Teaser Novel Fire Her Up di Cabaca.id – Ibunya terlihat rapuh. Rambut hitam sepundak yang dulu dibanggakannya rontok setiap disisir. Padahal, Rani sudah selembut mungkin mengeringkan dan menyisiri. Tetapi, semua sia-sia. Semakin hari, kulit kepala sang ibu semakin jelas terlihat. Sampo bayi yang ibunya gunakan sebagai pengganti sampo dewasa tak banyak membantu. Botol kaca kosong bekas hair tonic berderet di meja rias. Labelnya mencantumkan khasiat untuk menumbuhkan rambut yang rontok, menguatkan akar, dan segudang janji lain. Namun, semua tak bekerja pada rambut sang ibu.

Rani ikut pedih menyaksikan helai-helai yang berjatuhan di lantai. Setelah mendorong kursi roda sang ibu ke ranjang dan membantunya berbaring, Rani menyapu rambut yang terkulai lemah. Membuang ke tempat sampah. Meski jeri, Rani punya kebiasaan baru yakni menghitung hari.

Betul, memang kehidupan dan kematian adalah rahasia Ilahi. Namun menyaksikan sendiri kondisi ibunya yang sama saja, menyeruakkan pikiran buruk tentang maut ke dalam otak Rani. Hatinya menjerit. Rani sudah kehilangan ayah, tak sanggup lagi kehilangan ibu, satu-satunya orang tua yang tersisa di dunia.

Ketika kembali, sang ibu sudah terlelap. Kamar sang ibu lengang. Foto pernikahannya dengan sang ayah sudah lama diturunkan, diganti sosok laki-laki lain. Rani menggigil menatap matanya. Senyum laki-laki yang bersanding dengan sang ibu bagi sebagian orang tampak tulus. Laki-laki yang masih segar bugar, sehat dan punya uang, mau mendampingi janda sakit yang tak mampu melaksanakan tugas sebagai seorang istri. Sungguh mulia. Rani meneguk ludah. Tahu apa masyarakat mengenai kehidupan mereka?

Dion dan Rani menyetujui pernikahan sang ibu dengan laki-laki itu demi kebahagiaan wanita yang sudah melahirkan mereka. Memang ibunya lebih hidup setelah bersuami lagi. Tersenyum setiap hari. Ghaitsa, nama suami barunya paham benar cara memuja sang ibu sehingga dia serasa hidup dalam surga.

Telapak kaki sang ibu sejuk ketika Rani menyentuhnya. Dia membungkus dengan kaus kaki lalu menyelimuti tubuh yang telah banyak kehilangan bobot itu. Rani keluar menuju kamarnya sendiri.

Azan magrib berkumandang. Rani meregangkan otot setelah mengerjakan PR. Ketika menengok ibunya di kamar, wanita itu tengah duduk bersandar di bantal.

Rani mendekat lalu berkata, “Rani siapkan makan malam dulu buat Mama.”

Senyum sang ibu terukir. Dia mengangguk. Maka Rani beranjak ke dapur, menyiapkan menu khusus untuk penderita kanker. Nasi lembek, sayur dan telur organik yang semuanya lebih mahal. Ghaitsa menopang ekonomi keluarga, membayar biaya sekolah Rani dan kuliah Dion.

“Asalamualaikum!”

Rani tersekat mendengar suara itu. Tangannya yang menyendok nasi ke piring seketika berhenti bergerak. Kupingnya menajam secara otomatis. Mendesah lega saat mendengar langkahnya masuk ke kamar sang ibu. Bergegas Rani menyendokkan tumis wortel, buncis dan telur dadar ke piring.

Kursi roda ibunya didorong masuk oleh Ghaitsa ke ruang makan. Kelopak mata sang ibu terbuka lebar dengan sorot berbinar. Mama kelewat bahagia berdekatan dengan Ghaitsa.

“Rani, piring Mama mana?” Ghaitsa bertanya.

“I-ini, Paman,” ucap Rani terbata.

“Rani, kapan mau panggil ‘Papa’, masa ‘Paman’ terus?” protes sang ibu.

“Tidak apa, Ma. Jangan memaksa kalau Rani dan Dion belum siap.” Ghaitsa menyendok nasi beserta lauk-pauk, menyuapkannya pada sang istri penuh kelembutan. Sesekali menyeka ujung bibirnya menggunakan tisu.

Rani yang duduk di seberang sang ibu makan malam sembari menonton kemesraan sepasang sejoli. Bukan, dia bukan dengki pada kebahagiaan wanita yang telah mengandung, melahirkan dan menyusuinya. Namun, ibunya yang tengah berbunga-bunga begitu mudah ditipu.

Usai makan malam, Ghaitsa mendorong sang istri kembali ke kamar. Cukup lama mereka berada di sana. Rani gelisah. Mengunci kamar. Mengganti celana selutut dan kaus longgar dengan piyama lengan panjang berwarna hitam. Memaksakan tidur.

Entah pukul berapa, Rani merasa sesuatu yang asing menyelinap ke sela pahanya. Memberikan rangsangan ke area sensitif. Rani berbalik, tetapi mulutnya dibekap. Ghaitsa yang halus pada sang ibu menatapnya nyalang.

“Tenang, Sayang. Kalau kamu tegang akan terasa sakit.”

“Jangan, Paman,” rintih Rani.

“Kamu mau pakai alasan haid lagi? Jangan bohong, Paman sudah mencatat haidmu selesai seminggu lalu.” Geram Ghaitsa sembari menindih tubuh Rani, memiting tangannya ke belakang.

“Tapi, Paman—“ Ucapan Rani terpotong pagutan Ghaitsa. Laki-laki itu bahkan tak memberinya kesempatan bernapas. Tangannya sudah berhasil menyusup ke balik piyama Rani, menggerayangi bagian dadanya yang membukit.

Rani menangis. Tidak, dia tidak merasakan hal ini menyenangkan. Sebaliknya, Rani merasa terhina melakukan hal ini bersama orang yang tak disukainya dan bukan atas kehendak hatinya.

“Kamu mau paman bangunkan Mama dan memaksanya melayani suaminya? Kamu yakin Mama kamu sanggup?” bisik Ghaitsa ke telinga Rani.

Hanya isakan yang keluar dari bibir Rani. Demi Tuhan, dia baru berusia enam belas tahun tetapi harus menghadapi dilema seperti ini.

Ghaitsa menurunkan sarungnya, memperlihatkan organ itu. Meraih tangan Rani. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Meski menangis, Rani menggenggamnya, memijatnya lembut sehingga Ghaitsa menggeram. Tak lama kemudian, laki-laki itu mengangkat tubuh kurus Rani, menempatkan membelakanginya. Kemudian memaksa menerobos selaput hangatnya. Rani terisak kesakitan.

“Bang Dion, tolong!” rintih Rani.

Ghaitsa menjambak rambut anak tirinya. “Diam, Dion nggak dengar. Mungkin juga lagi bersenang-senang seperti ini sama pacarnya.”

Pipi Rani terasa ditepuk-tepuk. Awalnya dia mengira Ghaitsa menamparnya, tetapi tepukan ini berbeda. Begitu halus.

“Rani, bangun!”

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Intimate Karya Shantymilan di Cabaca.id

Rani trauma dengan seks, tapi ia terjerat dan tak bisa lepas dari neraka itu. Novel dewasa terbaru dari Belladonna Tossici, Fire Her Up bisa dibaca di Cabaca. Download aplikasinya GRATIS.

Suka novel romance adult? Cari aja novel gratis di aplikasi Cabaca. Daripada baca atau download novel pdf ilegal kan? Caranya, lakukan misi kerang yang ada di Cabaca. Bisa juga manfaatin HappyHournyaCabaca di Jam Baca Nasional mulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Yuk, pakai aplikasi Cabaca, platform baca novel Indonesia yang ada di Google Play.