Novel Latamaaosandi di Cabaca.id Ketidakhadiran matahari dua minggu belakangan ini cukup membuat warga kabuyutan Gogik resah. Mendung yang berkepanjangan bukanlah pertanda yang baik.

“Semalam aku dengar desa sebelah diserang oleh kawanan penyamun, untungnya tidak ada korban jiwa satu pun.”

Masih tak ada sahutan dari lawan bicaranya meskipun berulang kali Saniscara mengganti topik. Dia pun kembali memilah ratusan buah  mangga yang harumnya memabukkan seisi rumah. Begitu menemukan satu yang busuk, dia lempar tepat ke wajah pemuda yang sejak tadi serupa arca, mematung dan tenggelam dalam kitab usang yang dibacanya.

“Ambilkan satu yang bagus untukku.” Pemuda itu pun baru angkat bicara saat berhasil menangkap mangga busuk.

“Yang itu cukup untukmu, Kakang. Yang ini akan kujual.”

“Kamu tak akan rugi jika memberiku satu yang paling harum.”

Saniscara melempar buntalan berisi mangga yang telah disisihkan. Barulah Bhanu beranjak dari duduknya untuk menangkap buntalan itu. Dia tersenyum masam saat melihat isinya.

“Lalat pun tahu buah-buah ini telah busuk.”

Saniscara tak peduli. Dia kembali memasukkan mangga yang layak ke dalam karung. Di antaranya, diselipkan pesanan khusus dari pelanggannya. Perhiasan, selendang, belati, kain, tembikar aneka rupa hingga ramuan obat sesuai permintaan, dipisahkan dalam beberapa karung berbeda dan ditutupi dengan mangga. Saniscara tak pernah mengecewakan pelanggan yang sudah memberikan denyut kehidupan keluarga kecilnya.

“Akan kamu jual ke mana buah-buah itu?”

“Inggu.”

“Katamu semalam ada serangan dari para penyamun, apa tidak lebih baik kamu menunda perjalananmu dulu?”

“Dan membiarkan buah-buah ini membusuk? Tidak, terima kasih, Kakang.”

“Jual saja di sini. Dua hari perjalanan ke Inggu dalam kondisi seperti ini justru berbahaya. Bagaimana jika penyamun itu adalah anak buah Mangkara yang mencari mangsa?”

Diam-diam Saniscara bahagia sebab masih ada kekhawatiran di mata Bhanu. Jika bisa memilih, tentu lebih baik dia di rumah merawat ibunya. Namun, Saniscara tak cukup mampu untuk membuat segala macam ramuan untuk mempertahankan napas ibu. Hanya Bhanu yang bisa. Dan dedaunan dari alas dekat rumahnya belum mencukupi kebutuhan. Masih ada bahan yang harus ditukar dengan keping-keping tembaga.

“Mungkin ini akan membuatmu lebih tenang, Kakang. Aku berangkat bersama Dipa.”

Mendengar nama itu, Bhanu mendekat dan berjongkok di sebelah Saniscara. Sudah lama dia tidak bertemu sahabatnya. Kemari pun dia hanya meninggalkan barang-barang di belakang rumah. Barang pesanan yang akan dijualkan adiknya.

“Kenapa dia tidak datang menjemputmu?” Bhanu mengecilkan suara.

“Kenapa harus? Dia menungguku di perbatasan desa petang nanti. Aku sudah terlalu tua untuk dijemput. Memangnya aku ini kekasih atau istrinya?”

“Tetap saja itu tidak sopan.” Bhanu tidak mengerti kenapa adiknya tersipu. Dia lebih tertarik dengan hal lain daripada pipi Saniscara yang merona. “Jangan-jangan yang semalam itu ....”

“Bukan, bukan. Dia tidak terlibat,” sergah Saniscara buru-buru. Tahu apa yang ada di pikiran Bhanu. “Harusnya Kakang lebih mengenalnya. Dia selama ini bekerja sendiri.”

Bhanu tahu sahabatnya itu hanya merampok rombongan orang kaya yang sedang sial. Wilayah perburuannya pun jauh dari kabuyutan Gogik. Tetapi dalam kondisi paceklik seperti ini, kemungkinan dia melancarkan aksinya di sekitar sini tak mustahil sama sekali.

“Kamu merindukannya, Kakang? Akan kusampaikan nanti.” Saniscara menggoda kakangnya yang kembali memegang kitab. “Bantu aku dulu menaikkan barang-barang ini ke pedati atau kusobek kitab itu. Aku mau berangkat.”

Lima karung telah mengisi pedati. Lembu putih menjadi satu-satunya kawan perjalanan Saniscara selama setengah hari perjalanan ke perbatasan desa tempat dia akan bertemu Dipa. Bhanu melepas kepergian adiknya dengan waswas. Harusnya dia membiarkan Saniscara menghabiskan masa kecilnya bermain dengan teman sebayanya atau paling tidak melewatkan masa remajanya kini dengan mengandai-andai dipinang saudagar kaya seperti gadis-gadis lain. Namun, keadaan memaksa mereka hidup untuk bertahan di tengah huru-hara.

Bhanu kembali ke dalam rumah, memasuki satu-satunya kamar yang sudah menjaga ibunya selama sepuluh tahun dalam keadaan sekarat. Daging wanita paruh baya itu telah digerogoti waktu. Napasnya masih bertahan. Namun matanya tak kunjung terbuka.

Puluhan kitab pengobatan telah Bhanu pelajari. Berbagai ramuan telah dia coba. Entah sudah berapa tabib yang sudah dia panggil, tak ada satu pun yang tahu penyakit apa yang menimpa ibunya. Bhanu mengambil gelas yang telah disiapkan adiknya di sisi ranjang. Pemuda itu menegakkan kepala sang ibu di depan dadanya. Dia mulai memasukkan makanan yang telah dibuat secair mungkin agar mudah ditelan ibunya.

“Saniscara baru saja berangkat ke Inggu, Ibu. Semoga Dewata melindunginya. Andai Ibu membuka mata sedikit saja, Ibu akan lihat dia bukan lagi anak tujuh tahun yang selalu merengek minta gendong,” cerita Bhanu.

Ibu masih bisa mendengar kita, jadi tumpahkan cerita apa saja pada Ibu agar dia tahu kita tak pernah meninggalkannya, begitu pinta Saniscara pada Bhanu tiap kali dia pergi meninggalkan rumah. Dan begitulah yang selalu dilakukan Bhanu.

Dengan hati-hati, Bhanu meletakkan kembali kepala ibunya setelah menyuapi. Ada kedamaian dalam raut muka perempuan itu, tapi tidak di wajah Bhanu.

“Aku segera kembali sebelum petang, Ibu. Ada yang harus ditukar dengan berkeping-keping tembaga.”

Kelewang, jerat tali dan sumpit beracun telah Bhanu siapkan dalam keranjang bambu yang telah ditutupi dedaunan dan umbi-umbian. Keranjang itu bertengger manis di punggung Bhanu, menemani perjalanannya menuju alas yang diwingitkan penduduk sekitar.

Baca Juga: Teaser Novel Legion di Cabaca.id

Kabut malam ini menambah sunyi suasana di kabuyutan Gogik. Api dalam suluh bambu yang menempel di tiang emper maupun di pagar rumah penduduk, sama sekali tak mampu memberi penerangan. Saat seperti inilah, kelengahan penduduk dimanfaatkan.

Beberapa pria dewasa bernyali, tampak berkeliling. Berita tentang penyerangan desa tetangga tentu sudah menyebar luas. Mereka tak mau peristiwa itu juga terjadi di dukuh kecil ini.  

Bhanu belum tidur ketika mendengar percakapan para peronda yang melewati rumahnya. Asap daging kobra dengan wangi rempah menemani Bhanu yang sedang meracik bisa, darah dan empedu kobra buruannya menjadi bubuk obat. Sebagian dia sisihkan untuk persediaan ibunya, sisanya untuk mengobati orang-orang yang datang padanya.

Keadaan senyap kembali ketika para peronda itu pergi. Hingga Bhanu mampu mendengar langkah berat di atap rumah. Kelewang yang tergantung di dinding dia genggam erat. Kantong yang tergantung di pinggangnya pun telah dia isi. Bergegas dia ke kamar ibunya untuk memastikan jendela sudah terkunci. Pendengaran terus dia tajamkan.

Selang sepeminuman teh, terdengar teriakan dan suara kentongan bersahutan. Isyarat yang dipukulkan menandakan ada penyerangan atau perampokan. Rasa ingin tahu membuat Bhanu membuka sedikit jendela untuk melihat situasi di luar. Beberapa pria dewasa yang sebelumnya berpatroli di sekitar rumah Bhanu berlarian menuju ke sumber suara. Pikiran Bhanu justru membayangkan keselamatan adiknya saat ini.

“Dia bersama Dipa. Aku yakin mereka bisa menjaga diri,” katanya menenangkan diri.

Tepat saat Bhanu merasa semua sudah aman dan tak terdengar lagi keributan di luar sana, telinganya menangkap suara mencurigakan dari arah dapur. Dengan mengendap-endap, Bhanu memberanikan diri memeriksanya. Sebuah pisau meluncur ke arahnya. Beruntung Bhanu dapat menepisnya dengan kelewang.

“Maling atau genderuwo, siapa pun kisanak, aku perintahkan untuk keluar dari sini. Kami tidak memiliki barang berharga yang bisa kau ambil.”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel SAKI Karya Idha Febriana di Cabaca.id

Daun penyambung hidup, Latamaosandi, menjadi incaran semua orang. Kemampuan Bhanu meraciknya membuatnya menghilang. Sebuah novel yang membawamu menuju petualangan seru tak terduga... LATAMAOSANDI. Baca novel ini GRATIS di Cabaca atau unduh aplikasinya di Play Store.

Sekarang sudah ada solusi untuk bisa baca novel GRATIS dan legal lho. Kamu tinggal buka Cabaca saat Jam Baca Nasional setiap pukul 21.00-22.00 WIB. Atau, di luar jam itu, kamu bisa baca gratisan dengan rajin mengumpulkan kerang gratis. Tunggu apa lagi? Download aplikasi Cabaca yang ada di Google Play sekarang juga!

Selama satu jam, kamu bisa baca novel GRATIS di Cabaca tanpa kerang. Cobain ya!