Teaser Novel I Found You di Cabaca.id

baca novel Apr 03, 2021

Teaser Novel I Found You di Cabaca.id – “Bagaimana aku bisa menemukannya?” Wanita berkebaya biru langit itu menarik sedikit kain batik bercorak bunga bangkai sampai sebatas lutut, dirinya berjalan jongkok menyusuri lantai Gold Grand Ballroom berlapis karpet yang dipenuhi dengan taburan kelopak bunga mawar putih. Jemari lentiknya bergerak lincah mencari benda penentu masa depan sang adik ditumpukkan kelopak bunga mawar putih.

Sudah dua puluh menit, namun benda yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Bagaimana bisa ia menjatuhkan benda penting itu, sedangkan acara pernikahan adiknya akan segera dimulai. Wanita berkulit eksotis itu memijat pelan keningnya, keringat mengucur deras dari pelipis, netranya terus menjelajah mencari benda yang tidak sengaja ia jatuhkan saat membantu merapikan meja yang akan dijadikan sebagai tempat akad nikah. Semua orang yang ada di sana berusaha membantu, tetapi benda kecil itu terlalu sulit untuk ditemukan.

Seorang pria pemilik tinggi seratus delapan puluh tiga senti, yang terlihat tampan dengan balutan jas warna navy berdiri di depan pintu. Bibir tipisnya membentuk bulan sabit terbalik. “Yaya Sayang, aku temukan cincinnya!” teriaknya dengan tangan mengacungkan cincin emas berhias batu permata pada bagian depan, yang berkilau saat terkena cahaya lampu.

Yaya menoleh dan segera menghampiri pria yang telah menolongnya, terbebas dari amukan ayah dan adiknya. “Makasih, Noell. Untung aja ....” Dahi Yaya mengerut saat Noell, sahabatnya itu malah memasukkan cincin pernikahan milik sang adik ke jari manisnya sendiri. “Kok kamu pakai sih? Cepat lepas!” perintahnya dengan tangan berusaha merebut cincin tersebut.

“Iya iya, tunggu. Aku hanya ingin tahu aja, gimana sih rasanya pakai cincin kawin. Ternyata ... biasa aja,” ujar Noell sembari melepas cincin dari jari manisnya.

Wanita cantik yang sudah mengenal Noell sejak SMP itu langsung mengambil cincin tersebut, dengan cepat ia memasukkan kembali ke dalam kotak yang sudah dihias dengan pita berwarna kuning. “Jelaslah rasanya biasa, cincin itu kan bukan punya kamu. Nanti juga kalau kamu nikah, pasti rasanya akan beda,” jelasnya dengan tangan memasukkan kotak cincin ke dalam sling bag agar tidak terjatuh lagi.

Noell menurunkan kacamata hitam sebatas batang hidung, lalu ia merangkul bahu Yaya dengan senyum lebar yang tersungging di bibir tipisnya yang merah merekah. “Kalau gitu, ayo kita coba?”

Yaya menurunkan tangan Noell. “Sebaiknya kamu bantu periksa bagian makanan, udah siap atau belum? Aku mau pergi ke tempat Max dulu.”

Baru beberapa langkah, Noell langsung memegang lengan Yaya. Tangan kirinya dengan cepat merangkul kembali bahu Yaya, sedangkan tangan kanan sibuk memasukkan kacamata hitam ke dalam saku jas. “Semua udah selesai seperti yang kamu inginkan, Bidadariku Sayang. Jadi aku boleh ikut, dong?”

Good job!” Yaya menepuk-nepuk pundak Noell.

Good job aja nih? Yakin, enggak ada yang lain?” Tunjuknya pada bibir tipisnya yang bergerak maju-mundur, seperti cumi-cumi yang bersiap untuk menyemprotkan tinta.

Yaya mengabaikan candaan Noell, ia memilih untuk meneruskan langkahnya menuju ruang rias Max yang berada di ujung lorong dengan tangan sibuk membalas pesan dari orang sekitar yang mengucapkan selamat dan doa.

“Ya, tunggu!” teriak Noell.

“Kamu periksa tempat lain aja, ya. Pokoknya jangan ikuti aku,” perintah Yaya sambal melambaikan tangan kanan sebagai kode agar Noell tidak terus mengekornya.

Noell mengerucutkan bibir. Udah rapi, wangi, keren ... masih aja dianggurin. Kapan sih kamu sadar, Ya? Ia memerhatikan Yaya yang keluar dari Gold Grand Ballroom tanpa menoleh sedikit pun.

Baca Juga: Teaser Novel The Start of Us di Cabaca.id

Yaya berjalan dengan cepat, melewati lorong Hotel Gold yang cukup panjang. Suara gaduh hak sepatu tujuh sentinya beradu dengan lantai marmer, menggema di sepanjang lorong hotel yang sudah berdiri sejak lima belas tahun lalu. Hotel bintang tiga yang letaknya tak jauh dari Kebun Raya Bogor itu tidak hanya memamerkan kemewahan, tetapi juga menawarkan sentuhan seni yang terasa sangat kental, dapat dilihat dari banyaknya lukisan dan patung kayu yang terpajang di dalam hotel. Perpaduan kemewahan dari warna keemasan dengan desain interior seni klasik, menjadi daya tarik para pasangan untuk menggelar acara lamaran atau pernikahan di hotel tersebut.

Sinar sang mentari terasa lebih hangat, seolah mewakili perasaan Yaya saat mengamati adik bungsunya dari celah pintu. Mata bulat dengan manik hitam itu terus memandang ke arah pria yang sedang berusaha keras mengenakan kain batik, yang akan dikenakan saat proses akad nikah. Ia menarik kedua sudut bibir ke atas, saat melihat adiknya protes karena kain batik yang dikenakan terlalu menekan perut hingga menyulitkan saat ingin duduk dan berjalan.

“Kenapa berdiri di situ terus sih? Dicomot security baru tahu rasa,” ucapnya ketika melihat Yaya dari pantulan cermin. Ia meminta Yaya untuk segera masuk daripada mengintip sambil senyum-senyum tidak jelas seperti orang aneh di depan pintu.

Yaya ingin sekali mencubit pipi Max, tetapi wanita yang masih terlihat seperti anak remaja di usia dua puluh delapan tahun itu harus bisa menahan keinginannya. Ia menarik kursi yang berada di dekat pintu, dan duduk dengan tangan terlipat di depan dada.

“Ternyata seorang Max kalau dipoles ... oke juga,” ungkapnya sambil mengangguk.

Max langsung mengerutkan dahi, ia menarik kursi untuk duduk di samping Yaya. “Dari lahir aku udah ganteng kali,” balasnya. Yaya tidak bisa menahan diri lagi, tangannya segera mencubit pipi Max yang kenyal dan sedikit berisi, memainkannya seperti squishy.

“Aku bukan anak kecil lagi, Kak Yaya!” protesnya, berusaha menjauhkan tangan Yaya yang akan merusak penampilannya.

“Maaf, Max. Setelah kamu nikah, pasti kakak enggak bisa mencubit pipi kamu sebebas tadi.” Yaya menggeser kursi, agar bisa duduk lebih dekat lagi.

“Oh ya, gimana perasaan kamu? Pasti tegang, ya? Mau kakak ambilkan sesuatu?”

“Biasa aja,” jawab Max dengan santai.

Yaya mengernyit. “Masa sih? Kata orang, biasanya tuh muncul perasaan tegang atau ...”

“Itu perasaan mereka, kalau aku sih biasa aja.” Max melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiri. Dengan terburu-buru ia mengambil botol berwarna keemasan yang berada di atas meja, menyemprotkan ke arah ketiak sebelah kanan. Hidungnya mengendus aroma asing dan agak aneh.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Never Let Go di Cabaca.id

Yaya dilangkahi adik-adiknya. Ia tahu pernikahan bukan balapan. Pernikahan adalah tentang bersama orang yang tepat... Novel romance Indonesia yang bisa kamu baca di Cabaca, I Found You. Download aplikasi Cabaca di Play Store untuk baca novel GRATIS.

Sudah saatnya berhenti cari link download pdf novel, apalagi ebook ilegal. Apalagi sekarang udah ada aplikasi Cabaca, di mana siapa saja bisa baca novel GRATIS dan legal. Cukup baca di Jam Baca Nasional tiap pukul 21.00-22.00 WIB. Eits, di luar jam itu pun bisa baca novel gratis kok, tinggal rajin lakukan misi kerang aja. Yuk, pakai aplikasi Cabaca sekarang!

Tags

Tim Blogger Cabaca

Sekumpulan orang dari Cabaca yang menaruh perhatian besar pada dunia literasi. Pastikan selalu baca tulisan kami untuk tahu info paling update tentang Cabaca!

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.