Novel I'm Proud To Be Me di Cabaca.id Kuputuskan untuk menggunakannya. Karena tidak ada yang peduli jika aku memilikinya.

“Seluruh siswa baru harap menuju lapangan segera! TIDAK ADA YANG PULANG!”

Lengkingan membahana dari suara pemimpin MPLS bergema hingga ke sudut terjauh sekolah, membuat sebagian besar siswa baru mendecak kesal. Semua ini gara-gara apel sore yang wajib mereka ikuti, padahal bel sekolah telah berbunyi lebih dari lima menit yang lalu.

Di antara langkah-langkah gontai siswa baru itu, terdapat satu langkah kaki yang justru berjalan amat gelisah. Langkah itu milik seorang gadis kecil dengan rambut yang dicepol berantakkan. Hampir setiap detik, gadis itu melihat arloji perak yang melingkar di tangan kirinya, kemudian kembali berdecak kesal ketika ia menurunkan tangan.

“Ch-Cheresse...”

Gadis pemilik nama Cheresse ini menoleh ke asal suara yang terbata-bata itu. Suara yang berasal dari gadis di sebelahnya. Ia dapat melihat pergerakan gadis itu yang salah tingkah, membuat Cheresse menaikkan sebelah alisnya, “Ada apa?”

“B—bisa mundur s—sedikit, ga? Biar b—barisannya rapi....”

Cheresse yang mengerti permintaan gadis itu langsung saja mengikuti perintahnya. Kemudian ia kembali melihat kepada gadis itu, bermaksud untuk menanyakan apakah tindakannya sudah benar atau belum. Namun, gadis itu lebih dahulu memalingkan wajahnya, sembari memukul-mukul kepalanya sendiri.

Apa gue ada salah tindakan, ya? Sampai-sampai nih cewek takut ngomong sama gue sampai segitunya? Batin Cheresse tidak mengerti.

Sementara itu, butuh waktu lama bagi panitia untuk merapikan barisan yang kacau-balau. Tidak ada satu pun siswa baru yang berinisiatif untuk merapikan posisinya, walaupun setiap penanggung jawab kelas telah berteriak hingga suara mereka serak. Hal ini mereka anggap sebagai balas dendam, karena telah menahan jam pulang mereka.

Di tengah keributan seperti pasar ini, salah seorang panitia berjalan mendekati podium yang sedang ditempati Sang Pemimpin MPLS.

“Johan,” panggilnya ketika ia telah berada di samping pemuda itu.

Tidak perlu waktu lama bagi Johan untuk mengerti kode yang dilayangkan temannya. Sedetik kemudian, ia telah memberikan mickepada pemuda itu sembari menuruni podium.  Saatnya orang yang paling disegani se-SMA Bintang Utara mengambil alih keadaan.

Test, satu, dua, tiga,” ucapnya menggunakan pengeras suara. “Buat Kakak-kakak PJ, dimohon untuk berhenti berteriak!”

Suasana yang ramai bak di Pasar Senen seketika hening begitu saja. Perasaan capek, lelah, dan marah ikut menguap bersama hilangnya keramaian itu. Sekarang, justru terasa dingin dan mencekam, mengalahkan hangatnya matahari sore yang sedang menyinari mereka.

“Kakak-kakak PJ, tadi sudah menunjuk ketua kelas bukan?”

Pertanyaan ringan dari pemuda itu langsung dibalas dengan anggukan oleh panitia-panitia MPLS lainnya.

“Kalau begitu, silakan ketua kelas berdiri di depan dan pimpin teman-temannya untuk merapikan barisan—”

Seluruh peserta maupun panitia MPLS sampai menahan napas mereka ketika pemuda ini menggantungkan kalimatnya di udara.

“Saya hitung sampai satu...”

“Dua...”

Penanggung jawab kelas mendadak panik dan mulai menarik ketua mereka. Keadaan kembali ricuh dengan suara, tapi kali ini memiliki tujuan yang sama.

“Tiga...”

CEPAT RAPIKAN POSISINYA!

“Empat... dalam hitungan kelima tidak ada lagi yang bersuara! Dan ketika selesai, ketua kelas harap mengambil tempat di samping kanan barisan masing-masing,” perintah pemuda itu dengan tenang. Namun, aura yang ia pancarkan justru membuat seluruh siswa baru ketakutan.

“Empat setengah...”

Beberapa ketua kelas terlihat tidak keruan, beberapa terlihat berlari begitu saja untuk mengambil tempat di samping kanan barisan.

“Lima. Oke, tidak ada lagi gerakan tambahan.”

Pemuda itu mengedarkan pandangannya dari kelas yang satu ke kelas yang lainnya. Mata tajam pemuda itu dengan cepat meneliti satu per satu siswa hingga di barisan belakang.

“Itu cewek yang nunduk di IPS-3, tinggalkan dulu jam tangan kamu kalau mau pulang cepat!”

Cheresse tahu jika pemuda itu sedang menegur dirinya. Hal ini membuat si gadis langsung menegapkan badan dan meluruskan pandangannya. Ia tidak ingin mengambil risiko lebih lanjut. Bisa saja pemuda itu menahan dia pulang lebih lama, ‘kan?

“Selamat Sore, teman-teman SMA Bintang Utara. Saya Felix. Hari ini, saya menggantikan ketua OSIS kita yang berhalangan hadir.”

Meski pemuda yang bernama Felix itu tidak lagi berbicara sedingin yang pertama, tapi atmosfer yang ada di sekitarnya justru semakin mencengkam.

“Sebelum Pak Soetarji memulai apel sore, saya ingin memberi sedikit pengumuman. Hari ini banyak sekali siswa yang melanggar peraturan sekolah. Pertama, banyak siswa perempuan yang masih memakai kaus kaki hanya setinggi mata kaki. Jika besok teman-teman masih mengabaikannya, siap-siap pulang sekolah dengan kaki ayam!”

Seluruh siswa perempuan yang melanggar aturan hanya bisa menghela napas berat, sembari mengangguk-anggukkan kepala dengan lesu.

“Kedua…” Felix kembali mengedarkan mata elangnya, meneliti satu per satu ekspresi siswa-siswi yang berada di barisan. “Saya mendapat informasi jika ada siswa baru yang membawa motor. Apa benar?”

Bisikan-bisikan lebah tiba-tiba menguar begitu saja. Bahkan suaranya lebih keras daripada dengungan siswa perempuan yang mengeluh tentang aturan kaus kaki tadi. Sepertinya, banyak sekali siswa yang terjerat dengan aturan yang satu ini.

“Dimohon untuk tenang!” seru pemuda itu tegas. Membuat peserta apel sore kembali bungkam.

“Kami panitia MPLS telah menyita motor siswa baru yang ada di parkiran sekolah. Jika kalian menginginkan motor itu kembali…” Sudut  bibir kanan pemuda itu terangkat, meski sedikit samar. “….kalian harus menjemputnya dengan orang tua masing-masing.”

“Sial!”

Gadis berarloji perak itu mulai menjambak rambutnya sendiri. Entahlah, tiba-tiba kepalanya mendadak pusing dengan pengumuman yang terakhir itu. Dia adalah salah satu siswa yang terkena razia dadakan ini, dan ia tidak bisa memenuhi syarat yang diberikan pemuda itu.

Apel sore pun dimulai, seiring dengan Cheresse yang kini sedang mencari cara untuk kabur.

Baca Juga: Teaser Novel What I Couldn't Tell You di Cabaca

Sial!

Gadis itu berkali-kali mengumpat di dalam hati. Mempercepat langkah yang nyaris seperti berlari. Pukul 16.35, tertulis di arlojinya. Ia telah terlambat 30 menit jika acara yang sedang ia tuju itu mulai tepat waktu.

Cheresse langsung saja berbelok ke salah satu toilet umum yang berada di dekat lokasi acara. Ia langsung membanting salah satu pintu toilet dan menutupnya dengan gusar. Tidak butuh waktu lama, gadis itu telah selesai menukar seragamnya dengan satu set pakaian olahraga yang serba hitam. Kemudian, mengambil masker dan topi yang selalu ia simpan di kantong kecil tas sekolahnya.

Cheresse mulai mendekati lokasi. Langkahnya yang tadi cepat justru mulai memelan. Kedua tangannya saling terpaut, kuku-kukunya mulai terasa dingin. Lagu-lagu yang diputar secara random pun mulai terdengar, membuat adrenalin gadis itu semakin meningkat. Dengan hati-hati, ia meletakkan ranselnya di antara kumpulan ransel peserta lain. Sekali lagi, ia memastikan ransel itu benar-benar terkunci sebelum menyusul memasuki arena.

Lagu berganti. Cheresse merasa familiar dengan bridge lagu ini. Gadis itu langsung berlari ke tengah—menempatkan diri untuk ikut menarikan tarian lagu ini.

“HEY! THE BLAND MASK SUDAH DATANG!”

Meski tidak terlihat, gadis itu tersenyum simpul di balik masker yang ia kenakan. Sorakan itu tidak menggoyahkan gerakannya, justru ia semakin terpacu dan bersemangat untuk menari. The Bland Mask menarikan La Vie en Rose seperti lagu miliknya sendiri.

Tiba-tiba, musik itu mendadak menghilang. Sedetik kemudian digantikan dengan reff dari lagu lain. Cheresse terdiam beberapa detik untuk mengetahui beat dari lagu yang terputar. Ia tahu jika lagu ini berjudul Killing Me miliknya Ikon! Dengan cepat gadis itu membungkuk sembari mengentak-entakkan kaki kanannya persis seperti koreografi lagu itu. Sorak-sorai penonton semakin seru. Orang yang mereka beri julukan The Bland Mask itu benar-benar melakukannya dengan baik. Sorakan bertambah nyaring ketika lagu berganti dan si gadis di balik masker itu bisa menyesuaikan gerakannya hanya dalam waktu satu detik.

Ini bagian bridge kedua dari lagu Adios milik Everglow. Tentu saja gadis itu merasa tidak asing lagi, karena akhir-akhir ini dia menyukai lagu itu. Dengan energik Cheresse mulai menyilangkan tangan ke bawah, kemudian memutar ke atas seperti gerakan memanggil seseorang. Siapa pun yang melihat gerakan ini pasti akan terkesima, termasuk panitia yang menyelenggarakan acara ini. Saking terkesimanya, panitia sampai-sampai membiarkan lagu itu terputar hingga akhir.

Berakhirnya lagu itu, menjadi pertanda bahwa Random Dance Challange in Public telah selesai.

Cheresse membetulkan topinya yang hampir saja copot, kemudian secepat mungkin berlari, menyambar tas, dan menghilang dari arena. Beberapa orang yang ingin berfoto dengannya sempat mengejar jejak gadis itu. Namun, sia-sia. Gadis itu menghilang terlalu cepat di balik kerumunan orang yang tengah sibuk menunggu kereta.

Dialah The Bland Mask. Sisi lain dari seorang Cheresse Damia yang belum pernah terungkap. Baginya, cukup orang-orang mengetahui The Bland Mask sebagai si genius K-pop dancer, bukan identitasnya sebagai Cheresse Damia.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Rewrite Memories di Cabaca.id

Orang-orang akan lebih percaya bakat atau tampilan fisik? Atas pertimbangan itulah, Cheresse selalu pakai topeng tiap kali tampil... Novel I'm Proud to Be Me akan menggugah kita tentang cara mencapai mimpi dengan percaya diri. Baca di Cabaca dengan install aplikasinya di Play Store.

Sekarang sudah tahu kan di mana tempat untuk baca novel offline? Tinggal pakai aplikasi Cabaca. Udah pasti GRATIS dan legal! Kamu cukup buka Cabaca mulai pukul 21.00 sampai 22.00 WIB SETIAP HARI. jadi bisa baca novel gratis di Cabaca tanpa kerang. Jangan lupa lakukan misi kerang, supaya kamu bisa baca lebih banyak!

Pakai Cabaca supaya bisa baca novel GRATIS di Jam Baca Nasional!