Novel Inside You Somewhere di Cabaca.id – When we think we have been hurt by someone in the past, we build up defenses to protect ourselves being hurt in the future. So the fearful past cause a fearful future and the past and future become one.

-Alfred Hitchcock

Di sudut dapur, gadis itu menguncir rambut panjang dan tebalnya tinggi-tinggi. Tangannya tersembunyi di belakang tubuh dengan gemetar. Sebuah pisau dapur mencuat di antara genggaman tangan yang terbalut kemeja kotak-kotak berwarna teal.

           Berhadapan gadis itu, berdiri di antara ruang makan dan ruang tengah, adalah seorang lain dengan pakaian yang serba hitam. Bukan satria baja hitam. Bukan bayangan pelaku kriminal dalam Detective Conan. Bukan pula seorang rocker. Dia tidak datang dengan tangan kosong. Di tangan kanannya, sebuah tongkat kasti tergenggam erat. Bukan dengan tulisan Good Night macam milik Harley Quinn, tetapi bertuliskan Have a Nice Death. Sepertinya diukir dengan spidol.

           “Ternyata benda ini banyak fungsinya. Mecahin kaca bisa, mecahin kepala juga mungkin bisa,” kata seorang berpakaian serba hitam, menunjukkan ujung tongkat kayunya.

           “Thanks buat infonya. Kayaknya bisa masuk ensiklopedia deh.” Tersenyum, si gadis menimpali dengan berani. Dia bawa pisau gitu lho.

           Si Harley Quinn jadi-jadian itu mendengus keras. Kemudian menatap si gadis lama.

           “Kita sama-sama tahu untuk apa kita ketemu sekarang.”

           Ada senyum congkak di bibir seorang bertongkat. Dia girang melihat bibir lawan bicaranya mulai bergetar yang jelas sekali sedang menggertakkan giginya. Antara takut dan khawatir dan marah. Dia lalu memukul-mukulkan ujung tongkatnya pada lantai keramik pucat yang dipijak, yang semakin pias tertimpa sinar lampu. Menambah intensitas pertemuan itu semakin menegangkan. Memacu adrenalin lebih dari pada biasanya.

           Si gadis berkemeja kotak-kotak berwarna teal menatapnya dengan pandangan kosong. Kalau sudah urusan nekat-nekatan, dia juga bisa. “Memangnya untuk apa?”

           “Jangan pura-pura bego! Gue capek dianggap kayak orang gila.”

           Lah, bukannya dia memang gila?

           “Gue mau membuat kesepakatan sama lo!”

           “Kesepakatan yang lo bicarakan waktu itu? kalau gue setuju, apa lo akan berhenti neror gue?” poni panjang si gadis tersibak. Menyebar menghalangi pandangannya. Dia menggelengkan kepala untuk menyingkirkan poni itu. Meskipun berbicara dengan tenang, tangannya masih terlalu kaku untuk digerakkan. Dia mulai merasa pangkal pisau di tangannya basah.

           “Ya,” jawaban seorang berjaket kulit hitam terdengar parau, dipadukan dengan tatapan matanya yang tak tak lagi jenaka, otomatis membuat bulu halus si gadis meremang.

           “Terus kenapa lo bawa-bawa benda tumpul yang katanya serba bisa itu?”

           “Buat mengantisipasi keadaan. Gue punya feeling tangan lo juga nggak kosong.”

           Seorang berpakaian serba hitam menghentikan ketukan tongkatnya di lantai. Matanya menyorot pada sebilah pisau dapur yang kini sudah ditunjukkan gadis di hadapannya. Pisau itu tergenggam kuat di tangan kanannya. Di sisi tubuh yang gemetar. Lalu gadis berambut tebal yang digulung tinggi itu melangkah keluar dari sudut dapur. Tanpa sadar si pemegang togkat menelan ludah. Mundur selangkah.

           Gadis itu mengangkat pisaunya dengan mata berembun. “Lo pernah nonton film Caché?”

           Tawa seorang berpakaian hitam tertahan terumbar di udara. Suarnya mirip sekali dengan tawa Dolores Umbridge sehabis mendetensi muridnya. Untungnya orang ini sedikit lebih baik karena setidaknya, wajahnya tidak seperti kodok. Meskipun demikian tangannya yang memegang tongkat goyah. Gemetar. Matanya tak lepas menatap ujung pisau yang berada di tangan lawannya. “Film india?”

           “Perancis.”                            

           “Jadi ini apa? lo mau curhat tentang film? Atau mau ngajak gue nonton bareng?”

           Si gadis tersenyum penuh kesabaran. “Mungkin udah terlambat bikin kesepakatan. Satu orang udah mati. Dan itu masih gue inget kayak baru kejadian tadi sore. Jadi, nggak akan ada bedanya kalau ada yang mati lagi.” Perlahan, gadis itu mengangkat pisaunya. Dia mendekatkan pisau melintang tepat ke tengah lehernya sendiri.

           “Lo mau ngapain?”

           “Ini jawaban dari kesepakatan yang lo minta. Dan kalau lo udah nonton Caché, lo bakal tahu apa yang selanjutnya terjadi.”

           “Ya kali gue harus nyewa DVD terus nonton dulu?!” napas seorang berpakaian serba hitam mulai memburu. Kemarahannya berbaur dengan rasa takut dan kekesalan tingkat tinggi. “Lo nggak berniat bunuh diri di depan gue, kan?”

           Pandangan si gadis tampak melayang. Lama memandangi lampu di atasnya. Kemudian dia memaku tatapannya pada mata lawan bicaranya. Berkata dengan nada datar. “Bingo!

           Tongkat kasti bertuliskan Have a Nice Death terjatuh dengan bunyi klotak yang nyaring. Menggelinding berhenti setelah mengenai kaki sofa lembayung di belakangnya. Pemiliknya telah gontai. Ganti ketakutan mengaliri wajahnya yang sudah pucat.

Gadis berkemeja menggerakkan pisaunya dengan sangat cepat melintang pada lehernya. Masih sempat didengarnya gadis berjaket kulit hitam berteriak keras, diikuti rutukan-rutukan yang keluar deras dari mulutnya.

Si Harley Quinn kw terbelalak saat semburan cairan berwarna merah gelap memancar sampai ke seluruh tubuhnya.

Apakah si Harley Quinn kw itu terbunuh? Siapakah sebenarnya sang gadis dan seperti apa masa lalu kelamnya? Novel romance mystery berjudul Inside You Somewhere: There is Somebody Nobody Knows About ini bisa di Cabaca.id GRATIS!!

Daripada pusing cari tempat download novel gratis yang ilegal, mending pakai aplikasi Cabaca, install di Play Store sekarang!

Tiap hari bisa baca novel gratis dengan install aplikasi Cabaca di HP kamu!