Teaser Novel Milo on Monday Karya Robin Wijaya di Cabaca
Ruangan itu menyerupai kamar berukuran besar dengan kubikel setinggi dada yang membatasi ruang kerja mereka. Di dalam kubikel, mereka boleh menempelkan apa pun asal tidak memasang paku payung atau push pin secara langsung tanpa melapisinya lebih dulu dengan softboard. Seringnya, anak-anak redaksi menempelkan sticky notes untuk membantu mereka mengingat deadline, atau poster member EXO dan BTS agar terasa seperti sedang disemangati Sehun atau Jin.

Pevi memunculkan kepalanya dari kubikel. Bau mi instan yang menyengat mengganggu konsentrasinya. Padahal, ia butuh konsentrasi maksimal karena deadline buku yang mau naik cetak tinggal hitungan hari. Ada sederet kerjaan proofreading, pemeriksaan alternatif sampul buku, sampai janji temu penulis yang ingin membicarakan rencana promosi bukunya.

Baru jam sepuluh lewat lima belas. Yang makan mi instan ini antara telat sarapan atau memajukan jam makan siangnya. Ya .... Namanya juga bekerja di dunia kreatif. Perut yang lapar bikin otak jadi kurang bisa sinkron.

“Bau mi instan, nih.” Pevita sengaja tidak menyebutkan merek walaupun ia nyaris hafal segala jenis aroma mi instan termasuk variannya. Merek A beraroma kuat, sementara merek B agak lembut tapi luar biasa menggoda iman. Yang terhidu indra penciumannya ini adalah merek favoritnya. Mi instan kebanggaan rakyat Indonesia yang sudah banyak diekspor ke luar negeri, bahkan gosipnya di negara tertentu dijadikan alat transaksi jasa layanan seks.

“Siapa nih yang makan mi?” tanya Pevi lagi karena tak ada satu pun rekannya yang menyahut.

“Gueee ....” Sebuah gumaman yang dihasilkan mulut yang dipenuhi makanan pun terdengar.

“Oh.” Cuma itu jawaban Pevi. Dia duduk lagi, tak melanjutkan komentarnya tentang menu andalan anak-anak indekos di pertengahan menuju akhir bulan itu.

“Kenapa? Lo mau? Nih, gue masih ada satu. Rasa ayam bawang. Tapi nanti gue minta kuahnya, ya.” Si empunya makanan menyahut lagi. Lelaki yang gemar pakai ikat kepala bercorak batik itu malah sengaja mengeluarkan bunyi menggoda dari caranya menyeruput mi. Membuat Pevita semakin membayangkan betapa lezatnya kudapan hangat dalam mangkuk yang ditaburi irisan cabai rawit dan bawang goreng.

“Tumben lo baik sama gue,” sahut Pevi, dengan nada sok jual mahal.

Expired-nya tinggal lima hari lagi. Daripada mubazir, mending gue tawarin ke lo,” jawab Rival, enteng.

“Dih, apa banget lo. Mi udah mau expired dikasih ke orang. Kalo niat ngasih tuh yang ikhlas dikit kek.”

“Ikhlas gue. Lahir batin.”

“Guenya ogah,” jawab Pevi, sengaja dengan penekanan suara yang menyatakan keengganan.

“Kalo nggak mau ya udah. Nanti sore gue masak lagi. Jam tigaan enak kali, ya .... Pas banget jam ngemil.” Rival semakin memanasi.

“Ngemil sih mi. Ngemil tuh kuaci. Obesitas lo nanti.”

“Tinggal olahragalah .... Naik sepeda, lari-lari, push up, beres.”

Sahut-menyahut pun terjadi antarkubikel. Teman-teman redaksi yang duduk di kanan-kiri mulai mesam-mesem, hafal persis situasi semacam ini.

“Olahraga dua hari doang. Olahraga tuh konsisten.”

“Daripada udah beli sepatu, beli sport bra, daftar member di sport center, tapi absen mulu.”

“Yee .... Gue datang kok tiap Rabu malam.”

Dan masih terus berlangsung ....

“Lah, kemarin lo ngajakin Kenes mampir beli boba.”

“Absen sekali doang.”

“Nggak bakal jadi body goals lo!”

“Olahraga is a must. Langsing itu bonus. Itu tujuan gue nge-gym.”

“Buang-buang duit lo. Mending ngumpulin saham daripada ngumpulin kartu.”

“Gue tuh—”

“Heh!” Sebuah suara yang bukan milik Rival maupun Pevi tiba-tiba saja menggelegar dari tengah ruangan. Belum kelihatan wujud si pemilik suara. Namun bahu rekan-rekan Rival dan Pevi sudah bergoncang karena menahan tawa tanpa suara.

“Lo berdua tuh kalo sehari aja nggak adu bacot, nggak enak, ya?” Mbak Gia, anggota redaksi yang paling galak angkat suara. Sebetulnya bukan galak juga sih, tetapi memang kelakuan Rival dan Pevi ini suka agak kelewatan. Sudah tahu semua orang sedang pusing dikejar deadline, bukannya menjaga agar suasana ruang kerja tetap kondusif malah berdebat untuk sesuatu yang amat sangat sepele.

“Gigit aja, Mbak Gee! Gigiiit ....” Budi yang berkacamata tebal bak pantat botol ikutan menyahut.

“Apa sih lo, Ini Ibu Budi?” Pevita langsung menyerobot tak suka mendengar Budi ikut-ikutan berkomentar.

“Bud, dia bawa-bawa Eyang Siti Rahmani tuh!” Rival malah mengompori.

“Emak gue bukan Siti Rahmani,” kata Budi.

“Rumini!” sahut Rival, berkelakar.

Beti. Beda tipis.” Budi sama sekali tak tersinggung Rival menyebut nama ibunya.

“Hahahaha ....”

Tawa Rival dan Budi meledak bersamaan. Bukannya menyahuti celotehan Pevita, Budi malah tersulut kompor Rival yang membuat Pevi seakan menjadi sentral lelucon ini.

“Dih! Gaje lo berdua!”

Kali ini sebuah pensil melayang dari kubikel Rival, dan jatuh persis di depan wajah Pevita. Pevi langsung mengambil pensil tersebut, dan melemparkannya balik ke arah Rival. Balasan pun diberikan Rival dengan menambahkan penghapus, paper clip, sampai bungkus bumbu dan minyak mi instan yang langsung menceceri kubikel Pevita.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Loveconomics di Cabaca

Di kantor keduanya bagai Tom and Jerry, sampai baik Pevita maupun Rivaldy menjadi orang tua asuh dari ... seekor kucing. Novel terbaru Robin Wijaya, Milo on Monday ini hadir secara ekslusif hanya di Cabaca. Yuk, download aplikasi Cabaca di Play Store supaya bisa baca secara GRATIS.

Berhenti download pdf novel yang ilegal. Telah hadir aplikasi baca novel Indonesia yang memungkinkan pengguna baca gratis novel sepuasnya. Aplikasi tersebut bernama Cabaca. Di sana ada Jam Baca Nasional setiap pukul 21.00 sampai 22.00 WIB spesial untuk baca buku tertentu dan hanya di aplikasi aja. Yuk, pakai aplikasi Cabaca di smartphone kamu!