Novel Irresistible di Cabaca.id – Samuel memberhentikan motornya di sebuah lapangan. Aroma rokok dengan jelas menusuk indra penciuman. Deruman motor juga tak kalah riuh, disertai teriakan supporter yang menyemangati.

Hari ini, tepatnya pukul 12 malam, jalanan yang terletak di tengah ibu kota Jakarta itu penuh dengan anggota-anggota geng motor.

Damian, ketua geng motor, mengadakan sebuah perkumpulan subuh ini. Undangan acara ini pun disebarkan ke seluruh bagian Jakarta. Terdapat puncak klimaks di acara ini; lomba balapan yang berhadiah uang jutaan rupiah. Sudah pasti tempat ini akan ramai.

"Pada balapan, tuh!" Erik tiba-tiba datang dan menepuk pundak temannya. "Ikut taruhan? Satu orang bayar seratus ribu. Kalau menang taruhan, lo bisa ketiban durian runtuh, Bro!" ucapnya antusias.

Samuel hanya bisa menggeleng. Namun, matanya mengarah tepat pada Damian yang sedang berbincang-bincang dengan preman sekitar. "Dia tau ini ilegal, kan?" Nada suara Sam terdengar datar.

"Lo tau lah, Damian kan orang kaya. Dia bisa lakuin apa pun sesukanya. Lagian, arena balapan ini udah dia sewa kok," jelas Erik. "Ngomong-ngomong, lo dateng sama cewek, ya?"

Sam mengkerutkan alisnya.

"Tadi ada cewek yang jalan di belakang lo, keliatannya sih anak baik-baik. Manis lagi." Erik terkekeh-kekeh.

"Oh," jawab Sam tak acuh. Pikiran Sam langsung melayang pada gadis yang belum menginjak 17 tahun itu. Ah, gadis itu selalu membahayakan dirinya sendiri.

"Jangan bengong, woi!" Erik merangkul sahabatnya, lalu matanya hampir membulat secara sempurna ketika Damian datang menghampiri mereka.

"Ian ke sini, Sam. Gue cabut dulu, ya," bisiknya pelan. Lalu seperti bayangan, cowok itu hilang tanpa jejak bersama motornya.

Samuel menoleh kemudian menatap malas Damian. Seperti sudah tahu sifat Samuel, Damian langsung memberikan selembaran kertas yang bertuliskan kata “Thunder” di sana. "Gue mau lo ikut, Sam. Cuma lo yang bisa menangin lomba ini."

"Gue gak main lagi," jawab Sam.

Samuel turun dari motor, lalu berjalan menjauhi Damian. Akan tetapi, cowok itu tetap mengotot mengejar Sam dan mencekal tangannya. "Lo masih dendam sama gue?"

Samuel menatap Damian tanpa mengucapkan satu kata pun. Di dalam matanya, terdapat kilatan amarah yang tidak dapat disampaikan. Dia bisa saja memukul Damian setelah apa yang dia lakukan dulu. Apalagi, Ian datang untuk meminta Sam kembali berlomba.

"Masih berani nanya?" Cowok itu menghempaskan tangan Damian kasar, lalu pergi meninggalkannya.

Ya, Samuel tahu apa yang diperbuatnya. Dia tidak mau menanggung risiko berlomba lagi.

Baca Juga: Teaser Novel Cinderena and The Imperfect Prince

Langkah Vallery tergesa-gesa ketika menyadari seseorang mengikutinya. Semua yang ada di sini terlihat tidak asing. Oh, jika saja dia tahu kalau ini adalah perkumpulan besar-besaran geng motor, dia tidak akan ingin mengikuti Samuel!

Val memegang ranselnya erat, berusaha mencari jalan keluar dari kerumunan ini. Tubuhnya yang mungil membuatnya kesulitan untuk berjinjit sehingga mau tidak mau dia hanya bisa mengikuti orang-orang yang ada di depan.

"Halo, Manis. Wah, sendirian aja, nih." Seorang laki-laki yang sudah mengikutinya dari tadi, tiba-tiba menampakkan diri.

"Apaan sih?! Jauh-jauh, ih!" Vallery berteriak dan mendorong laki laki yang berusaha memegangnya tersebut.

"Jangan galak-galak, dong!" Lelaki itu menyeringai, lalu mencekal tangan Vallery dengan kuat. "Ayo ikut saya!"

"Gak mau! Lepasin!" Vallery meronta-ronta ketika ditarik secara paksa. Bagaimanapun juga kekuatannya pasti kalah telak. Apalagi yang menariknya sekarang adalah salah satu preman geng motor. Ditambah, tubuh Val yang sangat mungil, didorong pun cewek itu akan lansung melayang.

Cowok itu membawa Vallery masuk ke dalam bar yang ada didekat area balapan. Ketika Vallery dipaksa duduk di salah satu kursi yang ada di sana, Vallery langsung mengambil botol bir yang terletak di meja dan menghantam lengan lelaki itu.

Mata Vallery menyorot ketakutan, dan tangannya tergetar saat botol itu dirampas kasar oleh sang preman. Dilemparnya botol itu asal, lalu tangannya terangkat hendak memukul Val.

PLAK!

Suara itu dengan jelas menggema di hiru pikuk bar sehingga menyebabkan tempat itu mendadak sunyi. Preman itu menatap Val dengan marah dan berteriak, "Apa apaan kamu?!"

Tubuh Vallery langsung terjatuh, lalu dia mulai menangis. Kepalanya menunduk sedang tangannya memegang kedua pipi yang mungkin sudah berubah warna menjadi biru. Dia bukan hanya takut, tapi juga malu. Semua orang yang ada di bar melihat ke arah Val. Mereka tertawa seakan dirinya adalah bahan tontonan. Entahlah, mereka semua tidak punya belas kasihan.

Tiba tiba kursi bar melayang di depan mata Val dan mengenai lelaki itu. Sontak, dia terjatuh dan memegang perutnya. Beberapa orang yang ada di bar membantunya berdiri, sementara beberapa lagi berbisik-bisik.

"Siapa yang berani ngelakuin ini ke gue?!" ringisnya.

Seorang cowok datang dengan angkuh dan mengangkat tangan kanannya. "Gue!"

Vallery mengangkat kepala. Dia melihat cowok itu di sana. Ya, cowok yang sengaja dia ikuti!

"Cih, Samuel Hariesta. Mau nyari masalah?"

"Lo yang nyari, Leo," desis Sam.

Lelaki yang disebut Leo itu berteriak, "Liat aja, gue pastiin lo bakal terima akibatnya!"

Ekspresi wajah Samuel sama sekali tidak berubah ketika diancam. Cowok itu hanya menatap Leo dengan tatapan setajam elang.

Ketika Leo sudah pergi, Vallery pun langsung mengambil kesempatan ini untuk keluar dari 'masalah' akibat keingintahuannya yang sangat besar.  Dengan tergesa-gesa, dia menghampiri Sam, "Makasih," ucap Vallery cepat dan langsung berlari meninggalkannya. Sam tahu, gadis itu pasti sangat ketakutan.

Merasa masih menjadi pusat perhatian ketika Val pergi, Sam pun memberikan tatapan tajam pada setiap orang yang ada di sana, sehingga secara tidak langsung membubarkan sekumpulan massa yang awalnya menyaksikan drama ini. Sam kesal ketika menerima kenyataan bahwa tidak ada orang yang mau menolong Val. Mereka hanya tertawa, menjadikan dirinya sebagai lelucon.

Ketika melangkah keluar bar, Sam melihat gadis itu sedang berjuang melawan kencangnya angin malam. Tubuhnya mengigigil dan matanya menyorotkan ketakutan terhadap orang-orang di luar bar. Gadis itu bahkan terjatuh saat angin malam menerpa.

Sam hanya bisa membuang napas pelan, lalu menghampiri Val yang terlihat sangat menyedihkan. Melihat Sam yang mendekat, gadis itu langsung berusaha berdiri dan berniat pergi. Namun, tangan Sam menahan tangannya sehingga membuat dia tertarik dan menabrak tubuh Sam. "Gue anterin pulang."

Vallery mendongak, menatap mata hitam legam milik Samuel. Sadar akan posisinya, gadis itu mendorong Sam dan berusaha menyeimbangkan tubuh. "Gue bisa sendiri. Gue gak perlu bantuan lo!"

"Suka banget sih ngerepotin diri sendiri?" omel Sam.

Cowok itu memberikan jaketnya kepada Val. Ada rasa takut yang menyelimuti diri Sam saat ini.  Dia takut Vallery terluka, sama seperti Angie.  Tapi, satu hal yang dia ketahui, Vallery sangat mengkhawatirkan dirinya.

Baca Juga: Teaser Novel Signy di Cabaca

"Jadi, minggu depan Papi baru pulang?!" Suara nyaring Vallery menggelegar ke seluruh ruangan di dalam rumah. Mbok Yaya yang sedang memasak pun terkejut sampai-sampai panci yang dipegangnya terjatuh dan menimbulkan suara gaduh.

Sean menatap adik semata wayangnya dengan malas. Suara teriakan Vallery memang benar-benar tidak bisa dikontrol. Cempreng, keras, dan melengking. Huh, paduan yang sangat lengkap. Anehnya, saat gadis itu berbicara, suaranya terdengar lembut dan anggun.

"Suara tolong dijaga. Masih Subuh loh, ya!" ingat Sean pada Vallery dengan nada sedikit kebapakan.

"Kak, jangan kasih tau Papi tentang ini, ya." Sean mengangguk lesu, sementara Vallery menyodorkan jari kelingkingnya. "Janji?"

"Janji. Ya udah, sana istirahat."

Vallery memeluk kakaknya dengan maksud harus akur didepan orang. Setelah melepas pelukannya, dia menatap Samuel lalu tersenyum canggung. "Kejadian tadi tolong lupain aja, ya," katanya dan langsung berlari ke dalam kamar bernuansa biru pastel.

Sean menggeleng pelan, lalu mendesah. "Gue gak nyangka kalau Vallery bakalan ditolong sama lo."

"Kebetulan aja," katanya sambil terkekeh-kekeh.

Sean menyalakan TV lalu menyuruh Samuel duduk di sebelahnya. Leo adalah topik utama pembicaraan mereka. Entah kenapa, saat bersama Sean, Samuel bisa memberikan perasaan hangat.

"Lo gak pulang? Udah Subuh loh," tanya Sean.

"Biasa juga gak pulang."

"Jangan gitu. Keluarga lo pasti khawatir,"

"Sayangnya gak ada," ucap Samuel sarkatis. "Gue cabut dulu, deh. Masih ada urusan di lapangan."

Baca Juga: Teaser Novel Ribuan Yojana di Cabaca

Vallery kesal ketika mengetahui bahwa jadwal kuliah kakaknya hari ini di mulai pukul 7 pagi. Gadis itu bahkan terus merengek meminta Sean agar menemaninya di hari pertamanya menginjakkan kaki di sekolah ini. Namun, yang didapatkannya hanyalah sebuah pukulan gratis dari Sean, disertai dengan jitakan-jitakan penuh kasih sayang. Padahal, mata adiknya masih sembap akibat kejadian semalam. Dia juga harus melawan rasa kantuk akibat kekurangan tidur. Huh, teganya Sean!

Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, matanya pun mulai menyorot gedung sekolah yang baru. Val tidak mengira bahwa LHS memiliki gedung semewah dan sebesar ini: air mancur di halaman depan sekolah, 4 gedung yang terdiri dari 5 tingkat, stadion olahraga, kolam renang, dan lain-lain. Semua fasilitas tersedia dengan lengkap di sini.

Vallery pun mulai melangkahkan kakinya ke gedung 1 lantai 3, tempat di mana kelasnya berada. Dengan langkah tegap dan kepala yang diangkat, banyak yang mengira Vallery adalah orang yang sombong. Padahal, dia tidak begitu.

Vallery Velenica, anak biasa saja di sekolah. Tidak terlalu terkenal, tapi juga tidak kuper. Kulitnya putih, matanya tidak terlalu besar, hidung pesek, dan memiliki bibir yang agak tipis berwarna merah muda.  

Saat melewati koridor, beberapa siswi yang sedang mengoleskan lip tint di bibirnya menatap Vallery tak suka. Melihat hal itu, Vallery hanya bisa berusaha untuk tak menghiraukan dan terus berjalan.

"Kayaknya gue pernah liat dia."

"Itu cewek yang sama Samuel, ya?"

"Mukanya yang sok bikin gue muak."

"Ya kalo muak, gak usah diliat. Emang ada yang nyuruh lo liat?" ucap Vallery sewot.

Dia menengok ke arah tiga gadis itu dengan tatapan malas, dan langsung memutar bola matanya kesal.

Gadis itu bahkan tidak tahu kalau kejadian kemarin akan menjadi trending topic hari ini. Bagaimana tidak, Samuel ternyata adalah pemilik dari sekolah elit ini!  Huh, ada banyak hal yang Val tidak ketahui dari Sam, padahal Val sudah mengenalnya sejak lama.

"Anak baru aja udah belagu lu!"

Gadis itu kembali mengabaikan suara-suara cabe-cabean kelas kakap sekolahnya dan lebih memilih pergi ke balkon. Dia takut. Tapi, mau bagaimana lagi? Itu semua salahnya. Siapa suruh gadis itu selalu ingin mencampuri urusan orang lain?

"Oke, harus kuat, Val! Lo kan gak salah," semangat Vallery pada dirinya sendiri.

Dia memandangi langit yang begitu tenang. Ingin rasa hatinya juga setenang dan sedamai langit biru ini.

"Sam ganteng, sayang sifatnya gak mendukung," gumam Val pelan.

Senyumnya mendadak terukir kala mengingat Samuel.  Tak bisa dipungkiri bahwa pesona Samuel benar-benar membuat Vallery jatuh cinta. Vallery sebenarnya sejak kecil memang sudah menyukai Sam. Akan tetapi, gengsi Vallery yang tinggi menyebabkan dirinya selalu menjaga image di depan Samuel.

"Eh?" Sebuah suara mengejutkan Vallery sehingga membuat cewek itu menolehkan kepalanya ke sumber suara. Cowok tampan dengan seragam yang rapi sedang berdiri di depannya, menunjukkan raut wajah bingung.  Tertera nama Jordan di name tag miliknya.

"Kenapa ada di sini, ya?" tanyanya sopan.

Vallery salah tingkah.  "Engg,  ituu...," gadis itu tidak dapat berkata-kata,  "oh,  saya nyari ketua OSIS LHS. Soalnya, gue anak baru di sini!" seru Vallery asal.  

"Kok nyarinya di balkon?" Cowok itu mengerutkan alisnya, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Keren, pikir Val.

"Soalnya pengen." jawab Val sekenanya.

Entah jawaban absurd apalagi yang bisa Vallery berikan pada cowok ini.  Akhirnya, gadis itu lebih memilih untuk bergegas turun dan tak menghiraukan cowok itu.  Akan tetapi,  dia tetap menghujam Vallery dengan seribu pertanyaannya.

"Kok pengen sih?"

Vallery mendesah kesal. Dengan ketus langsung menjawab,  "Iya, soalnya mau gue pacarin!"

Cowok itu tersentak, lalu raut wajahnya berubah. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena canggung. "Jangan bercanda, dong."

"Muka gue serius gak?" tanya Vallery kesal.

"Lah? Lo mau pacarin gue?"

Saat pertanyaan itu dilontarkan, Vallery mendadak bisu.  Setelah dia pikir-pikir lagi, ternyata nama Jordan memang tidak asing di telinga. Jordan Hadiputera, ketua OSIS LHS.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Novel Teenlit di Cabaca

Kalau jadi Vallery, kalian lebih pilih cowok bad boy atau good boy? Kenapa ya bad boy lebih disukai perempuan? Yuk, baca novel teenlit Indonesia berjudul Irresistible gratis di Cabaca.

Install dulu yuk aplikasi Cabaca di Play Store! Dengan begitu, kamu bisa baca novel gratis tiap hari.

Baca novel gratis di Happy Hournya Cabaca!