Novel Lust of Desire di Cabaca.id Menyerah pada keintiman malam yang dingin. Dalam ciuman mesra, pria dan wanita itu menyalurkan hasrat birahinya. Air shower hangat mengucur pelan membasahi tubuh telanjang mereka. Desah demi desah napas mereka saling menyusul. Lidah-lidah mereka sibuk beradu. Tangan-tangan mereka saling bergelut, menempelkan kulit hangat, licin dan basah. Ruang sempit itu seolah tidak membiarkan mereka untuk lepas barang sedetikpun.

"Kangen banget sama lo, Lan..." kata wanita itu lembut saat menatap mata tajam sang pria sembari mengusap rambut basah itu.

Pria itu hanya memandang teduh wajah cantik wanita itu. Ia tersenyum lebar sambil mengangguk pelan. Gigi putih dan rata itu membuat jantung wanita itu semakin berdegup kencang. Belum sempat Pria itu bicara, wanita itu memejamkan matanya menggigit bibir bawahnya, berharap bibir dan lidahnya kembali dijamah.

Kesempatan yang baik itu tidak mau dilewati sang pria, ia terus menerus memberikan kehangatan pada wanita yang sudah tak berdaya oleh nafsunya sendiri. Pergulatan terjadi kembali di bawah shower. Tubuh telanjang dan basah mereka membuat hasrat semakin mengalir dalam darah.

Wanita itu adalah Aura, penyanyi sekaligus model majalah dewasa. Tubuhnya tinggi, kakinya jenjang indah, kulitnya putih dan mulus. Daya tarik para pria pada dirinya adalah payudara yang ukurannya jauh di atas normal, padat, kencang dan berisi.

Pria yang membuat Aura hanyut dalam nafsunya adalah Arlan. Pria tinggi, bertubuh atletis. Tubuh dan kulit pria itu terbentuk oleh laut dan ombak.

Semakin lama Aura semakin tidak tahan oleh gelora birahinya. Ia mengisyaratkan agar dirinya diperlakukan lebih jauh, lebih ganas, dan lebih liar. Ia membalik tubuhnya lalu sedikit membungkuk, kedua kaki jenjang di lebarkan, mengisyaratkan Arlan untuk 'memasuki' tubuhnya. Arlan mengetahui maksud itu. Dilakukannya sesuai dengan apa yang Aura sangat inginkan. Hasrat itu pun menyatu. Arlan mengerakkan pinggulnya dengan lembut, menikmati tubuh Aura saat hasrat berahi mereka menyatu.

Hanya desahan pasrah yang sanggup keluar dari mulut manis Aura. Perlakuan Arlan pada bagian privasinya membuat wanita itu mabuk kepayang. Tangannya menggapai-gapai dinding untuk menyeimbangkan tubuhnya karena kedua kaki sudah mulai lemas menahan kenikmatan.

Menit demi menit berlalu, ditandai dengan desahan panjang, Aura mencapai apa yang ia cari, puncak birahi yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Dengan sigap Arlan meraih tubuh Aura yang mengejang lalu mengentak-entak sampai lemas. Setelah Aura mengatur napas. Arlan menghadapkan wanita itu ke arahnya lalu saling berpelukan dalam kondisi lemas di tengah guyuran shower hangat yang menenangkan suasana.

Aura bersandar manja di dada bidang Arlan. Tangannya memeluk tubuh pria itu untuk mendapat keseimbangan karena kakinya seperti mati rasa. Tubuh tingginya masih bergetar menghabiskan sisa-sia kenikmatan yang tadi ia capai. Mulutnya masih menganga dan napasnya masih memburu. Dengan sabar Arlan membiarkan Aura memulihkan tenaga dalam guyuran air dan dekapan hangat.

Baca Juga: Teaser Novel RevaNye Karya Heraseyou di Cabaca.id

Angin laut berdesir pelan melewati jendela-jendela kayu yang sedikit terbuka. Udara malam menyelinap memasuki kamar utama pada rumah kecil yang indah di atas bukit. Meskipun AC terpasang, tetapi angin alam jauh lebih nikmat. Suasana rumah itu sangat teduh dan nyaman berada jauh dari peradaban manusia. Suara debur ombak di tebing bawah terdengar sayup memenuhi ruangan. Dari kamar itu laut gelap terlihat terbentang tanpa batas.

Aura sedang duduk santai bersandar pada tempat tidur Arlan. Ia malas mengenakan pakaian, karena tahu kejadian di shower pasti akan berlanjut di ranjang. Ia sibuk dengan iPad-nya sambil menunggu Arlan selesai mengurus brewoknya. Bed cover putih hanya melindungi perut sampai kakinya, sedangkan payudara besanya dibiarkan bebas terlihat.

Pintu kamar mandi terbuka, Arlan keluar hanya dengan mengenakan handuk putih. Aura tertegun akan wajah Arlan yang seperti kembali remaja.  Ditatapnya Arlan dengan pandangan nakal saat pria itu melihat tubuhnya.

Arlan hanya membalas itu dengan senyuman lembutnya. Senyuman yang membuat wanita manapun jatuh hati padanya. Ia tidak begitu memedulikan pandangan Aura, dengan santainya ia duduk, membuka iMacPro-nya dan mengecek Email.

"Sibuk, Lan?" tanya Aura gemas. "Jauh-jauh gue dateng ke sini malah lo cuekin."

"Nggak sih, lagi upload foto-foto karang yang udah mulai tumbuh di pesisir. Santai lah, Say... Malam ini kita puas-puasin," jawab Arlan santai sambil memandang monitor laptop.

"Gue nggak ngerti sama lo, Lan? Hidup lo tu enak di Jakarta, bisa nidurin siapa aja, bisa dugem sana-sini. Usaha almarhum bokap lo sukses. Lo malah milih hidup di pulau gini. Emang kasus lo di Jakarta berat banget ya sampai lo harus kabur ke pulau ini?"

Arlan tertawa kecil saat mendengar pertanyaan Aura. Ia membalikkan badan lalu menatap Aura dengan pandangan teduh. "Masalah kasus sih, sedang proses. Keadaan pemerintahan belum betul-betul stabil. Lagian gue suka di sini, Ra, tempatnya tenang, orangnya ramah. Gue banyak belajar semenjak bokap nggak ada. Di sini juga internet udah masuk, jadi mau usaha apa di sini lancar. Dulu pulau ini nggak ada penghuninya, tapi besar banget. Akhirnya semenjak tol laut ada, ini jadi tempat strategis. Yah, terus om nyuruh gue untuk ngembangin bisnis ikan kaleng di sini. Cuman karangnya dulu sempat kena bom jadi rusak." Arlan berpaling sejenak untuk mengecek progress upload-nya yang masih berjalan di angka 58%.

"Untuk ikan hidup mereka butuh makan plankton, terus plankton butuh terumbu karang. Nah itu yang lagi di kembangin di sini. Bantuan banyak banget yang ngasih, mereka tahu Indonesia potensi lautnya besar sekali." Arlan menatap monitor lalu menutup emailnya karena foto-foto sudah selesai ter-upload.

"Oh, iya! Gue sampai lupa lo dulu kuliah Biologi kelautan. Terus lo dapet duit dari mana buat ngembangin ini semua?"

"Dari usaha almarhum bokap, trus om modalin gue buat ginian. Kemarin gue baru beliin kapal nelayan sama ekspedisi. Untung di bagi dua. Btw, hebat juga lo bisa nemuin gue di sini."

Aura tertunduk malu sambil tersenyum. "Ga itu juga kalik, mana mungkin gue lupa sama 'rasa' lo. Di sini lo 'main' sama siapa? Masih ganas aja lo kaya dulu."

"Ga ada." Arlan menggeleng "Di sini gue belajar banyak tentang hidup. Kebanyakan orang di pulau ini berasal dari daerah-daerah Indonesia dan mancanegara. Ga ada orang aslinya, jadi kami semua tukar budaya, tukar cerita, dan hidup itu ternyata simpel banget."

"Uda jadi filusuf, Pak!?" Aura tertawa. Disambut dengan tawa kecil Arlan.

"Ngaco lo, gimana, lo mau balik ke hotel ato nginep sini? Takutnya nanti manager lo gosipin yang nggak-nggak lagi. Kan lo makin terkenal."

"Halah, gue mah biasa sama gosip begituan. Urusan apa mereka ganggu hidup gue? Seneng-seneng gue, susah-susah gue. Manager gue yang ini mah nggak peduli sama yang gituan."

Arlan tersenyum mendengar perkataan Aura. Ia langsung berdiri dan berjalan ke arah ranjang. Jantung wanita itu sudah mulai berdegup kencang lagi. Sama seperti di shower, kini ia yakin akan merasakan kembali tubuh gagah sang pria pemuas nafsunya.

Aura termasuk cewek yang mempunyai tinggi badan model yaitu 171 cm. Namun tinggi badan Arlan 14 cm berada di atas Aura, yaitu 185 cm, tubuh Arlan pun besar dan berotot. Otot alami yang dibentuk oleh air, sering menyelam, berenang, snorkeling, beladiri dan pelatihan militer kelautan. Tubuh yang membuat Aura panas dingin saat berada di dalam dekapannya yang hangat.

Arlan membuka handuk pelindung tubuh satu-satunya. Disusulnya wanita itu di balik bed cover hangat, lalu dirangkulnya. Aura pasrah kemudian memeluk tubuh Arlan dan bersandar manja pada dada pria itu. Dielusnya kulit licin Arlan yang berwarna coklat muda, tidak terlalu putih dan juga tidak terlalu gelap. Warna kulit alami dari panggangan sinar matahari. Detak jantung Arlan didengarnya pelan, dan sejenak mereka berdua larut dalam kesunyian.

Sampai mata itu saling menatap dan bibir bertemu. Posisi sudah mulai berubah, dengan pasrah Aura merebahkan diri di bantal yang empuk selagi beradu lidah dengan Arlan. Dilingkarkannya lengan Aura pada leher kokoh Arlan dan dibalaskan dengan pelukan tangan berotot pria itu. Sehingga tubuh mereka menyatu. Dengan lembut Arlan menusuri leher jenjang Aura dengan bibir, yang membuat bulu kunduk wanita itu bergidik. Aura terlentang pasrah, posisinya dikunci oleh keperkasaan Arlan, seolah tidak diberikannya ruang untuk bergerak. Aura hanya mendesah tak terkendali di mana Arlan mulai memainkan lidahnya di belakang telinga wanita itu dengan ganas.

"Apa gue harus keluar nyari tameng? Soalnya males nyabut pas lagi enak," bisik Arlan yang tiba-tiba menghentikan serangannya.

"Iya gue tau, lo seneng buang di dalem. Ga usah nyari tameng, gue udah bawa pil. Keluarin sepuasnya kalo lo mau. Jangan sisain..." Aura mengelus kepala Arlan sambil menatap lembut. Arlan hanya menatap enggan sambil tersenyum kecil. "Gue tau kita nggak mungkin pacaran, karier gue, penggemar gue."

"Sorry, Ra, gue masi pingin kerja, dan masalah itu, lo tau kan kelu—" Kata-kata Arlan terpotong saat jari telunjuk Aura menempel pada bibir Arlan.

"Ssttt..." Aura tersenyum "Gue tau, Lan, dan gue bisa jaga rahasia, kita semua punya masalah, malem ini kita puas-puasin. Soalnya kita nggak tau kapan lagi bisa gini."

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Seks Bukan Hal Tabu! Ini 7 Novel Dewasa di Cabaca yang Bisa Buat Pelajaran

Hidup Ayu hancur. Tak mau jadi bayaran judi, ia kabur dan nyaris diperkosa. Baginya, Arlan adalah penyelesaian terindahnya... Tapi apakah harus dalam wujud keintiman? Novel paling hot, Lust of Desire, bisa dibaca GRATIS tiap hari di Cabaca!

Baca novel sekarang bisa online di Cabaca. Udah LEGAL, GRATIS pula! Makanya, gak perlu lagi cari pdf novel bajakan. Selama telaten lakukan misi kerang atau bacanya pas pada Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca, yakni pukul 21.00 sampai 22.00 WIB SETIAP HARI. Jangan lupa, pakai aplikasi Cabaca dan baca karya dari penulis Indonesia!

Baca sebelum tidur, GRATIS! Hanya di Cabaca yang bisa begini.