Novel Foodie Love di Cabaca.id “Enak banget, ya, Gas.”

Bagas yang sedang mengunyah sesuap nasi lengko langsung berhenti. Baru kali ini aku melihatnya makan senikmat ini. Dia makin terlihat imut kalau begini, duh bawaannya mau nyubit pipinya aja.

“Aku ora pernah nemu panganan (tidak pernah menemukan makanan) seenak ini, La,” ujar Bagas setelah menyelesaikan kunyahannya. Tangannya yang sedang mencampur kubis dan tauge yang disiram dengan saus kacang malah makin menambah pesonaku padanya. Aku ini memang aneh kadang, kok bisa-bisanya sayang sama lelaki ini?

“Padahal dari kita maba makanan ini sudah ada. Katanya Kakak tingkat sih dulu tempatnya nggak di sini. Di deket-deket warung CL,” tambahku. Tanganku mengambil telur dadar lagi dan memotongnya dengan ukuran kecil agar berbaur sempurna dengan si nasi lengko ini.

Bagas kemudian berbicara bagaimana enaknya saus kacang yang mengguyur nasi dan buncisnya itu merupakan kombinasi gurih dan asin terbaik. Obrolan kemudian berubah menjadi Bagas yang menceritakan masa kecilnya dengan makanan. Aku mendengarkannya dengan khidmat kayak lagi dengerin penjelasan dosen ganteng di kelas hukum pemerintah daerah.

“Bagiku, kerupuknya sih itu yang bikin makin enak,” ujarku. Aku membuktikannya dengan tidak mengambil bakwan kuning yang bertengger manis di meja makan. Tidak hanya bakwan, ada telur dadar, ikan bumbu kuning, sampai tempe mendoan. “Coba ya kalau nggak ada kerupuk remuk ini, mungkin rasanya bakal kurang gurih, Gas. Ini sih menurut lidahku, ya.”

Jujur, baru kali ini aku melihat Bagas benar-benar menikmati makanannya. Bagas itu orangnya mudah ketebak banget sih kalau suatu hidangan dia bilang enak maupun tidak. Dia tidak akan bilang secara eksplisit, tetapi biasanya dia di perjalanan pulang pasti bilang begini, “La,  mienya tadi itu teksturnya nggak kenyal. Untung bumbu masakannya menyelamatkan si tekstur mi.” Bagian yang paling aku suka sih jelas, nada Bagas bicara tentang ketidaksukaannya itu tidak menghakimi sama sekali. Jelas buatku makin sayang sama dia.

Kembali ke masa kini.

Setelah Bagas dan aku membayar masing-masing makanan, kami berjalan kaki menuju fakultas kami yang letaknya agak jauh dari tempat warung nasi lengko tadi. Aku bercerita tentang rencana memasak gurami saus telur asin untuk penghuni kos, dan Bagas kali ini merespon dengan jawaban singkat.

Hem, tumbenan anak ini diem aja, biasanya pasti balasannya begini, “Wahhh beneran nih, La? Aku boleh icip enggak.” Dengan matanya yang berbinar-binar, dan mulut yang sedikit terbuka. Sekarang boro-boro ngomong kayak tadi, mengeluarkan sepatah kata aja udah  bersyukur kayaknya. Ini aneh, sungguh aneh.

Ketika sampai di pelataran parkir belakang kampus, aku menghentikan langkahku. “Gas …,” panggilku, membuat langkah lelaki berambut cepak itu ikut berhenti.

“Kamu tadi dengerin apa yang aku omongin nggak tadi?” tanyaku dengan alis terangkat.

Bagas terdiam, lumayan lama. Kebanyakan dia ngomong ‘em’ ‘er’ dan sebangsanya. Ini anak kenapa pula? Lagi sakitkah? “Gas, jawab doang kayak bingung gitu, biasa aja kali.” Aku menepuk bahunya.

Entah dia lagi kesambet petir apa, dia malah makin diam. Tapi tatapannya itu lho, dalam banget. Padahal aku bukan daging sapi yang habis direbus terus dibumbu rendang. Lelaki itu mulai memegang pelan tanganku, matanya nggak lepas dari mataku. Ini juga kenapa badanku jadi merinding tapi nyaman begini. Padahal dulu tiap pendekatan sama siapa pun juga nggak pernah begini.

Lelaki ini memang unik.

Tahu-tahu aja mulutku berkata, “Gas … aku tuh sebenarnya naksir naksir sayang kamu.”

Bagas bengong.

Aduh, mampus. Ah ya sudahlah, nanggung langsung aja. “Aku sih cuma mengungkapkan perasaanku saja, dan ini nggak bohong. Lama-lama kamu itu sering muncul dipikiranku, dan aku ingin terus berada di sisi kamu terus. Aku juga nggak maksa kamu buat terima atau tolak, semua ada di diri kamu, Gas.”

Bagas masih tidak menjawab.

Tak lama, dia mengurai senyum, senyum tertulus yang belum pernah ku lihat sebelumnya. “Sebenarnya … aku juga … sayang kamu, La.”

Aku anggap itu sebagai jawaban iya.

Inilah awal dari kisah cinta kami.

Baca Juga: Teaser Novel Turn On Turn Off di Cabaca

BAGAS

“Paket Nasi Rames sudah sampai mana?”

“Woi ini kurang asin, ulang dari awal.”

“Satu paket nasi Padang, minumnya ganti es teh dan Satu udang telor asin. Berapa menit?”

Teriakan dan sahut menyahut antara kepala koki kepada kitchen crew sudah kayak makanan sehari-hari di restoran. Walau bising, bunyi buih dari masakan berkuah dan bunyi wajan yang beradu dengan sutil besi layaknya lagu penyemangat restoran. Pelanggan tidak boleh kelaparan. Suaranya terdengar dari kantorku karena letaknya persis di atasnya.

Pintu kantor terbuka. “Hai sayang.” Suara yang sangat kuhafal. Aku menahan bibir untuk tidak tersenyum.

Ella berada di ambang pintu kantorku sambil membawa rantang bertingkat. Dia duduk di sofa, membuka rantangnya satu persatu, aku mengamatinya dari meja kerja.

Aroma Pala dan bawang putih langsung menyeruak indera penciumanku ketika duduk di sebelahnya. “Hem, benar dugaanku. Kamu bawa soto Semarang hari ini.”

“Iya dong, Sayang. Hari ini sengaja aku bawa makanan kesukaan kamu. Dari kemarin lembur terus, mukanya jadi kusam gini.” Jari Ella menyentuh pipiku lalu memutarnya ke kiri dan kanan. “Sudah kubilang jangan lupa cuci muka sebelum tidur.”

Dia membuka rantang terakhir yang berisi nasi putih. Jadi, ada tiga rantang. Rantang pertama berisi lauk pauk seperti tempe kering, perkedel kentang, tempe mendoan. Rantang kedua berisi lauk soto, aroma daun jeruk, daun salam, dan sere. Apa Ella menambahkan santan hingga warnanya jadi hijau begitu? Saat kuambil suwiran ayamnya pakai sendok kuah yang Ella pinjam dari dapur, langsung saja kupotong dikit, ayamnya empuk, matang sempurna.

“Heh, ambil piring dulu. Jangan kemaruk deh,” tegur Ella saat mulutku hampir menyisap kuah soto beningnya yang sangat beraroma itu.

Aku mengangguk.

Ella menyodorkan mangkok dan langsung kuambil makanannya, tak lupa dengan lauk, terakhir memeras jeruk nipis untuk menambah aroma gurih. Soto semarang adalah makanan favorit dari seluruh makanan nusantara yang pernah kumasak. Tidak ada alasan khusus, tapi rasanya seperti segar saja setelah melalui suap demi suap.

KLIK.

Aku menghela napas seraya menggeleng sambil menghabiskan soto yang tinggal sedikit ini.

“Pacarku kalau makan ganteng banget,” puji Ella saat aku meliriknya sedang mengetik sesuatu di ponsel pipihnya.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel How Can I Love You, You're The One I Hurt di Cabaca

Enak ya punya pacar yang sama-sama hobi makan? Bisa kuliner bareng... Tapi sama halnya lidah, perasaan juga bisa jenuh. Kalau udah gitu, apa yang harus dilakukan? Novel Foodie Love hadir untuk menemani waktu makanmu. GRATIS hanya di Cabaca.

Daripada download novel bajakan, mendingan kamu install aplikasi Cabaca aja deh! Udah GRATIS, penulisnya dibayar pula! Visit Cabaca everyday, mulai pukul 21.00 sampai pkl 22.00 WIB. Bacanya nggak perlu pakai kerang. Setiap saat juga bisa baca gratis kok, yang penting rajin lakukan misi kerang. Gimana? Yuk, rasakan keseruan baca novel gratis di Cabaca!

Sebelum tidur, wajib baca novel GRATIS di Cabaca!