Novel Menanti Sakinah di Cabaca.id Angkot oranye yang catnya masih tampak baru itu melaju tersendat-sendat. Bukan karena macet, tapi karena sang sopir masih menanti angkutan yang dikemudikannya penuh. Jika tak ingin dipecat, setoran ke bos harus lancar hari ini.

"Geura leumpang, Jang. Panas yeuh (Cepat jalan Nak, panas nih)," pinta seorang bapak-bapak dengan asap rokok yang mengepul dari bibir kehitaman.

Uhuk uhuk uhuk uhuk

Seorang gadis remaja terbatuk karena asap rokok itu. Sha, nama gadis itu, mengibaskan topi yang terbuat dari koran untuk menghalau asap. Selanjutnya tas yang terbuat dari karung terigu dia gunakan untuk menutup hidung. Berguna juga peralatan ospek yang dibuat Bu Rumi untuknya.

Huft ... Asap rokok Bapak tuh, yang bikin panas, batin Sha.

"Angkot nu sanes mah tos nepi deui, Jang (Angkot yang lain sudah nyampe lagi, Nak)," seorang ibu menimpali, kali ini dengan tutur yang lebih santun.

Sang sopir hanya melirik sekilas ke spion tengah, melihat tiga penumpang yang wajahnya sudah tertekuk. Hanya ada mereka di angkot itu. Menunggu mobil penuh rasanya mustahil, karena siang itu bukan jam padat penumpang. Sepertinya tiga penumpang angkot itu harus pasrah dengan keputusan sang sopir yang tetap melajukan angkot dengan perlahan.

Tak lama sebuah nada dering polyphonic—khas sebuah merek ponsel yang sedang merajai angka penjualan ponsel pada masa itu—terdengar dari tas karung terigu milik Sha. Gadis remaja itu mengeluarkan ponsel yang saat itu masih tergolong barang mewah.

Ada SMS dari Bu Rumi, asisten rumah tangga di rumahnya. Bu Rumi memintanya untuk segera pulang, balado terong dan orek teri telah menanti di rumah. Sha tersenyum membayangkan makanan favoritnya itu. Lelah menahan emosi ketika ospek tadi, sepertinya akan terbayar dengan makanan enak setibanya di rumah nanti. Setelah mengetikkan balasan bahwa dia sedang berada di dalam angkot menuju pulang, Sha memasukkan kembali ponselnya.

Sha tersenyum kembali, SMS dari Bu Rumi sedikit menghiburnya. Sepertinya keputusannya untuk membelikan Bu Rumi ponsel yang sama seperti miliknya adalah tepat. Dengan uang yang diberikan ayahnya, seharusnya dia bisa membeli ponsel yang lebih mahal. Tapi dia memilih membeli dua ponsel dengan harga lebih murah. Satu untuknya, satu untuk Bu Rumi.

Saking asyiknya berkutat dengan ponsel tadi, Sha baru sadar sudah ada empat penumpang di angkot itu. Ibu-ibu yang semula ada di hadapannya telah bergeser ke dekat pintu. Kini di hadapannya, seorang pemuda kerempeng bertato tengah tersenyum padanya. Sesekali pemuda itu melihat ke bawah, lalu tersenyum lagi. Senyum geli, senyum mencemooh, atau senyum melecehkan? Entahlah, Sha tak paham. Yang jelas alarm berbahaya dalam dirinya menyala. Sha waspada.

Sha merapatkan kaki, lalu membenahi seragam rok sepan panjang berwarna biru tua yang dia kenakan. Dan perlahan Sha memutar tubuhnya jadi menyerong ke kanan, tak ingin berhadap-hadapan dengan pemuda yang berpenampilan urakan itu. Dengan badan bertato di beberapa bagian, pemuda itu lebih tepat jika disebut sebagai PREMAN.

Sha melirik ke arah kiri, tepatnya ke arah pemuda itu. Senyum tertahan pemuda itu memperlihatkan lesung pipi. Kulitnya yang kecokelatan dan bau matahari membuat Sha tak ingin berlama-lama menatapnya. Sha merasa ngeri.

Kembali pada angkot oranye yang Sha tumpangi. Setelah lampu merah, angkot tersebut agak mempercepat lajunya. Tapi kembali berjalan perlahan menjelang halte. Keempat penumpang hanya bisa mendesah kecewa dan bosan. Dari ekor matanya, Sha melihat pemuda itu masih menatapnya sambil tersenyum.

Uh, maunya apa sih?

Baca Juga: Teaser Novel Aisfa Karya Mellyana Dhian di Cabaca.id

"Bu Ruuuuum!" teriak Sha berlebihan.

Sha mengempaskan tubuhnya ke atas sofa marun di ruang tamu. Setelah harus mengerjakan tugas ospek yang macam-macam dan menghadapi kakak kelas yang 'sok senior', Sha merasa lelah. Belum lagi perjalanan pulangnya panas dan gerah. Sha harus berjibaku dengan asap kendaraan dan rokok, ditambah bertemu dengan preman kerempeng itu. Tiba di rumahnya yang adem, dia merasa lega.

Seorang wanita paruh baya berlari kecil menghampiri Sha. "Haduuuh, Sakinah udah datang," ucap Bu Rumi heboh. "Sendirian? Kirain dijemput Amih. Pantesan lama." Bu Rumi duduk di hadapan Sha.

Sha mengerucutkan bibir mendengar panggilan Bu Rumi padanya. Dia tak suka dipanggil Sakinah. Tapi Bu Rumi tetap saja memanggil namanya dengan Sakinah. "Si Amih seperti biasa, sibuk sama kerjaannya," jawab Sha bete.

Bu Rumi tersenyum maklum. "Gih, ganti baju trus makan. Nasi sama lauknya sudah ada di meja makan. Bu Rumi mau SMS-an sama si Akang dulu, ya." Bu Rumi berdiri dan melambai pada Sakinah.

"Deuh, yang sedang diterjang badai rindu. Makanya si Akangnya suruh pindah ke sini!" ledek Sha setengah berteriak pada Bu Rumi.

Si Akang yang dimaksud adalah suami Bu Rumi di kampung. Empang dan ternak ayamnya yang butuh dikelola membuat suami Bu Rumi tidak bisa turut bekerja dengan istrinya di rumah Rustam Anwar, ayah Sha.

Sha masih malas beranjak. Ruang tamu yang adem sungguh membuatnya lembam. Tepat di hadapannya terdapat cermin besar, memantulkan hiasan guci dan kristal berbagai model dan ukuran. Cermin itu juga memantulkan sosok Sha yang tengah duduk di atas sofa.

Menyadari bayangannya di cermin, Sha terbelalak dan mengerjap tak percaya. Dengan posisi duduk seperti di angkot tadi, kaus kaki tebal yang dipakainya rupanya tak sempurna menutup setengah betisnya. Rok seragam SMP yang mulai ngatung pun luput menutup sampai mata kaki. Alhasil kulit kakinya terlihat. Pantas saja preman tadi senyam-senyum sambil melihat ke bawah. Betisnya tersingkap!

Arghhh!

Sha mengerang kesal, sempurnalah ke-bete-annya hari ini. Sudahlah di sekolah harus mengikuti perintah kakak kelas yang aneh-aneh, ospek seminggu serasa enggak selesai-selesai, lalu di angkot dia harus bertemu dengan preman yang enggak banget. Sha hanya bisa menutupi wajahnya dengan kesal. Apa yang ada di pikiran preman tadi saat melihat kakinya? Uhh, tidak tahukah preman itu kalau kaki itu aurat perempuan? Seharusnya dia nunduk atau memalingkan wajah, bukannya ngelihatin sambil senyam-senyum.

Dengan asal Sha melepas kerudungnya dan berjalan gontai menuju meja makan.

“Eiiit .… Cuci tangan dulu, Sha. Seneng, yaa, makan ditemenin kuman,” teriak Bu Rumi dari arah dapur.

Bu Rumi ini cerewetnya melebihi Amih. Tapi Sha sudah terbiasa. Baginya Bu Rumi seperti ibu kedua. Masih dengan gontai Sha menuju wastafel dan mencuci tangan. Kejadian dengan preman tadi semakin membuat mood-nya terjun bebas. Kembali ke meja makan, sudah ada balado terong dan orek teri di hadapannya. Dengan sendok Sha mulai menyuapkan makan siangnya. Balado seperti ini lebih enak dimakan langsung dengan tangan kosong, tapi Sha sedang tak ingin mengotori  tangan.

Suapan demi suapan Sha nikmati. Dia tersenyum, Bu Rumi memang the best. Masakannya juara.

Makan sudah, setelah ganti baju Sha memutuskan untuk tidur siang. Semoga setelah bangun nanti dia bisa melupakan preman itu selama-lamanya.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Finding My Sirius di Cabaca.id

Apakah mantan preman punya masa depan? Apakah kesalahan membuatnya tak bisa mendapatkan rumah tangga sakinah? Kalau kamu suka baca novel islami, Menanti Sakinah wajib dibaca di Cabaca.

Suka baca novel gratis? Gak ada salahnya pakai aplikasi Cabaca terutama tiap pukul 21.00 sampai pkl 22.00 WIB. Soalnya kebetulan ada Jam Baca Nasional alias Happy Hournya Cabaca. Pada jam itu semua bisa baca gratis tanpa kerang dan pastinya legal! Nah, buat apa download pdf novel kan? Selain itu, yuk lakukan misi kerang supaya bisa baca gratis kapan aja di Cabaca!

Selama jam istimewa ini baca novel jadi GRATIS 100% di Cabaca!