Teaser Novel Heart from The Past di Cabaca.id – Waktuku habis.

Satu hal mengenai waktu yang kutahu adalah, bahwa ia justru berlari terlalu cepat pada saat kita mati-matian ingin mempertahankannya. Aku menghitung satu menit terakhir melalui jarum jam yang berdetak konstan di lenganku. Masih ada sepuluh detik tersisa ketika seorang sipir datang mengingatkan hal yang juga sudah kuketahui.

“Mari, Pak, waktu kunjungnya sudah habis.”

Bapak sama tahunya denganku, juga dengan sipir yang menantinya di sebelah kursinya dengan tak sabar.

“Makan yang banyak, nggak usah mikir yang macem-macem.”

Aku menyaksikan punggung Bapak yang bergerak menjauh, didampingi seorang sipir dengan gerak-gerik serba protokoler. Mereka memasuki lorong yang diapit barisan kamar-kamar yang menyerupai tempat indekos. Derit besi yang menyayat telinga terdengar ketika sipir membuka gembok di salah satu kamar dengan pintu berupa baris-baris besi. Di sanalah Bapak tinggal selama beberapa hari terakhir.

Aku tak pernah benar-benar menengok kamar berpintu jeruji itu, tetapi dari pengacara Bapak, aku mendengar bahwa para tahanan harus saling berbagi tempat. Masing-masing diberi jatah selembar kasur busa, sebuah bantal bersarung seragam, dan sehelai selimut tipis. Kamar mandi untuk para tahanan menyatu di dalam kamar, disekat tembok tanpa pintu dengan satu WC duduk dan keran air yang tidak bisa disetel dalam mode hangat.

Kursi besi panjang yang tadi ditempati Bapak kini ditimpa selajur cahaya yang menyeruak dari jendela. Sore sudah turun, dan sipir penjaga berdeham terlalu keras untuk menyuruhku pulang.

Aku meluruskan belakang rokku yang kusut selagi berdiri. Lalu, keluar dari lorong-lorong yang menjadi bagian dari gedung tahanan ini. Di luar, aku melihat Pak Sadil—pengacara Bapak—sedang duduk di kursi besi yang sama persis seperti yang kutempati di dalam tadi. Dari caranya memandangi pintu keluar, yang seolah mengantisipasi kedatanganku, dan lambaian tangannya yang sarat urgensi, aku tahu ia sengaja menungguku.

Aku duduk di samping Pak Sadil dalam posisi menyerong sehingga kami berhadapan. Ujung sepatunya yang senantiasa mengilap bertemu dengan sepatu Converse-ku yang sudah seharusnya masuk laundry. Usia Pak Sadil hanya terpaut setahun dengan Bapak, tapi Pak Sadil memiliki ciri-ciri fisik yang membuat penuaannya seolah berlangsung lebih cepat dari yang seharusnya; rambut tipis setengah botak, perut tambun, kacamata berlensa tebal, dan selera berpakaian yang tak berkembang sejak sepuluh tahun terakhir.

“Gimana, bapakmu baik-baik saja, kan? Kamu nggak perlu khawatir.”

Setiap kali bertemu, alih-alih membicarakan detail kasus yang sekarang menjerat Bapak—berapa nominal uang yang dituduhkan dalam kasus korupsi yang melilitnya dan siapa saja yang terlibat—Pak Sadil selalu lebih sibuk menenangkanku. Membesarkan hatiku dengan mengecilkan kasus Bapak. Yang aku tahu seluruhnya tak benar.

“Bapak udah dapet jadwal persidangan bapak saya?”

Pak Sadil memilah helai-helai kertas yang bertumpuk di dalam map plastik di pangkuannya. Kukira sidang perdana Bapak sudah terjadwal, Pak Sadil hanya sedang memastikan tanggal pada catatan kecil yang terselip di dalam map.

Tetapi, pada akhirnya gelengan penuh sesal adalah jawaban yang kuterima. “Kasus korupsi yang melibatkan bapak kamu ini rumit, Kalis. Penyidik KPK harus meng-cross check data dari banyak narasumber dan tidak semuanya mau kooperatif.”

Salah satu tersangka bahkan kabur ke luar negeri untuk menghindari panggilan pihak berwajib. Ketika penyidik KPK kemudian datang ke rumahnya untuk melakukan operasi tangkap tangan, mereka hanya menemukan ruang-ruang kosong dan pekerja rumah tangga yang ketakutan di balik pintu, mengaku tidak tahu apa-apa. Aku membaca berita itu tadi pagi di salah satu artikel di internet. Sejak Bapak resmi ditahan, aku jadi lebih sering membaca berita daripada berselancar di media sosial.

“Ah, iya, saya hampir lupa.” Pak Sadil berdecak. Ditariknya ritsleting tas yang ia sandarkan di kaki kursi. Dikeluarkannya kotak Tupperware indigo yang kemudian diserahkan padaku. “Tadi istri saya nitipin ini buat kamu.”

Tupperware itu tidak berat karena ketika tutupnya kubongkar hanya terdapat dua lembar roti lapis berselaput mayones berlebih. Sebagian bahkan menggenang di dasar kotak saking banyaknya. Aku tidak sedang lapar, tetapi tahu-tahu saja produksi liur di dalam mulutku mengalami percepatan gila-gilaan. Ah, apalah artinya makan siang dengan nasi dan telur dadar kebanyakan garam dan kecap manis dibandingkan roti lapis gemuk yang disedekahkan cuma-cuma begini.

Aku tergesa-gesa melepas ucapan terima kasih. Menggunakan sehelai tisu yang selalu tersedia di saku kemeja untuk mengambil sepotong roti. Rasanya masih seenak terakhir kali aku menyantap kudapan yang sama dari Bude Ratna—istri Pak Sadil. Ceritanya terlalu rumit untuk kututurkan sembari makan. Tapi, singkatnya, sewaktu muda, Pak Sadil, Bude Ratna, dan Bapak adalah mahasiswa di kampus dan fakultas yang sama. Pak Sadil memulai studi satu tahun lebih awal daripada Bude Ratna dan Bapak tetapi ketiganya lulus bersamaan.

Aku tidak tahu bagaimana persisnya jalinan persahabatan mereka, yang jelas ketiganya masih cukup dekat hingga berpuluh tahun kemudian. Kedekatan yang membawa mereka rutin mengunjungi rumah satu sama lain pada libur-libur panjang, saling berdiskusi mengenai pendidikan anak masing-masing, hingga puncaknya Pak Sadil mendampingi Bapak menghadapi kasus pidana pertamanya ini.

Aku mengerang lirih tiap kali merasakan tekstur salmon yang matang sempurna, atau lelehan mayones yang berpadu dengan daun bawang, juga sentuhan lada yang menimbulkan rasa terbakar di mulut. Semenjak dua minggu terakhir rutin mengonsumsi telur ceplok dan tempe goreng tepung yang berminyak, roti lapis dari Bude Ratna tiba-tiba saja sebanding dengan menu restoran bintang lima.

Dua potong roti lapis asap salmon itu amblas ke perutku dalam waktu singkat. Aku menutup mulut dengan punggung tangan, menyembunyikan serdawa kecil. Pak Sadil dengan setia menungguiku selesai makan sambil menyibukkan diri membaca berkas-berkas. Ada setitik haru yang menyebar dan membesar begitu saja di hatiku.

“Udah selesai makannya?” Pak Sadil mengintip kotak di pangkuanku yang tinggal menyisakan jejak-jejak mayones dan serpihan daun bawang di bagian dasar.

Aku mengangguk sambil memberi pujian setulus hati.

“Ya sudah, sini masukkan ke keresek lagi Tupperware-nya.”

Nyatanya, Pak Sadil tidak menungguiku, ia menunggu Tupperware yang kugunakan untuk alas makan.

“Biar saya bawa pulang buat dicuci dulu, Pak.”

Aku tahu dia akan menolak. “Enggak, enggak. Saya nggak mau tiba-tiba dicemberutin cuma gara-gara Tupperware hilang.”

Sambil tersenyum geli, aku mengembalikan Tupperware yang sudah kukemasi ke dalam kantong plastik. Pak Sadil menyimpannya di dalam tas hitam dengan ritsleting yang sejak tadi dibiarkan membuka. Kuulangi lagi kata terima kasih, kali ini sambil menitipkan seuntai juga untuk Bude Ratna; wanita anggun yang selalu terlihat lebih muda dari usianya.

Saat kukira kami sudah selesai, Pak Sadil tiba-tiba menyodoriku secarik catatan yang kuterima dengan dahi berkerut. Tidak ada tanggal seperti yang kuminta sebelumnya, hanya ada selarik tulisan dengan tinta biru yang segera saja kuasumsikan sebagai alamat. Asing.

“Ini alamat siapa, Pak?”

“Teman lama Bapak kamu.” Air muka Pak Sadil berubah keruh. “Jadi, Kalis, rumahnya Agung, rumah kalian, akan disita KPK. Kamu punya waktu sampai lusa untuk berkemas. Selanjutnya kamu bisa tinggal sementara di alamat itu. Lestari akan menerima kamu,” lanjut Pak Sadil dengan nada berat. Sama beratnya denganku yang sedang berusaha mencerna informasi tersebut. Kata ‘mencerna’ pun rasanya terlalu muluk. Bahkan untuk sekadar memasukkannya ke kepala saja rasanya sudah teramat sulit.

Aku meraih tepi kursi yang terasa dingin untuk dicengkeram keras-keras. “Disita? Bapak baru tersangka yang bahkan belum diadili, mana bisa main sita-sita begitu?”

“KPK berhak menyita aset-aset yang disinyalir sebagai hasil tindak pidana, Lis.”

Aku menolak mati-matian penjelasan tersebut. Jika tadi otakku bergerak selambat siput sampai kesulitan memahami penjelasan dari Pak Sadil, kini organ tubuh satu itu bekerja gila-gilaan, seperti pelari sprint yang memacu dirinya hingga melewati batas kekuatan. Hasilnya ia justru kelelahan sampai nyaris tak bisa berfungsi lagi.

“Berita acaranya sampai di tangan saya kemarin sore. Saya rasa memberi tahu kamu secepatnya adalah pilihan terbaik.”

Aku menelengkan kepala ke arah dinding kaca yang disemati logo KPK besar-besar. Memandang lemah meja informasi yang tampak dingin, lalu merambati lorong tempat orang-orang berbusana necis berlalu lalang tak putus-putus. Aku berharap bisa melihat lebih jauh, ke kamar para tahanan, melongok ke dalam salah satu pintu berjeruji yang menyembunyikan Bapak dari dunia luar. Meneriakkan bahwa rumah kami, tempatku tumbuh dan dibesarkan, tempat yang memerangkap kenangan bersama Ibu, akan disita.

Aku mengais berbagai penyangkalan. “Rumah itu udah ada dari saya kecil, Pak.”

Jauh sebelum Bapak terlilit skandal korupsi apa pun. Sedetik kemudian argumen itu pun patah oleh kesadaranku sendiri. Sebulan sebelum Bapak digelandang ke kantor KPK, rumah kami direnovasi besar-besaran, atap kerucutnya ditinggikan, dinding-dinding kusam dilapisi kertas baru. Sofa-sofa lusuh diangkut mobil bak terbuka, dibawa entah ke mana. Sebagai gantinya, seperangkat perabotan baru yang berkilat dan masih berlapis plastik didatangkan dari toko mebel ternama di tengah kota.

Baru tadi pagi aku berniat untuk menjual TV layar datar di ruang tengah yang baru berusia dua bulan, untuk kuganti dengan TV yang lebih kecil dan lebih murah, demi memastikan stok beras dan telur ayamku untuk sebulan ke depan aman terkendali. Kini, aku bahkan khawatir TV tersebut tidak sepenuhnya harta benda kami. Ah, pantas saja gambar di dalamnya seringkali berbintik-bintik hitam seperti dirayapi sepasukan semut bahkan saat cuaca sedang bagus-bagusnya. Aku menyesal telah membuang-buang tenaga untuk memutar-mutar tiang antena; sejak awal benda elektronik tersebut memang tidak berkah.

“Bapak saya sudah tahu?”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Home Sweet Hope di Cabaca.id

Kalis kira dunianya akan runtuh. Ayahnya jadi tersangka kasus korupsi. Ia juga tidak lolos seleksi dan tidak bisa kuliah tahun itu juga. Tapi apakah Tuhan sejahat itu? Kalau kamu suka novel tentang keluarga, silakan baca Heart from The Past di Cabaca. GRATIS kok, tinggal download aplikasinya di Google Play.

Nah, sejak ada aplikasi baca novel online yang gratis dan legal, udah gak perlu lagi tuh cari link download pdf novel yang ilegal. Mana di aplikasi Cabaca, ada Jam Baca Nasional lagi. Siapa pun jadi bisa baca GRATIS setiap hari pukul 21.00-22.00 WIB. Untuk yang gak bisa meluangkan waktu juga masih bisa BACA NOVEL GRATIS dengan ngelakuin misi kerang. Gak percaya? Tengok dulu deh dan install aplikasi Cabaca sekarang!