Teaser Novel Josh & Aid: The Hunt of Aswang di Cabaca

Teaser Novel Josh & Aid: The Hunt of Aswang di Cabaca – Anna Rosie adalah seorang wanita muda yang sangat memperhatikan kesehatan. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah menyentuh junk food. Lemari esnya dipenuhi dengan sayuran, buah, air mineral, susu, serta smoothie yang dia buat sendiri. Tidak ada setetes alkohol pun di dalam rumahnya.

Setiap pukul 5.30 pagi, Anna keluar rumah untuk berlari. Hari ini pun tidak berbeda. Pagi itu, cuaca lebih dingin daripada biasanya karena semalaman turun hujan. Anna berlari menelusuri tepian hutan di belakang rumahnya, lalu berbelok ke arah danau, dia berhenti sejenak untuk memandangi kabut yang melayang di atas permukaan danau. Dia senang menikmati kesunyian pagi hari. Tetapi hari ini, paginya akan sangat berbeda.

Anna sudah dapat melihat tepian danau yang kelabu. Dia menambah kecepatan kakinya untuk dapat segera sampai di sana. Dia berlari menuju pohon besar tempat dia biasa berdiri menatap permukaan air, sampai kabut menghilang.

Semakin dekat jaraknya ke pohon, Anna dapat melihat ada sesuatu tergeletak di samping akar yang mencuat. Dia memicingkan mata berusaha mengenali benda tersebut, dan memperlambat lajunya. Dalam jarak sepuluh meter dia dapat mengenalinya. Sengatan hawa panas dari jemarinya merayap ke sekujur tubuh, tangannya membungkam mulutnya yang terbuka. Sesaat dia hanya terpaku memandang tubuh tak bernyawa yang tergeletak di samping akar pohon itu.

Tubuh itu dulunya adalah seorang gadis kecil memakai gaun tidur berwarna putih. Kepalanya tergolek, wajahnya tertutupi rambut. Pada bagian depan, warna merah sudah menggantikan warna putih pada gaun tidurnya. Seseorang atau sesuatu telah mengambil organ dalamnya.

Secara naluriah otak Anna memerintahkannya untuk segera menjauh dari sana. Anna berbalik dan berlari sekencangnya menjauh dari tempat itu. Bayangan mengerikan yang dilihatnya mengikuti setiap langkahnya.

Namun, makin jauh dari tempat itu, otaknya makin bekerja dengan baik. Kemudian dia berhenti, meraih ponselnya, dan menelepon polisi.

Baca Juga: Teaser Novel Majelis Rindu di Cabaca

Mountain Side High memiliki halaman luas yang rimbun. Pohon-pohon menaungi halaman berumput dengan meja dan bangku yang berjajar rapi di bawahnya. Meja dan bangku tersebut digunakan para siswa Mountain Side High untuk berkumpul di bawah bayang-bayang pohon, menghindari sinar matahari yang pada waktu-waktu tertentu sangat menyengat. Tiap pohon “dihuni” oleh sekelompok siswa tertentu yang masing-masing sudah memiliki teritori tak tertulis.

Aidan Reid terbiasa mengambil posisi duduk yang agak tersembunyi dari keramaian. Dia benci bergerombol. Kadang-kadang, dia memandang rendah manusia yang hidup dari pengakuan orang lain. Dia tidak begitu suka bergaul, terlebih lagi dengan kebanyakan anak muda yang menganggap penting status dalam pergaulan media sosial. Aidan Reid memiliki pagar tak kasatmata yang dia bangun di sekeliling dirinya, dan hanya orang-orang tertentu yang dia izinkan masuk. Salah satu orang itu adalah Joshua Dawson, pemuda jangkung dengan perawakan ramping yang memiliki sifat urakan.

Joshua Dawson sepuluh senti lebih tinggi daripada Aidan, padahal Aidan sendiri  sudah  sedikit  lebih tinggi daripada rata-rata siswa Mountain Side High. Tidak seperti Aidan yang memiliki pembawaan tenang dan pendiam, Josh lebih terlihat ramah dan terbuka. Namun, dia juga tidak banyak bergaul dengan para siswa Mountain Side High. Teman-teman Josh banyak dari kalangan di luar sekolahnya, kebanyakan berasal dari tempat-tempat agak mencurigakan yang Aidan sendiri tidak ingin tahu.

Mereka bertemu dua tahun lalu saat masih berumur lima belas tahun, setelah tanpa disengaja terlibat dalam pembasmian ghoul yang mengganggu salah satu tempat makan di pinggiran kota. Peristiwa yang mereka alami bersama itu membawa ikatan erat sampai sekarang.

Josh hanya hidup berdua dengan pamannya, seorang yeger tua. Aidan hanya mendengar cerita tentang orang tua Josh dari paman pemuda itu, sedangkan Josh sendiri tidak pernah membahasnya. Aidan pun tidak pernah bertanya.

Seperti biasa, siang itu mereka duduk bersama sambil menikmati makanan. Aidan mengeluarkan dua kantong makan siang, satu untuknya dan satu lagi untuk Josh. Mrs Reid—ibunya—selalu memaksa Aidan membawakan makan siang untuk Josh. Wanita itu ingin memastikan bahwa teman satu-satunya anak tunggalnya itu tidak kekurangan makan.

Aidan meletakkan laptop di atas meja. Sambil menyalakan laptop, dia melongok ke dalam kantong makan siang dan mengambil sandwich ukuran besar dari sana. Sambil mengunyah sandwich-nya, Aidan mulai mencari-cari hal menarik di internet. Mereka berdua sering mencari cerita-cerita tidak masuk akal dari berita lokal. Berharap mendapat hal menarik untuk objek perburuan mereka.

“Ada yang menarik?” Josh menempelkan kepala di bahu Aidan, melihat layar komputer.

Aidan menggerakkan bahu, berusaha menyingkirkan kepala Josh. “Seriusan? Josh, singkirkan kepalamu, kecuali kau ingin menegaskan anggapan orang tentang hubungan kita.”

“Apa yang ibumu bawa untukku?” tanya Josh tidak memedulikan protes Aidan.

Aidan melemparkan kantong makan siang satunya ke samping.

Josh mengangkat kepala dan membuka kantong makan siangnya. Dia melahap satu gigitan besar sandwich. “Ibumu memang yang terbaik. Sampaikan salam sayangku padanya,” katanya sambil cengar-cengir.

“Datanglah ke rumah. Beberapa hari ini Ibu bertanya tentangmu terus. Memangnya, kau sedang terlibat masalah apa? Seminggu ini sepertinya kau sering menghilang.”

“Sedikit masalah.” Josh merangkul bahu Aidan. “Bagaimana kalau sore ini kau ikut denganku?”

“Masalah macam apa?” tukas Aidan curiga.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga:Teaser Novel Suku yang Hilang di Cabaca.id

Pembunuhan yang terjadi di tepi danau Brook meninggalkan tanda tanya, apakah itu ulah manusia ataukah ulah sesosok makhluk? Di Cabaca tidak hanya ada novel cerita cinta romantis, tetapi juga cerita petualangan. Seperti novel fantasi terbaru di aplikasi Cabaca yang hadir ekslusif, Josh & Aid: The Hunt of Aswang.

Hari gini masih suka download pdf novel dan buku ilegal? Sudah tahu kan kalau hal itu merugikan penulis? Mendingan pakai aplikasi Cabaca, aplikasi baca novel online di Indonesia. Melalui aplikasi ini kita bisa baca novel gratis Indonesia pada Jam Baca Nasional, sebuah program yang memungkinkan pembaca baca novel Indonesia secara gratis mulai pukul 21.00-22.00 WIB setiap hari. Penasaran kan? Segera install aplikasi Cabaca di HP kamu, ya.