Novel Iblis Keluarga di Cabaca.id – Darah telah membanjiri malam ini, tanpa mereka ketahui. Kerumunan langkah itu mendekati sebuah rumah kayu reyot di ujung hutan. Entakannya memecah keheningan yang tadinya diperkirakan abadi. Gemercik air terhempas dari genangannya. Kegelapan hidup di antara orang-orang itu, menyamarkan purnama yang bersinar terang di atas langit.

Tangan kanan para polisi itu memegang revolver berkaliber .44 dan senter kecil di tangan kiri. Mereka berharap akan jaminan nyawa karena tidak ada satu dari mereka yang tahu, siapa atau apa yang akan menyambut di depan. Mereka sangat yakin, eksploitasi fisik dan mental selama bertahun-tahun dapat menggaburkan rasa takut dalam diri mereka masing-masing. Keberanian militer yang dianggap melebihi masyarakat umumnya tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga beban. Beban hebat yang terjadi karena rasa sombong dalam benak mereka sendiri.

Briptu Hanif akhirnya merasakan giliran malam pertamanya setelah dilantik menjadi seorang polisi dua minggu yang lalu. Lamunan keseharian Briptu Hanif di depan layar TV menjelang malam terhenti setelah salah satu rekan seniornya menelepon. Sakit menjadi alasan kuat teman picik itu agar Briptu Hanif mau mengisi shift malamnya. Kenyataannya, barisan botol vodka dan tumpukan domino sudah menunggunya di gudang rahasia. Namun hal itu juga tidak juga menjadi pembenar kalau Briptu Hanif sepenuhnya tidak salah. Dia terlalu polos dan memiliki informasi yang sangat dangkal. Miskin akan realitas institusi yang ia singgahi.

Sebuah panggilan datang tepat pada pukul 12 malam di Polres Ketapang. Terdengar suara pelan seorang laki-laki yang memberitahukan letak di mana dia berada. Ketika ditanya apa keluhannya, suara meredup dan sambungan terputus begitu saja. Kabar yang sedikit kabur itu justru membuat para petugas mencium sesuatu yang salah. Lima orang petugas langsung berangkat dengan berbagai peralatan lengkap termasuk rompi anti peluru. Semua itu dijelaskan oleh Harianto Galih, seorang pengacara handal, di bukunya yang paling populer mengenai insititusi peradilan Indonesia. Tercantum, ‘polisi bergerak bukan karena otak mereka, tapi karena insting’. Entah itu pujian atau sindiran, tergantung dari interpretasi pembacanya.

Mereka telah sampai, di depan rumah kayu itu. Di mana ranting dan daun pohon menutupi atapnya. Yang berbentuk seperti rumah panggung. Yang tiang-tiangnya terbuat dari pohon kayu ulin berjejak, berbaris, dan berkumpul untuk membentuk fondasi agar bangunannya berdiri.

Tiang-tiangnya menginjak sebuah genangan air, membuat struktur kayunya lebih kuat. Dinding rumah sudah tak sempurna, digigiti oleh koloni rayap. Garis silang merah tergambar di sebagian permukaan pintu depan. Pada layang-layang pintu, bergantung berbagai macam tulang hewan yang dijadikan hiasan. Baik itu tangan, rangka, ekor, dan yang bagian tubuh lain. Tengkorak seekor tikus hutan menjadi yang paling menonjol di sana. Mulutnya terbuka lebar seakan berniat meraung sekencang mungkin dengan keterbatasannya.

Briptu Hanif berada di baris nomer dua. Tepat di belakang seorang Bripka yang otomatis menjadi pemimpin karena pangkatnya yang paling tinggi. Mereka berhenti di bawah sebuah undakan kecil rumah. Sang Bripka menoleh ke belakang, mengisyaratkan agar yang lain bersiap. Briptu Hanif mengangguk dengan sarat kelugasan, yang lain menyusul dengan cara yang sama. Mereka berjalan pelan, mencoba mengurangi perhatian. Namun, suara decitan pelan masih terdengar secara bergantian saat langkah kaki mereka menaiki undakan itu.

Bripka mendorong pintu rumah yang tidak tertutup. Kegelapan yang lebih pekat seakan-akan telah menunggu mereka dan kini mengucapkan ‘selamat datang!’. Kelima polisi itu masuk ke dalam. Lampu senter membantu mereka mengamati setiap sudut rumah, menangkap debu yang beterbangan di mana-mana.

Senter mereka satu per satu mati tanpa sebab sebelum mereka melihat lebih jauh,. Dan angin kencang pun berhembus.

Pintu lantas tertutup keras! Tak sedikitpun memberi mereka celah kecil untuk bersentuhan dengan dunia luar. Beberapa mengayunkan senjata ke arah pintu. Kewaspadaan menyerang. Seorang polisi berteriak kecil. Terkejap dengan rasa takut yang tidak terhingga, seragamnya yang dipakai kini tidak lebih dari sekedar kostum 17-an. Gelap tidak menjadi penghalang, suara melengkingnya yang khas membuat rekannya yang lain tahu bahwa yang berteriak adalah dia.

Briptu Hanif yang berada tepat di depan pintu keluar, berbalik cepat dan mencoba untuk membukanya. Namun, berkali-kali dia menekan gangggang pintu, berkali-kali pula pintu tak menuruti kemauannya.

“Sersan?” tanya Briptu Hanif. Lebih tepatnya memohon bimbingan.

Bripka terdiam.

Baca Juga: Teaser Novel Tetanggaku Hantu di Cabaca

Jujur, Bripka itu tidak ingin ada satu pun anak buahnya yang mencoba bertanya sekarang, apalagi menyerahkan nasib padanya. Akal sehatnya tidak lagi berperan seperti yang lain.

Terpaan angin datang. Auranya yang dibawa kembali mengingatkan Bripka itu tentang dongeng jahat dari ayahnya mengenai kampung asli mereka, Jalang. Dongeng tentang sudut desa di kota Ketapang, Kalimantan, yang jarang dibicarakan, diabaikan, dan dilupakan. Sebuah cerita yang menyebar pelan dan menghilang dengan cepat. Sebuah cerita yang membuat dia tidak dapat tidur selama dua hari tiga malam tanpa ditemani guling kesayangannya dan sang ibunda. Cerita mengenai seorang perempuan pengembara yang banyak menyelamatkan orang. Untuk mewujudkannya, perempuan itu harus ‘merampas’ tubuh perempuan lain yang tidak bersalah. Ada kabar kalau pengembara itu mencari tubuh sempurna, ada juga yang mengatakan kalau ia memang hobi  menghillangkan nyawa. Sekarang, di sinilah Bripka itu, persis berada di tempat yang telah menjadi bayangan trauma masa kecilnya. Ia berusaha membuka pelan-pelan bibirnya.

Kita pergi dan cari bantuan, satu kalimat yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.

Hingga keajaiban datang.

Lampu senter yang mereka bawa kembali menyala. Membuat cahaya merebakkan terangnya kemana-mana.

Terang cahaya yang menenangkan.

Terang cahaya yang…bukan. Bukan yang seperti ini.

Cahaya justru menampakkan sebuah pemandangan kejam yang menjatuhkan rahang mereka. Membelalakkan mata mereka satu persatu. lukisan perempuan telanjang disalib dengan dada terbelah hingga terlihat rangkanya; tengkorak seorang manusia yang berada di atas sebuah almari hitam tua, seakan tersenyum ke arah mereka; organ jantung yang tergantung di dinding dan masih berdenyut.

Sementara itu, Sang Bripka melihat gambar seorang anak kecil di dinding yang menangis seperti sebuah refleksi terhadap masa lalunya yang memilukan.

Mereka semua tersiksa karena pemandangan ini.

“Panggil bantuan!” seru Briptu Hanif.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Mustaka Ke-13 di Cabaca

Setiap keluarga memiliki kisahnya sendiri. Sama juga dengan keluarga Sintia. Yang berbeda hanyalah yang 'menggerakkan' kengerian itu... Novel karya Gea Rexy, Iblis Keluarga bisa di Cabaca, gratis!

Gak percaya kalau di Cabaca bisa novel gratis dan penulisnya dibayar? Coba cek deh pas Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca, setiap hari pada pukul 21.00-22.00 WIB. Install dulu aplikasi Cabaca yang ada di Play Store!

Sebelum tidur, bisa baca novel GRATIS di Cabaca!