Novel Marry You di Cabaca.id – RANIA baru akan mengakhiri rapat malam itu ketika ponsel Lily berbunyi. Lagu Akad milik Payung Teduh langsung memenuhi ruang rapat.

Bila nanti saatnya telah tiba.

Kuingin kau menjadi istriku.

Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan…

Mendadak semua yang ingin diucapkan Rania macet. Otaknya berhenti bekerja. Dan demi Tuhan, dia menggerutu.

Rania kesal bukan karena Lily langsung ngacir menjawab panggilan di ponselnya atau karena larangan tidak boleh menyalakan ponsel saat rapat berlangsung yang tidak dipatuhi oleh Lily. Tapi karena lagu di ponsel perempuan berambut bob itu.

Tidak bisakah Lily memilih lagu lain sebagai nada dering?

Rania sudah bosan setengah mampus mendengar lagu Akad itu diputar. Dia bisa mendengarnya hampir setiap hari. Di mal, di restoran, bahkan di ruang rapat hotel tempatnya bekerja ini.

Seharusnya Lily mengganti nada deringnya dengan lagu pop lain atau rock, atau dangdut sekalian. Mengingat tidak ada yang istimewa pada lagu Akad tersebut.

Rania juga tidak mengerti mengapa kaum hawa di negara berkembang ini langsung baper begitu mendengarnya. Setahunya lagu itu tentang lelaki yang ingin menikahi seorang perempuan. Tidak ada yang istimewa. Atau karena dia tidak menginginkan pernikahan?

Lily kembali tidak lama setelah menjawab panggilan di ponselnya. Sambil menarik kursi di sebelah Rania dan duduk, dia bergumam pelan, “Maaf.”

Rania menghela napas panjang sebelum berkata, “Ok. Kita lanjutkan rapat persiapan acara ulang tahun Jonathan besok pagi. Dan jangan lupa, no phone during meeting.” Dia mendelik ke arah Lily yang nyengir lebar.

Arfi, supervisor kitchen dan Ria salah satu chef Alamanda segera meninggalkan ruang rapat. Sementara Rania dan Lily masih bertahan di ruang rapat. Rania tampak sibuk merapikan buku catatan, pulpen, dan memasukkannya ke tas. Terakhir dia mematikan laptop.

Lily memerhatikan perempuan berambut hitam panjang bergelombang di sebelahnya itu dengan cengiran lebar, “Nia, maafin gue. Tadi telepon dari adek gue. Lo tau kan kalau dia mau nikah dan gue yang mengurus semua persiapannya?” Nada bicara Lily hati-hati. Dia khawatir Rania akan marah meski sudah terlihat jelas dari wajah perempuan itu yang kini kusut seperti pakaian belum disetrika.  

“Oh. Gak apa, Lily. Gue tahu lo lagi sibuk. Semoga nikahan adek lo lancar,” balas Rania. Dia menoleh seolah baru menyadari kehadiran Lily di kursi sebelah.

Sebenarnya Rania ingin mengatakan betapa menyebalkannya mendengar lagu Akad dan menyarankan Lily agar mengganti nada dering di ponselnya dengan lagu baby shark. Tetapi dia tidak mengatakan itu.

“Syukurlah. Gue juga berharap nikahan adek gue lancar,” kata Lily. “Omong-omong, apa persiapan acara ulang tahun Jonathan sudah seratus persen?”

“Belum seratus persen. Lelaki tua itu bisa merubah jadwal dan tempat acara. Untuk hidangan kita bisa menambahkan beberapa.” Rania meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sejak pagi dia terus bekerja mempersiapkan acara ulang tahun pemilik Hotel The Orchard International itu yang akan dirayakan minggu depan.

Sebagai manajer bagian food and beverage hotel, Rania bertanggung jawab penuh pada kelangsungan acara. Dia tahu Jonathan bukan tipikal lelaki ramah yang akan memaafkan karyawannya dengan mudah jika melakukan kesalahan.

Lelaki keturunan Tionghoa berusia 58 tahun kurang satu minggu itu tidak akan segan memecat karyawannya. Dan Rania tidak ingin repot-repot kehilangan mata pencariannya selama delapan tahun ini hanya karena tidak becus mengurus acara ulang tahun yang konyol itu.

Padahal, jika dipikir Jonathan bisa merayakan ulang tahunnya bersama keluarga besar di luar negeri atau di tempat yang lebih mewah ketimbang di hotel berbintang lima miliknya ini. Lelaki itu punya banyak uang yang bisa dia habiskan sampai tujuh turunan.

Barang kali Jonathan pikir dengan merayakan acara di hotel, dia bisa mencari kesalahan para karyawan dan langsung memecatnya. Sembari menyelam minum air. Dengan begitu, dia bisa mengurangi biaya pengeluaran yang tidak penting seperti gedung acara dan oh… gaji karyawan. Dasar pelit.

Lily mengangguk-angguk paham. Menit berikutnya dia mengikuti Rania yang bangkit dari kursi. Sebelum Rania meninggalkan ruang rapat, Lily mengatakan, “Lo datang ya nanti ke nikahan adek gue dua minggu lagi.”

Rania yang berdiri di ambang pintu langsung tegang. Peregangan pada ototnya tadi tampaknya tidak berfungsi dengan baik setelah mendengar kata ‘nikahan’. “Kenapa gue harus datang?” tanyanya.

“Lo kan teman baik gue,” jelas Lily. Mereka sudah berteman baik sejak lima tahun belakangan ini, tepatnya sejak pertama kali Lily dipindahkan ke bagian food and beverage.

Sampai sekarang menjadi supervisor food and beverange, Lily semakin akrab dengan Rania. “Gue sebenarnya pingin lo jadi salah satu pengiring pengantin adek gue juga,” lanjut Lily.

Mendengar itu Rania tertawa hambar. Wajahnya semakin kaku. “Gue? Pengiring pengantin adek lo?”

Lily mengerutkan kening. “Kenapa? Jangan bilang kalau lo kerja juga hari minggu.” Hanya karyawan di front line hotel yang tidak libur pada hari minggu.

Rania langsung panik. Dia sendiri anti datang ke acara pernikahan. Apalagi menjadi pengiring pengantin. Seperti saat Bima, sepupunya menikah dia berpura-pura terkena cacar. Atau setiap kali teman-teman SMA mengundangnya ke acara pernikahan dia akan beralasan sedang di luar kota. Pokoknya, yang penting tidak datang.

Pernikahan seperti momok menakutkan bagi Rania. Wabah penyakit menular. Konon, para bujangan yang datang ke acara pernikahan sama dengan menjemput jodohnya. Dan Rania tidak menginginkan itu.

Marriage is such a bullshit, so is love.

Seumur hidup Rania berkomitmen untuk tidak jatuh cinta dengan lelaki mana pun apalagi menikah. Amit-amit.

“Gue gak bisa, Li. Soalnya gue ada janji ngumpul bareng keluarga,” tukas Rania. Meski seingatnya terakhir kali mengikuti acara kumpul keluarga dua tahun lalu.

Lily mengerucutkan bibirnya. Saat dia akan berbicara, Rania terlebih dulu membuka mulut. “Udah malam. Gue cabut duluan ya, Li. Ketemu besok pagi. Bye.

Baca Juga: Teaser Novel Inside You Somewhere di Cabaca

Pukul sepuluh malam Rania baru sampai di apartemennya di daerah Jakarta Selatan. Dia menaruh tas, kunci mobil, dan laptop di meja, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.

Di lorong tadi Rania sempat bertemu Lita, perempuan paruh baya yang tinggal di sebelah apartemennya. Perempuan itu mengatakan ada seorang lelaki muda menunggunya pulang sejak sore tadi. Lelaki itu sekarang sudah pergi. Aneh.

Semula Rania pikir lelaki itu adalah Rian, kakak tirinya yang sekarang tinggal bersama ayah. Paling-paling Rian ingin memberitahu kabar ayahnya. Masa bodoh. Dia tidak ingin mendengar apa pun yang berkaitan dengan lelaki itu lagi. Tapi Lita bersikeras kalau lelaki yang menunggu Rania bukan Rian yang pernah dia lihat.

“Dia lebih tinggi dari Rian. Punggungnya lebar. Wajahnya tidak terlalu jelas karena memakai topi baseball hitam dan dia bilang menunggumu,” ujar Lita mencoba mengingat. Matanya menerawang.

Rania yang sudah lelah lantas mengucapkan terima kasih kepada Lita karena sudah memberitahunya sebelum dia masuk ke apartemennya. Dia terlalu malas menebak siapa lelaki itu. Kalau ada hal penting yang ingin disampaikan, lelaki itu akan datang lagi, pikirnya.

Sambil menyandarkan bahunya di sandaran sofa, Rania mengangkat kedua kakinya ke meja. Rambutnya yang panjang diikat asal-asalan. Kemeja kerjanya dengan motif garis masih menempel di badan. Dia bahkan tidak berniat mandi.

Pekerjaannya hari ini benar-benar melelahkan. Belum lagi permintaan konyol Lily yang nyaris membuatnya hampir mati.  Yang benar saja, menjadi pengiring pengantin? Beruntung dia bisa kabur sebelum Lily protes.

Rania mengambil ponselnya di tas, lalu menyalakan perangkat elektronik tersebut. Dia membaca satu per satu pesan masuk di Whatsapp setelah seharian penuh dia tidak membuka ponselnya. Matanya langsung membelalak begitu melihat dua puluh pesan dari Alia yang memintanya untuk mengaktifkan ponsel.

“Ya Tuhan…” Rania buru-buru menelepon Alia. Dia khawatir persahabatannya dengan perempuan itu yang sudah terjalin sejak SD berakhir hanya karena dia tidak mengaktifkan ponselnya.    

Dengan cemas Rania menunggu Alia menjawab panggilan. Dia menegakkan tubuhnya di sofa. Kakinya turun dari meja. Sampai beberapa menit kemudian suara Alia terdengar di ujung sambungan. “Halo.”

Rania bernapas lega.

“Sori, Lia. Gue tadi sibuk di hotel. Lo gak marah, kan? Ada yang bisa gue bantu? Abah baik-baik aja, kan?”

Alia tertawa. “Kamu kalau ngomong pelan-pelan dong, Nia. Everything is fine. Abah sehat. Kamu sibuk banget sampai gak bisa dihubungin.”

Hati Rania mencelos. “Sori.” Lagi-lagi dia meminta maaf. “Gue sibuk karena  Jonathan bakal ngadain acara ulang tahunnya di hotel. You know, my Big Boss.”

“Aku mengerti. Aku cuma mau kasih tau kalau dua minggu lagi aku bakal married.”

Perlu beberapa detik bagi Rania untuk memproses kata-kata Alia barusan sebelum dia berkata, “Married?”

“Ya. Nikah. Aku akan menikah dengan Fadli dua minggu lagi.” Alia terlalu bersemangat sampai suaranya naik satu oktaf.

“Oh... wow selamat.” Rania memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. Nada bicaranya datar.  Tidak tahu harus bagaimana memberi respons. Perasaannya jadi tidak nyaman.

Rania senang Alia akhirnya menikah setelah lima tahun pacaran dengan lelaki bernama Fadli itu. Namun di lain pihak, dia kecewa dengan keputusan Alia. Kenapa sih semua orang ingin menikah?

Thanks,” balas Alia. Hening sesaat sebelum dia melanjutkan, "Nia... aku mau kamu jadi pengiring pengantinku nanti."

“HAAAAH.” Hanya itu yang bisa dikatakan Rania. Dia tidak menyangka ini akan terjadi. Setelah Lily sekarang Alia.

“Kamu baik-baik saja? Aku ada salah ngomong?” Nada bicara Alia terdengar cemas.

Rania membersihkan tenggorokannya yang terasa kering, mengatasi kepanikannya sebelum mengatakan,“Gue baik-baik aja.” Dia berdoa dalam hati agar Alia menyerah memintanya menjadi pengiring pengantin. Tidak ada yang lebih mengerikan daripada itu. Dan kali ini akan lebih sulit menolak permintaan Alia ketimbang Lily. ”Emm…tapi gue gak bisa.”

“Kenapa? Apa karena rumah aku di Samarinda? Terlalu jauh? Kamu kan dulu tinggal di sini. Abah nanyain kamu terus loh kapan Rania kembali ke sini kata beliau.”

Rania masih mengingat jelas bagaimana dia menghabiskan masa kecilnya di Kota Tepian tersebut. Dari umur enam tahun sampai sebelas tahun, dia tinggal bersama Bibi Inah di seberang rumah Alia. Lalu abah yang sudah seperti ayah kandungnya itu selalu mengantarnya ke sekolah dengan angkot. Ah, dia merindukan lelaki itu.

Tetapi sumpah alasan utama Rania enggan pergi bukan karena jarak. Dan dia tidak bisa mengatakannya pada Alia. Sahabatnya itu akan menertawakannya.

“Atau kamu takut Gembul bakal ganggu kamu lagi? Dia udah pindah ke Sangatta.”

Rania mendengkus. Anak lelaki bertubuh tambun itu sepertinya menyimpan dendam pribadi padanya. Entah kenapa Gembul selalu menarik rambutnya, menaruh kerikil ke tasnya sampai beberapa kali menghilangkan sendalnya setiap kali dia bermain ke rumah Alia dulu.

Tidak banyak yang Rania ketahui tentang Gembul setelah dia kembali ke Jakarta. Dia juga tidak pernah bertemu dengan Gembul lagi. Kecuali sesekali Alia bercerita soal kakak lelakinya itu yang berat badannya belum juga menyusut.  

Gembul yang kini sudah berusia 30 tahun masih gendut dan belum menikah.

Rania jadi geli sendiri membayangkan bagaimana jadinya kalau Gembul menikah. Memangnya ada perempuan yang sudi menjadi istri lelaki gendut seperi Gembul? Ini pasti kutukan karena Gembul selalu menjahilinya.

“Nia… kamu masih di sana?” Suara Alia terdengar lagi, menyadarkan lamunan Rania.

“Masih… gue masih di sini. Tapi gue beneran gak bisa, Lia. Pertama, gue sibuk menyiapkan acara ulang tahun Jonathan. Kedua, Jonathan pasti gak bakal kasih izin gue buat cuti. Dan ketiga, gue lembur di hari nikahan lo.” Tidak ada yang bisa dilakukan Rania kecuali berbohong.

“Sayang sekali,” balas Alia. Dia tertawa, “Sayang sekali karena kamu tetap akan datang ke nikahanku.”

“Wait… what?”

“Aku baru saja memesan tiket pesawat untukmu. Berangkat besok lusa. Jam sepuluh pagi dari Bandara Halim. Aku jemput kamu di Bandara Pranoto. Kamu gak datang atau persahabatan kita putus.”

“Lia, lo gak bisa kayak gini. Lia…”

Tanpa memberi Rania kesempatan untuk bicara lagi, Alia langsung mematikan ponselnya.

“Shit.”

Baca Juga: Sayangnya... Kamu Anti K-Pop

Kamu bisa baca novel gratis tanpa download novel gratis yang ilegal hanya dengan install aplikasi Cabaca di Play Store!

Tiap hari bisa baca novel gratis dengan install aplikasi Cabaca di HP kamu!