Teaser Novel Meet Me in Athens di Cabaca – Kesibukan di bandara tak mengusik Nathan selepas keluar dari pesawat. Seakan sudah jadi rutinitas, pemuda itu melewati pemeriksaan, mengambil koper dan ransel, lalu melangkah cepat menuju jalan keluar. Nathan menunggu taksi yang dipesan online sembari mengamati lautan manusia yang silih berganti melintas.

Apa lagi yang mau kamu perjuangkan, Nathan? Semuanya sudah berakhir.

Nathan mendengus. Harus diakui dia bertingkah seperti para tokoh protagonis novel komedi romantis yang kena patah hati berat: melarikan diri sejauh mungkin untuk melupakan masa lalu. Bedanya, tak ada skenario jatuh cinta dengan penduduk lokal atau sesama. Kunjungannya ke Yunani terdengar seperti menyiksa diri, karena semua kenangan manisnya tersimpan di sana.

“Nathan Strauss?” Seorang pria tambun berkumis membuka jendela taksi. “Nate?”

“Ilias?” Nathan menurunkan kacamata hitamnya untuk memastikan sejenak. “Hei, bukannya kamu bekerja di kedai Giorgos?”

“Ceritanya panjang. Masuk dulu. Giorgos dan Dafni menunggu di rumah.”

Perjalanan menuju Elpida, penginapan yang Nathan tempati setiap bertamu ke Athena, lebih lambat dibandingkan biasanya. Dari balik jendela, Nathan mengamati para wisatawan menyemuti kafe dan restoran tradisional; mengambil foto dalam berbagai pose untuk diunggah ke media sosial. Sejumlah pasangan pun bergandengan di sepanjang trotoar tanpa ragu berbagi kemesraan.

Nathan melengos; mencegah pemandangan tadi menggarami luka lamanya.

Kepadatan semakin terasa saat mereka hendak melewati Monastiraki. Syukurnya, Ilias hafal jalan-jalan pintas, sehingga dalam hitungan menit, mereka tiba di rumah berlantai dua. Bugenvil yang tumbuh di depannya merekahkan bunga-bunga berwarna ungu; mengimbangi warna putih dari cat tembok bangunan.

“Nathan!” Seorang perempuan paruh baya menghambur dari dalam rumah. Aroma rempah dan matahari langsung menyambut kala sosok itu memeluk Nathan. “Kamu datang di waktu yang tepat. Aku sedang mempersiapkan bahan-bahan makan malam.”

“Apa aku boleh bergabung, Dafni?” celetuk Ilias saat mengeluarkan koper Nathan dari bagasi.

“Ya, ya, tapi tolong kabari Giorgos dulu kalau Nathan sudah datang.”

Seperti biasa, Dafni tak memberikan jeda bagi Nathan untuk bicara. Berbagai kisah keluar dari bibirnya hingga gelungan rambutnya bergoyang saat tertawa. Dafni adalah wujud musim panas sesungguhnya bagi Nathan: sosok yang mampu memancarkan sekaligus menularkan keceriaan pada siapa saja yang ditemuinya.

“Kamarmu.” Dafni menyerahkan kunci. “Kebutuhan yang kamu minta juga sudah tersedia. Selamat beristirahat.”

“Terima kasih, Dafni.”

Satu lagi yang membuat Nathan memilih Elpida sebagai tempatnya bermalam: Dafni tak pernah mengungkit kenangan-kenangan buruknya meski perempuan itu menyaksikan keterpurukan Nathan setahun lalu.

Baca Juga: Teaser Novel Fears Karya Taalita di Cabaca

Jangan menangis. Jangan menangis.

Widha mengerjap semakin cepat. Luapan emosinya kian menjadi begitu matanya membaca tulisan dalam bahasa Yunani di sekitarnya. Percakapan lintas bahasa dari sejumlah turis pun meyakinkan Widha kalau dia telah menginjakkan kaki di Kota Para Dewa.

Setelah menemukan bangku kosong, Widha menenangkan diri dari antusiasme dan kecemasan yang menyerangnya selama belasan jam di udara. Gadis itu lantas memeriksa daftar hal yang harus dilakukan setibanya di bandara. Mengecek barang-barang bawaan dan menukar mata uang sudah dilakukan. Dia juga perlu mencari provider lokal meski nomor telepon utamanya bisa aktif di luar negeri.

Satu hal penting yang harus segera Widha lakukan adalah menemukan kendaraan menuju penginapan.

Jam hampir menunjukkan pukul enam petang, tetapi matahari belum meluncur ke ufuk barat. Kerumunan di sekitar jalan keluar pun kian memadat. Paket data ponselnya tak memungkinkan Widha memesan taksi lewat aplikasi. Mau tak mau, dia menggunakan taksi biasa untuk menghindari peluang tersesat pada kunjungan perdananya ke Athena.

Kalispera(Selamat malam/good evening),” sapa Widha saat memasuki taksi yang dia hentikan. “Antarkan saya ke penginapan—sebentar.” Kemudian, dia menyerahkan secarik kertas pada sopir.

Sang sopir membaca alamat pada kertas, lalu melirik Widha. “Signomi, milatay Ellenika?( Maaf, apa Anda bisa berbahasa Yunani?)”

Kumpulan kosakata dan frasa dalam bahasa Yunani dalam ingatan Widha berhamburan. Dia memahami pertanyaan sang sopir, tetapi bimbang harus menjawab apa.

Menangkap kebingungan dari roman penumpangnya, sang sopir lantas melanjutkan, “Tidak apa-apa, Nona. Saya bisa bahasa Inggris juga meski tak terlalu lancar.”

Widha tersenyum kikuk menanggapinya.

Athena kian ramai mendekati makan malam. Widha memanfaatkan momen tersebut untuk mengambil sejumlah foto yang nantinya akan diunggah ke Instagram—salah satu permintaan penyelenggara kompetisi menulis kepada pemenang yang wajib dipenuhi. Malah Widha sudah membayangkan kerangka tulisan yang bakal dinaikkan ke blog pribadi.

“Nona,” sopirnya memanggil, “saya tidak bisa mengantar sampai alamat yang dituju. Aksesnya tertutup dan ada banyak kendaraan yang mengambil jalan alternatif.”

Oh, sial. “Apa tempatnya masih jauh dari sini?”

“Syukurnya tidak. Anda lihat kedai di seberang jalan itu? Jalan lurus sampai ujung, lalu belok ke kiri. Ada plang nama penginapan yang bisa Anda temukan di blok itu.”

“Baiklah.” Widha menyerahkan ongkosnya. “Efharisto(Terima kasih).”

Enjoy your stay,” ujar sang sopir sebelum berputar ke rute semula.

***

Cepat-cepat, Widha memeriksa lagi koper dan ranselnya. Aman. Gadis itu hendak melanjutkan perjalanan kala menyadari bangunan-bangunan di sekitarnya terasa familier. Toko-toko cendera mata tradisional. Deretan kafe yang menjajakan penganan khas Yunani. Bookstore tua. Penjual kaki lima.

“Monastiraki,” gumam Widha. “Monastiraki.”

Matanya memanas lagi. Bukan waktu yang tepat untuk terbawa emosi, apalagi saat tubuhnya membutuhkan istirahat. Widha menengadah; menahan aliran air mata yang siap tumpah, lalu mengambil napas panjang dan melepasnya beberapa kali. Konsentrasi, batinnya. Bersikap normal.

Kedai yang dimaksud sopir taksi tadi merupakan coffeeshop yang menyuguhkan berbagai minuman dan camilan buatan rumah. Widha memotret momen-momen memukau di tempat tersebut, lalu menyusuri jalan kecil ke arah penginapan. Obrolan yang berbaur bersama aroma masakan dan denting alat makan menciptakan harmoni musim panas yang selama ini hanya Widha bayangkan saat membaca buku.

Dia bersedia terjebak dalam keindahan ini untuk waktu yang lama.

Akan tetapi, sebelum sampai ke ujung jalan, insting Widha berkata bila dirinya sedang diikuti. Gadis itu berhenti, lalu memindai sekitar. Para wisatawan dan penduduk lokal tampak menikmati malam mereka. Tak ada yang mencurigakan. Mungkin isyarat tadi adalah gejala kelelahan lain yang diteriakkan tubuhnya agar cepat-cepat mencapai tujuan.

Maka, ditariknya koper dan dipercepatnya langkah menuju penginapan. Keramaian di belakangnya berangsur menjauh. Di hadapannya, terbentang blok baru yang lebih lengang. Widha menoleh ke kanan dan kiri, lalu menemukan plang nama yang dicari.

Kelegaan membanjiri Widha. Namun, saat hendak berbalik, gadis itu tak awas hingga bertubrukan dengan seseorang dari jalan kecil tempatnya datang. Keduanya mundur beberapa langkah sembari mengaduh. Widha membetulkan letak kacamata, lalu menghampiri pria yang ditabrak.

“Maaf, maaf,” katanya. “Ada yang terluka?”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel My Complicated Lecturer di Cabaca

Athena jadi pilihan Nathan untuk menghapus rasa sakitnya. Sedangkan Widha pergi ke Athena sebagai hadiah untuk diri sendiri. Baca yuk novel Meet Me in Athens versi terbaru di Cabaca. Download aplikasi Cabaca di HP kamu hanya di Play Store.

Berhenti download pdf novel ilegal, jangan lagi sebarkan linknya! Cukup pakai aplikasi baca novel online Indonesia kayak Cabaca. Kita difasilitasi Jam Baca Nasional setiap pukul 21.00 - 22.00 WIB untuk baca novel gratis 100%. Mau baca novel online lebih leluasa? Kita bisa Top up kerang hanya dengan Rp5 ribu aja, via e-wallet. Install aplikasi Cabaca di HP kamu yuk!