Teaser Novel How to Heal A Heart and Break It Again di CabacaSha, sori ya. Gue rasa kita nggak bisa terus-terusan kayak gini. I want to break up. Makasih buat hampir dua bulannya, dan gue minta maaf juga, Sha.

Pagi masih buta. Aku belum lima menit membuka mata, dan itulah pesan pertama yang tertera di layar. Dari Ario, yang baru saja menjadi mantan pacarku. Aku berdesah berat. Sejujurnya aku kaget Ario memutuskan untuk menyudahi hubungan pendek kami. Tapi di balik itu, aku senang. Sebab, sejak hari jadian kami, sebenarnya aku tidak menerimanya sebagai pacarku. Hubungan kami adalah kesalahpahaman belaka, sementara aku belum berani menjelaskan kepada Rio. Alhasil, runyamlah pilar persahabatan yang kami bangun bersama-sama sejak lama.

“Dek! Lo berangkat jam berapa?”

Suara Bang Ian dari kamar sebelah langsung menyita perhatianku. Kontan aku melihat jam dinding. Pukul lima pagi, dan ini adalah hari pertamaku masuk sekolah.

Aku membelalak. Seharusnya aku sudah terlambat!

Maka, dengan gegas, aku melepaskan ponsel dari tanganku tanpa sempat membalas pesan Rio. Aku segera mandi, bersiap, lalu berangkat bersama Bang Ian menuju sekolah.

Sekolah Menengah Kejuruan Nusa Taruna, atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Teknik Mesin Nusa Taruna. Sebuah sekolah yang takkan pernah terlintas di benakku akan kusinggahi. Meski gedungnya besar dan luas, aku tidak pernah tertarik mempertimbangkannya. Apalagi, ketika tahu bahwa murid di sini mayoritas adalah anak laki-laki. Bahkan, selama aku melangkah di sepanjang jalan yang sudah mendekati sekolah, aku bisa melihat anak perempuan hanya sedikiiit sekali. Kurang dari jumlah keseluruhan jari tanganku.

Untuk sesaat aku terbengong melihat gapura yang menjulang. Ini adalah kedua kalinya aku menginjakkan kakiku di depan gerbang ini. Sebelumnya, mana pernah aku terbayang akan menyabet status sebagai siswi sebuah sekolah teknik mesin. Dulu sewaktu masih SMP, kupikir aku akan mengalami kehidupan anak-anak SMA seperti di novel dan film, yang katanya manis, yang katanya takkan terlupakan saking indahnya.

Tapi kini, di sini aku sekarang. Tidak menjadi seorang siswi SMA. Kuceritakan singkat saja sebab hal ini masih jadi patah hati kecilku akhir-akhir ini. Sebelum akhirnya resmi terdaftar di sekolah ini, aku sempat mendaftarkan diri ke beberapa SMA, dari yang paling favorit sampai yang belum pernah kudengar namanya dan jaraknya jauh dari rumah. Dari enam sekolah, tiga di antaranya menyingkirkan namaku dari daftar, dan tiga lainnya tidak menerimaku karena nilai yang terlalu rendah.

Gara-gara semua penolakan itu dan waktu yang semakin termakan habis, Bang Ian menyarankanku untuk mencoba mendaftar ke SMK. Aku tidak minat, tapi tidak punya pilihan lain, termasuk tidak punya pilihan untuk mendaftar ke program keahlian mana pun selain Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Nusa Taruna. Kuakui, nilaiku benar-benar kecil dan aku memang hanya bisa aman kalau mendaftar ke sana. Alhasil, di sinilah kini aku berada.

Ya sudahlah, tidak boleh ada yang kusesali meski sulit. Dan, ketimbang terus-terusan memikirkan hal tersebut, lebih baik kini aku segera beranjak karena aku sudah hampir terlambat. Aku lantas berlari meninggalkan gapura sekolah. Kulangkahkan kakiku menuju aula besar yang ada di bagian depan kawasan sekolah.

Sudah ada entah berapa ratus siswa baru yang hari ini akan mulai menjalani masa orientasi siswa baru. Termasuk aku, yang datang dengan bingung karena yang kulihat, sembilan puluh persen siswa baru di sini adalah anak laki-laki.

Aku benar-benar bengong di pintu aula, sampai-sampai seorang kakak kelas—yang kuasumsikan sebagai pengurus OSIS—menghampiriku dan bertanya, “Jurusan dan kelas apa?”

Gugup setengah mati aku. Gegas aku mencari name tag yang sudah kubuat kemarin sore. Di sana tertera informasi yang kakak ini butuhkan. “Sepuluh TKJ 2, Kak,” jawabku sambil menyungging senyum tipis.

Laki-laki yang kelak akan kukenal sebagai ketua OSIS dengan nama Yusuf itu memberiku petunjuk tentang posisi teman-teman sekelasku. Barisan terdepan sebelah kiri. Kini bisa kulihat ada papan kecil yang menampilkan tulisan “X TKJ 2”.

Dengan langkah kecil aku berjalan di antara ratusan laki-laki yang tengah duduk di aula. Aku sibuk menundukkan pandanganku sampai langkahku terhenti dengan sendirinya di barisan teman-teman sekelasku. Aku menilik satu per satu wajah yang asing. Di antara mereka, aku menemukan Daniel, temanku semasa SMP. Satu kabar baik pertama. Meskipun, setelah menit-menit berlalu dan teman sekelasku sudah lengkap, aku bisa menyimpulkan, bahwa aku akan jadi satu-satunya anak perempuan di antara 31 laki-laki di kelas.

Gila! Tiga tahun bersama 31 laki-laki di satu kelas yang sama?

***

Tiga pekan berlalu begitu saja. Benar-benar tidak ada anak perempuan lain selain aku di dalam kelas ini maupun kelas sebelah. Aku mau heran tapi tidak sanggup. Di sekolah ini, menurutku jurusannya memang lebih cocok untuk anak laki-laki, yang mana mayoritas adalah jurusan-jurusan yang berhubungan dengan komputer. Karena, setahuku, anak-anak perempuan yang masuk SMK rata-rata akan mengambil jurusan semacam administrasi perkantoran, tata boga, atau perhotelan.

Kabar buruknya, keadaan ini benar-benar membuatku bingung bagaimana berbaur dengan anak laki-laki sebanyak ini. Ditambah lagi, aku duduk bersama seorang pendiam yang kulihat hampir tidak pernah bicara pada siapa pun. Ya, tentu saja termasuk padaku.

Kami sudah berkenalan, tapi tetap berakhir seperti dua orang asing yang tidak saling kenal. Yang kulihat, kerjaannya setiap hari hanyalah menggambar, menggambar, mencatat materi di papan tulis, lalu menggambar lagi ketika bosan dengan materi yang dibawakan guru.

Tapi, sejujurnya aku sangat senang melihatnya ketika sedang menggambar. Gambarnya bagus sekali. Aku kadang bertanya guna mencairkan suasana di antara kami. Tapi jawaban yang kudapatkan selalu seadanya saja. Seperti siang ini.

“Dino, itu gambar monster apa?” tanyaku.

“Kucing.”

“Tapi kok kayak semut raksasa bentuknya?”

“Ya emang semut, kok,” balasnya. “Lagian udah tau semut, malah nanya.”

Dan, kalau percakapan sudah berakhir begitu, aku akan secara otomatis terdiam bengong saking bingungnya dengan jokes yang diutarakannya. Sementara laki-laki itu sesekali akan tersenyum dan tertawa kecil. Lalu untuk menghargainya, aku akan ikut tersenyum. Kubilang kalau dia lucu.

Percakapan kami akan selalu berhenti dengan sendirinya ketika obrolan kami rasanya sudah tidak nyambung. Dino akan melanjutkan gambarnya di kertas, sementara aku akan lanjut menyaksikannya, atau justru mengalihkan fokusku kepada hal-hal lainnya. Entah mengobrol dengan teman yang lain, atau sekadar bermain dengan ponselku sendiri.

Seperti sekarang. Setelah percakapanku usai dengan Dino, fokusku kini tertuju ke layar ponsel yang menampilkan pesan-pesan masuk dari Rio. Yes, kami masih berhubungan dengan sangat baik sampai hari ini. Aku masih sering sekali bercerita kepada Rio bagaimana kehidupan baruku di sekolah yang sangat asing ini.

Tentang bagaimana rasanya aku jadi anak perempuan sendirian di kelas, tentang bagaimana rasanya kelas tanpa ada Rio, dan tentang teman sebangku yang setiap hari kutemui ini. Rio pun balik bercerita banyak padaku tentang kehidupan barunya di sekolah.

“Eh, Dino, Disha, lo pada udah ngerjain PR Agama?”

Perhatianku teralihkan dari layar. Suara Daniel membuatku menoleh ke arahnya. Baik Dino maupun aku sama-sama menggeleng menanggapi pertanyaannya.

“Nitip dong, Sha. Lo kerjain ngasal juga nggak apa-apa udah. Cuma copy paste kan tugasnya?”

Permintaan itu dengan lancar Daniel luncurkan dari mulutnya. Sementara aku mengerlingkan bola mataku. “Bener-bener lo ya, kuda nil!” ejekku. Daniel hanya tertawa menanggapi cemoohanku.

Iya, Daniel tertawa seolah tidak memiliki rasa bersalah. Bahkan, bukannya mengurungkan niatnya titip tugas, justru laki-laki itu kini bilang, “Ya elah, Sha. Kan temen SMP.”

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku pada akhirnya mengiakan kemauannya. “Sekali doang loh, ya,” kataku. Dengan superantusias Daniel mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya.

“Eh, Sha, mau juga dong!” sahut Indra, teman sebangku Daniel.

Astaga.

“Boleh dong, pasti?” lanjut Indra. Pandangan kami saling bersua. Senyumnya benar-benar lebar. Aku tahu Indra berharap aku mengiakan kemauannya sebagaimana aku mengiakan kemauan Daniel barusan.

Lalu akulah yang pada akhirnya luluh. Senyumku mengembang. “Jangan bilang sama yang lain tapi, ya. Kalian aja,” tuturku. Dan, dengan begitu, mereka berdua sepakat untuk tidak bilang pada siapa pun kalau aku mengerjakan tugas mereka.

Detik selanjutnya pandanganku teralihkan kepada Dino. Aku baru sadar laki-laki itu menyimak percakapan kami.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Pengabdi Jomblo Karya Mauulanawisnu di Cabaca

Disha diputusin lagi. Oke, dia bisa menyembuhkan hatinya. Tapi kenapa sih harus jatuh cinta lagi? Belum kapok patah hati? Novel teenlit Indonesia terbaru karya Kansa Airlangga, How To Heal A Heart and Break It Again ini bisa kamu baca di Cabaca. GRATIS dengan download aplikasinya di Play Store.

Buat apa cari link download novel pdf jika sekarang kamu bisa baca novel online gratis di Cabaca.id. Aplikasi baca novel Indonesia ini memiliki Jam Baca Nasional yang memfasilitasi kita untuk baca gratis setiap hari mulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Kalau mau baca gratis di luar jam itu, bisa aja. Yang penting rajin lakukan misi kerang dan top up kerang dengan metode pembayaran yang variatif. Yuk, pakai aplikasi Cabaca di ponsel kamu sekarang!