Teaser Novel Heal The Broken Past di Cabaca

Teaser Novel Heal The Broken Past di Cabaca – Serangkai jemari mungil tiba-tiba menyelusup ke telapak tangan Vio. Gadis itu refleks menoleh, urung memencet tombol untuk memanggil lift. Dilihatnya seorang anak lelaki menatap kepadanya dengan mata berbinar-binar penuh harap. Vio langsung mengenali bocah itu. Mereka pernah beberapa kali mengobrol di taman. Kalau Vio tidak salah ingat, bocah itu bernama Yudhis dan tinggal di tower yang sama dengannya.

“Tante mau gantiin Mama aku, nggak?” Yudhis tiba-tiba bertanya. Raut mukanya tampak serius, sementara kedua matanya terus menatap Vio tanpa berkedip.

Vio melongo saat mendengar pertanyaan yang diajukan Yudhis. Tidak tahu harus menjawab apa. Selama dua puluh lima tahun hidupnya, belum pernah Vio mendapat pertanyaan semacam itu. Untung saja sebelum suasana menjadi semakin canggung, seorang pria berlari ke arah mereka.

“Yudhis, tungguin papa!” panggil pria itu.

Dalam sekejap, Vio langsung dapat melihat beberapa kemiripan garis wajah pria itu dengan Yudhis. Kini terjawab sudah, kenapa Vio merasa wajah Yudhis familier. Rupanya, bocah itu adalah putra Pandu Satria, seorang penyiar berita di salah satu stasiun televisi ternama.

Selama ini, Vio hanya melihat Yudhis ditemani seorang pengasuh. Dia tidak pernah bertemu dengan Pandu di kompleks apartemen. Pertemuan pertama mereka justru terjadi di stasiun televisi tempat Vio bekerja. Beberapa bulan lalu, Vio sempat menemani salah satu peneliti yang menjadi bintang tamu dalam acara yang dibawakan Pandu. Lembaga Riset tempat Vio bekerja tidak memiliki divisi humas, sehingga hal-hal semacam itu terkadang dilimpahkan kepada staf HRD sepertinya.

Vio refleks menganggukkan kepala untuk menyapa, meski dia ragu Pandu masih mengingatnya. Pertemuan mereka waktu itu hanya sekilas saja dan Vio lebih banyak berinteraksi dengan tim kreatif. Interaksinya dengan Pandu hanya sebatas berada di ruangan yang sama saat briefing sebelum siaran.

Please, jangan main kabur begitu, Yudhis!” tegur Pandu dengan napas sedikit terengah-engah. Dia menyibak helai-helai rambut yang jatuh menutupi matanya sambil melayangkan tatapan tegas kepada putranya.

“Yudhis lagi cari orang buat gantiin Mama, Pa,” sahut Yudhis dengan ekspresi polos tanpa dosa.

Perkataan Yudhis membuat Pandu menoleh kepada Vio. Bibirnya menyunggingkan senyum canggung, meminta pemakluman. Air mukanya dengan jelas menggambarkan betapa dia merasa tidak enak hati.

“Aduh maaf ya, Mbak. Tolong jangan salah paham. Saya rasa maksud Yudhis, cari pengganti untuk ikut lomba bakiak besok. Mamanya baru ngasih tahu kalau nggak bisa hadir di acara family gathering yang diselenggarakan sekolah Yudhis besok,” jelas Pandu kikuk sembari menggaruk belakang telinga.

“Nggak apa-apa, Pak. Namanya juga anak-anak,” jawab Vio tidak kalah kikuk. Dia bersyukur maksud pertanyaan Yudhis bukan seperti yang dia kira. Malahan, kini dia merasa geli sendiri karena sempat berasumsi yang tidak-tidak. Tadi, sempat terlintas di pikirannya bahwa Yudhis sedang mencari sosok pengganti ibu dalam arti sebenarnya. Sebuah pemikiran yang bodoh dan memalukan. Mana ada seorang anak kecil yang dengan entengnya meminta perempuan tidak dikenal menjadi ibunya.

“Padahal Yudhis sudah latihan terus biar menang.” Yudhis memanyunkan bibir. Terlihat jelas bahwa bocah itu merasa kecewa.

“Ya sudah. Besok sama papa saja ikut lombanya,” bujuk Pandu. Diulurkannya tangan untuk mengajak Yudhis pergi. Namun, bocah itu justru semakin mempererat genggaman tangannya pada Vio, seakan tidak ingin melepaskannya.

“Nggak bisa, Papa. Kata Miss Selena, yang boleh ikut lomba bakiak cuma student and female relatives. Bapak-bapak nggak boleh ikut,” kata Yudhis dengan suara bergetar karena berusaha menahan tangis.

Vio yang kini terjebak di antara Pandu dan Yudhis hanya bisa mematung. Sebagai anak yang juga tumbuh di keluarga broken home, Vio dapat merasakan kekecewaan yang dirasakan Yudhis. Dapat dia pahami bahwa Yudhis bukan sekadar ingin menang lomba. Bocah itu hanya mencari-cari alasan untuk menumpahkan rasa sedihnya. Kebetulan saja, Vio sedang berada di waktu dan tempat yang salah.

“Kalau gitu kita minta tolong Tante Arumi saja gimana?” Pandu coba menawarkan alternatif lain. Dia belum menghubungi Arumi untuk memastikan apakah besok jadwal adiknya kosong atau tidak. Akan tetapi, saat ini prioritasnya adalah segera mengajak Yudhis pergi agar tidak menangis di depan umum. Pandu tidak ingin orang-orang salah paham dan menganggapnya tidak becus mengurus anak.

Sayangnya, Yudhis justru bersembunyi di balik punggung Vio. Dia menggeleng kuat-kuat sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. “Nggak mau! Kalau sama Tante Arumi pasti kalah,” tolaknya mentah-mentah. “Yudhis maunya sama tante ini!”

Mendengar tangis Yudhis membuat hati Vio perih. Dia kembali teringat bagaimana dia menghabiskan masa remaja dengan perasaan sedih yang sama. Orang tuanya bercerai saat Vio berusia dua belas tahun. Ayah dan ibunya kemudian membangun keluarga baru masing-masing, dan Vio tidak pernah merasa menjadi bagian kedua keluarga itu. Setelah setahun hidup berpindah-pindah antara keluarga ayahnya dan keluarga ibunya, Vio akhirnya memutuskan tinggal di sekolah berasrama, tempat di mana dia tidak perlu merasa iri pada adik-adiknya yang memiliki keluarga yang utuh.

Pandu mengembuskan napas panjang dan berusaha menyembunyikan rasa malunya. Yang bisa dia lakukan hanyalah kembali tersenyum kepada gadis yang berdiri di hadapannya. Ditatapnya Vio lekat-lekat dengan sorot mata menyiratkan permintaan maaf. Saat itulah, Pandu baru menyadari bahwa wajah Vio tidak asing baginya.

“Eh, kita pernah ketemu sebelumnya, ya?” Raut wajah Pandu kini terlihat lebih cerah. Pertanyaan itu hanya basa-basi saja. Pandu selalu ingat wajah orang-orang yang pernah dia temui, apalagi waktu itu Vio meninggalkan kesan tersendiri untuknya.

Sebelum Vio sempat menanggapi, pria itu lanjut berkata, “Kamu anggota tim peneliti yang saya wawancarai pas science day, kan?”

Vio mengangguk sekilas, tapi buru-buru meralat jawabannya. “Saya bukan peneliti, waktu itu cuma nemenin salah satu peneliti senior yang jadi narasumber.”

Mulut Pandu membulat, sedangkan kepalanya mengangguk-angguk. “Nggak saya sangka, ternyata kita satu apartemen. Sorry, saya lupa nama kamu.”

“Violet, tapi biasanya teman-teman memanggil saya Vio.”

Well, Vio, saya minta maaf sudah ganggu kamu. Semoga kamu nggak salah paham,” ucap Pandu, lalu dia kembali mengulurkan tangan ke arah Yudhis. “Ayo, Yudhis. Kita balik ke apartemen. Tante Violet juga mau balik ke apartemennya, tuh.”

Yudhis justru mempererat genggamannya pada Vio. “Nggak mau, Papa! Yudhis nggak mau pulang,” katanya dengan suara bergetar karena menahan tangis.

“Saya nggak keberatan, kok, gantiin Mamanya Yudhis.” Tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari bibir Vio. Pipinya sontak memerah saat dia menyadari bahwa kalimat itu dapat bermakna lain, seolah-olah dia sedang menawarkan diri untuk menjadi ibu tiri Yudhis.

Tidak ingin Pandu salah paham, Vio pun buru-buru menambahkan, “Mak-maksud saya menggantikan di lomba bakiak. Itu pun kalau Bapak setuju.” Tanpa sadar, dia menggigit bibir bagian bawahnya, sebuah kebiasaan setiap kali dia merasa gugup dan ingin segera melarikan diri dari situasi yang dihadapi.

Sikap kaku Pandu mencair seketika. Suara tawanya berderai di udara saat melihat Vio yang salah tingkah. “Tolong jangan panggil bapak. Langsung Pandu saja supaya lebih akrab atau ... Mas Pandu kalau kamu ngerasa kurang nyaman. Saya dan Yudhis tinggal di unit 1109.”

“Saya tinggal di 503.” Karena Pandu menyebutkan nomor unit tempat tinggalnya, Vio pun refleks ikut melakukan hal yang sama. Ketika gadis itu menyadari bahwa harusnya dia tidak sembarangan memberikan informasi pribadi, semuanya sudah terlambat. Dia tidak bisa menarik kata-katanya lagi.

Di sela-sela percakapan Pandu dan Vio, suara tangis sayup-sayup terdengar dari arah Yudhis. Bocah itu tidak bisa menahan gejolak emosinya. Tangisannya kini benar-benar tumpah tanpa dapat ditahan.

Rasa bersalah menyergap Pandu. Selama ini, dia pikir Yudhis telah dapat beradaptasi dengan kondisi yang mereka hadapi. Putranya itu selalu terlihat ceria meski harus tinggal terpisah dengan ibunya. Namun, ternyata Pandu salah. Yudhis tetaplah anak kecil yang mengharapkan kehadiran kedua orang tuanya.

Tangisan Yudhis membuat pikiran Pandu diselimuti kabut penyesalan. Lagi-lagi, dia merasa gagal menjalankan peran sebagai seorang ayah. Dia tahu, Yudhis merajuk bukan karena kesalahannya. Akan tetapi, Pandu juga tidak bisa menyalahkan Maharani. Alasan yang dikemukakan wanita itu masuk akal dan dapat dipahami.

Dengan sorot memohon, Pandu menatap Vio dan berkata, “Vio benar-benar nggak keberatan ikut ke acara sekolah Yudhis besok? Saya akan sangat berterima kasih jika Vio memang bersedia.” Suaranya lembut, setengah berbisik.

Pandu tahu dia tidak terlalu mengenal Vio, tetapi dia sudah memikirkannya baik-baik. Dari pengalaman sebelum-sebelumnya, pengamanan di sekolah Yudhis cukup ketat. Rata-rata wali murid adalah figur publik, sehingga sekolah tersebut berusaha untuk menjaga privasi mereka. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke area sekolah. Seharusnya tidak masalah jika dia mengajak Vio ke sana.

Vio tidak lekas menjawab pertanyaan Pandu. Sebenarnya celetukan tadi hanya reaksi spontannya karena teringat masa lalu sendiri. Sudah tidak terhitung berapa kali dia kecewa karena ayah dan ibunya berulang kali membatalkan janji. Terkadang, Vio berpikir dialah yang menjadi penyebab perceraian kedua orang tuanya, sehingga kehadirannya justru mengingatkan ayah dan ibunya pada kegagalan mereka dalam rumah tangga. Pengalaman itu membuatnya berempati pada Yudhis.

Suara tangis Yudhis tidak terdengar lagi. Vio melirik ke balik punggungnya dan melihat bocah itu tengah menatapnya penuh harap, tampak sangat menantikan jawaban darinya.

“Kalau Mas Pandu dan Yudhis nggak keberatan.” Akhirnya Vio memberi jawaban.

“Tante beneran mau ikut lomba bakiak bareng aku?” tanya Yudhis dengan penuh semangat. Wajahnya yang tadi murung kini berseri-seri. Kedua matanya masih merah, tetapi tidak ada lagi air mata yang mengalir di sana.

Perubahan sikap Yudhis membuat Vio tidak tega menghancurkan harapan bocah itu. Vio segera menepis keraguan yang sempat hinggap di hatinya. Dia rasa tidak ada salahnya meluangkan waktu sebentar untuk Yudhis. Sambil tersenyum, Vio kembali menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Hore! Terima kasih, Tante!” Yudhis melonjak kegirangan.

Hati Vio seketika terasa hangat. Mungkin dia juga akan sesenang itu jika dulu ada yang menawarkan diri mewakili kedua orang tuanya di acara-acara sekolah.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Sexy Seductress di Cabaca

Vio tak lagi percaya pada cinta dan pernikahan. Ia melihat masa kecilnya di mata Yudhis, anak tujuh tahun yang jadi tetangganya. Lucunya, Yudhis membuatnya terjebak bersama Pandu, ayah Yudhis. Novel terbaru di Cabaca, Heal The Broken Past, bisa dibaca gratis di aplikasi Cabaca.

Buat apa download pdf novel ilegal? Kalau kamu tahu di aplikasi Cabaca ada yang namanya Jam Baca Nasional, kamu pasti tidak tergoda lagi. Yuk, coba baca novel online pada pukul 21.00-22.00 WIB, dijamin seru! Hanya di aplikasi Cabaca, download di Play Store.

Baca novel Indonesia di Cabaca