluh detik kemudian.

Tatapan mata Wita seketika terfokus pada subjudul Tata Cara Pengapdosian Anak. Gadis itu sedikit banyak sudah tahu bahwa ada dokumen-dokumen penting yang akan diminta oleh pihak panti asuhan. Dia sejak minggu lalu, bahkan sudah mempersiapkan sebundel berkas di dalam tas: fotocopy KTP, akta lahir, surat babtis, bahkan slip gaji, seharusnya tidak akan ada masalah.

Wita membaca poin demi poin secara saksama dan mencentang setiap nomornya dalam hati sebelum napasnya tertahan ketika membaca syarat terakhir. Wajib memiliki akta nikah yang valid dan sudah menikah minimal lima tahun lamanya.

Tangan Wita seketika gemetar. Maksudnya ini gimana? Cara dapatin aktanya dari mana?

Gadis itu segera menekan tombol dial dan langsung mengeluarkan protes ketika sambungannya terhubung pada dering kedua.

“Kenapa harus ada akta nikah? Apa Bapak tidak bisa memakai cara lain? Seperti menculik bayinya saja atau menyogok mereka?”

“Maaf, Bu. Saya ini detektif, bukan penjahat, kalau ingin menyogok, Ibu coba sendiri, mungkin mereka bersedia menerima bayaran ... tetapi kalau mau sah secara hukum, memang syarat itu yang mereka butuhkan. Saya rasa Ibu lebih paham dibandingkan saya. Untuk informasi, ada pasangan lain yang juga tertarik dengan anak itu. Saya hanya bisa menahan mereka sampai minggu depan .... lewat dari jangka waktu, saya lepas tangan dan tetap meminta bayaran pen-”

Wita langsung mematikan saluran telepon tanpa sudi mendengarkan kelanjutan jawaban pria itu. Detektif bego! Dua puluh juta cuma buat selembar brosur?! Awas saja kalau ternyata bocah yang dimaksud salah identitas, sekalian kulaporin ke polisi dengan pasal 378 KUHP! Dasar detektif bego! Bego! Bego! Artinya aku harus mengajukan diri sebagai wali bukan meminta adopsi.

Wita mengentakkan sepatu hitamnya yang memiliki hak tiga sentimeter menuju meja penerima tamu yang menghalangi para tamu untuk langsung menerobos ke lorong masuk. Dia memberikan senyum terbaiknya kepada seorang pria berkumis berseragam putih hitam khas security yang memandangnya dengan awas, lalu berkata, “Saya ingin bertemu dengan Bu Rini, sudah ada janji sama beliau.”

“Boleh saya lihat KTP-nya, Bu?” balas si Kumis tanpa basa-basi. Pria itu mengambil dan mengamati kartu identitas Wita sebelum menyerahkan sebuah kertas berlaminating bertulisan TAMU yang diikat dengan benang wol pada bagian sisi kanan kirinya. “Tolong dipakai. Nanti Ibu langsung masuk ke pintu pertama di sisi kanan, ya, Bu.”

Wita menurut. Dia mengalungkan benda yang mirip prakarya anak SD itu lalu mengucapkan terima kasih dan kemudian berjalan sesuai arahan yang dia terima.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel My Complicated Lecturer di Cabaca

Wita Prabowo, seorang pengacara, terlihat sangat sempurna. Dia tidak membutuhkan apapun lagi, termasuk pendamping hidup. Namun, kehadiran bayi manis dalam hidup Wita mengubah segalanya. Wita harus menikah meski harus dengan sopir pribadi yang jauh lebih muda darinya. Baca novel romantis Miss Lawyer's FAKE Husband hanya di Cabaca, install aplikasi Cabaca di smartphone kamu sekarang.

Jangan download buku bajakan deh, kasihan penulisnya. Lebih baik beralih ke platform baca novel online karya Indonesia bernama Cabaca. Manfaatin aja program yang diadain di Cabaca yaitu Jam Baca Nasional setiap hari dari pukul 21.00 - 22.00 WIB. Kita punya kesempatan baca novel gratis hanya via aplikasi Cabaca. Makanya, pakai aplikasinya di HP kamu sekarang!